NovelToon NovelToon
Membawa Benih Sang Casanova

Membawa Benih Sang Casanova

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Action / Romantis / Mafia
Popularitas:71k
Nilai: 5
Nama Author: Ibu.peri

Demi biaya pengobatan ibunya, Alisha rela bekerja di klub malam. Namun kepercayaannya dikhianati sang sahabat—ia terjerumus ke sebuah kamar hotel dan bertemu Theodore Smith, cassanova kaya yang mengira malam itu hanya hiburan biasa.
Segalanya berubah ketika Theodore menyadari satu kenyataan yang tak pernah ia duga. Sejak saat itu, Alisha memilih pergi, membawa rahasia besar yang mengikat mereka selamanya.
Ketika takdir mempertemukan kembali, penyesalan, luka, dan perasaan yang tak direncanakan pun muncul.
Akankah cinta lahir dari kesalahan, atau masa lalu justru menghancurkan segalanya?
Benih Sang Cassanova

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu.peri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEKARANG KAMU PUTRI DADDY

Sore itu, dua pasang mata saling menatap dalam diam di atas sofa ruang tamu. Biasanya, hanya Alisha yang ketahuan diam-diam melirik ke arah Theo, namun kali ini pria itu justru menatap balik dengan senyum kecil yang terus merekah di bibirnya.

Senyuman yang tidak ia sembunyikan. Senyuman yang membuat Alisha salah tingkah.

Di depan mereka, Thea duduk bersila di atas karpet empuk, menatap keduanya bergantian dengan rasa ingin tahu yang membuncah. Gadis kecil itu masih belum bisa melupakan momen nyaris ciuman yang tadi sempat ia ganggu dengan masuk tiba-tiba.

Kini, dia melihat kedua orang itu duduk bersama di sofa. Dekat. Bahkan terlalu dekat menurut ukuran anak lima tahun.

“Mommy dan Uncle… udah baikan, ya?” tanya Thea dengan polos, memecah keheningan.

Alisha hendak menjawab, tapi suara bariton Theo terdengar lebih dulu, lembut dan penuh kasih sayang. “Mommy dan Daddy tidak bertengkar, sayang.”

Setelah kalimat itu keluar dari mulutnya, Theo terdiam sejenak. Ia nyaris tertawa kecil sendiri. Sejak kapan ia bisa berbicara seperti itu? Nada lembutnya membuat dirinya sendiri geli. Tapi entah mengapa, semua itu terasa alami saat ia bicara pada anaknya sendiri. Mungkin karena kini, ia telah benar-benar menemukan potongan jiwanya yang selama ini hilang.

“Thea…” Theo melanjutkan, mencondongkan tubuhnya sedikit. “Sekarang kamu putri Daddy.”

Mata Thea membulat. Ia bangkit dari karpet, melompat-lompat kecil lalu langsung naik ke pangkuan Theo tanpa ragu, seolah memang tempat itu sudah menjadi tempat paling nyaman baginya.

“Yeeaay! Thea punya Daddy sekarang!” serunya girang, memeluk leher Theo erat-erat.

Namun, setelah beberapa detik, wajah cerianya berubah serius. Ia duduk tegak di pangkuan Theo, menatap pria itu dengan tatapan seperti penyidik profesional.

“Tapi sebelum Uncle… benar-benar jadi Daddy Thea, jawab dulu pertanyaan Thea,” katanya penuh gaya, membuat Theo mengangkat alis sambil tersenyum geli.

“Oke. Daddy siap jawab pertanyaan apa pun,” ucapnya sambil mengangguk khidmat.

Thea mengerutkan kening, seperti tengah memikirkan sesuatu yang penting.

“Uncle bisa tembak-tembakan tidak? Kayak di film, Terus mukul penjahat, kejar-kejaran pake mobil…”

Pertanyaan itu membuat Theo tak kuasa menahan tawanya. Ia mengusap kepala putrinya yang kini makin menggemaskan.

“Bisa.. Semuanya bisa Daddy lakukan,” jawabnya percaya diri. “Memukul penjahat, tembak-tembakan, bahkan… dulu Mommy kamu juga pernah Daddy tembak. Hasilnya… lahirlah kamu, Thea.”

Alisha hampir tersedak air liurnya sendiri karena terkejut dengan ucapan sarkas Theo yang menggoda.

Elsa dan Bibi Martha yang diam-diam mengintip dari balik tembok nyaris tak bisa menahan tawa mereka. Mereka sempat was-was karena mengira Theo akan memaksa Alisha, tapi nyatanya pria itu justru terlihat begitu lembut… terutama saat bersama Thea.

“Benarkah, Mommy?” tanya Thea sambil menatap Alisha polos.

Alisha mende sah, menahan malu, lalu berusaha tersenyum tenang meski pipinya sudah memerah.

“Thea… jangan dengarkan Daddy. Dia cuma bercanda.”

Namun, Thea tak tampak puas dengan jawaban itu. Ia menatap Theo seolah tak suka karena telah dibohongi. Sebelum si kecil sempat merengek, Theo segera mencondongkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu di telinganya.

Setelah itu, senyum Thea melebar, matanya berbinar.

“Oke, Daddy. Tapi Thea akan ingat janji Daddy. Kalau Daddy bohong, Thea akan kasih hukuman!”

“Siap, Tuan Putri.” Theo langsung memberi hormat sambil mengangkat tangan seperti prajurit, membuat semua yang melihat tak bisa menahan tawa.

Mereka bertiga pun tertawa bersama. Tawa yang penuh kehangatan dan kebahagiaan. Suasana yang selama ini tak pernah terbayangkan oleh Alisha.

Beberapa saat kemudian, Theo mengusap pipi Thea dengan lembut, lalu menatap Alisha dengan pandangan dalam.

“Setelah satu bulan, setelah kamu percaya sepenuhnya padaku… aku ingin kamu dan Thea ikut aku. Kita tinggal di mansion yang sudah aku siapkan. Untuk kalian berdua. Tempat itu rumah kita.”

Alisha terdiam.

Matanya menatap Theo tanpa berkedip. Ada kehangatan yang menjalar hingga ke dada. Ucapan itu—membuat hatinya nyaris meleleh. Ia tak menyangka, pria didepannya ini telah menyiapkan masa depan untuknya dan anak mereka.

Namun, di balik tatapannya yang berbinar, ada sedikit keraguan.

“…Tapi,” bisiknya pelan.

Theo langsung memiringkan kepala, memperhatikan perubahan ekspresinya.

“Kau masih ragu padaku?” tanyanya pelan, nada suaranya tetap lembut.

Alisha menggeleng buru-buru. “Bukan begitu. Aku hanya… aku memikirkan Bibi Martha dan Elsa. Mereka… keluarga bagiku. Aku tidak bisa pergi dan meninggalkan mereka…”

Sebelum Alisha menyelesaikan kalimatnya, Theo sudah menanggapinya cepat.

“Kamu bisa ajak mereka tinggal bersama. Rumah itu luas. Mereka bagian dari hidup Thea dan kamu. Jadi mereka juga bagian dari hidupku.”

Alisha membeku beberapa detik. Lalu perlahan, senyum mengembang di wajahnya. Ia tidak pernah menyangka, bahwa Theo akan memahami isi hatinya sedalam ini. Tidak perlu dijelaskan, pria itu tahu persis apa yang mengganjal di pikirannya.

Menjelang malam, suasana rumah terasa lebih hangat dari biasanya. Theo memilih tinggal untuk makan malam bersama. Meja makan yang biasanya hanya diisi tawa Thea dan celotehan Elsa, kini terasa lengkap.

Tawa Thea menggema. Ia menyuapi Theo dan sesekali memaksa pria itu untuk duduk bersila di karpet seperti dirinya. Theo menuruti tanpa protes, meski sesekali mengeluh pegal karena lututnya tidak sefleksibel anak kecil.

Alisha hanya tersenyum, memperhatikan dua manusia kesayangannya saling bercanda di meja makan. Rasanya seperti mimpi. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa… seperti mendapatkan hidup baru.

Setelah melihat arlojinya, Theo menatap Thea yang masih nyaman bersandar di pangkuannya. Anak kecil itu mulai menguap beberapa kali, kelopak matanya menurun perlahan, tanda kantuk mulai mendominasi.

“Sayang,” gumam Theo sambil mengelus kepala Thea dengan penuh kasih, “Daddy harus pulang dulu. Nanti besok kita ketemu lagi.” Ia mengangkat tubuh mungil Thea dengan hati-hati dan meletakkannya di sofa.

Thea mengerjap pelan. Mata bundarnya beralih ke Theo, lalu ke arah Alisha. “Mommy…” rengeknya pelan, suaranya serak karena mengantuk. “Thea mau ikut Daddy… Thea mau tidur bareng Daddy…”

Alisha hendak menjawab, namun Theo lebih dulu menarik Thea dalam pelukannya, seolah sedang menenangkan.

“Nanti Daddy ke sini lagi, oke? Kita jalan-jalan bersama. Tapi malam ini, kamu tidur bareng Mommy dulu ya. Daddy janji, besok kita akan jalan-jalan sampai malam.”

Thea masih cemberut, lalu mengangkat tangan kecilnya, menyodorkan kelingkingnya.

“Daddy janji?”

Theo tersenyum hangat. Ia menyambut jari mungil itu dan mengaitkannya. “Ya, Daddy janji,” ucapnya mantap.

Setelah memastikan Thea mulai mengantuk lagi di sofa, Alisha mengantar Theo hingga ke depan pintu. Hening menyelimuti keduanya, hanya suara detak jam dinding dan angin malam yang sesekali menerobos dari celah jendela.

“Aku pulang dulu,” ucap Theo dengan suara pelan, seolah enggan benar-benar pergi.

Alisha mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan,” jawabnya dengan senyum malu-malu, tangan masih menggenggam kenop pintu.

Theo tak langsung melangkah. Ia justru menatap Alisha dalam-dalam. Tatapan itu intens, membuat jantung Alisha berdetak tak karuan.

“Ada apa?” tanya Alisha bingung, keningnya berkerut ringan.

Tanpa peringatan, Theo menarik tubuhnya mendekat, satu tangannya melingkari pinggang Alisha. Sebelum sempat protes, b!bir pria itu telah menempel di b!birnya. Hangat. Lembut. Perlahan tapi penuh makna.

Alisha membelalak, kaget dengan aksi spontan itu. Tapi… perlahan tubuhnya melunak, bahkan pipinya memerah. Ia tidak mendorong, tidak juga menghindar. Ciuman itu terlalu menghangatkan hatinya.

Beberapa detik kemudian, Theo melepas pelukan itu, tapi masih menatap Alisha dengan tatapan serius yang dalam.

“Jangan kaget. Mulai sekarang… kau harus terbiasa dengan ini,” ucapnya rendah, suaranya serak menahan keinginan yang belum tuntas.

Ia menggigit bibir bawahnya sebentar, seolah mengendalikan diri, lalu mengelus pipi Alisha. “Kalau bukan karena Thea masih di sana, mungkin aku sudah—”

“Daddy kenapa makan bibir Mommy?!”

Suara polos yang terdengar keras dari ruang tengah itu membuat Alisha terlonjak dan refleks mendorong dada Theo. Lelaki itu terhuyung sedikit ke belakang dan nyaris tertawa terpingkal.

Brak!

Pintu apartemen langsung ditutup rapat oleh Alisha yang kini wajahnya merah padam. Sementara di luar, Theo berdiri sejenak dengan ekspresi geli.

Ia menyentuh bibirnya, mengusap wajahnya sambil tertawa kecil.

“Putriku memang pewaris darah mafia,” gumamnya sambil menggeleng pelan. “Baru umur lima tahun sudah sewaspada itu…”

Langkahnya ringan menuruni tangga apartemen. Tangan kiri masuk ke saku celana, sementara tangan kanan sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

Setelah itu, ia melangkah pergi, menyusuri malam kota yang mulai sepi. Entah ke mana, hanya Theo yang tahu arah tujuan sebenarnya.

1
ArchaBeryl
Dasar ya Daddy thea gak tau tempat 🤣🤣🤣🤣
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
vj'z tri
Dady nya Thea kah 🤭🤭🤭🤭
vj'z tri
tenang sebelum badai datang🤣🤣🤣🤣
Ros Ani
semangat 💪
ArchaBeryl
lanjutkan kak💪💪
vj'z tri
Lo B2 yg mati 😅😅😅
ArchaBeryl
kak nambah 1 bab lagi dunk
takutnya dak bisa tidur malam ne karna penasaran 🤭🤭🤭
vj'z tri
i love u too Thea sayang 🤧🤧🤧🤧
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak🤭🤭🤭🤭
ArchaBeryl
lagi dunk kak
aq bacanya Sampai tahan nafas
seru banget kak💪💪💪
ArchaBeryl: siap kak💪💪
total 2 replies
saljutantaloe
up lagi thor lg seru2nya loh malah di gantung ibarat kata nih ditinggal pas lg sayang2nya nyesek bgt kan hah
Ndha: kk bisa aja🤭🤭
total 1 replies
vj'z tri
amnesia ni bocah ...kalau pasukan nya banyak yang tewas 🤧🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kata nya suruh pakai otak ,Dady ya pakai otak dan otot 🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
waduh kalau thea tahu maminya diajari tembak-tembak dor dor dor iri dia🤭🤭🤭🤭
ArchaBeryl
Mantap makin seru kak💪💪💪
ayudya
temui orang tua Alisha dan kk nya, minta restu.., pasti mereka mau Terima kamu sebagai menantu apa lagi thea sangat sayang sama kamu.
vj'z tri
😅😅😅😅 sabar mom ini demi keamanan cucu dan menantu kesayangan mu
vj'z tri
ngadepin horang licik ya harus lebih licik lah 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
yey kalian masuk jebakan slah tangkap 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🎉🎉🎉🎉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!