Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Matahari mulai mengintip dari balik gorden saat Arjuna perlahan memudarkan wujudnya, meninggalkan Jelita yang masih tertidur dengan sisa-sisa aroma cendana yang melekat di seluruh tubuhnya. Tanda di leher Jelita kembali tenang, bersembunyi di balik kulitnya yang halus.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan keras.
"JELITA! BANGUN! Kamu sudah lihat belum?!" suara cempreng Dinda memecah kesunyian pagi. "Mas Gama... maksudku, cokelat yang aku kasih ke Mas Gama tadi malam... aku nemu bungkusnya di atas meja makan! Berarti dia beneran makan cokelatnya, Ra! Mas pacar ksatria itu beneran makan!"
Ira yang berdiri di belakang Dinda hanya bisa menguap lebar. "Dinda, ini masih jam enam pagi. Bisakah kamu berhenti berteriak soal hantu cokelat itu?"
Jelita terbangun dengan mata yang masih sedikit sayu. Ia menyentuh bibirnya yang terasa sedikit bengkak dan bahunya yang masih menyisakan rasa hangat dari kecupan Arjuna semalam. Ia tersenyum tipis, menyadari bahwa hidupnya sekarang terbagi menjadi dua: siang yang berisik bersama sahabat-sahabatnya, dan malam yang liar bersama sang Pangeran.
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Dinda dan Ira yang masih setengah mengantuk...
"Woahh! Jelita sepertinya kamu habis dimakan habis oleh Arjuna." terkejut dinda. yang melihat banyak tanda merah pada leher Jelita.
Ira benar-benar merasa tensinya naik sepagi ini. Ia segera membekap mulut Dinda dengan telapak tangannya, membuat suara Dinda hanya terdengar seperti gumaman tidak jelas—“Mmpffh! Mmpffhh!”
"Sumpah Dinda, mulutmu itu benar-benar minta dilakban! Bagaimana kalau Ayah dan Ibu Jelita dengar? Kamu mau kita semua diseret ke meja sidang pagi-pagi begini?!" geram Ira dengan suara tertahan, matanya melotot tajam ke arah Dinda.
Jelita yang masih duduk di tepi ranjang hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya, meski ia juga merasa malu karena ucapan Dinda ada benarnya. Ia segera menarik kerah piyamanya lebih tinggi, berusaha menyembunyikan tanda kemerahan yang masih tersisa di pangkal lehernya.
"Sudahlah, Ra. Dinda kan memang begitu," ucap Jelita sambil beranjak dari tempat tidur, meski langkahnya terasa sedikit lemas.
Dinda akhirnya berhasil melepaskan tangan Ira dari mulutnya. Ia langsung menghirup napas panjang dan menatap Jelita dengan tatapan menyelidik, seolah-olah ia adalah detektif yang sedang mencari bukti.
"Tapi Jel, lihat deh! Muka kamu itu glowing-nya beda! Bukan glowing pakai skincare, tapi glowing habis disayang-sayang pangeran kuno!" celetuk Dinda lagi tanpa rasa bersalah. "Dan lihat bibirmu itu, sedikit bengkak ya? Aduh, Arjuna itu kalau ciuman pasti tenaganya kayak mau narik jiwa, ya?"
"Dinda!" bentak Ira lagi, kali ini sambil mengangkat bantal, siap untuk melemparnya ke arah Dinda.
Jelita hanya tersenyum simpul, teringat bagaimana bibir Arjuna yang dingin namun menuntut itu membungkamnya semalam. "Dia... dia memang sangat posesif, Din. Tapi setidaknya sekarang aku tahu dia benar-benar akan melindungi kita."
Tiba-tiba, mata Jelita tertuju pada meja riasnya. Di sana, terletak sebuah kotak kecil berbahan kayu cendana yang mengeluarkan aroma harum yang sangat menenangkan—aroma yang sama dengan tubuh Arjuna.
"Eh, itu apa?" tanya Dinda, rasa penasarannya langsung berpindah.
Jelita membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak dengan batu kecubung ungu yang memancarkan pendaran cahaya lembut. Sebuah pesan singkat tertulis di secarik kertas kuno di bawahnya:
"Pakailah ini. Dengan cincin ini, kau bisa memanggilku kapan pun kau merasa terancam, dan kau akan bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat mata manusia biasa." Bisik Arjuna suaranya menggema yang masih bisa di dengar Dinda dan Ira
"Wah, cincin tunangan?!" teriak Dinda lagi-lagi dengan volume yang tidak terkontrol. "Ira, lihat! Jelita dikasih mahar! Mas Gama kapan ya kasih aku cincin? Minimal cincin dari bungkus cokelat yang kemarin aku kasih juga nggak apa-apa deh!"
Ira hanya bisa menggelengkan kepala, namun matanya menatap cincin itu dengan serius. "Jel, itu artinya... sekarang kamu punya 'mata batin' permanen selama memakai cincin itu. Dunia kita nggak akan pernah terasa normal lagi buatmu."
Jelita memakai cincin itu ke jari manisnya. Seketika, pandangannya sedikit berubah. Di sudut kamarnya, ia bisa melihat bayangan hitam kecil yang tadinya tidak terlihat—mungkin roh-roh penjaga yang dikirim Arjuna—sedang membungkuk hormat padanya.
Setelah kehebohan Dinda kini Jelita dan Ira memilih untuk bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Sebaiknya kita bersiap hari ini ada kelas pagi,"putus Jelita pada kedua sahabatnya.
"Iya, benar! Aku juga ada kuis di jam pertama, bisa mati aku kalau telat lagi," sahut Ira sambil buru-buru menyambar handuknya.
Dinda, yang masih asyik mengagumi bungkus cokelat kosong milik Gama, akhirnya ikut bangkit dengan malas. "Duh, padahal aku masih mau bahas soal 'malam pertama' kamu sebagai Ratu, Jel. Tapi ya sudahlah, demi masa depan dan demi bisa pamer ke cowok-cowok kampus kalau aku punya koneksi orang dalam di alam gaib, aku mandi sekarang!"
Tiga puluh menit kemudian, mereka bertiga sudah rapi dengan gaya masing-masing. Jelita memilih mengenakan blouse berkerah tinggi untuk memastikan tanda di lehernya benar-benar aman dari mata-mata usil di kampus. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari penampilannya pagi ini—ia tampak lebih anggun, dengan aura ketenangan yang tidak biasa, dan tentu saja, cincin kecubung pemberian Arjuna yang kini melingkar manis di jarinya.
Begitu mereka keluar dari gerbang rumah, Jelita merasakan sensasi aneh di jarinya. Cincin itu bergetar halus.
Saat ia melihat ke arah jalan raya, pandangannya sedikit bergoyang. Berkat cincin itu, Jelita tidak hanya melihat hiruk-pikuk kendaraan, tapi ia juga melihat beberapa sosok "penunggu" di pohon besar depan rumahnya yang sedang membungkuk hormat saat ia lewat.
"Jel? Kamu kenapa berhenti?" tanya Ira yang menyadari langkah Jelita tertahan.
"Ah, tidak... hanya sedang membiasakan mata saja," bisik Jelita pelan.
Sesampainya di kampus, suasana terasa berbeda bagi Jelita. Setiap kali ia melewati lorong-lorong tua di fakultasnya, ia bisa melihat sosok-sosok tak kasat mata yang biasanya membuat mahasiswa merinding, kini justru menyingkir dan memberi jalan dengan penuh rasa segan.
Dinda yang berjalan di sampingnya tampak celingukan. "Jel, kok rasanya hari ini kampus adem banget ya? Biasanya kan di koridor ini hawanya panas-panas gimana gitu."
"Itu karena 'Ratu' mereka sedang lewat, Dinda," bisik Ira yang mulai paham.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, muncul segerombolan mahasiswa tingkat atas yang terkenal sering menggoda mahasiswi baru. Salah satu dari mereka, yang dikenal paling usil bernama Rangga, mencoba mendekati Jelita.
"Wah, Jelita... hari ini makin cantik aja. Tanda di leher itu kenapa? Habis kena gigit siapa?" goda Rangga sambil mencoba menyentuh tangan Jelita.
Tepat sebelum tangan Rangga menyentuh Jelita, cincin di jari Jelita bersinar redup. Tiba-tiba, angin dingin yang sangat kencang berhembus entah dari mana, membuat Rangga tersentak dan terpeleset hingga jatuh terduduk di lantai yang mendadak terasa licin seperti es.
"Aduh! Sial, kok dingin banget?!" teriak Rangga ketakutan saat merasakan ada tangan dingin yang seolah menekan pundaknya agar tetap di lantai.
Jelita menatap Rangga dengan tenang, namun di matanya yang sayu, terpancar kilatan biru yang persis seperti mata Arjuna. "Sebaiknya jaga tanganmu, Rangga." Tegas Jelita.
Dinda yang melihat itu langsung bertepuk tangan tanpa suara. "Mampus kamu, Rangga! Mau godain istrinya Pangeran Kegelapan? Cari mati!"
Ira menarik tangan Jelita untuk terus berjalan. "Jel, kamu harus hati-hati mengendalikan kekuatan cincin itu. Arjuna sepertinya tidak main-main dengan perlindungannya."
Saat mereka duduk di dalam kelas, Jelita mendengar bisikan halus di telinganya, suara yang sangat ia kenal dan selalu berhasil membuatnya merinding.
"Jangan biarkan manusia itu menyentuhmu, Ratuku... atau aku akan menyeretnya ke ruang bawah tanah istanaku secara permanen."
Jelita tersenyum tipis ke arah jendela yang kosong. "Aku bisa mengatasinya, Arjuna," batinnya.