terinspirasi dari film: Takut Gak Sih.
menceritakan seorang You Tuber dengan nama Chanel Takut Gak Sih yang membuat konten untuk membongkar kasus kematian para arwah gentayangan dari berbagai daerah dan pulau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
misteri rumah gantung part akhir
Pagi harinya Tim Takut Gak Sih menemui Pak RT di kediamannya.
"Maaf Pak RT jika kedatangan kami mengganggu waktu bapak, apakah Pak RT mengenal orang yang bernama Rendi?" Tanya Galang.
"Iya saya mengenalnya, dia adalah rentennir di desa ini... memangnya ada apa nak?" Tanya balik Pak RT.
"Begini pak, Pak RT pasti mengetahui bahwa Arwah Melody dan Arwah Benny kerap kali muncul di rumah gantung itu, sebenarnya mereka tidak ingin mengganggu melainkan hanya untuk meminta keadilan atas kematian mereka." Ujar Galang.
"Keadilan bagaimana? Mereka berdua meninggal kan karena ulahnya sendiri mengapa harus meminta keadilan?" Tanya Bu RT.
"Bukan Bu, Melody dan Benny tidak melakukan gantung diri melainkan di bunuh kemudian jasadnya di gantung, agar para warga mengira bahwa mereka berdua bunuh diri.."
"Apa mereka di bunuh?!" Pekik Pak RT..
"Iya pak, mereka di bunuh karena mereka hendak melarikan diri dari acara pernikahan itu.." sahut Cahaya.
"Mereka di bunuh oleh Rendi calon suami Melody..." jawab Atmo.
"Kamu kalau ngomong hati hati ya, jangan asal fitnah." Ucap Bu RT.
"Teman saya memang ngomong apa adanya pak, bu." Sahut Vina.
"Terus apa buktinya kalau Rendi yang membunuh mereka berdua?" Tanya Pak RT.
"Lebih baik sekarang kita menuju kerumah gantung itu, di sana ada lembaran surat yang do tulis oleh Rendi, untuk memalsukan kematian Melody.." ucap Galang.
"Apa tidak berbahaya kita kesana?"
"Insyaa allah tidak apa apa pak.."
"Baiklah, ayo kita kesana.."
Semua member Tim Takut Gak Sih, pak RT, Bu RT dan beberapa warga yang mereka temui menuju ke rumah gantung itu.
***
"Apa tidak apa apa kalau kita masuk ke dalam?" Tanya Pak RT begitu mereka semua sampai di depan Rumah Gantung..
"Percaya sama saya pak tidak akan terjadi apa apa.." jawab Galang sambil membuka pintu dan melangkah masuk di ikuti oleh member lainnya dan pak RT bu RT kemudian para warga.
Galang langsung menuju kamar Melody dimana di saa masih terdapat hiasan pengantin. Semua barang masih dalam posisinya masing masing.
"Pak Bu, mari kita cari surat itu.." ucap Galang.
"Baiklah.."
Mereka pun mulai mencari di mana surat itu berada, karena waktu Melody dan Benny tewas gantung diri surat itu tidak sengaja terhempas angin dan berada entah dimana namun yang pasti surat itu belum di baca siapapun.
"Aku menemukannya!" Teriak salah satu warga.
"Jangan di sentuh pak.." ucap Galang.
"Kenapa?"
"Karena di surat itu terdapat sidik jari pelakunya. Kalau kita mau memegangnya lebih baik gunakan plastik agar sidik jari kita tidak menyatu dengan sidik jari pelakunya.."
Pak RT kemudian mengambil plastik untuk mejadi pelapis seperti sapu tangan.
"Semoga dengan bukti ini rumah gantung ini tidak lagi menjadi rumah angker dan mengakhiri teror Melody dan Benny.."
Setelah menemukan surat itu warga menelephone polisi untuk melaporkan hasil penemuan mereka.
***
Sepulang dari rumah gantung itu mereka semua berkumpul di rumah Pak RT sambil menunggu polisi datang.
"Pak, kenapa dulu tidak langsung di laporkan kematian Melody dan Benny? Andai di laporkan pasti pelakunya sudah tertangkap dan kasusnya tidak panjang karena polisi pasti menemukan sidik jari pelaku di tali tambang itu..." Tanya Vina.
"Itu semua atas permintaan pihak keluarga Rendi, mereka tidak mau kalau Rendi terus bersedih dan akhirnya keluarga Melody mengikuti keinginan Rendi. Karena mereka yakin bahwa Melody dan Benny bunuh diri bukan di bunuh.." jawab pak RT.
"Nah, harusnya dengan permintaan keluarga Rendi yang demikian seharusnya mereka curiga, kenapa nurut saja ya?" Sahut Atmo.
"Betul juga apa kata Mas Atmo, kenapa kita tidak kepikiran sampai kesitu ya?" Sahut salah satu warga.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya polisi datang dan mengintrogasi satu persatu warga, setelah itu polisi juga memeriksa sidik jari yang berada di kertas itu dan benar saja pelaku pembunuhan itu adalah Rendi.
Mengetahui hal itu semuanya langsung bergegas kerumah Rendi.
***
Setelah sampai di rumah Rendi, kedua Istri Rendi terkejut melihat banyaknya warga dan polisi datang kerumah mereka. Kedua istri Rendi langsung masuk kerumah untuk mengabari Rendi.
"Papa!!" Teriak istri pertama Rendi.
"Ada apa sih teriak teriak?!" Tanya Rendo ketus.
"Itu pa, ada polisi datang kerumah kita..."
"Apa polisi? Memangnya ada apa?"
"Aku juga tidak tau pa..."
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum, selamat siang.." ucap Pak RT.
"Kalian temui saja mereka jika mereka bertanya dimana aku katakan saja tidak ada.." ucap Rendi.
"Memangnya papa sudah lakukan apa sih?"
"Sudah tidak usah banyak tanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan!" Jawab Rendi ia berbalik dan sembunyi.
Kedua istri Rendi berjalan menuju pintu dan membukanya, "wa'alaikum salam, maaf ada apa ya?" Tanya Istri pertama Rendi.
"Apa pak Rendinya ada?" Tanya Pak RT.
Kedua istri Rendi tampak bingung.
"Mohon jangan berbohong Bu, karena ibu juga bisa di penjara pasal perlindungan pelaju kejahatan.." sahut polisi di samping pak RT.
Kedua istri Rendi panik, mereka tidak ingin di penjara.
"Di dalam pak, Dia lagi sembunyi di dalam lemari.. silahkan masuk saja.." ucap Istri kedua Rendi.
"Rendi keluar kamu!!" Teriak warga.
Rendi yang panik kejahatannya terungkap pun langsung berlari lewat pintu belakang rumahnya, namun naas Salah satu warga meluhat Rendi.
Mereka semua langsung mengejar Rendi.
Dor!
Tembakan peringatan ke atas dari salah satu polisi terdengar.
"Pak Rendi!! Berhenti!!!" Teriak salah satu polisi. Namun Rendi tidak memperdulikan peringatan itu ia terus berlari, karena Rendi masih terus berlati terpaksa salah satu polisi menembak kaki Rendi.
Dor!
Terdengar suara tembakan, peluru itu langsung melesat dan menembus kaki kanan Rendi, Rendi langsung jatuh tersungkur di jalan setapak, polisi bergegas menangkapnya sebelum warga bertindak gegabah.
"Mampus! Itu balasan yang pantas untuk pembunuh sepertimu! Hukum mati sana dia!" Ucap salah satu warga.
Hari itu juga Rendi di bawa ke kantor polisi. baik semua warga, arwah Melody, dan arwah Benny berterimakasih kepada Galang dan yang lainnya. Nama Tim TGS semakin ramai dan semakin di kenal banyak orang terutama di Semarang.
Konten mereka di rumah Gantung Sukses, mereka juga mendapatkan berbagai Request tempat di kolom komentar.
***
Dari kejadian yang di alami Gita kita dapat mengambil hikmahnya, kalau kita tidak boleh malakukan hal yang sembarabgan di tempat orang lain. Karena kita selaku berdampingan dengan makhluk ciptaan Allah.
Satu misteri telah terpecahkan lagi berkat kerja sama Tim Takut Gak Sih, misteri dan kasus apalagi yang akan di hadapi Tim TGS? Tunggu update bab selanjutnya.. jangan lupa like, komen, dan kasih ulasan bintang 5.