NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Pagi itu, suasana di kediaman mereka terasa begitu kontras.

Genata berdiri di ambang pintu dengan wajah yang berusaha tegar, sementara Liana sudah lebih dulu duduk di dalam mobil dengan pandangan kosong ke arah jendela.

Sebelum memasuki kursi kemudi, Abi menghampiri Genata.

Ia menarik napas dalam, lalu mengecup kening istri pertamanya itu dengan lembut. Ada rasa bersalah yang tersirat dari tatapannya.

"Hati-hati ya, Mas. Jaga dirimu baik-baik di sana," ucap Genata lirih.

Mata Genata sempat melirik ke arah koper di bagasi yang berisi "kejutan" pahit yang ia siapkan untuk Liana.

Abi hanya mengangguk pelan, lalu masuk ke mobil.

Perjalanan menuju Bali dimulai. Abi memutuskan untuk menyetir sendiri, berharap perjalanan darat yang panjang ini bisa mencairkan kekakuan di antara dirinya dan Liana. Namun, kenyataannya berbeda. Sepanjang jalur antar kota, Liana hanya diam seribu bahasa.

Ia mengabaikan setiap usaha Abi untuk memulai percakapan, seolah-olah pria di sampingnya itu adalah orang asing.

Matahari mulai meninggi tepat di atas kepala saat mereka sampai di sebuah rumah makan yang cukup tenang di pinggir jalan raya.

Abi memarkirkan mobilnya dan menoleh ke arah Liana.

"Li, kita makan siang dulu ya. Perjalanan masih jauh, kamu belum makan apa pun sejak pagi," ucap Abi lembut.

Tanpa menunggu jawaban, Abi turun dan membukakan pintu untuk Liana.

Ia meraih tangan Liana, menggenggamnya dengan erat seolah tidak ingin membiarkan gadis itu menjauh darinya.

Liana tidak memberontak, namun tangannya terasa dingin dan kaku di dalam genggaman Abi.

Setelah duduk di salah satu meja kayu yang menghadap ke arah persawahan, seorang pelayan datang membawa menu.

"Mau pesan apa, Sayang? Di sini ayam bakarnya terkenal enak. Atau kamu mau sup hangat supaya perutmu nyaman?" tanya Abi sambil menatap wajah Liana yang masih terlihat pucat, dengan bekas lebam yang mulai menguning di pipinya.

Liana menarik tangannya dari genggaman Abi, lalu menyandarkan punggungnya di kursi.

Ia menatap ke arah sawah, sama sekali tidak melirik buku menu di atas meja.

"Aku nggak lapar, Paman," jawab Liana singkat.

Abi menghela napas, ia menutup buku menu itu dengan pelan.

"Li, jangan begini. Kamu harus makan. Kamu tidak ingin pingsan di jalan, kan?"

"Pingsan pun tidak ada bedanya bagi aku, Paman," sahut Liana ketus.

"Toh, Paman hanya butuh tubuhku sehat agar bisa memberikan anak untuk kalian. Jadi, pesan saja apa yang Paman mau aku makan, anggap saja Paman sedang memberi makan mesin."

Perkataan Liana yang tajam itu membuat suasana di meja makan seketika menjadi tegang.

Abi terdiam, hatinya terasa perih menyadari bahwa luka batin yang ia torehkan jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.

Abi menghela napas panjang, mencoba menekan egonya.

Ia tahu bahwa memaksa dengan amarah hanya akan semakin menjauhkan Liana.

Tanpa mempedulikan penolakan Liana, Abi memanggil pelayan dan memesan menu andalan tempat itu.

"Dua porsi ayam bakar madu, sayur asem, dan jus jeruk murni," ucap Abi tegas.

Ia sengaja memesan ayam bakar madu, karena ia ingat betul Liana sangat menyukai perpaduan rasa manis dan gurih sejak kecil.

Tak lama kemudian, aroma harum ayam bakar yang baru diangkat dari panggangan memenuhi meja mereka.

Abi mengambil piring, memotong kecil daging ayamnya, lalu mencampurnya dengan sedikit nasi dan kuah sayur asem agar lebih mudah ditelan.

"Buka mulutmu, Li," ucap Abi lembut sambil menyodorkan sendok ke depan bibir Liana.

Liana memalingkan wajah, menatap ke arah lain dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Paman, aku bilang aku tidak lapar."

"Dan aku bilang aku tidak ingin kamu sakit," balas Abi tak kalah tenang namun tak terbantahkan.

"Makan sedikit saja, setelah itu kita lanjut jalan. Aku tidak akan memaksamu bicara, tapi aku akan memaksamu untuk tetap sehat."

Liana menoleh kembali, menatap sendok itu dan wajah Abi bergantian.

Kelelahan fisik dan batin akhirnya membuatnya menyerah.

Dengan gerakan kaku dan wajah yang masih menunjukkan perlawanan, Liana perlahan membuka mulutnya.

Ia mengunyah makanan itu tanpa rasa. Meski ayam bakar itu sangat enak, di lidah Liana semuanya terasa hambar seperti kertas.

Setiap suapan yang masuk terasa seperti pengingat betapa dirinya kini tidak lebih dari sekadar tawanan yang harus dijaga agar "asetnya" tetap berharga.

Abi terus menyuapinya dengan telaten, sesekali menyeka sudut bibir Liana dengan tisu atau menyodorkan jus jeruk agar Liana tidak tersedak.

Ada keheningan yang aneh di sana dimana sebuah tindakan yang terlihat sangat romantis bagi pengunjung lain di rumah makan itu, namun terasa sangat menyesakkan bagi dua orang yang menjalaninya.

"Puas, Paman?" tanya Liana setelah suapan kelima, menepis pelan tangan Abi yang hendak menyuapinya lagi.

"Sekarang bisa kita pergi? Aku ingin segera sampai dan mengunci diri di kamar."

Abi terdiam sejenak, meletakkan sendoknya, lalu mengangguk lemah.

"Minum jusnya sampai habis, lalu kita berangkat."

Liana meneguk jus jeruk itu dengan cepat hingga tandas, lalu segera berdiri dan berjalan lebih dulu menuju mobil tanpa menunggu Abi membayar tagihan.

Ia ingin segera lari dari perhatian Abi yang terasa mencekik itu.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ke pelabuhan Gilimanuk.

Disepanjang perjalanan, Liana berpura-pura memejamkan matanya.

Mobil mereka perlahan memasuki perut kapal feri yang besar.

Suara deru mesin kapal dan bau khas air laut yang asin mulai tercium.

Abi mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Liana yang masih memejamkan matanya.

"Ayo keluar sejenak, Li. Angin laut mungkin bisa membuat pikiranmu lebih segar," ajak Abi pelan.

Liana membuka matanya, tidak menjawab perkataan Abi. Namun ia mengikuti langkah Abi menuju dek atas.

Mereka berdiri bersandar pada pagar pembatas kapal, menatap hamparan Selat Bali yang mulai memerah tertimpa cahaya matahari terbenam.

Angin laut bertiup kencang, menerbangkan rambut panjang Liana yang berantakan.

Keheningan di antara mereka terasa begitu berat, hingga akhirnya Liana membuka suara.

Suaranya sangat lirih, hampir tertelan suara ombak yang menghantam lambung kapal.

"Andaikan saja aku tahu Abi akan menjadi seperti ini, pasti di masa kecilku dulu, aku tidak akan pernah mau meminta menikah denganmu," ucap Liana tanpa menatap Abi.

Jantung Abi terasa seperti diremas mendengar kata-kata itu.

"Aku merindukan Paman Abi yang dulu. Paman yang selalu menggendongku tinggi-tinggi agar aku bisa memetik bunga. Paman yang selalu rela berkeliling kota hanya untuk membelikan es krim cokelat kesukaanku saat aku menangis."

Liana menarik napas dalam, mencoba menahan isak tangis yang mulai menyeruak.

Ia menoleh perlahan, menatap Abi dengan mata yang dipenuhi luka mendalam.

"Aku rindu paman yang lembut, bukan pria yang berdiri di depanku sekarang. Pria yang tega menyumpal mulutku dengan sapu tangan agar jeritanku tidak terdengar, lalu mencambuk kakiku tanpa ampun hanya karena egonya terluka."

Air mata Liana jatuh, membasahi pipinya yang masih membiru.

"Paman sudah membunuh Paman Abi yang aku cintai. Dan sekarang, aku hanya tinggal bersama seorang pria asing yang sangat aku benci."

Abi terpaku saat mendengar perkataan dari Liana.

Perkataan Liana jauh lebih menyakitkan daripada tamparan mana pun.

Ia ingin meraih tubuh Liana, ingin memeluknya dan memohon ampun hingga suaranya habis, namun ia sadar tangannya yang pernah mencambuk itu kini terasa terlalu kotor untuk menyentuh Liana.

"Li, aku..." Abi mencoba bicara, namun tenggorokannya tercekat.

Liana kembali membuang muka, menatap daratan Bali yang mulai terlihat di kejauhan.

"Jangan katakan apa pun, Paman. Karena setiap kata maaf yang keluar dari mulutmu, hanya akan mengingatkanku pada rasa perih di kakiku."

Kapal terus melaju membelah ombak, membawa mereka menuju pulau impian yang kini terasa seperti penjara bagi hati yang telah patah.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!