Ia datang membawa cinta yang dipinjamkan dalam kehidupan Aira Maheswari.
cukup hangat untuk dipercaya, cukup palsu untuk menghancurkan.
Keluarga Aira runtuh, ekonomi hampir patah, dan jiwanya perlahan kehilangan arah.
Ketika dendam menunaikan tugasnya dan ia ditinggalkan di titik paling sunyi,
Hingga seorang lelaki yang mencintainya sejak bangku SMP akhirnya mengetuk pintu terakhir.
Ia datang bukan untuk melukai,
melainkan menyelamatkan.
Di antara dendam yang menyamar sebagai cinta
dan cinta yang setia menunggu dalam diam,
pintu mana yang akan Aira pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Pintu pagar rumah berderit pelan ketika Aira mendorongnya masuk.
Jam di ruang tamu menunjukkan hampir pukul satu dini hari.
Lampu teras masih menyala.
Ibunya duduk di sofa, tubuhnya condong ke depan, ponsel di tangan, wajahnya pucat. Sejak tadi ia tak bergerak jauh dari sana. Seolah jika ia berpaling sedikit saja, anaknya akan benar-benar menghilang.
Begitu mendengar suara langkah di teras, kepala perempuan parubaya itu terangkat cepat.
“Aira?”
Suara itu bergetar.
Tak menunggu jawaban, ia sudah berdiri.
Aira baru melangkah satu kaki masuk ketika tubuh ibunya langsung memeluknya. Kuat. Erat. Seolah jika dilepas sedikit saja, Aira akan pecah berkeping-keping.
“Ya Allah… Aira…”
Suara ibunya pecah di bahunya.
“Kamu dari mana, Nak… ibu takut… ibu pikir… ibu pikir sesuatu terjadi sama kamu…”
Aira membeku beberapa detik.
Lalu semua yang ia tahan sejak tadi runtuh.
Ia membalas pelukan itu sambil menangis keras. Tangannya mencengkeram baju ibunya seperti anak kecil yang takut tenggelam.
“bu…”
Suara Aira patah.
“Maaf… maaf… Aira bikin ibu khawatir…”
Ibunya mengelus rambut Aira berkali-kali. Tangannya gemetar, tapi sentuhannya hangat.
“Nggak apa-apa… nggak apa-apa…”
Ia mencium puncak kepala Aira.
“Yang penting kamu pulang. Yang penting enggak terjadi apa-apa sama kamu”
Mereka berdiri lama di ambang pintu. Tak ada kata lain. Hanya isak yang saling bersahutan.
Akhirnya ibunya menarik Aira masuk.
“Ayo duduk,” katanya lembut tapi tegas.
“Kamu dingin. Bajumu basah.”
Aira menurut.
Ia duduk di sofa seperti tubuh yang kehabisan tenaga. Matanya kosong. Wajahnya hancur.
Ibunya mengambil handuk kecil, mengeringkan rambut Aira dengan hati-hati.
“Kamu menangis?” tanya ibunya pelan.
Aira mengangguk kecil.
“Karena Langit?”
Pertanyaan itu tidak menghakimi. Hanya memastikan.
Air mata Aira jatuh lagi.
“Iya, bu…”
Ibunya menarik napas panjang. Ia duduk di samping Aira, menggenggam tangan anaknya dengan dua tangan.
“Cerita sama ibu,” katanya.
“Pelan-pelan saja. ibu di sini.”
Dan Aira pun mulai bercerita.
Tentang pertengkaran di rumah.
Tentang ultimatum.
Tentang ancaman putus.
Tentang bagaimana ia diminta memilih, bukan dipahami.
Ibunya mendengarkan tanpa menyela.
Hanya sesekali mengusap tangan Aira, atau mengangguk pelan.
Ketika Aira selesai, dadanya naik turun, seperti habis berlari jauh.
Ibunya menunduk sebentar.
Lalu berkata dengan suara yang sangat tenang, sangat yakin.
“Aira…”
Ia menatap mata anaknya.
“Cinta yang tulus itu tidak menuntut.”
Aira terdiam.
“Tidak mengatur,” lanjut ibunya.
“Tidak membuat kamu merasa bersalah karena jadi dirimu sendiri.”
Ibunya menggenggam tangan Aira lebih erat.
“Kalau seseorang mencintaimu, dia ingin kamu tumbuh. Bukan menyusut agar muat di egonya.”
Aira menangis lagi.
“Tapi aku masih cinta dia, bu…”
Suaranya lirih. “Walaupun sakit…”
Ibunya mengangguk.
“Itu wajar,” katanya lembut.
“Cinta tidak selalu hilang bersamaan dengan rasa sakit.” Ia mengusap pipi Aira.
“Tapi ingat satu hal,” kata ibunya tegas.
“Kamu tidak pernah salah hanya karena ingin bernapas.”
Aira menutup wajahnya.
Tangisnya kembali pecah.
Ibunya memeluknya lagi.
“Kamu boleh lelah,” bisiknya.
“Tapi kamu tidak boleh kala.”
Malam semakin larut. Aira berbaring di tempat tidurnya, lampu kamar dimatikan. Hanya cahaya kecil dari jendela yang masuk, samar.
Kata-kata ibunya berputar di kepalanya.
Cinta yang tulus tidak menuntut.
Tidak mengatur.
Tidak membuatmu merasa bersalah karena jadi dirimu sendiri.
Ia memeluk bantal.
Air matanya kembali jatuh, membasahi kain.
“Tapi kenapa aku masih ingin dia?”
bisiknya pada diri sendiri.
Ponselnya bergetar.
Nama Naya muncul di layar.
Aira ragu beberapa detik, lalu mengangkatnya.
“Halo…”
Suaranya serak.
“Aira?”
Nada Naya langsung berubah panik.
“Kamu kenapa? Suaramu…”
Aira tak bisa menahan lagi.
“Nay… aku capek…”
Tangisnya pecah.
Tak lama kemudian, suara Raka dan Bima ikut terdengar dari speaker. Mereka rupanya sedang bersama.
“Aira, kamu di mana?” tanya Raka cepat.
“Di rumah…” jawab Aira.
“Aku… aku habis bertengkar sama Langit.”
Hening sesaat.
Lalu Bima berkata pelan tapi tegas,
“Kita sudah tahu ini bakal terjadi.”
Aira terdiam.
“Dia ultimatum aku,” kata Aira lirih.
“Dia suruh aku memilih. dia atau kerjaan. Aku atau orang-orang di hidupku.”
Naya mendesah panjang.
“Aira…” Suaranya gemetar karena marah.
“Kamu sadar nggak, sejak kamu pacaran sama dia, kamu jarang ketemu kita?”
Aira terdiam.
“Setiap mau hangout,” lanjut Naya,
“selalu ada alasan. Langit nggak suka. Langit nggak nyaman. Langit marah.”
Raka ikut bicara.
“Kita temen kamu, Ai. Bahkan sebelum dia ada.”
Bima menambahkan,
“Dan kalian belum menikah. Tapi dia sudah mengatur hidup kamu seperti kamu miliknya.”
Aira menutup mata.
“Aku tahu…”
Suaranya nyaris tak terdengar.
“Aku tahu semua itu salah…”
“Terus kenapa kamu masih bertahan?” tanya Naya lembut.
Hening lama.
“Karena aku masih cinta,” jawab Aira jujur.
“Dan itu yang paling menyakitkan.”
Tak ada yang menyela.
Akhirnya Naya berkata,
“Cinta yang bikin kamu takut, itu bukan cinta, Ai.”
Raka mengangguk walau Aira tak bisa melihat.
“Cinta itu harus bikin kamu aman.”
Bima menambahkan,
“Bukan bikin kamu merasa selalu salah.”
Air mata Aira jatuh lagi.
“Aku takut sendirian,” katanya jujur.
Naya tersenyum di balik suara.
“Kamu tidak sendirian,” katanya.
“Kamu punya kami. Selalu.”
Percakapan itu berakhir dengan keheningan yang lebih hangat.
Aira meletakkan ponsel di dada.
Ia masih mencintai Langit.
ia mulai bertanya Apakah cinta seharusnya sesakit ini?
Di tempat lain, Langit duduk di kamar kosnya.
Lampu dimatikan.
Hanya cahaya dari layar ponsel yang menyinari wajahnya.
Ia membaca ulang pesan terakhirnya pada Aira.
Pikirkan baik-baik.
Ia tersenyum miring.
“Dia pasti balik,” gumamnya.
“Dia selalu balik.”
Ia bangkit, berjalan mondar-mandir.
“Aira itu lemah,” katanya pada dirinya sendiri.
“Dia nggak bisa hidup tanpa pegangan.”
Langit berhenti di depan cermin.
Menatap bayangannya sendiri.
“Dan pegangan itu aku.”
Ia tertawa pelan.
“Lihat saja,” katanya licik.
“Salman Maheswari… putri kamu…”
Nada suaranya rendah, puas.
“…ada di dalam kendaliku.”
Ia duduk kembali, menyandarkan punggung.
“Sebentar lagi,” katanya yakin.
“Aira akan datang minta maaf.”
Dan Langit tidak menyadari satu hal, Bahwa cinta yang dikendalikan
perlahan berubah
menjadi sesuatu yang akan meledak.
Aira belum bisa tidur.
Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang sudah ia kenal sejak kecil. Retakan halus di sudut tembok, bayangan nya yang nampak tenang di langit-langit kamar. Seolah-olah hidupnya telah bergeser beberapa derajat, cukup untuk membuat semuanya terasa tidak lagi pas.
Ponselnya tergeletak di samping bantal.
Nama Langit belum muncul lagi.
Biasanya, setelah pertengkaran, Langit akan mengirim pesan. Bukan minta maaf. Tapi kalimat panjang yang menjelaskan kenapa ia marah, kenapa Aira salah, kenapa Aira harus mengerti.
Malam ini, tidak ada.
Aira memejamkan mata.
Kata-kata ibunya kembali datang, pelan tapi pasti.
“Kalau seseorang mencintaimu, dia ingin kamu tumbuh. Bukan menyusut agar muat di egonya.”
Dadanya terasa sesak.
Ia teringat betapa sering ia menahan tawa agar tidak dianggap berlebihan.
Menunda pulang agar tidak dituduh memilih hal lain.
Menghapus pesan sebelum dikirim karena takut disalahartikan.
Ia teringat betapa sering ia berkata, “nggak apa-apa”, padahal jelas ada yang hancur di dadanya.
Aira menarik napas panjang.
“Kalau aku terus bertahan…” bisiknya pada diri sendiri,
“…apa yang tersisa dari aku?”
Air mata mengalir, tapi tidak meledak.
Tenang. Sunyi. Dewasa. Kali ini Aira tidak memikirkan bagaimana caranya agar Langit tidak marah.
Ia memikirkan bagaimana caranya agar ia sendiri bisa hidup.
Dan di situlah, tanpa suara, tanpa saksi,
Aira mengambil keputusan.
Pagi itu cerah.
Langit menerima pesan dari Aira saat ia sedang duduk di kafe dekat kosan nya.
Aira:
Kita ketemu sore ini. Aku mau bicara.
Langit tersenyum kecil.
Pasti mau minta maaf, pikirnya.
Pasti mau balik.
Ia membalas singkat.
Langit:
Jam berapa?
Mereka bertemu di tempat netral.
Kafe kecil yang tidak terlalu ramai.
Tidak ada kenangan manis di sana.
Aira datang lebih dulu.
Ia duduk tegak, tangannya di atas meja, secangkir teh hangat di depannya tak tersentuh. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Langit datang lima menit kemudian.
“Aku kira kamu butuh waktu yang lama” katanya sambil duduk.
Nada suaranya ringan. Percaya diri.
Aira menatapnya.
“Tidak,” jawab Aira pelan.
“Aku memang mau bicara.”
Langit menyandarkan tubuh.
“Jadi?”
Ia tersenyum tipis.
“Kamu sudah mikir?”
Aira mengangguk.
“Sudah.”
Langit menunggu.
Yakin.
Aira menarik napas.
“Aku mau kita berhenti,” katanya.
Kalimat itu jatuh perlahan.
Tidak dihentakkan.
Tidak ditinggikan.
Langit tertawa kecil.
“Berhenti?”
Ia menggeleng.
“Air, jangan bercanda. Kamu kan masih emosi.”
“Aku tidak emosi,” jawab Aira tenang.
“Dan aku tidak bercanda.”
Langit mencondongkan tubuh.
“Kamu bilang gitu sekarang. Nanti juga nyesel.”
Aira menggeleng kecil.
“Aku sudah terlalu lama nyesel,” katanya.
“Setiap hari.”
Langit terdiam sesaat.
“Apa ini gara-gara dia?”
Nada suaranya mengeras.
Aira menatap mata Langit lurus-lurus.
“Ini gara-gara aku,” jawabnya.
“Yang terlalu lama mengabaikan diriku sendiri.”
Langit tersenyum sinis.
“Kamu berubah sejak kenal dia.”
Aira menghela napas.
“Aku berubah karena aku capek hidup dalam ketakutan.”
Langit mengetuk meja.
“Ketakutan apa? Aku cuma peduli!”
Aira mengangguk pelan.
“Aku tahu kamu merasa peduli.”
Ia menatap cangkirnya.
“Tapi caramu mencintai membuat aku mengecil.”
Langit tertawa pendek.
“Kamu terlalu sensitif.”
Aira tersenyum kecil.
Sedih.
“Aku sampai lupa rasanya jadi diriku sendiri,” lanjutnya.
“Aku selalu mikir sebelum bicara. Selalu mikir sebelum tertawa. Selalu mikir sebelum bahagia.”
Langit mengerutkan dahi.
“Itu namanya kompromi.”
Aira menggeleng.
“Kompromi tidak membuat satu orang kehilangan dirinya.”
Hening.
“Aku tidak bisa hidup seperti itu lagi, Langit,” kata Aira.“Sebelum aku benar-benar hilang.”
Langit bersandar, menatap Aira lama.
“Jadi ini keputusanmu?”
“Iya.”
“Tidak bisa dibicarakan lagi?”
Aira menggeleng.
“Tidak.”
Langit menatapnya, mencoba mencari celah.
Tangis. Keraguan. Ketakutan.
Tapi Aira duduk di sana, hancur tapi utuh.
“Kalau kamu keluar dari hidupku,” kata Langit dingin,“kamu akan nyesel.”
Aira tersenyum kecil.
“Mungkin,” katanya jujur. “Tapi setidaknya aku hidup sebagai diriku sendiri.”
Langit berdiri.
“Jangan hubungi aku lagi.”
Aira mengangguk.
“tidak akan.”
Langit pergi tanpa menoleh.
Dan Aira tetap duduk di sana.
Tidak menangis.
Tidak mengejar.
Tangannya gemetar sedikit.
Tapi dadanya terasa… lebih lapang.
Putus cinta tidak selalu terdengar seperti patah.
Kadang terdengar seperti keheningan yang akhirnya jujur.
Pagi berikutnya, Aira masuk kerja.
Langkahnya pelan saat melewati lobi kantor.
Biasanya, ada satu sosok yang selalu berdiri atau berjalan di sana.
Hari ini, tidak ada.
Aira mencoba tidak berpikir apa-apa.
Mungkin ada kesibukan lain.
Mungkin datang telat.
Ia naik ke lantai atas.
Kosong.
Ruang Kartik tertutup.
Ia menaruh tas di mejanya.
Menyalakan komputer.
Menunggu.
Jam berlalu.
Tidak ada langkah kaki itu.
Tidak ada suara tenang memanggil namanya.
Aira mulai gelisah.
Dan tanpa bisa ditahan, ingatannya kembali ke malam itu.
“Saya tidak ingin menjadi alasan kamu kehilangan siapa pun.”
Aira teringat mata Kartik yang merah.
Suara yang tetap dijaga meski hancur.
Kartik:
“Saya berjanji, Begitu kasus ayah kamu benar-benar selesai… begitu semuanya aman…saya akan pergi.”
Dadanya terasa ditusuk.
Kartik:
“Saya mencintai kamu Aira”
Aira menelan ludah.
Ia teringat bagaimana ia berteriak.
Mengusir.
Menyakiti.
Aira:
“Pergi dari hidup saya!”
Dadanya sesak.
...####...
Jam menunjukkan pukul sepuluh.
Aira akhirnya berdiri.
Menghampiri meja sekretaris.
“Maaf,” katanya pelan.
“Pak Kartik… masuk hari ini?”
Perempuan itu menatap Aira sebentar.
“kamu kan asisten nya aira, pakai Kartik enggak ngasi tau?” jawabnya.
“beliau ambil cuti.”
Aira membeku.
“Cuti?”
Suaranya hampir tidak keluar.
“Iya,” jawab sekretaris itu.
Aira kembali ke mejanya.
Ia duduk pelan.
Aira menunduk.
“Aku menyakitimu…” bisiknya.
Dan di ruang kantor yang sunyi itu,
Aira menyadari
Keputusan terberat bukanlah meninggalkan orang yang menyakiti kita.
Tapi menerima bahwa kita juga bisa menyakiti orang lain.
Bersambung