NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

HAL-HAL YANG TETAP ADA, MESKI TAK DIMINTA

Ruangan kunjungan itu dingin.

Bukan karena pendingin udara, melainkan karena terlalu banyak kata yang belum pernah diucapkan. Terlalu banyak luka yang ditahan agar tidak semakin perih.

Aira masih berdiri di depan kaca tebal itu. Tangannya menggenggam gagang telepon, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Air mata mengalir tanpa suara, jatuh satu-satu, seolah ia takut bahkan pada tangisnya sendiri.

Ayahnya menatapnya dengan mata yang sama seperti dulu.

Mata yang selalu mencoba kuat, bahkan ketika tubuhnya runtuh.

“Aira,” panggil ayahnya lagi, suaranya serak

tapi hangat. “Duduk, Nak.”

Aira mengangguk pelan dan duduk di kursi besi dingin. Ia menyeka air matanya cepat, seolah tidak ingin ayahnya melihat betapa rapuh dirinya sekarang.

Ayahnya tersenyum kecil.

“Kamu tambah kurus,” katanya.

Aira mencoba tersenyum balik, tapi gagal.

“Ayah juga.”

Ayahnya terkekeh pelan. “Nanti ayah akan menambah porsi makan ayah”

Hening kembali jatuh.

Ada begitu banyak yang ingin Aira tanyakan.

Begitu banyak yang ingin ia teriakkan.

Tapi juga terlalu banyak yang ia takut dengar jawabannya.

Ayahnya yang lebih dulu membuka suara.

“Ayah tahu… kamu pasti masih bingung.”

Ia menarik napas panjang. “Dan ayah tahu, ayah tidak bisa memaksa kamu percaya.”

Aira menunduk. Tangannya mengencang di gagang telepon.

“Ayah tidak peduli apa kata orang,” lanjut ayahnya pelan, tegas. “Tidak peduli apa yang mereka tulis, apa yang mereka tuduhkan. Yang ayah mau cuma satu.” Ia menatap Aira lurus-lurus. “Kamu percaya sama ayah.”

Kalimat itu menghantam dada Aira keras.

“Ayah…” suara Aira bergetar. “Aku… aku mau percaya.”

Ayahnya mengangguk kecil, seolah itu sudah cukup membuatnya lega.

“Tapi,” lanjut Aira, air matanya jatuh lagi. “Aku juga nggak mau dibohongi.”

Ayahnya terdiam.

“Aku anak ayah,” ucap Aira lirih. “Aku kuat. Tapi aku enggak mau ayah berbohong. Kalau ayah memang bersalah… aku nggak mau ayah bilang ayah tidak bersalah hanya agar aku tetap berdiri di pihak ayah.”

Napas ayahnya terdengar berat.

“Kalau ayah salah,” lanjut Aira dengan suara patah, “aku tetap anak ayah. Tapi aku nggak mau cintaku dipakai untuk menutup kebenaran.”

Ayahnya memejamkan mata lama.

Saat ia membukanya kembali, ada kilau basah di sana.

“Ayah tidak bersalah, Nak,” katanya akhirnya, sangat pelan. “Dan ayah bersumpah, bukan karena ayah takut kehilanganmu. Tapi karena itu kebenaran.”

Aira diam.

“Dan kalau suatu hari nanti terbukti ayah salah,” lanjut ayahnya, “ayah tidak akan minta kamu membela. Ayah hanya minta… kamu tidak membenci.”

Aira menggigit bibirnya.

“Sekarang dengar ayah baik-baik,” ucap ayahnya, nada suaranya berubah lebih tegas. “Bagaimana dengan permintaan ayah yang kemarin?”

Jantung Aira mencelos.

“Permintaan… apa, Yah?”

Ayahnya menatapnya tajam, tapi penuh cemas.

“Menjauhi Langit.”

Aira membeku.

“Kalau kamu masih menganggap ayahmu ini ayahmu,” lanjut ayahnya, “hentikan hubungan itu.”

“Ayah…” suara Aira melemah. “Kenapa harus sejauh itu?”

Ayahnya menghela napas panjang.

“Karena ayah tidak mau kamu hancur.”

“Langit bukan anak baik, Aira,” katanya jujur, tanpa basa-basi. “Dan ayah tidak bilang ini untuk membuatmu sedih atau bingung. Ini bukan soal pilihan sulit. Ini soal keselamatanmu.”

Aira menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

“Ayah tidak mau kamu terus disakiti,” lanjutnya. “Kalau hubungan itu diteruskan, luka kamu akan lebih dalam. Dan ayah… tidak akan ada di luar untuk memelukmu saat itu terjadi.”

Aira menggeleng pelan.

“Aku belum bisa memilih,” katanya jujur. “Aku sayang ayah. Tapi Langit juga…”

Ayahnya tersenyum pahit.

“Ayah cinta pertamamu, Aira,” katanya pelan. “Bukan karena ayah laki-laki pertama dalam hidupmu. Tapi karena ayah mencintaimu tanpa syarat.”

Air mata Aira jatuh lebih deras.

“Kita memang tidak selalu dekat,” lanjut ayahnya. “Ayah banyak salah sebagai orang tua. Tapi tidak satu pun hari berlalu tanpa ayah mendoakan kamu.”

Aira menangis dalam diam.

Di belakang mereka, Kartik berdiri bersandar di dinding. Ia mendengar semuanya. Tapi tidak satu pun kata keluar dari mulutnya.

Ia tahu ini bukan ruangnya.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya ayah Aira berkata lirih,

“Pulanglah. Jaga ibumu.”

Aira mengangguk.

Saat sambungan ditutup dan Aira berdiri, Kartik tidak langsung mendekat. Ia memberi jarak. Memberi waktu.

Mereka berjalan keluar dari ruang kunjungan dalam diam.

Baru di lorong panjang itu Kartik berhenti.

“Saya tunggu di luar,” katanya singkat.

Aira menoleh.

“kita bisa keluar bersama”

Kartik menggeleng.

“Kamu tenangkan dirimu dulu, setelah lebih tenang kamu boleh keluar.”

Ia berbalik dan pergi.

Aira menatap punggung Kartik lama. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya, perhatian yang tidak meminta, kehadiran yang tidak menuntut, tapi Aira segera menepis nya.

Beberapa menit kemudian, di luar lapas, Kartik berdiri di samping mobil. Aira mendekat.

“Kartik,” panggil Aira.

Ia menoleh.

“Terima kasih… sudah bawa aku ke sini.”

Kartik mengangguk.

“Ayahmu orang baik.”

Aira menatapnya kaget.

“Kenapa Kamu seyakin itu?”

“saya percaya keyakinan saya.”

“kamu mengatakan itu karna kamu, di pihak ayah kan?”

Kartik menatap lurus ke depan.

“ayahmu tidak bersalah.”

Aira tercekat.

“Kamu punya buktinya?”

Kartik menoleh padanya.

“Ada.”

“Mana?”

“Nanti.”

“Kapan?” suara Aira meninggi.

“Di persidangan akhir.”

Aira mendengus kesal.

“Kamu selalu begitu. berbicara hal yang penting lalu berhenti tanpa menyelesaikan nya. Seolah aku harus percaya tanpa tahu apa-apa.”

Kartik tersenyum kecil.

“Tidak semua nya harus di jelaskan sekarang, Yang harus kamu tau, kalau ayah kamu tidak bersalah, Aira”

“Itu bukan jawaban!”

“Itu perlindungan.”

Aira menatapnya kesal.

“Kamu menyebalkan.”

Aira masih berdiri di samping mobil.

“Kartik kenapa Kamu yakin ayahku orang baik?” tanyanya pelan.

Kartik mengangguk. “Yakin.”

“Kenapa kamu sebegitu yakinnya?”

Kartik menatap lurus ke depan beberapa detik sebelum menjawab. “Karena orang baik meninggalkan jejak yang rapi, bahkan saat hidupnya berantakan.”

Aira terdiam.

Beberapa saat kemudian Kartik berkata, seolah mengganti topik, “Kamu ingat waktu lomba basket antar di sekolah mu dulu?”

Aira mengernyit. “Yang mana?”

“Saat kamu kelas 3 SMP.”

Aira menatapnya kaget. “itu 6 tahun yang lalu, kini aku sudah semester 5 sebentar lagi masuk semester 6, lagian aku masih berumur 15 tahun dan sekarang aku 20 lebih, dan dalam kurung waktu itu aku hanya mengingat sesuatu yang berkesan bagiku” jawab Aira panjang kali lebar.

Kartik mengangkat bahu dan tersenyum. “Iya saya tau itu.”

“Emang Kenapa?”

“Saya hanya menguji daya ingat kamu aja”

Kartik tersenyum kecil. Kartik menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke depan.

Tidak ada kalimat cinta.

Tidak ada pengakuan.

Tapi ada sesuatu yang tinggal lebih lama dari kata-kata.

Di kejauhan, sebuah motor berhenti mendadak, Langit.

Ia turun dari motor dengan wajah merah padam. Niatnya satu, menemui ayah Aira. Mengancam. Memastikan semuanya sesuai kendalinya.

Tapi yang ia lihat justru Aira berdiri bersama Kartik.

Terlalu dekat.

Terlalu tenang.

Langit mengepal tangan.

“Kartik…” gumamnya penuh amarah.

Ia ingin menghampiri.

Tapi kakinya tertahan.

Takut.

Takut Aira bertanya kenapa ia ada di sini.

Takut kebohongannya runtuh.

Gerbang lapas menutup di belakang mereka dengan bunyi besi yang berat.

Aira duduk di bangku penumpang di samping Kartik, matanya masih merah. Dadanya sesak oleh terlalu banyak hal yang tidak selesai, ayahnya, Langit, dirinya sendiri.

Kartik melirik sekilas. “Kamu lapar?”

Aira menggeleng. “Kepalaku sudah kenyang.”

Kartik mengangguk. “Kalau begitu… kita ke taman.”

Aira menoleh. “Taman?”

“Iya, Hanya… duduk,” tambah Kartik cepat, seolah takut terdengar terlalu peduli.

Aira tidak menjawab, pandangan nya hanya pokus ke depan, Taman itu tidak ramai. Sore menjelang malam, langit berwarna kelabu keemasan. Ada bangku-bangku kayu, beberapa keluarga kecil, dan suara daun yang digerakkan angin.

Kartik memilih bangku paling ujung. Duduk tegak. Kedua tangannya di paha. Punggung lurus.

Aira meliriknya. “Kamu selalu duduk seperti itu?”

“Seperti apa?”

“Seperti… lagi di sidang.”

Kartik menoleh, bingung. “Salah?”

Aira menahan senyum. “Enggak. Cuma…”

Ia memperhatikannya lebih lama. Cara Kartik memandang lurus ke depan. Cara ia diam terlalu lama sebelum bicara. Cara ekspresinya hampir tak berubah, meski jelas ia sedang memikirkan banyak hal.

“Kamu kaku banget,” celetuk Aira tiba-tiba.

Kartik berkedip. “Kaku?”

“Iya. Kayak robot.”

Hening dua detik.

Kartik menurunkan bahu sedikit. “Oh.”

Aira tertawa kecil. Tertawa yang tidak direncanakan. Tertawa yang keluar karena kelelahan dan keanehan situasi.

“Serius,” katanya sambil menutup mulut. “Kalau ada lomba orang paling kaku sedunia, kamu juara satu.”

Kartik menoleh. Tatapannya datar. “Tapi saya tidak berjalan seperti robot”

Aira tertawa lebih keras. “Ya ampun… itu bukan bantahan.”

Kartik diam. Lalu berkata pelan, sangat serius, “Saya jarang ke taman.”

“Kelihatan.”

“Biasanya kalau ke sini… orang sedang sedih.”

Aira terdiam. Tawanya mereda.

“Oh.”

Mereka duduk lagi dalam sunyi. Tapi sunyi yang berbeda. Tidak menekan. Tidak menuntut.

Aira menarik napas panjang. “Terima kasih.”

Kartik mengangguk. “Hm.”

Itu saja. Tapi entah kenapa, dada Aira terasa sedikit lebih ringan.

Beberapa meter dari mereka, sebuah motor berhenti. Mesinnya dimatikan dengan kasar.

Langit.

Ia berdiri, menatap ke arah bangku itu. Melihat Aira. Melihat Kartik.

Rahangnya mengeras.

Langit berjalan mendekat dengan langkah cepat.

“Aira.”

Aira menoleh. Tubuhnya menegang seketika.

“Langit? Kamu ngapain di sini?”

Langit menatap Kartik. Lalu kembali ke Aira. “Harusnya aku yang tanya.”

Kartik berdiri perlahan. “Selamat sore.”

Langit tidak membalas. “Kamu ngapain sama dia?”

“Kami cuma duduk.”

“Duduk?” Langit tertawa sinis. “Kamu lupa janjimu?”

Aira menelan ludah. “Aku nggak ngelakuin apa-apa.”

“Kamu bohong,” suara Langit meninggi. “Aku minta kamu jauhi dia.”

Kartik melangkah setengah langkah ke belakang. Memberi jarak. Memberi ruang.

“Aira,” katanya datar, “kalau kamu mau pulang, saya tunggu di mobil.”

Ia pergi tanpa menunggu jawaban.

Langit menatap punggung Kartik dengan mata menyala. “Kamu lihat itu? Dia selalu sok jadi pahlawan.”

Aira diam.

“Kamu menikmati ini ya?” lanjut Langit.

“Diperhatiin dua cowok?”

“Aku capek, Langit,” kata Aira pelan.

“Capek karena apa?”

Aira menunduk. Tidak menjawab.

Di perjalanan pulang, Langit mengendarai motor dengan kasar. Setiap kata yang keluar seperti pisau.

“Kamu berubah, Aira.” “Kamu makin susah diatur.” “Kamu bikin aku malu.”

Aira duduk di belakang, tangannya bergetar memegang tas.

“Aku cuma minta kamu nurut,” bentak Langit. “Itu susah?”

Air mata Aira jatuh. Ia tidak menyela. Tidak membantah.

“Aku yang selalu ada buat kamu!” “Aku yang nemenin kamu!”

Tangis Aira pecah. Tapi tetap tanpa suara.

Motor berhenti mendadak. “Turun.”

Aira terkejut. “Langit...”

“Turun!”

Ia turun dengan kaki gemetar. Motor melaju pergi, meninggalkan debu dan suara mesin yang menjauh.

Aira berdiri sendiri. Di pinggir jalan. Malam mulai turun.

Ia berjalan pelan. Langkah demi langkah. Air matanya terus jatuh.

Di kepalanya, kenangan bermunculan.

Langit yang dulu lembut , sabar , berbicara pelan, mendengarkan

Langit yang sekarang, membentak, menekan, memerintah, membuatnya merasa salah hanya karena ada

“Apa aku yang berubah… atau dia?” gumam Aira lirih.

Sebuah mobil berhenti pelan di sampingnya.

Kaca jendela turun.

“Aira.”

Aira terkejut. “Kamu ngapain di sini?”

“Hanya memastikan kamu baik-baik saja.”

“Aku bisa sendiri.”

Kartik tidak membantah. Ia hanya membuka pintu. “Naik.”

Aira menatapnya lama. Lalu masuk.

Mobil berjalan. Sunyi.

Tangis Aira pecah lagi. Kartik tidak menoleh. Tidak bertanya. Tidak menyentuh.

Ia hanya mengemudi. Stabil. Tenang. Seperti seseorang yang tahu.

ada tangis yang tidak perlu ditanya alasannya.

Setelah lama, Aira berkata lirih, “Langit dulu nggak begini.”

Kartik menjawab singkat, “mungkin dia berubah”

“Apa semua orang?”

“Tidak.”

Aira mengusap wajahnya. “Kamu kenapa nggak pernah nanya?”

“Nanya apa?”

“Kenapa aku nangis.”

Kartik menoleh sebentar. “Karna langit?, saya sudah tau, tapi Kalau kamu mau cerita, saya dengar.”

Aira terdiam. Air matanya jatuh lagi.

Mobil berhenti di depan rumah Aira.

Kartik turun. Membukakan pintu.

Aira berdiri di hadapannya. “Kamu selalu ada,kenapa bukan langit saja?” katanya pelan.

Kartik mengangguk. “Mungkin langit lelah, dan saya harus menggantikan nya”

“Kenapa?”

Kartik terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, “Karena kalau semua orang pergi… seseorang harus tinggal.”

Aira menatapnya. Dadanya bergetar.

Kartik melangkah mundur. “Saya pulang.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Aira bertanya pada dirinya sendiri, Apakah cinta seharusnya membuat seseorang takut kehilangan dirinya sendiri?

Atau justru membuatnya merasa aman untuk menjadi apa adanya?

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!