Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Arini
Pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Udara terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. Awan terlihat mendung di luar sana.
Kini Arini seangkatan duduk di depan cermin, memandangi pantulan dirinya. Ia mulai memoles wajahnya dengan riasan tipis, tak lupa ia memakai blush on dan lip gloss. Setelah menyelesaikan riasannya, ia melepas roll pada rambutnya.
Kini rambutnya menjadi lebih bervolume, membuat wajahnya menjadi lebih menawan. Arini memandangi dirinya dengan tatapan senang, ia merasa seolah hidup kembali hari ini.
Wanita itu lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Kini sudah pukul 08.00, 1 jam lagi adalah penerbangannya. Ia tidak boleh terlambat.
Arini pun meraih kopernya serta tas yang sudah ia siapkan semalam. Ia berjalan keluar dari kamar itu dan hendak menguncinya. Namun sebelum benar-benar mengunci kamar itu, ia memandang sejenak ruangan tersebut.
Ingatan masa kecilnya seolah terulang kembali. Ia mungkin akan sangat merindukan setiap sudut kamar ini, terutama ruangan ini adalah ruangan favoritnya sejak dulu.
"Arini! Ayo, turun!"
"Bentar lagi kita berangkat!"
Suara Grace terdengar dari bawah. Mendengar suara tantenya, Arini pun segera mengunci kamar itu. Ia menarik koper dan tasnya kemudian beranjak turun menuju lantai bawah.
Grace membantu keponakannya itu membawakan koper serta tasnya keluar menuju mobil mereka yang sudah terparkir di depan gerbang.
Setelah semua barang sudah dinaikkan, mereka pun masuk ke dalam mobil. Grace duduk di kursi samping sopir sementara Arini duduk di kursi penumpang belakang.
Tak berselang lama mobil itu pun keluar dari kediaman tersebut, meninggalkan kawasan perumahan Dharmawangsa menuju bandara.
Sepanjang perjalanan Arini hanya terdiam sembari melihat jalanan yang dilaluinya menuju bandara. Tatapannya kosong, namun tidak dengan kepalanya.
Sejujurnya ia masih sedikit ragu. Namun disisi lain ini juga adalah keputusan yang tepat untuk dirinya. Ia perlu menjauh dari Adrian serta publik untuk beberapa waktu.
Setidaknya dengan hal ini, ia bisa merasa lebih tenang dan berpikir jernih setelah masalah-masalah yang terjadi sebelumnya.
"Arini? Are you okay?"
Suara Grace seketika membuyarkan lamunan Arini. Wanita itu tersenyum tipis dan mengangguk pelan, "Of course! Aku baik-baik aja tante, ngga perli khawatir,"
Grace hanya tersenyum mendengar jawaban dari Arini. Mungkin wanita itu bisa tersenyum, namun matanya tak bisa berbohong. Ia bisa melihat sesuatu yang berbeda dari sorot mata keponakannya itu.
Setengah jam berlalu. Mereka akhirnya tiba di bandara. Setelah memarkirkan mobilnya, Pak Yono membantu Grace dan Arini untuk menurunkan barang-barang serta mengantar mereka untuk masuk ke pintu lobby bandara.
Mereka melangkah masuk ke dalam gedung bandara yang pagi itu sudah cukup ramai. Pintu kaca otomatis terbuka, disambut hembusan udara ber-AC dan suara pengumuman yang menggema dari segala arah. Koper-koper bergulir di lantai marmer, roda troli berderit, dan orang-orang berlalu-lalang dengan cepat.
Grace berjalan di samping Arini, sesekali memperhatikan keponakannya yang tampak lebih diam dari biasanya. Mereka berhenti di area check-in maskapai. Arini mengeluarkan paspor dan tiket penerbangan menuju Amsterdam dari dalam tasnya, menyerahkannya kepada sang petugas.
Petugas itu tersenyum profesional, menanyakan tujuan akhir dan memastikan data penerbangan. Koper besar Arini diletakkan di atas timbangan, angka digital menyala, lalu koper itu diberi label bagasi dan perlahan menghilang di balik conveyor belt.
Setelah menerima boarding pass, mereka bergerak menuju area pemeriksaan keamanan. Di titik ini, Grace tak bisa lagi ikut melangkah terlalu jauh. Garis pembatas menjadi penanda bahwa waktu kebersamaan mereka pagi itu hampir habis.
Bersamaan dengan itu, pengumuman boarding untuk penerbangan menuju Amsterdam mulai terdengar samar dari pengeras suara.
Arini menggenggam tas jinjingnya lebih erat. Ia menoleh ke arah Grace, mencoba tersenyum, namun senyum itu goyah sebelum sempat benar-benar terbentuk. Grace lebih dulu memeluknya dengan erat.
Entah mengapa pelukan terasa lebih hangat. Wanita itu mengelus dengan lembut kepala Arini.
“Jaga diri kamu baik-baik di sana,” ucap Grace pelan, suaranya bergetar. “Kalau capek, jangan dipaksakan. Kalau kangen, telepon tante. Kamu nggak sendiri, Rin.”
Air mata Arini perlahan jatuh. Ia mengangguk pelan di tengah isak tangisnya. "Pasti tante.. "
"Makasih banyak tante buat semuanya. Makasih tante udah nemenin aku sampai saat ini,"
Grace tersenyum, ia mengusap air mata pada pipi keponakannya. “Tante selalu doain kamu, dari sini, dari mana pun.”
Beberapa detik berlalu dalam diam. Hingga akhirnya, Arini melepaskan pelukan itu. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, mengambil tasnya, lalu melangkah mundur satu langkah. Tatapan mereka bertemu untuk terakhir kalinya pagi itu.
Ia berbalik dan berjalan menuju area imigrasi. Menyerahkan paspor, menunggu cap keluar Indonesia tercetak di halaman terakhir. Setelah itu, ia melangkah melewati gerbang keberangkatan internasional, menyatu dengan kerumunan penumpang lain yang juga akan meninggalkan tanah kelahiran.
Grace berdiri di belakang pembatas, memperhatikan punggung Arini yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Kini Arini melangkah seorang diri, membawa secerca harapannya. Berharap setelah ia meninggalkan kota ini, ia bisa mendapat suasan baru yang lebih baik dan menikmati kehidupannya tanpa gangguan orang-orang.
Wanita itu sekarang sudah berada di dalam pesawat, ia masuk ke kelas Bisnis dan kemudian duduk di kursi yang sudah ia pesan sebelumnya.
Arini memandangi suasana di luar sana, ia lalu menghela napas pelan. Arini lalu meraih ponselnya, ia berniat untuk mengaktifkan mode pesawat dan kemudian mematikan ponsel itu.
Namun sebuah notifikasi muncul di beranda layarnya. Sebuah dari pesan dari Gio. Arini kemudian membuka pesan itu.
^^^Hi^^^
^^^Lo udah berangkat ya?^^^
^^^Take care^^^
^^^Jangan lupa makan^^^
^^^Enjoy yaa^^^
^^^Tenang, semua disini bakal gue urus^^^
^^^Lo tinggal terima beres^^^
^^^I hope you happy there, Arini^^^
^^^Sering senyum yah, biar hidup lo bewarna^^^
^^^Lo kalo ngga senyum kayak gorila, serem^^^
Senyuman mengembang pada wajahnya. Arini merasa senang, namun disisi lain dia juga merasa lucu saat membaca pesan ini. Jarang sekali Gio mengirimkan pesan kepada dirinya sebanyak ini.
Biasanya dia hanya akan mengirim pesan singkat dengan isi yang tidak jelas. Sepertinya skill komunikasi laki-laki itu sudah jauh lebih baik.
Arini mulai mengetikkan beberapa kalimat disana dan kemudian mengirim pesan itu ke nomor Gio.
Tenang aja
Gue pasti baik-baik aja kok disini
Lo juga jaga diri ya disana
Jangan kebanyakan minum kopi
Nanti asam lambung kumat
Dadaaa
Gue udah mau berangkat nih
Pesan itu terkirim. Namun hanya centang satu.
Senyumnya perlahan memudar, Arini mendengus kesal. Padahal baru saja ia membalas pesan laki-laki itu setelah 2 menit, tapi nomornya malah tidak aktif. Dasar laki-laki aneh!
Arini mematikan layar ponselnya dan meletakkannya kembali ke dalam tas. Ia menarik napas panjang, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Mesin pesawat mulai meraung perlahan.
Lampu kabin meredup. Pramugari berjalan menyusuri lorong, memastikan sabuk pengaman terpasang dengan benar. Arini menatap lurus ke depan, mencoba mengosongkan pikirannya. Namun seperti biasa, ingatan tidak pernah benar-benar bisa dimatikan.
Adrian kembali muncul di kepalanya. Wajah itu. Suara itu. Semua hal yang ia pikir sudah selesai, ternyata hanya disimpan rapi di sudut pikirannya, menunggu waktu untuk muncul kembali. Arini menelan ludah. Kali ini ia tidak ingin melawan ingatan itu. Ia membiarkannya lewat, seperti awan mendung yang akhirnya akan bergerak juga.
Pesawat mulai bergerak di landasan pacu. Getarannya terasa sampai ke dada. Arini memejamkan mata saat pesawat melaju semakin cepat, hingga akhirnya terangkat dari tanah. Perutnya terasa sedikit ringan, seolah ada sesuatu yang ikut tertinggal di bawah sana.
Jakarta perlahan mengecil dari balik jendela. Gedung-gedung, jalanan, dan segala cerita yang pernah ia jalani di kota itu kini terlihat seperti potongan kecil yang tidak lagi bisa ia sentuh.
Arini membuka matanya. Ia menatap langit yang perlahan berubah warna, biru pucat dengan semburat abu-abu. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, dadanya tidak terasa sesak.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya di Amsterdam. Ia tidak tahu apakah keputusannya ini akan benar-benar menyembuhkan atau justru membuka luka baru. Namun satu hal yang ia yakini, ia sudah terlalu lama bertahan di tempat yang sama.
Kini, ia memilih pergi.
Arini tersenyum tipis, bukan senyum untuk siapa pun, melainkan untuk dirinya sendiri. Sebuah janji kecil terlintas di benaknya. Kali ini, ia akan hidup dengan caranya sendiri. Tanpa penjelasan.
Pesawat terus melaju, membelah awan, membawa Arini menjauh dari masa lalu yang pernah begitu ia genggam erat.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menoleh ke belakang.