Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga diri yang diinjak
Kirana nampak terkejut mendengar permintaan ibu mertuanya ,ia menoleh pelan. “Tapi Bu… itu buat makan sebulan…”
“Kamu nggak percaya sama mertuamu?!” suara Bu Widya melengking. “Aku ini mau bantu atur, biar nggak boros! Kamu pikir aku mau ambil? Emang aku nggak punya uang?”
Aris mengangguk. “Iya, kasih ke Ibu. Biar dia yang atur. Kamu kan cuma bisa boros.”
Dengan tangan gemetar, Kirana mengambil uang itu dari meja. Kertasnya terasa dingin, meski seharusnya hangat,karena itu hasil keringat suaminya, karena itu harapan untuk makan esok hari. Tapi sekarang, uang itu seperti bukan miliknya lagi.
Ia menyerahkannya pada Bu Widya, yang langsung menyimpannya ke dalam tas kulit mahalnya.
“Nah, begitu. Baru nurut,” kata Bu Widya sambil tersenyum puas.
Setelah menyerahkan uang pemberian Aris ,hati Kirana terasa sakit ,hingga ia tidak sadar air matanya menumpuk di pelupuk matanya ,dan hal itu terlihat oleh Aris
"Bu ,uang itu kasih Kirana ,kasihan dia mau menangis ." Ucap Aris dengan melirik Kirana .
"Tapi dia boros nak ,dia tidak bisa mengatur uang ,biar ibu saja yang atur ."
"Sudah Bu kasih kedia saja uangnya ,nanti Aris akan kasih uang lebih banyak dari itu." Mendengar ucapan anaknya ,ia segera mengambil kembali uang yang di berikan Kirana tadi ,dan dengan berat hati ia kembali menyerahkan uang itu pada Kirana
"Nih ! Kamu yang pegang ,kamu jangan boros -boros ujarnya dengan menyodorkan kasar pada Kirana ,Kirana hanya diam ,
"Buruan ambil uang itu ! Dan buruan kamu kedapur ! Jangan bengong begitu !" Hardik Aris dengan suara keras
Kirana menerima uang itu walupun dia sendiri enggan menerimanya ,tapi ia malas terjadi keributan ,ia segera kembali ke dapur.
Sesampainya di dapur,ia nampak terdiam sejenak . Di sana, hanya ada beras setengah kilo, telur dua butir, dan kecap. Ia menyalakan kompor, menyalakan air mata yang akhirnya tak bisa ditahan lagi.
Air matanya jatuh ke dalam panci yang sedang ia isi air—tak terdengar, tak terlihat. Tapi ia tahu, setiap tetesnya adalah doa diam-diam: ("Tuhan, beri aku jalan. Aku tak ingin Gio tumbuh di tengah rumah yang penuh hinaan ini.")
Di luar, suara Aris dan ibunya tertawa—ringan, bebas, seolah dunia milik mereka. Dan Kirana? Ia hanya bayangan yang tak berhak bersuara.
Tapi jauh di dalam hatinya yang terluka, ada suatu tekad yang mulai tumbuh. Perlahan. Sunyi. Tapi pasti.
("Kalau kalian anggap aku tak berharga… maka aku akan buktikan,suatu saat kamu akan merasakan bagaiman rasanya direndahkan ")
-----
Malam harinya, setelah Aris tidur pulas dan Gio, putra kecilnya yang berusia tiga tahun, sudah terlelap, Kirana duduk di lantai dapur. Di depannya ada sebuah buku tulis kecil yang kusam.
Beras 10kg: 150.000
Susu Gio (2 kotak): 180.000
Listrik: 100.000
Sisa: 70.000
Kirana menghela napas panjang. Tujuh puluh ribu untuk lauk pauk, sabun, odol, dan kebutuhan mendadak lainnya selama tiga puluh hari? Itu tidak mungkin. Benar-benar tidak mungkin.
"Ya Allah,apakah aku bisa kuat menjalani kehidupan seperti ini ?gumamnya ,kembali air matanya jatuh dipipinya .
Ia menatap telapak tangannya yang kasar. Ia tidak bisa hanya berdiam diri,ia bertekad mencari pekerjaaan . Ia tidak ingin Gio kekurangan gizi hanya karena keegoisan ayahnya.
----
Besok pagi, pukul empat subuh, Kirana sudah punya rencana ia ingin mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhannya juga kebutuhan anaknya .
Suasana Pasar Induk masih remang-remang saat Kirana tiba dengan sepeda tuanya. Udara dingin menusuk tulang, tapi ia mengabaikannya. Ia membungkus kepalanya dengan jilbab lebar agar tidak mudah dikenali orang.
"Cari kerjaan, Mbak?" tanya seorang pria paruh baya, pemilik kios sayur besar.
"Iya, Pak. Apa saja. Bersih-bersih atau angkut-angkut juga boleh," sahut Kirana mantap.
"Walah, badan kecil begini mau angkut sawi? Kuat nggak?"
"Kuat, Pak. Saya biasa kerja di sawah dulu," bohong Kirana. Padahal sebenarnya ia sedang memaksakan diri.
Pagi itu, Kirana resmi menjadi buruh panggul lepas. Ia mengangkut karung-karung berisi cabai, kol, dan sawi dari truk ke dalam kios. Bahunya terasa perih, keringat bercucuran membasahi pakaiannya. Namun, setiap kali ia menerima upah sepuluh ribu atau dua puluh ribu dari pemilik kios, hatinya merasa sedikit lega.
Ini untuk susu Gio. Ini untuk martabatku yang mereka injak, batinnya setiap kali rasa lelah menghantam.
Pukul tujuh pagi, ia harus segera pulang. Ia harus sampai di rumah sebelum Aris bangun dan sebelum ibu mertuanya datang untuk "inspeksi" rutin. Ia harus kembali menjadi "Kirana yang lugu dan penurut".
Sepulangnya dari pasar, Kirana langsung berganti baju dan mulai memasak sarapan.
Aris keluar dari kamar dengan pakaian rapi, wangi parfum mahalnya memenuhi ruangan.
"Mana sarapan? Lama banget!" bentak Aris sambil melirik jam tangan.
"Ini Mas, nasi gorengnya sudah siap," ujar Kirana sambil meletakkan piring di meja.
Aris mencicipi satu sendok, lalu langsung menyemburkannya kembali ke piring. "Asin! Kamu sengaja mau bikin saya darah tinggi? Masak simpel begini saja nggak becus! Dasar nggak guna!"
Ia membanting sendoknya dan berdiri. "Saya makan di luar saja. Malas lihat muka kamu!"
Aris pergi begitu saja.
Tak lama kemudian, ponsel Aris yang tertinggal di atas meja ruang tamu bergetar. Biasanya Kirana tidak pernah berani menyentuh benda itu. Namun, sebuah notifikasi muncul di layar kunci.
[Sayang, makasih ya buat transferannya semalam. Tas barunya bagus banget, makin sayang deh sama kamu! Jemput aku jam 10 ya?]
Dunia Kirana seolah runtuh seketika. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Nama pengirimnya hanya sebuah emoji hati.
Transferan? Tas baru?
Kirana melirik ke arah lima lembar uang seratus ribuan yang masih tergeletak di dekat vas bunga,sisa nafkah yang katanya "sudah banyak" itu.
Di saat ia harus mempertaruhkan nyawa dan tenaganya menjadi buruh pasar demi susu anak mereka, suaminya justru menghamburkan uang jutaan rupiah untuk wanita lain.
"Kirana! Mana kopinya? Kamu budek ya?!" suara Ibu Mertua menggelegar dari depan rumah, membuyarkan lamunan pahitnya.
Kirana dengan cepat menghapus air mata yang jatuh tanpa izin. Ia menyimpan amarah itu rapat-rapat di balik dadanya yang sesak. Belum saatnya. Ia harus mengumpulkan bukti. Ia harus menjadi lebih kuat dari sekadar perempuan desa yang dihina.
"Iya, Bu... sebentar," jawab Kirana dengan suara yang bergetar, namun kali ini, ada kilat yang berbeda di matanya.
Mulai hari ini, Kirana tidak akan lagi hanya menerima. Jika mereka menganggapnya tidak berharga, maka ia sendiri yang akan membuktikan seberapa mahal harga sebuah kesabaran yang telah habis.