NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 19

Malam itu di rumahnya. Rangga benar-benar merasakan akibat dari kesombongannya di bengkel tadi siang. Jika di depan Ayu ia berakting bak pahlawan yang tahan banting, sekarang ia tampak seperti prajurit yang kalah perang.

Rangga meringkuk di atas sofa ruang tengah dengan kedua tangan mendekap perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk oleh ribuan jarum panas. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.

"Sial... beneran dicabaiin seplastik sama dia," rintih Rangga dengan suara parau.

Ia mencoba bangkit untuk mengambil obat lambung di dapur, tapi baru berjalan dua langkah, perutnya kembali melilit hebat. Ia terpaksa lari kencang menuju kamar mandi untuk yang kelima kalinya malam itu.

Di dalam kamar mandi, Rangga mengumpat pelan sambil menyandarkan kepalanya ke dinding keramik yang dingin. "Ayu... kamu benar-benar mau membunuhku pelan-pelan ya?" gumamnya. Sejujurnya, Rangga memang tidak terlalu kuat makan pedas.

Ponselnya yang tergeletak di lantai bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Ayu yang menanyakan apakah ia masih hidup, namun Rangga bahkan tidak punya tenaga untuk sekadar membalasnya.

Akhirnya, karena rasa sakit yang sudah mencapai puncaknya dan ulu hatinya terasa seperti diperas, Rangga menyerah.

Ia meraih ponselnya dan langsung menekan tombol panggilan suara ke nomor Ayu. Hanya dua kali nada sambung, suara Ayu terdengar di seberang sana.

"Halo, Mas?"

"Yu... tolong," potong Rangga dengan suara yang sangat parau dan bergetar. "Ke rumah saya sekarang... tolong saya."

Ayu yang mendengar nada suara Rangga langsung terdiam sejenak. Ia menyadari ini bukan sekadar candaan Rangga yang biasanya. "Mas? Mas beneran sakit? Ya ampun... separah itu?"

"Sakit banget, Yu... saya nggak kuat kalau sendiri," bisik Rangga, napasnya terdengar berat. "Pintu gerbang nggak dikunci. Tolong ke sini... bawa obat apa saja."

Tanpa menunggu jawaban lama, panggilan itu terputus. Di seberang sana, Ayu panik setengah mati. Ia langsung menyambar tasnya, berpamitan pada Nenek Tari, dan memesan ojek online paling cepat menuju alamat yang pernah Rangga berikan.

Ayu sampai di depan rumah minimalis itu. Ia sempat tertegun melihat rumah Rangga yang sangat rapi dan modern, namun rasa cemas lebih mendominasi. Ia mendorong gerbang dan langsung masuk ke pintu utama yang memang tidak terkunci.

"Mas Rangga?" panggil Ayu panik.

Ia mendapati Rangga sedang meringkuk di sofa panjang, wajahnya berkeringat dingin meskipun AC menyala. Ayu langsung menghampiri dan duduk di lantai di samping sofa. Saat ia menyentuh dahi Rangga, tangannya terasa sedingin es.

"Ya Allah, Mas! Pucat banget!" Ayu mulai panik. Rasa bersalah menghujam dadanya begitu keras. "Maafin aku, Mas. Aku nggak tahu kalau Mas bakalan separah ini."

Rangga membuka matanya sedikit, menatap wajah Ayu yang kini tepat di hadapannya. Di bawah lampu ruang tengah yang temaram, wajah Ayu terlihat sangat tulus mengkhawatirkannya.

"Akhirnya... kamu datang ke rumah saya," gumam Rangga lemas, namun masih sempat menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan.

"Masih sempat-sempatnya gombal! Mas ini sudah kritis tahu!" omel Ayu sambil membuka tasnya. Ia mengeluarkan botol obat maag cair dan air hangat yang sengaja ia bawa dari kedai.

Ayu dengan telaten menyuapkan obat itu ke mulut Rangga. Setelah itu, ia mengambil minyak kayu putih dan mulai mengoleskannya ke perut Rangga dengan gerakan memutar yang lembut. Meskipun sebenarnya dia canggung setengah mati.

Rangga menghela napas panjang, mencoba mengatur napasnya yang masih terasa berat. Ia meraih jemari Ayu yang masih terasa hangat di atas perutnya, menahannya agar tidak beranjak.

"Yu... jangan pulang dulu," bisik Rangga, matanya menatap Ayu dengan pandangan memohon yang jarang sekali ia perlihatkan.

Ayu mengernyitkan dahi, tampak ragu. "Mas, ini sudah hampir jam sembilan malam. Nggak enak sama tetangga kalau aku di sini terus. Lagian Mas sudah minum obat, kan?"

"Saya masih lemas, Yu. Kalau nanti malam saya pingsan di kamar mandi lantai dua, nggak akan ada yang tahu," balas Rangga, kali ini nadanya terdengar benar-benar jujur meski ada sedikit bumbu drama. "Tolong, menginap di sini malam ini saja. Kamu bisa tidur di kamar tamu di lantai atas."

Melihat Ayu yang masih terdiam dan tampak waswas, Rangga mempererat genggamannya sedikit tidak kuat, hanya sekadar meyakinkan.

"Saya janji... saya nggak akan macam-macam. Kondisi saya saja sudah begini, mau macam-macam bagaimana?" Rangga meringis kecil sambil menunjuk perutnya. "Saya cuma butuh tahu kalau ada orang di rumah ini. Saya... saya takut sendirian lagi kalau sedang sakit seperti ini."

Kalimat terakhir Rangga telak mengenai hati Ayu. Ia saat ayu kemarin di rumah sakit dia juga yang membantu semuanya.

Ayu menghela napas pasrah. "Ya sudah. Aku telepon Nenek dulu biar nggak dicariin. Tapi Mas beneran ya, janji jangan aneh-aneh?"

"Janji, Sayang... eh, Yu maksudnya," sahut Rangga cepat dengan senyum yang mulai kembali meski tipis.

Ayu membantu Rangga berdiri untuk pindah ke kamar utama di lantai bawah agar lebih mudah dipantau. Setelah Rangga berbaring nyaman di kasurnya yang empuk, Ayu beranjak menuju dapur minimalis milik Rangga untuk membuatkan teh hangat.

Rangga memperhatikan punggung Ayu yang sibuk di dapur dari balik pintu kamar yang terbuka. Meski perutnya masih terasa seperti diaduk-aduk, ada perasaan lega yang luar biasa. Rumah dua lantainya yang selama ini terasa dingin dan kosong, tiba-tiba terasa begitu hangat hanya karena suara langkah kaki Ayu dan denting sendok yang beradu dengan gelas.

"Yu," panggil Rangga saat Ayu kembali membawa segelas teh.

"Apa lagi, Mas?"

"Makasih ya. Maaf sudah bikin kamu repot karena kebodohan saya sendiri."

Ayu meletakkan teh itu di meja nakas, lalu menyelimuti Rangga sampai sebatas dada. "Makanya, lain kali jangan sok jagoan. Sudah, Mas tidur sekarang."

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!