Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Lembaran Baru di Bawah Langit senja
Perjalanan turun dari hutan pinus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Arazka benar-benar berubah. Tidak ada lagi perintah kasar, tidak ada lagi tatapan tajam yang mengintimidasi. Ia seolah menanggalkan jubah "Ketua ALVEGAR" yang keras dan menggantinya dengan sosok yang sangat tenang namun penuh perhatian.
🌸 Perubahan Bahasa, Perubahan Rasa
Setibanya mereka di rumah Maura setelah pemeriksaan singkat di rumah sakit, Arazka menolak untuk pulang sebelum memastikan Maura benar-benar nyaman. Di teras belakang rumah Maura yang asri, Arazka membawakan segelas susu hangat.
"Maura..." panggil Arazka pelan.
Maura menoleh, ia masih sedikit gugup, tapi sorot mata Arazka yang teduh membuatnya sedikit tenang. "Iya, Zka?"
Arazka duduk di kursi kayu di sampingnya, tapi tetap menjaga jarak agar Maura tidak merasa tertekan. "Aku... aku mau minta maaf buat semuanya. Aku tahu kata-kata aku kemarin sangat jahat."
Maura tersentak pelan mendengar kata "Aku". Biasanya Arazka selalu menggunakan "Gue" yang terdengar seperti dinding batu.
"Kamu... kamu barusan bilang apa?" tanya Maura meyakinkan.
Arazka menunduk, tersenyum tipis yang tulus—pemandangan langka yang bahkan anggota ALVEGAR pun jarang melihatnya. "Aku. Mulai sekarang, khusus buat kamu, aku nggak mau pake bahasa yang kasar lagi. Aku mau kamu tahu kalau di depan kamu, aku bukan Ketua ALVEGAR. Aku cuma Arazka yang ingin belajar cara menjaga kamu dengan benar."
Mata Maura berkaca-kaca. Perubahan panggilan itu terasa seperti air sejuk yang menyiram luka traumanya. "Aku juga minta maaf kalau aku bikin kamu salah paham sama Danis."
"Ssst," Arazka meletakkan jarinya di depan bibir sendiri. "Jangan bahas itu dulu. Yang penting sekarang, kamu harus sembuh. Aku nggak akan bentak kamu lagi, Maura. Aku janji."
🛡️ Reaksi Teman-Teman
Di markas ALVEGAR, kabar tentang perubahan sikap Arazka mulai menyebar. Miko adalah yang paling syok.
"Gila! Gue denger si Bos pake 'Aku-Kamu' sama Maura? Dunia mau kiamat ya?!" seru Miko sambil memakan keripiknya dengan heboh.
Fanila memukul lengan Miko. "Itu namanya dia beneran cinta, bego! Baguslah, daripada dia marah-marah terus kayak macan lepas."
Yasmin tersenyum kecil sambil mengikir kukunya. "Bagus kalau Arazka sadar. Maura butuh kelembutan, bukan tekanan. Tapi gue tetep bakal awasin dia."
Asean dan Keysha yang sedang membersihkan peralatan tracking hanya saling pandang. Mereka senang Arazka berubah, tapi mereka tetap waspada pada ancaman dari luar yang mungkin memanfaatkan "sisi lembut" Arazka ini.
🏀 Danis dan Kecanggungan Baru
Danis masuk ke markas dengan wajah datar. Ia mendengar kabar itu dari Kinara. Hatinya terasa dicubit. Ia senang Maura tidak lagi ketakutan, tapi ia merasa posisinya sebagai "pelindung" saat di hutan kini kembali diambil alih oleh Arazka.
Arazka masuk ke markas tak lama kemudian. Ia berjalan ke arah Danis.
"Dan," panggil Arazka.
Danis menoleh. "Ya?"
"Makasih udah jagain dia pas gue hilang akal kemarin. Gue beneran minta maaf." Arazka mengulurkan tangan, kali ini tanpa ada niat mengintimidasi.
Danis menjabat tangan itu. "Gue seneng loe berubah, Zka. Tapi inget, kalau loe sakitin dia lagi... panggilan 'Aku-Kamu' loe nggak bakal bisa nyelamatin loe dari gue."
Arazka mengangguk tegas. "Gue tahu."
🌑 Rangga: Strategi yang Bergeser
Di sudut ruangan, Rangga mengamati pemandangan itu. Ia mencatat sesuatu di buku kecilnya.
"Arazka melembut. Pertahanan emosionalnya menurun. Ini lebih berbahaya buat dia, tapi lebih mudah buat gue serang lewat Maura," batin Rangga.
Rangga tahu, saat seseorang memiliki titik lemah yang sangat ia cintai, menghancurkan titik lemah itu akan menghancurkan orang tersebut secara total. Rangga berpura-pura sibuk dengan laptopnya, padahal ia sedang menyiapkan berkas "fitnah" yang akan ia luncurkan nanti—fitnah yang akan membuat Arazka terlihat seperti pelaku kriminal di mata hukum dan organisasi.
"Selamat menikmati masa indahnya, Arazka," gumam Rangga sangat pelan.
TO BE CONTINUED