Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Tampan Baik Hati
Suara tamparan itu menggema di ruangan yang sunyi. Tangan Livia terasa panas, sementara wajah Sheila terlempar ke samping. Bekas kemerahan langsung tercetak jelas di pipi mulus sang sahabat.
"Kamu iblis, Sheila! Aku menganggapmu saudara, tapi kamu tidak lebih dari seorang pencuri!" teriak Livia dengan tangis yang pecah seketika.
Sheila memegang pipinya, matanya berkilat marah namun tetap dingin. "Keluar dari sini, Livia. Kamu sudah kalah. Attar memilihku setiap malam di pikirannya, bahkan saat dia sedang bersamamu."
Livia berlari keluar dari apartemen itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia tidak tahan lagi menghirup udara yang sama dengan wanita itu. Tangisnya pecah di dalam lift, meratap hingga sesenggukan. Ia merasa kotor, merasa dikhianati oleh dua orang yang paling ia percayai di dunia ini.
Saat mencapai lobi, Livia terus berlari ke arah jalan raya tanpa memedulikan sekelilingnya. Pikirannya kosong. Dunia di matanya hanya berupa kilatan cahaya lampu kota yang buram karena air mata.
Ia mulai menyeberang jalan besar di depan kompleks apartemen. Langkahnya gontai, pandangannya tertuju pada aspal dingin. Ia tidak menyadari sebuah mobil MPV hitam melaju kencang dari arah kanan, mencoba mengejar lampu hijau yang hampir habis.
TIIIIIIIIIIIIIIIT!!!
Klakson panjang yang memekakkan telinga itu menyentak Livia. Ia menoleh ke kanan, lampu depan mobil itu sudah berada hanya beberapa meter dari tubuhnya. Livia mematung, kakinya terasa seberat beton. Ia hanya bisa memejamkan mata, bersiap untuk benturan yang akan mengakhiri penderitaannya.
Namun, sebelum maut menjemput, sebuah dekapan kuat menghantam bahunya dari samping.
"Awas!!!"
Tubuh Livia ditarik dengan tenaga yang luar biasa besar. Ia merasakan hembusan angin kencang dari mobil yang melintas hanya beberapa senti di belakang punggungnya. Livia dan penyelamatnya terlempar, berguling beberapa kali di atas aspal yang kasar sebelum akhirnya berhenti di tepi jalan.
****
Livia merintih kesakitan. Siku dan lututnya terasa perih luar biasa karena gesekan dengan aspal. Napasnya tersengal-sengal, jantungnya berdegup seperti genderang perang.
"Mbak? Mbak tidak apa-apa?" sebuah suara bariton yang dalam namun penuh kekhawatiran terdengar di dekat telinganya.
Livia perlahan membuka matanya. Di hadapannya, seorang pemuda dengan napas memburu menatapnya intens. Pemuda itu mengenakan kaus olahraga ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang tegap dan atletis. Wajahnya bersih, dengan sorot mata tajam namun tulus.
"Sakit..." rintih Livia sambil memegangi lengannya yang lecet.
"Tenang, Mbak. Napas dulu yang teratur," ucap pemuda itu. Ia membantu Livia duduk dengan sangat hati-hati. "Saya Ayub. Ayub Sangaji. Tadi Mbak melamun saat menyeberang. Itu bahaya sekali."
Ayub, pemuda berusia 20 tahun itu, adalah seorang mahasiswa tingkat dua jurusan Pendidikan Olahraga di universitas negeri tak jauh dari sana. Ia baru saja selesai lari malam saat melihat seorang wanita cantik berlari ke tengah jalan dengan wajah penuh duka. Refleks atletisnya-lah yang menyelamatkan nyawa Livia.
Livia menatap Ayub, lalu kembali menangis. Bukan hanya karena luka di kulitnya, tapi karena ia baru saja hampir mati di tengah kehancuran hatinya. Di tengah keramaian jalanan Jakarta yang acuh, seorang asing justru menjadi satu-satunya orang yang memeluknya agar tidak hancur berkeping-keping.
"Kenapa kamu menyelamatkanku?" tanya Livia di sela tangisnya.
Ayub tertegun melihat duka yang begitu dalam di mata wanita di hadapannya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia tahu bahwa wanita ini sedang memikul beban yang lebih berat daripada luka aspal di tubuhnya.
"Karena setiap nyawa itu berharga, Mbak," jawab Ayub lembut, sambil menyeka darah kecil di dahi Livia dengan ujung kausnya. "Mari, saya bantu berdiri. Kita obati lukanya dulu."
****
Malam semakin larut di sudut kota Jakarta, namun hiruk pikuk di sekitar trotoar itu seolah meredup bagi Livia. Ia duduk di sebuah bangku taman beton yang dingin, sementara Ayub Sangaji berlutut di depannya dengan kotak P3K kecil yang ia ambil dari tas olahraga miliknya.
Cahaya lampu jalan yang temaram menyinari wajah Ayub yang fokus. Jemarinya yang kokoh namun lembut mulai membersihkan luka lecet di lutut Livia menggunakan cairan antiseptik.
"Tahan sedikit ya, Mbak. Ini pasti agak perih," ucap Ayub pelan.
Livia meringis, namun rasa perih di kulitnya tak sebanding dengan kekosongan yang ia rasakan di dadanya. Air mata masih mengalir, jatuh menetes ke atas punggung tangan Ayub. Pemuda itu terdiam sejenak, mendongak menatap wanita yang baru saja ia selamatkan dari maut.
"Mbak... kalau mau menangis, nangis saja. Tapi jangan lari ke tengah jalan lagi. Aspal ini keras, tapi nyawa Mbak jauh lebih berharga daripada apa pun yang sedang Mbak lalui," ujar Ayub dengan nada dewasa yang melampaui usianya yang baru 20 tahun.
****
Entah karena syok atau karena tatapan tulus dari mata cokelat Ayub, pertahanan Livia runtuh. Ia tidak mengenal pemuda ini. Ayub hanyalah seorang mahasiswa olahraga yang kebetulan lewat, namun di depan orang asing inilah Livia merasa aman untuk melepaskan segalanya.
"Suamiku... dia selingkuh," suara Livia pecah. "Dengan sahabatku sendiri. Satu tahun, Ayub. Mereka membohongiku selama satu tahun."
Ayub menghentikan gerakannya. Ia menghela napas panjang, menatap Livia dengan rasa empati yang dalam. Sebagai mahasiswa yang dididik untuk memiliki ketahanan mental dan fisik, ia sering melihat orang jatuh, tapi baru kali ini ia melihat seseorang yang jiwanya hancur total.
"Satu tahun itu waktu yang lama untuk sebuah pengkhianatan," bisik Ayub. "Mbak sudah terlalu kuat memikulnya sendirian."
"Aku bodoh, kan? Aku bahkan tidak sadar saat mereka tertawa di belakangku," Livia terisak, menutup wajahnya dengan tangan yang masih gemetar. "Tadi aku menemui wanita itu. Dia tidak menyesal. Dia justru bangga. Dia bilang suamiku lebih memilihnya karena aku... karena aku membosankan."
Ayub meletakkan kapasnya. Ia menggenggam jemari Livia, sebuah gerakan spontan untuk menyalurkan kekuatan. "Orang yang selingkuh akan selalu mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya, Mbak. Itu bukan karena Mbak kurang, tapi karena mereka yang tidak cukup tahu cara menghargai komitmen. Jangan biarkan kata-kata seorang pengkhianat mendefinisikan siapa diri Mbak."
Livia menatap Ayub. Ada sesuatu dalam ketegasan suara pemuda itu yang memberinya sedikit ketenangan. Ayub terlihat seperti seorang atlet yang siap menjaga gawangnya, dan saat ini, ia seolah sedang menjaga harga diri Livia yang baru saja diinjak-injak.
****
Di belahan kota yang lain, di dalam rumah mewah mereka yang kini terasa sunyi, Attar Pangestu berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Ia masih mengenakan kemeja yang kusut. Ponselnya terus-menerus menempel di telinga.
"Angkat, Liv... Tolong angkat," gumamnya frustrasi.
Ini sudah panggilan ke-20, dan Livia tetap tidak memberikan jawaban. Attar merasa dadanya bergemuruh. Ada rasa bersalah yang mulai merayap, meski ego dan gairahnya masih mencoba membela diri. Ia teringat wajah Livia yang jatuh ke lantai tadi sore—wajah yang hancur, yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum hangat setiap kali ia pulang kerja.
Kesal karena panggilannya tak kunjung dijawab, Attar akhirnya menghubungi nomor lain. Nomor yang seharusnya tidak ia hubungi dalam situasi kacau seperti ini.
"Halo, Sheila?"
"Hai, Attar," suara Sheila terdengar renyah di seberang sana, kontras dengan suasana hati Attar yang kelam.
"Livia menemuimu? Dia tidak pulang, ponselnya tidak aktif. Aku takut dia melakukan hal nekat," ujar Attar dengan nada bicara yang cepat dan panik.
Sheila tertawa kecil, suara es batu yang berdenting di dalam gelas wine-nya terdengar jelas. "Oh, dia baru saja dari sini, Tar. Dia memberiku tamparan yang cukup keras di pipi. Tapi jangan khawatir, istrimu itu masih punya tenaga untuk memaki-makiku."