Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menerimanya
Mona dengan serampangan datang ke rumah Randi. Amarahnya meluap-luap, mengingat Dave yang tahu jika Larissa bukan putri kandungnya.
"Kau fikir sebebas itu masuk ke dalam rumahku? Jangan pernah membuat berita bohong hanya demi keuntunganmu. Jika Dave bukan ayah Larissa, belum tentu aku juga ayahnya. Tanya pada pria lain yang juga pernah tidur denganmu," cecar Randi dengan wajah menahan emosi.
"Jangan pernah rendahkan diriku, selama ini aku melayanimu karena terpaksa. Dan hanya Dave satu-satunya pria yang ku cintai."
Randi tertawa mendengar bualan Mona, seolah wanita itu tak pernah menikmati sentuhan darinya.
"Kau bahkan selalu siap sedia jika aku memintamu datang. Jika benar kau mencintai Dave, kau tak akan pernah rela tidur denganku saat itu walau ku ancam," ucap Randi yang membuat Mona terdiam.
"Malam itu, aku sangat takut jika kau mengatakan perihal hubungan kami pada Laura. Dia adalah sahabatku, aku sangat menyayanginya. Aku tak mau jika dia tahu, aku dan Dave sudah mengkhianatinya," jawab Mona tergagap mencari alasan.
"Padahal saat itu aku hanya menggertakmu, tapi kau tetap datang dan dengan sukarela menyerahkan semuanya padaku. Dulu aku tak pernah berpikiran buruk padamu Mona. Tapi sekarang aku tahu jika kau memang wanita yang selalu haus akan sentuhan."
Randi menyentuh wajah Mona dengan lembut, memancing wanita yang selama ini diam-diam selalu menuruti kemauannya. Ancaman saat itu, justru menjalin hubungan yang tak benar antara keduanya.
"Kau masih saja gampang luluh Mona. Aku tak suka itu. Tapi lumayan saja jika hanya untuk jadi mainanku."
Amarah Mona seketika lenyap, terganti dengan rasa haus akan sentuhan Randi yang selalu membuatnya pasrah di atas kungkungannya. Baginya, tak peduli jika hidupnya hanya sekedar mainan bagi kedua pria yang merupakan paman dan juga keponakan di keluarga Kusuma.
"Aku sudah hancur sebelumnya, tak peduli jika harus terus hancur karena kedua pria ini."
Tiba-tiba Randi berdiri dan kembali memakai pakaiannya. Mona merasakan gelagat aneh pada pria itu.
"Aneh, biasanya dia akan langsung melakukannya tanpa pemanasan. Tak peduli jika aku kesakitan, tapi sekarang... "
Mona menghampiri Randi yang sedang menyesap sebatang rokok di teras kamarnya. Nampak raut wajah sendu pada pria yang bahkan tak pernah terlihat sedih di hadapan siapapun.
"Aku tak menyangka akan melihat Randi dengan sikap lemah seperti ini," sindir Mona yang membuat Randi menoleh ke arahnya.
"Pergilah, atau akan ku katakan pada Dave jika kau adalah mainan ku."
"Katakan saja padanya, lagipula dia sudah sangat membenciku. Aku hanya tak mengerti siapa yang mengirim surat tes DNA itu pada Dave, jika bukan kau?" Ucap Mona yang kembali membahas Larissa.
"Aku tak peduli. Kalaupun dia putriku, aku hanya akan memberinya uang saku dan juga biaya sekolah. Tapi tidak dengan peran seorang ayah."
"Peran seorang ayah," lirih Mona yang kembali teringat pada masa lalunya.
"Aww, sakit bapak!"
"Ini hukuman untuk anak yang suka melawan sepertimu."
Pukulan demi pukulan yang di layangkan sang ayah pada tubuhnya, menahan pedasnya jepretan sabuk celana mengenai kulit tangan dan kakinya.
"Ya, kau benar Randi. Aku hanya butuh uangmu saja, kau tak perlu menjadi ayah bagi Larissa jika nantinya hanya akan menjadi luka bagi putriku."
***
"Selamat pagi."
Sapaan lembut Laura di pagi hari, menumbuhkan senyum di setiap bibir para staff dan juga bawahannya. Ada bahagia yang terpancar dan juga semangat karena Bram yang sudah berangsur membaik.
"Hari ini tak ada jadwal apapun. Jadi aku bisa mengecek perkembangan produksi dan juga pengeluaran."
Tok! tok! tok!
"Masuklah," titah Laura pada orang yang ada di pintu ruangannya.
"Nona Laura, ada beberapa e-mail yang harus anda cek dan juga ini laporan kemarin."
"Terima kasih. Kau sudah bekerja dengan baik dan pastinya sulit. Tapi tenang saja, aku sekarang akan pulang dari kantor sesuai jam kerja."
"Tapi keadaan tuan Bram?" Tanya sekretarisnya yang masih ragu.
"Dia sudah membaik dan aku bisa menitipkannya pada perawat."
Laura meminta sekretarisnya untuk keluar. Dan kembali fokus pada pekerjaannya. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Laura kini bersiap pulang dan segera ke rumah sakit.
Sambil menenteng makanan favorit Bram, Laura membuka pintu kamar rawat Bram dan masuk tanpa menyadari sesuatu.
"Papa sudah makan? Aku bawa sate kambing dan soto madura langganan papa," ucap Laura sambil menyiapkan makanan itu ke atas piring.
"Kau tak mengajakku makan bersama?"
Suara pria itu membuat Laura membelalakan matanya. Dia pun berbalik dengan raut wajah kesal, karena mengingat Andreas yang tak mengabarinya saat jauh.
"Kau ternyata tahu jika papa masih di sini," ucap Laura ketus, sambil menyiapkan satu porsi makanan untuk Bram.
"Tentu saja, tempat yang pertama ku datangi setelah pulang adalah rumah tuan Bram," jawab Andreas yang tak paham dengan sikap Laura.
"Kau sangat perhatian pada papaku. Terima kasih."
"Ya, aku juga ke sana bukan hanya untuk menemui papamu. Tapi juga putrinya," ucap Andreas yang membuat Laura salah tingkah.
"Pa, makanlah dulu. Aku ingin berbicara sebentar pada Andreas."
Laura menarik tangan Andreas dan membawanya keluar dari kamar inap Bram. Andreas hanya bisa tersenyum dengan tingkah Laura yang seperti anak kecil yang marah pada dirinya.
Keduanya sampai di rooftop rumah sakit. Laura menatap ke arah Andreas dengan tatapan kesal.
"Maaf jika aku tak mengabarimu selama aku di sana. Ada yang mencuri ponselku saat aku keluar dari bandara."
"Kau tak perlu meminta maaf. Mau kau menghilang tanpa kabar karena ponselmu ataupun karena kau sudah menikah itu bukanlah urusanku." Ucap Laura dengan wajah sendu.
"Menikah? Aku sama sekali tak menikah."
Laura menoleh ke arah Andreas yang masih mengerutkan keningnya.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita menikah?"
Ucapan Laura sontak membuat Andreas terkejut. Ajakan menikah dari wanita yang dia cintai, menumbuhkan kupu-kupu di dalam perutnya.
"Laura, jangan bercanda!" Ucap Andreas yang menganggap ini hanya candaan Laura saja.
"Tidak, aku tidak bercanda. Aku ingin menikah denganmu. Tapi... "
Andreas mendengar penjelasan Laura tentang kedatangan Randi yang juga mengajak Laura menikah.
"Jadi pernikahan ini hanya semacam kamuflase agar orang-orang tahu jika aku sudah menikah. Agar Randi tak mendekatiku lagi," penjelasan Laura yang membuat Andreas kecewa.
"Berarti, pernikahan ini pernikahan palsu?"
"Tidak, pernikahan kita tetap sah di mata hukum dan agama. Tapi jangan harap jika aku akan bersikap dan melayanimu seperti seorang istri."
Andreas tersenyum getir, walau hal yang dia harapkan kini bisa terkabul. Namun pernikahan itu hanya akan jadi perisai bagi Laura agar tak lagi dipandang sebagai wanita yang masih sendiri.
"Jika itu memang yang terbaik, aku menerimanya dengan senang hati."
🤣🤣