Ongoing
Lady Anastasia Zylph, seorang gadis muda yang dulu polos dan mudah dipercaya, bangkit kembali dari kematian yang direncanakan oleh saudaranya sendiri. Dengan kekuatan magis kehidupan yang baru muncul, Anastasia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya yang jahat dan memulai hidup sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Badai salju menyelimuti malam, tetapi angin di wilayah ibu kota jauh lebih hangat daripada di Utara. Hangat—karena dipenuhi kegelisahan. Kabar tersebar cepat: Kaisar sakit keras, mendadak, tanpa alasan. Para bangsawan berkumpul seperti kawanan burung gagak menunggu bangkai.
Dan di tengah kekacauan itu, Anastasia berdiri di balkon kediaman sementara yang diberikan kepadanya dan Aloric.
Bukan salju yang turun malam ini.
Melainkan abu.
Suara teriakan prajurit menggema dari kejauhan, pertanda bahwa penjagaan diperketat setelah rumor tentang pemberontakan Putra Mahkota mulai beredar lagi.
Anastasia menggigit bibirnya. “Ini tidak benar,” gumamnya. “Semuanya bergerak terlalu cepat…”
Di belakangnya, langkah berat terdengar. Langkah yang sudah ia kenal.
Aloric muncul, tubuhnya besar bagai bayangan raksasa, mantel hitam panjangnya menari tertiup angin. Matanya yang gelap memantulkan cahaya lentera—dingin seperti obsidian, namun ada kilatan khawatir yang tidak biasa.
“Anastasia,” katanya pelan namun tegas. “Kau seharusnya tidak berada di luar.”
“Aku tidak rapuh,” sahut Anastasia, memaksakan senyum. “Dan aku butuh udara.”
Aloric menatapnya lama, seolah mencoba membaca pikiran yang disembunyikannya. “Ibu Kota semakin berbahaya. Pengawal menyebutkan ada—”
“—mata-mata Putra Mahkota di mana-mana,” potong Anastasia. “Aku tahu.”
Diam sejenak.
Aloric mendekat. “Kau selalu tahu terlalu banyak.”
“Aku belajar dari yang terbaik,” balas Anastasia lembut, meski dalam hati ia menahan banyak hal.
Tentang kebangkitannya.
Tentang kekuatannya.
Tentang Theodora.
Ia belum bisa membuka semuanya.
Belum.
ISTANA KEMBAR: RUANGAN RAPAT MALAM
Tiga jam kemudian, keduanya pergi ke istana.
Gerbang depan dipenuhi prajurit, senjata terhunus. Api obor bergetar dalam ketakutan yang tidak terlihat.
Di ruang rapat, bangsawan tinggi duduk melingkar. Di antaranya Duke Carden, Marquess Helvin, Countess Miralyn—dan tentu saja Crown Princess Lyria, tunangan Aloric.
Lyria berdiri, wajahnya memerah karena marah. “Duke Silas! Anda akhirnya datang!” serunya tajam. “Ayahanda Kaisar sakit keras, dan Anda hanya… menunggu?”
Aloric tidak berubah ekspresi. “Aku tidak menunggu. Aku memastikan perbatasan aman. Jika Putra Mahkota benar-benar memulai kudeta, ia tidak akan memulai dari sini.”
“Dia sudah mulai,” Lyria mendesis.
“Ayahanda diracun! Racun jenis baru—berasal dari Utara!”
Ruangan bergemuruh.
Semua kepala menoleh ke arah Anastasia dan Aloric.
Anastasia mengepalkan tangan. Racun dari Utara? Itu jelas jebakan.
Dan semua orang tahu siapa penjaga Utara.
Siapa lagi kalau bukan keluarga Silas.
Seorang bangsawan menunjuk Aloric. “Duke Silas, jelaskan ini!”
Aloric tetap tenang—terlalu tenang.
Gelombang hawa dingin samar terasa.
“Jika aku ingin membunuh Kaisar,” katanya, suara rendah bagai gemuruh, “istana ini tidak akan berdiri hingga malam ini.”
Hening mencekam.
Perkataan itu benar—dan menakutkan.
Putri Lyria mengepalkan rok gaunnya. “Ucapan Anda tidak membantu! Ayahanda mungkin sekarat! Dan Anda adalah tunangan saya, seharusnya Anda—”
“Aku bukan tabib,” potong Aloric. “Jika kau ingin ayahmu disembuhkan…”
Ia melirik ke arah Anastasia.
“…kau harus meminta orang yang tepat.”
Anastasia tersentak. “Aloric—”
“Dia Lady Zylph,” sahut Carden cepat. “Putri si Marquess Zylph yang jatuh itu? Anak kedua? Yang… lemah itu?”
Anastasia tersenyum kecil—lemah dari luar, mematikan dari dalam.
Aktor terbaik adalah dia sendiri.
Lyria menatap tajam. “Apa keahlianmu sampai Duke Silas sangat percaya padamu?”
Anastasia menunduk, pura-pura gugup. “Aku… bisa mencoba menstabilkan kondisinya. Itu saja.”
Tentu ia tidak bisa mengungkap kekuatan sebenarnya.
Belum.
Lyria akhirnya menghela napas kasar. “Baik. Ayo ikut aku.”
KAMAR KAISAR
Kaisar terbaring pucat seperti selembar kain putih. Nafasnya berat.
Aroma obat bercampur dengan darah yang hampir tidak terlihat di bibirnya.
Anastasia mendekati ranjang, jemarinya gemetar.
Bukan karena takut.
Melainkan karena ia merasakan sesuatu… sesuatu gelap bersemayam di dalam tubuh Kaisar.
Aloric berdiri tepat di belakangnya seperti penjaga pribadi.
“Aku akan memulai,” kata Anastasia pelan.
Ia menyentuhkan tangan ke dada Kaisar.
Detik berikutnya—
Cahaya putih lembut memenuhi ruangan, berdenyut seperti jantung.
Lyria menatap dengan mata membesar. Para bangsawan yang menyaksikan terdiam secara bersamaan.
Namun…
Wajah Anastasia tiba-tiba berubah tegang.
Ini bukan racun biasa… ini sihir.
Dan sihir ini… gelap. Terlalu gelap.
Aloric merunduk sedikit, suaranya rendah. “Apa yang kau lihat?”
“Seseorang menusukkan sihir ke jantung Kaisar…” bisik Anastasia.
“…dan itu sihir yang pernah aku lihat sebelumnya.”
Semua mata terpaku padanya.
“Siapa?” tanya Lyria.
Anastasia membuka mata. Nafasnya tersengal.
“Aku mengenali pola sihirnya…”
Suara Anastasia hampir tidak terdengar.
“Ini sihir yang sama yang membunuhku di kehidupan sebelumnya—”
Ia menutup mulutnya cepat.
Terlambat.
Semua orang menatapnya.
Aloric diam—tetapi mata hitamnya berubah sangat, sangat tajam.
Lyria melangkah mendekat, suara bergetar. “Sihir… yang sama? Maksudmu…”
Anastasia akhirnya berkata pelan, penuh tekanan:
“Pelakunya adalah… kakakku. Theodora Zylph.”
Ruangan membeku.
Secara harfiah.
Hawa dingin menggigit tulang.
Itu bukan dari sihir gelap.
Itu dari Aloric.
Mata hitam pria itu berubah seperti malam sebelum badai.
“Berani sekali dia menyentuh Kaisar,” katanya, suara datar namun mematikan.
Anastasia menelan ludah. “Dia tidak hanya menyentuh Kaisar. Dia… sedang memulai sesuatu yang lebih besar.”
SETELAH PENYEMBUHAN
Beberapa jam kemudian, kondisi Kaisar stabil—tidak sembuh sepenuhnya, namun membaik.
Anastasia berjalan keluar kesakitan, tubuhnya limbung karena energi sihir yang terkuras.
Aloric langsung menangkapnya sebelum ia jatuh.
“Kau mengeluarkan terlalu banyak energi,” bisiknya.
Nada itu rendah, dalam… dan lebih lembut dari biasanya.
Anastasia memejamkan mata. “Aku… harus menyelamatkannya.”
“Dan siapa yang menyelamatkanmu?” balas Aloric.
Ia mengangkat Anastasia dengan mudah ke dalam pelukan—bridal style—tanpa memberi kesempatan untuk menolak.
“Turunkan aku—”
“Tidak.”
Suara itu keras, dingin, namun… mengandung kekhawatiran sesungguhnya.
“Duke Silas,” panggil seorang prajurit, “kami punya laporan tentang—”
“Tidak sekarang,” sahut Aloric tanpa melihat. “Anastasia dulu.”
Prajurit itu menunduk cepat.
Aloric berjalan terus, membawa Anastasia ke ruang istirahat VIP.
Anastasia menggerakkan jarinya lemah. “Kau… marah?”
“Tidak.”
“Kau… takut?”
Diam.
Keheningan lama berlalu sebelum akhirnya Aloric menjawab pelan, hampir seperti bisikan.
“…aku tidak menyukai kenyataan bahwa seseorang—bahkan kakakmu—bisa menghapus hidupmu begitu mudahnya.”
Anastasia tertegun.
Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit… tapi karena sesuatu yang menghangatkan.
Mereka saling menatap.
Namun sebelum dialog itu berkembang,
PRAAAAANG—
Suara kaca pecah dari atap.
Aloric bergerak cepat, memutar tubuhnya untuk melindungi Anastasia.
Bayangan bergerak cepat di langit malam—
Seseorang menerobos masuk.
Seseorang dengan rambut pirang keemasan.
Mata ungu gelap.
Gaun bangsawan yang terciprat darah kering.
Wajah cantik yang tersenyum bagai malaikat… tapi penuh racun.
Theodora Zylph.
“Kau akhirnya menyebut namaku, adikku,” katanya manis.
“Dan aku datang untuk menjemputmu.”
Anastasia membeku.
Aloric langsung berdiri di depan Anastasia, tubuhnya seperti dinding hitam.
Theodora tersenyum lebih lebar.
“Aku tidak datang untuk Duke Silas. Aku datang untuk mengambil hartaku kembali.”