NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencoba m lawan

Sejumput rambut hitam legam rambut Radya yang diikat erat dengan seutas benang merah darah.

Benda itu tergeletak di telapak tangannya, kecil dan tampak remeh, tetapi memancarkan energi dingin yang membuat bulu kuduk Raras meremang. Ini bukan sekadar bukti. Ini adalah jangkar. Simpul fisik yang mengikat jiwa Radya pada mantra terkutuk yang tertulis di atasnya. Setiap kata hinaan, setiap tatapan benci, setiap amarah yang meledak-ledak semuanya bersumber dari benda mungil ini.

Rasa sakit di hatinya akibat bentakan Radya beberapa saat lalu perlahan surut, digantikan oleh amarah yang dingin dan terfokus. Amarahnya bukan lagi untuk Radya, pria yang kini tak lebih dari wayang yang talinya digerakkan dari jauh. Amarahnya ditujukan untuk sang dalang, Ayunda, dan kaki tangannya, Bayu.

Ia melipat kembali kertas itu dengan hati-hati, memasukkannya kembali ke dalam dompet seolah itu adalah benda paling beracun di dunia.

Mengkonfrontasi Radya sekarang adalah tindakan bunuh diri. Menunjukkan bukti ini hanya akan membuatnya terlihat semakin seperti dukun gila di mata pria yang logikanya telah dibajak. Ia butuh sesuatu yang lebih kuat dari sekadar bukti fisik. Ia butuh senjata yang bisa bertarung di medan yang sama.

Sebuah ingatan samar dari masa kecilnya muncul ke permukaan. Kakeknya, Mbah Wiryo, pernah berkata, “Ora kabeh pusaka kuwi wujude keris utawa tombak, Nduk. Kadang, pusaka sing paling ampuh kuwi kawruh sing tinulis.”

(Tidak semua pusaka itu wujudnya keris atau tombak, Nak. Terkadang, pusaka yang paling ampuh adalah pengetahuan yang tertulis).

Kotak kayu jati itu. Kotak yang diwariskan kakeknya sebelum meninggal, yang selama ini hanya tersimpan di gudang rumah orang tuanya. Ibunya selalu melarangnya membuka, mengatakan isinya ‘terlalu berat’ untuknya. Kini, Raras merasa beban di pundaknya sudah jauh lebih berat.

***

Perjalanan dengan bus antarkota di subuh buta terasa seperti perjalanan melintasi dua dunia. Ia meninggalkan kemegahan dingin Kediaman Cokrodinoto, dengan pilar-pilar marmer dan taman-taman yang terawat sempurna, menuju kehangatan rumah sederhana di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah. Udara di sini terasa berbeda, lebih ringan, beraroma tanah basah dan bunga melati yang mekar di pagar.

Ibunya menyambut di ambang pintu dengan wajah cemas yang langsung luluh menjadi senyum lega.

“Raras? Kok nggak ngabari mau pulang, Nduk?” sapa ibunya, tangannya yang kapalan lembut membelai pipi Raras.

“Kangen sama masakan Ibu,” jawab Raras, memaksakan seulas senyum sambil memeluk tubuh ringkih itu. Aroma bawang goreng dan sambal terasi yang menguar dari dapur adalah aroma rumah yang sesungguhnya.

“Kamu kurusan,” komentar ibunya, matanya yang tajam menelisik penampilan Raras dari atas ke bawah.

“Apa suamimu itu nggak becus ngurus kamu? Orang kaya kok istrinya malah kayak kurang gizi.”

Raras tertawa kecil, berusaha mengalihkan topik.

“Banyak pikiran, Bu. Kerjaan lagi numpuk.” Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya.

Setelah sarapan seadanya, Raras mengutarakan niatnya.

“Bu, Raras boleh pinjam kunci gudang belakang? Ada barang Mbah Kakung yang mau Raras ambil.”

Raut wajah ibunya seketika berubah. Senyumnya memudar, digantikan oleh gurat kekhawatiran.

“Barang yang mana? Jangan bilang kotak jati ukir itu.”

Raras mengangguk pelan.

“Mau buat apa, Ras? Kamu tahu kan isinya itu bukan mainan. Mbahmu dulu berpesan, kotak itu baru boleh dibuka kalau kamu sudah benar-benar siap menghadapi ‘dunia lain’,” kata ibunya dengan suara pelan, seolah takut didengar dinding.

“Raras rasa… sekarang waktunya, Bu,” jawab Raras, tatapannya mantap.

“Ada sesuatu yang harus Raras selesaikan, dan Raras butuh petunjuk dari Mbah.”

Melihat kesungguhan di mata putrinya, sang ibu akhirnya mengalah. Ia mengambil sebuah kunci berkarat dari dalam kaleng biskuit tua dan menyerahkannya pada Raras.

“Hati-hati, Nduk. Jangan sampai ilmumu malah memakan dirimu sendiri.”

.

.

.

Gudang itu pengap dan berdebu. Cahaya matahari yang masuk melalui celah genting menerangi partikel-partikel debu yang beterbangan di udara. Di sudut ruangan, di atas tumpukan koran bekas, kotak itu berada. Kotak kayu jati tua dengan ukiran naga dan sulur bunga yang rumit. Saat Raras menyentuhnya, ia merasakan getaran energi yang halus dan hangat, sangat kontras dengan hawa dingin dari pelet Ayunda.

Ia membawanya ke kamar tidurnya yang sempit, tempat di mana ia dulu sering menulis hingga larut malam. Dengan napas tertahan, ia membuka kait kuningan yang mengunci kotak itu.

Aroma cendana, tembakau, dan bunga kering yang khas langsung menyeruak, memenuhi ruangan. Isinya bukan perhiasan atau harta karun. Di dalamnya tersimpan beberapa kantong kain kecil berisi ramuan kering, beberapa batu kristal dengan warna aneh, dan sebuah bungkusan kain mori yang membungkus benda paling berharga, sebuah buku bersampul kulit tebal yang sudah usang.

Buku Mbah Wiryo.

Dengan jemari gemetar, Raras membukanya. Halaman pertama berisi tulisan tangan aksara Jawa yang elok. “Catetan Ki Wiryodiningrat.” Itu nama lengkap kakeknya. Orang-orang di desa hanya mengenalnya sebagai dukun penyembuh, seorang ahli jamu dan pijat. Tapi tulisan ini… ini adalah catatan seorang spiritualis tingkat tinggi.

Raras membalik halaman demi halaman. Isinya bukan mantra-mantra santet atau pelet, melainkan metode penyembuhan, cara membuat pagar gaib untuk melindungi rumah, dan yang paling membuatnya tercekat, sebuah bab khusus berjudul

*“Panyelarasan Weton Jodho.”( Penyelarasan Weton Jodoh.)

Raras membaca dengan cepat, matanya melahap setiap kata. Kakeknya menulis tentang berbagai jenis weton, kekuatan dan kelemahannya. Lalu ia menemukan sebuah paragraf yang seolah ditulis khusus untuknya.

“Weton Selasa Kliwon, neptunipun ageng, nanging tilaripun ringkih. Gampil kenging pangaribawa saking njawi, utaminipun panglemunan ingkang asipat sengit. Pageripun kedah dipun damel saking weton ingkang langka, inggih punika Weton Inten. Weton punika sanes jimat, ananging panimbang. Sanes tameng, ananging toya ingkang saged nyirep latu.”

(Weton Selasa Kliwon, neptunya besar, tetapi jalannya rapuh. Mudah terkena pengaruh dari luar, terutama ilmu gaib yang bersifat kebencian. Pagarnya harus dibuat dari weton yang langka, yaitu Weton Inten. Weton ini bukan jimat, melainkan penyeimbang. Bukan tameng, melainkan air yang bisa memadamkan api.)

Jantung Raras berdebar kencang. Deskripsi itu persis seperti yang Eyang Putra katakan. Kakeknya, seorang dukun putih terkemuka di masanya, ternyata memiliki pemahaman yang sama dalamnya dengan sang patriark Cokrodinoto. Ini bukan lagi kebetulan. Ini adalah takdir yang jalurnya telah dirintis oleh leluhurnya sendiri.

Perasaan sebagai korban yang tak berdaya menguap seketika, digantikan oleh kesadaran yang kuat akan sebuah tugas. Ia bukan sekadar alat tolak bala. Ia adalah sang penyeimbang. Dan di tangannya kini, ada pusaka terampuh untuk menjalankan tugas itu: pengetahuan.

Malam harinya, ia kembali ke Kediaman Cokrodinoto. Rumah besar itu masih terasa dingin, tetapi kini Raras tidak lagi merasa terintimidasi. Ia membawa buku harian kakeknya, disembunyikan di dalam tasnya. Ia tidak kembali ke paviliun tamu, melainkan berjalan lurus menuju kamar Eyang Putra.

Ruangan itu kosong, tetapi energinya terasa tenang dan sakral. Aroma dupa dan minyak serimpi masih samar-samar tercium. Raras tahu, ini adalah pusat kekuatan spiritual keluarga Cokrodinoto. Jika ia ingin memulai pertarungannya, ia harus memulainya dari sini.

Ia membuka buku kakeknya ke halaman yang sudah ia tandai, sebuah bab tentang “Mantra Pager Diri Sederhana.”

Ritual ini tidak membutuhkan sesajen yang rumit, hanya fokus dan niat yang bersih. Tujuannya adalah untuk menciptakan perisai energi tipis di sekitar Eyang, melindunginya dari serangan gaib susulan selagi beliau lemah di rumah sakit.

Raras duduk bersila di depan ranjang Eyang yang kosong. Ia mengeluarkan sebuah batu akik berwarna hijau lumut dari kantong peninggalan kakeknya dan menggenggamnya erat. Sambil memejamkan mata, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memusatkan seluruh energinya.

Bibirnya mulai menggumamkan mantra kuno itu dengan suara lirih, nyaris tak terdengar. Kata-kata dalam bahasa Jawa Kawi mengalir dari mulutnya, terasa familier meski baru pertama kali ia ucapkan.

“Ingsun matek ajiku, pager wesi sajeroning ragaku… Lemah banyu angin geni, dadi siji ngadeg ing ngarsaku… Tolak sadaya tenung, teluh, lan…”

Saat ia mengucapkan kata terakhir dari baris itu, udara di dalam kamar mendadak menjadi sangat dingin, menusuk hingga ke tulang. Lampu meja di samping tempat tidur berkedip-kedip liar seolah kehilangan daya.

Raras merasakan tekanan berat di dadanya, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang mencoba mendorongnya keluar. Perlawanan. Energi hitam itu tahu ada yang mencoba mengusiknya.

Ia mengabaikannya, melanjutkan mantranya dengan suara yang lebih mantap, menyalurkan seluruh tekadnya ke dalam batu di genggamannya.

Dan tepat saat itu…

KRAK!

Sebuah suara retakan yang tajam dan keras memecah keheningan, datang dari arah meja kecil di sudut ruangan tempat Eyang biasa meletakkan pusaka-pusaka miniaturnya.

Halo gaes ..

Selamat tahun Baru yang telat.

Kita lanjut ikuti cerita Raras yuk 🥰🥰🥰

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!