Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Eh, Bu Marni, ini cucu saya yang ketiga baru saja lahir kemarin lusa. Lucu sekali, pipinya kemerahan," ujar Bu Ratna sambil memamerkan foto di ponselnya dengan wajah berseri-seri. "Bu Marni kapan nih mau menggendong cucu? Hendra kan sudah dua tahun menikah, masa belum ada tanda-tanda?"
Wajah Marni seketika berubah kaku. Ia memaksakan senyum tipis yang tampak sangat tidak alami.
"Ya, doakan saja. Namanya juga belum dikasih."
"Tapi apa sudah coba diperiksa ke dokter, Bu?" sahut Bu Ati menimpali.
"Supaya tahu siapa yang sebenarnya bermasalah. Zaman sekarang kan medis sudah canggih, jadi tidak menebak-nebak lagi siapa yang mandul."
Mendengar kata mandul, ego Marni langsung terusik. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan dentuman yang cukup keras di atas meja.
"Anakku, Hendra, itu sehat walafiat! Dia laki-laki perkasa, tidak mungkin dia yang bermasalah. Aku ini ibunya, aku tahu persis kualitas anakku!"
"Ya kalau belum diperiksa ke dokter, mana bisa tahu siapa yang sehat dan siapa yang tidak, Bu Marni," bantah Bu Ati dengan santai. "Laki-laki juga bisa saja punya masalah, bukan cuma perempuan."
Marni mendengus sinis, matanya melotot tajam. Kata-kata itu bak penghinaan meski tidak langsung tertuju pada Hendra.
"Tidak perlu dokter-dokteran! Sudah jelas itu menantuku yang bermasalah. Sejak masuk ke rumah ini, bawaannya cuma sial saja. Membeli sayur saja tidak becus, apalagi mengurus rahim!"
"Aduh, jangan begitu, Bu. Kasihan Aisya," ujar Bu Ratna mencoba menenangkan. "Tapi aku jadi teringat tetangga di blok sebelah. Dulu anaknya menikah bertahun-tahun tidak punya anak. Lalu mereka cerai, dan saat anaknya menikah lagi dengan istri baru, eh... langsung punya tiga anak. Ternyata memang istrinya yang lama yang tidak subur."
Provokasi itu bagaikan bensin yang menyiram api di hati Marni. Bayangan tentang Hendra memiliki istri baru yang mampu memberinya cucu seketika menari-nari di kepalanya.
"Nah! Itu yang aku maksud! Kadang-kadang memang harus ganti bibit kalau mau hasilnya cepat!"
"Tapi kan mereka baru dua tahun, Bu Marni. Masih terlalu dini kalau bicara cerai," saran Bu Ati.
"Dua tahun itu lama bagiku yang sudah ingin menimang cucu!" seru Marni dengan nada tinggi. "Aku malu, setiap arisan ditanya cucu. Setiap kumpul warga ditanya cucu. Aku merasa gagal jadi ibu kalau Hendra tidak bisa kasih penerus. Dan aku tahu, penghalangnya cuma satu, ya Aisya!"
*
*
Di pasar, Aisya berada di antara tumpukan barang dagangan.
Meskipun hatinya sedang dirundung duka akibat makian mertuanya tadi pagi, ia tetap memaksakan diri untuk tersenyum ramah kepada setiap ibu penjual sayur yang ia temui.
Namun, setiap kali ada laki-laki yang lewat di dekatnya, Aisya dengan sigap menundukkan wajahnya dalam-dalam, menjaga pandangan dan kehormatannya.
Selesai membeli beberapa butir telur dan sayur mayur, Aisya melangkah menuju pangkalan angkot. Tiba-tiba saja, rasa nyeri yang hebat menyerang ulu hatinya. Perutnya terasa melilit dan pandangannya mendadak mengabur.
Aisya memegang perutnya dengan tangan yang gemetar. Sejak kemarin, ia memang belum mengisi perutnya dengan makanan apa pun. Tekanan batin dari Ibu Mira dan rasa sedih yang mendalam membuatnya kehilangan selera makan, bahkan ia memberikan porsi makannya sendiri untuk mertuanya agar tidak ada keributan lagi.
"Ya Allah, kenapa tiba-tiba pusing sekali," gumam Aisya.
Ia mencoba terus berjalan sambil menenteng plastik belanjaan yang terasa berkali-kali lipat lebih berat dari biasanya.
Langkahnya semakin gontai dan keringat dingin mulai membasahi dahinya. Dunianya seolah berputar, suara bising pasar perlahan menjauh, digantikan oleh dengung panjang di telinganya.
Tepat saat lutut Aisya melemas dan tubuhnya hampir menghantam aspal y, sebuah lengan kokoh dengan sigap menangkap pinggangnya.
Tubuh Aisya tertahan, bersandar pada dada bidang seseorang.
"Kamu tidak apa-apa?!" sebuah suara berat yang familiar terdengar di dekat telinganya.
Aisya mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia mendongak sedikit dan melihat wajah seorang pria dengan rambut gondrong dan kumis tipis.
Pria itu menatapnya dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan yang luar biasa.
"Mas... Mas yang waktu itu kan?" gumam Aisya dengan suara nyaris hilang.
Kaisar, yang sejak tadi membuntuti Aisya dalam penyamarannya, merasa jantungnya hampir copot saat melihat wanita itu limbung.
Tanpa memedulikan penyamarannya, ia menopang tubuh Aisya dengan sangat hati-hati dan memastikan wanita itu tidak jatuh ke tanah.
"Wajahmu sangat pucat. Apa kamu sakit?" tanya Kaisar dengan lembut. Ia bisa merasakan tubuh Aisya yang gemetar dan sangat lemas.
"Aku cuma sedikit pusing kok," jawab Aisya sambil berusaha berdiri tegak, meskipun ia masih harus berpegangan pada lengan Kaisar. "Terima kasih, Mas... maaf aku merepotkan kamu."
Kaisar tidak melepaskan pegangannya. Ia bisa melihat betapa rapuhnya wanita yang di depannya ini.
"Kamu belum makan kan? Jangan berbohong pada saya. Tubuh kamu sangat dingin," ucap Kaisar.
Aisya hanya terdiam, tidak mampu menjawab. Ia merasa sangat malu sekaligus berterima kasih. Di saat ia merasa seluruh dunia menekannya, pria asing yang ia anggap preman ini justru selalu ada di saat ia paling membutuhkan bantuan.
"Ikut saya. Kita cari tempat duduk dan air minum," ujar Kaisar tanpa memberi ruang untuk bantahan.
"Tapi Mas... aku harus pulang, nanti Ibu marah–"
"Ibumu bisa menunggu, tapi nyawamu tidak!" potong Kaisar dengan nada yang membuat Aisya tertegun.
Kaisar memandu Aisya menuju sebuah bangku kayu di bawah pohon yang teduh, tak jauh dari pasar. Ia membantu Aisya duduk, lalu dengan sigap membelikan sebotol air mineral dingin dari warung terdekat.
"Minum ini dengan perlahan," ucap Kaisar sambil memberikan botol yang sudah dibukakan tutupnya.
Aisya meminumnya beberapa teguk, dan perlahan kesadarannya mulai pulih. Ia menatap Kaisar yang berjongkok di hadapannya, memerhatikan luka di lengan pria itu yang kini sudah tertutup kain jaket.
"Bagaimana luka Mas?" tanya Aisya dengan tulus di tengah rasa lemasnya.
Kaisar terdiam. Dalam kondisi seperti ini ini, Aisya masih sempat memikirkan luka orang lain?
"Sudah jauh lebih baik. Berkat kamu," jawab Kaisar.
Kaisar menatap wajah Aisya dengan dalam. Ada keinginan besar dalam hatinya untuk membawa wanita ini pergi jauh dari penderitaannya, melindunginya dari mertua kejam dan dunia yang tidak adil.
Namun, Kaisar kembali tersadar pada kenyataan pahit yang menghimpitnya. Kalau Aisya masih sah jadi istri orang.
"Kenapa kamu menyiksa diri sendiri seperti ini? Kamu berhak untuk bahagia, Aisya."
"Eh, Mas Kaisar tahu namaku?"
Kaisar mengangguk. "Maaf, saya kepo jadi tanya-tanya sama mereka. Habisnya kamu ditanya soal nama malah kabur," jawabnya sembari menunjuk ibu penjual sayur.
Aisya tersenyum pilu, sebuah senyuman yang membuat hati Kaisar seolah dicabik-cabik.
"Terima kasih sudah menolongku lagi, Mas," ucap Aisya sengaja mengalihkan pembicaraan.
lanjut thor 💪💪bnykin bab nya🤣🤣
itu si kaisar tau gak y bapaknya gundik bawahannya jg... 🤔
Hendra jg dipecat biarin dia melihat aisyah bahagia...
jadikan aisyah sekertaris mu biar Hendra dilema
pas sdh tau kebenarannya tth aisyah mau balik jg gk bs karena karir taruhannya sebab aisyah sdh dijaga oleh big boss nya🤣🤣🤣
kau tau bulan aisyah yh seperti sampah tapi kau seperti binatang jd bersyukurlah kau aisyah lepas sr binatang karena hanya binatang lah yg bersenggama tampa menikah dan tanpa mandi junub mengucapkan talak🤣
bersyukur lah kepada Allah krn mata mu dibuka selebarnya dan Allah sayang padamu bahwa kamu tidak di biarkan tidur dengan binatang yg berupa manusia🤣🤣
lebih baik buat Hendra seyakin yakinnya untuk menceraikan mu... percaya aja sma Allah kebenaran itu pasti ada jalannya untuk membuka siapa yg jahat