Setelah diselingkuhi, Brisia membuat rencana nekat. Ia merencanakan balas dendam yaitu menjodohkan ibunya yang seorang janda, dengan ayah mantan pacarnya. Dengan kesadaran penuh, ia ingin menjadi saudara tiri untuk mengacaukan hidup Arron.
Semuanya berjalan mulus sampai Zion, kakak kandung Arron muncul dan membuat gadis itu jatuh cinta.
Di antara dendam dan hasrat yang tak seharusnya tumbuh, Brisia terjebak dalam cinta terlarang saat menjalankan misi balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ken Novia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Duda anak dua
Bulan berganti, urusan pendaftaran kuliahnya Brisia udah beres, gadis itu berhasil masuk jurusan sastra Inggris melalui jalur prestasi.
Daripada bengong, gadis itu milih bantu-bantu di warung mamanya.
Kalau dirumah sendirian yang ada kepikiran mulu sama Arron, apalagi mereka kan pacarannya lama. Tentu saja nggak semudah itu Brisia melupakan. Terlalu banyak kenangan yang sudah mereka ukir.
"Brie mumpung belum sibuk kuliah kamu nggak pengin jalan-jalan?" Tanya mama Rosa.
"Enggak lah Ma, aku mau bantuin mama aja. Mama aja kerja terus masa aku disuruh jalan-jalan." Jawab Brisia sambil mengupas bawang untuk masakan esok hari.
"Loh ya nggak papa, kamu kan masih muda kalau mau jalan-jalan sama temennya ya nggak papa."
"Enggak lah Ma, bingung mau kemana."
Warung tiba-tiba ramai karna jam. makan siang. Brisia mencuci tangan dan ikut ke depan biar bisa bantuin bikin es.
Biarpun warungnya sederhana, tapi masakan mama Rosa enak. Brisia sibuk bantuin bikin es jeruk sama es teh.
"Neng, tolong anter ke meja ujung sana ya, mba mau nganter ke meja situ!" Pintar Mba Susi, karyawannya mama Rosa.
"Siap Mba!"
Brisia mengantar minuman itu ke meja yang dimaksud, nggak ngeluh sekalipun harus mondar mandir. Yang ada dipikiran Brisia adalah mamanya lebih capek.
Waktu berlalu warung udah nggak serame tadi, Brisia mengambil piring-piring kotor ke belakang yang nantinya dicuciin sama Mba Reni. Jadi karyawannya mama Rosa itu ada dua, Mba Reni masih gadis dan Mba Rena ibu-ibu anak dua.
Papa Handi datang sendirian dan langsung memesan makanan. Brisia yang baru aja duduk cuma memperhatikan sekilas, tapi agak familiar.
"Makannya biasa ya Mba, tapi minumnya es jeruk!" Ucap papa Handi ke mama Rosa.
"Baik nanti saya antar!" Jawab mama Rosa ramah, udah hafal apa yang papa Handi biasa pesan.
Papa Handi mengangguk lalu mencari tempat duduk, sukanya dipojokan dekat kaleng kerupuk.
"Brie bikinin es jeruk satu buat Om itu, nanti sekalian anterin makanannya!"
"Iya Ma."
Brisia langsung bangun dan membuat es jeruk, sementara mama Rosa menyiapkan makanan. Papa Handi terlihat sibuk dengan ponselnya.
Mama Rosa selesai menyiapkan makanannya papa Handi, Ia meletakkan diatas nampan sekalian sama es jeruknya.
"Udah ini doang Ma?" Tanya Brisia pas mau nganter.
"Iya Brie, paling nanti nambah kerupuk dua."
"Ya ampun mama sampai hafal. Pelanggan tetap Ma? Eh kok kaya nggak asing. Om yang waktu itu kan?" Tanya Brisia kepo.
"Ssst...nanti aja wawancaranya. Sana anterin dulu takut omnya udah kelaparan."
"Perhatian bener?" Tanya Brisia curiga.
Mama Rosa cuma geleng-geleng kepala, lalu kembali sibuk karna ada pembeli lain.
"Silahkan Om." Ucap Brisia sambil meletakkan pesanan papa Handi di meja.
"Makasih, lagi bantu-bantu disini?" Tanya papa Handi soalnya udah lama nggak ngeliat Brisia.
"Iya Om, mumpung belum mulai kuliah, daripada bingung mau ngapain mending bantuin mama."
"Oh gitu, anak Om juga baru lulus SMA mau kuliah, tapi kerjaannya kalau siang tidur mulu nggak ada pergerakan, kalau malam begadang main game." Curhat papa Handi.
"Damai banget Om."
"Nah itu dia, kaya nggak punya kesibukan dia mah. Dibilangin susah jadi ya udah biarin aja. Lagi patah hati juga kayaknya. Makanya Om pengin anak itu cepet-cepet masuk kuliah biar ada kegiatan."
"Cowok Om?"
"Iya cowok, anak Om cowok semua. Tapi yang pertama beda banget, rajin dia mah, sekarang kerja di Jogja jadi arsitek."
"Keren banget Om." Puji Brisia.
"Iya anak sulung Om emang keren. Ganteng lagi. Kamu mau jadi pacarnya?"
Brisia langsung melotot, ini om-om over sharing malah nawarin anaknya segala.
"Hehe, makasih lah Om. Saya lagi mau fokus kuliah dulu, biar bisa ngejar cita-cita trus nyenengin mama."
"Bagus itu. Anak berbakti."
Brisia tersenyum karna dipuji.
"Ya udah silahkan dimakan Om, maaf mengganggu."
Brisia pamit undur diri, takutnya papa Handi udah kelaperan kata mamanya tadi.
Papa Handi makan dengan lahap, biarpun sendirian cuek aja yang penting bawa duit. Udah biasa kemana-mana kaya pendekar alias sendirian.
"Jadi berapa Mba?" Tanya papa Handi pas makannya udah selesai. Mama Rosa lagi duduk di meja kasir.
"Tambahannya apa Mas?"
"Kerupuk dua."
Mendengar kerupuk dua disebut, Brisia hampir aja ngakak, soalnya tebakannya bener. Takut ketahuan nguping, gadis itu pura-pura sibuk main hape.
"Jadi dua puluh lima ribu."
Papa Handi memberikan lembaran uang warna biru ke mama Rosa.
"Sebentar kembaliannya!"
Mama Rosa memberikan kembalian lalu papa Handi pergi pakai mobil. Mobilnya pajero sport, keliatan orang berduit. Cuma yang bikin Brisia heran makannya nggak direstoran mewah.
"Ma Om tadi beneran nambah kerupuk dua." Ucap Brisia sambil cekikikan.
"Mama bilang juga apa Brie."
"Pesennya itu-itu mulu Ma?" Tanya gadis itu kepo.
"Iya bisa beberapa hari lauknya sama, trus nanti ganti lagi kalau udah bosen mungkin. Kalau bilangnya biasa berarti lauknya sama kaya kemarin."
"Hah..." Brisia heran mamanya sampai se hafal itu.
Udah lima harian Brisia membantu mamanya diwarung, lima hari pula ia melihat papa Handi datang makan disana.
"Ma, tadi Om nya ganti lauk?" Tanya Brisia pas denger tadi papa Handi nyebutin lauknya bukan pake kata biasa.
"Iya kayaknya udah bosen, sana kamu bikinin es jeruknya. Mba Reni lagi mama suruh goreng ayam."
"Iya Ma."
Saat Brisia mengantarkan makanan, Papa Handi terlihat sibuk menelepon. Brisia tetap meletakkan makanan itu dimeja sambil bilang permisi tapi pelan dan papa Handi cuma membalas pakai anggukan.
Papa Handi meletakkan ponselnya dimeja, udah selesai telponan. Brisia nggak sengaja liat wallpapernya papa Handi, kebetulan ponselnya masih menyala. Ada foto papa Handi dan dua orang laki-laki. Yang satu keliatan dewasa tapi bukan disitu fokusnya Brisia, melainkan pada foto Arron yang ada disana.
"Makasih ya Brie." Ucap papa Handi, udah tau nama Brisia soalnya sering diajak ngobrol basa basi. Kalau dirumah jarang ngobrol sama Arron jadi kalau diluar rumah papa Handi tuh sok akrab sama orang.
"Eh iya sama-sama Om, permisi." Brisia tersadar dari lamunannya lalu pamitan dari sana.
Malamnya Brisia mendadak kepikiran.
"Jadi Om Handi itu papanya Arron? Iya sih gue tau papanya Arron namanya Handi pernah liat di raportnya Arron. Tapi kan nama Handi bisa aja banyak."
"Berarti Om Handi duda kan? Kata Arron mamanya udah lama meninggal. Ya ampun kasian banget si Om ngurus anak dua, mana anaknya yang satu modelan Arron!"
"Brie Lo ngapain sih malah mikirin Om Handi, udah takdir lah kaya mama Rosa yang ngurusin Lo sendirian setelah papa meninggal."
Brisia sibuk ngoceh sendiri, untung aja ngomongnya pelan.
coba2 dikit biar ntar pas udah nikah udah pro bisa bikin seneng istri /Tongue/
kalo udah nikah ya gak boleh coba2 /Panic/
cuss lah beraksii 🤭😄