Di Antara jutaan dunia kecil yang tersebar di multiverse, ada pola yang selalu berulang:
seorang protagonis pria jatuh cinta pada protagonis wanita, akan berubah obsesif, posesif, tak terkendali—hingga menghancurkan dunia mereka sendiri ketika cintanya tak berbalas.
Dari luar, tragedi itu tampak seperti bencana alam atau keruntuhan energi dunia.
Namun di baliknya, penyebab utamanya selalu sama:
hati seorang pria yang terlalu mencintai, hingga menghancurkan segalanya
Karina Wilson, seorang pekerja admistrasi ruang. Yang di beri tugas oleh sistem untuk “menebus” para pria posesif itu.
Bukan dengan paksaan.
Tapi dengan mengajari mereka cara mencintai tanpa menghancurkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
“Bibi Chen.”
Saat berhadapan dengan orang lain, wajah Axel Madison menunjukkan ekspresi yang datar Axel, lalu menatap Karina Wilson yang berada di sebelahnya.
Karina Wilson memiliki citra sebagai gadis yang berperilaku baik. Ia memiliki rambut hitam panjang dan lurus serta mata yang lembut dan penuh toleransi. Saat berdiri di samping Axel, ia sama sekali tidak tampak kalah darinya.
Pikiran bahwa Axel tidak pernah memiliki teman semasa kecil, namun kini ia membawa seorang gadis pulang, membuat Bibi Chen tersenyum dan bertanya,
“Apakah ini pacar axel”
Karina membuka mulutnya, tetapi Axel menjawab lebih dulu,
“Ya.”
Ekspresi Bibi Chen semakin melunak, nada suaranya pun mengandung sedikit kegembiraan.
“Benarkah? Bagus sekali! Kalian berdua baru saja pulang. Bibi akan merapikan kamar tamu dan menyiapkan sesuatu yang lezat untuk kalian nanti.”
Langkah Bibi Chen menjadi jauh lebih ringan.
Bagaimana mungkin ia tidak bersemangat? Axel selalu sangat introvert sejak kecil, sementara suami dan istrinya sibuk dengan pekerjaan. Ia pernah melihat Axel kecil duduk sendirian di atas selimut, bermain Lego dengan wajah tenang yang sama sekali tidak sesuai dengan usianya.
“Ayo, ke kamarku dan duduk sebentar.”
Meski Axel sering tidak berada di rumah, Bibi Chen tetap membersihkan kamarnya dengan teliti dari waktu ke waktu.
Karina naik ke lantai atas bersamanya, dan begitu masuk, ia langsung terkejut oleh perabotan di kamar itu.
Tak heran Axel pernah mengatakan bahwa apartemen yang disewanya lebih kecil daripada kamar mandinya.
Kamar itu dipenuhi berbagai model pesawat ruang angkasa. Salah satu sisi rak buku berisi buku-buku profesional, sementara meja putih bergaya minimalis tertata rapi.
Semakin Karina memandangi model-model pesawat itu, semakin terasa familiar. Terutama setelah mendengar bahwa semuanya didasarkan pada pesawat yang dikembangkan oleh orang tua Axel, Karina pun terdiam.
Tak heran Axel memiliki kecerdasan luar biasa—dipromosikan menjadi pengajar di Universitas Q pada usia delapan belas tahun, memimpin beberapa proyek, dan membimbing mahasiswa pascasarjana.
Ternyata kedua orang tuanya memang individu yang sangat cerdas.
Ia pasti akan mengikuti jejak mereka di masa depan.
Kamar itu memiliki jendela dari lantai hingga langit-langit. Karina hendak membuka tirai ketika Axel berkata langsung ke arah jendela,
“Bukalah tirainya.”
Tirai bergerak ke samping dengan sendirinya, membiarkan cahaya masuk.
Karina berjalan mendekat, dan pemandangan halaman pun terlihat jelas. Pemanas ruangan menyala maksimal, membuat dingin yang tersisa perlahan menghilang.
Saat Axel melihatnya berdiri di dekat jendela, pikirannya melayang—bagaimana jika ia menekannya di sana…
Ekspresi wajahnya pasti akan sangat cantik.
Tanpa menyadari pikiran tidak pantas Axel, Karina berkata dengan nada gembira,
“Lihat, bunga plum di halaman sedang mekar.”
Ibunda Axel sangat menyukai bunga, sehingga ayahnya menanam banyak bunga di rumah, termasuk bunga plum, yang dirawat secara rutin.
Meski musim dingin, sinar matahari kuning yang hangat membuat ruangan terasa terang dan lapang.
Di dekat jendela terdapat kursi santai. Karina berbaring di atasnya, menikmati sinar matahari, lalu perlahan memejamkan mata.
Tiba-tiba ia merasakan geli di pipinya—Axel sedang menggodanya dengan jari, menyentuhnya dengan lembut.
“Jangan tertidur. Bibi Chen akan segera memanggil kita untuk makan malam.”
“Tidak apa-apa, aku hanya beristirahat sebentar.”
Begitu ia berbicara, Karina justru menguap. Ia menutup mulutnya, air mata tipis muncul di sudut matanya.
Tatapan Axel semakin dalam.
Ia memasukkan jarinya ke dalam mulut Karina. Karina terkejut dan hampir menggigitnya.
“Nigama?” Axel menggoda dengan lidahnya, membuat ucapannya tidak jelas.
“Kamu sangat mengantuk, hm?”
Nada bicaranya rendah dan memanjang. Ia menarik jarinya, lalu—mencium Karina.
Karina: “!!!”
Apakah orang ini mesum?
Ketukan pintu terdengar.
“Xiaoyu, kamar tamu sudah siap,” suara Bibi Chen dari luar. “Mau makan apa hari ini? Bibi akan memasak untukmu.”
“Baik,” jawab Axel.
Ia lalu menunduk dan bertanya pada Karina apa yang ingin ia makan.
“Terserah,” jawab Karina santai.
Axel menyebutkan daftar panjang hidangan, membuat Karina tercengang.
“Oke, oke, Bibi siapkan,” kata Bibi Chen. “Oh ya, kuncinya aku tinggalkan di pintu.”
Langkahnya terdengar menjauh.
Axel membawa Karina ke kamar sebelah. Orang tuanya tinggal di lantai bawah, sementara lantai atas dilengkapi pusat kebugaran dan kolam renang.
Kamar itu bergaya nyaman dan mewah. Karina bersandar malas di pintu, memegang kunci kamar.
Meski sedikit lebih kecil dari kamar Axel, kamar ini tetap luas.
Karina tiba-tiba teringat sesuatu dan mendekat. Axel menatapnya penuh harap, siap menerima ciuman.
Namun Karina justru mengambil kunci dari tangannya.
“Aku hampir lupa.”
Untuk pertama kalinya, wajah Axel menunjukkan ekspresi frustrasi. Namun sesaat kemudian ia berpikir—ini rumahnya sendiri. Ia memiliki kunci cadangan.
Karina menggantung pakaiannya lalu menoleh.
“Kau mau berdiri di situ terus?”
Axel masuk, menatap pakaian yang tergantung. Terlalu sedikit.
Anak perempuan harus berdandan cantik. Ia akan membelikan pakaian dan sepatu terbaik untuk calon istrinya.
Ia bekerja keras demi itu.
Remaja yang bahkan belum cukup umur untuk menikah itu telah membayangkan kehidupan manis bersama istrinya di masa depan.
Soal anak? Nanti saja.
Orang tuanya bertemu di kampus, memiliki minat yang sama, lalu menikah dan melahirkannya—buah cinta mereka.
Melihat Axel melamun, Karina melambaikan tangan di depan wajahnya.
“Apa yang kau pikirkan?”
Axel tak bisa menahan diri lagi.
Ia mendorong Karina ke kasur empuk dan menciumnya. Menghisap napas dari bibirnya dengan penuh nafsu.
Karina membalasnya dengan pasrah.
Saat ia melepaskannya, suaranya lembut dan matanya penuh kasih.
“rina, aku paling menyukai rina.”