NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaring Laba-laba dan Kitab Raja Mati

Kota Bawah Tanah Ironhold memiliki sudut-sudut yang bahkan tikus pun enggan datangi. Di salah satu sudut itu, terdapat sebuah toko buku tua yang pintunya hampir lepas dari engselnya. Tidak ada papan nama, hanya lambang jaring laba-laba yang digoreskan kasar di kusen pintu.

​Ruangan di dalamnya berbau kertas tua, tinta busuk, dan rahasia yang terkubur. Dindingnya dipenuhi ribuan gulungan kecil yang tersusun rapi di rak-rak besi berkarat.

​Di tengah ruangan yang remang-remang, duduk seorang pria bungkuk. Tubuhnya kurus kering, wajahnya tertutup perban kotor yang hanya menyisakan celah untuk mulut dan satu mata yang berwarna kuning keruh. Dia dikenal sebagai Spider, sang Pialang Informasi Guild.

​Kriiiet.

​Pintu terbuka. Varian masuk. Langkahnya senyap, tapi Spider langsung berhenti menulis di atas perkamen kulit.

​"Void..." Suara Spider serak, seperti gesekan dua lembar kertas pasir. "Si Hantu Kecil yang sedang naik daun. Kudengar kau membuat kekacauan besar di Gedung Opera. Viper sangat marah padamu."

​Varian tidak menjawab basa-basi itu. Dia berjalan mendekati meja, meletakkan kantong kulit yang berat.

​Bruk.

​Bunyi benturan logam mulia terdengar menjanjikan.

​"Seratus koin emas," kata Varian datar. "Aku mau beli."

​Mata kuning Spider melebar sedikit. Dia menyeringai, menampakkan gigi-gigi runcing yang jarang. "Seratus emas. Jumlah yang besar untuk anak kecil. Informasi apa yang kau cari? Kelemahan Raja? Lokasi harta karun naga? Atau skandal perselingkuhan Ratu?"

​"Daftar nama," jawab Varian. Aura dingin mulai menguar dari tubuhnya, membuat lilin di meja Spider berkedip. "Daftar personel Gereja Cahaya yang memimpin 'Pembersihan Agung' di Distrik Bawah Kota Aethelgard, tiga tahun lalu."

​Spider terdiam. Senyumnya sedikit memudar. Dia mengetukkan pena bulunya ke meja. "Informasi lama. Tidak berharga bagi kebanyakan orang. Kenapa kau peduli pada pembakaran sampah-sampah kumuh itu? Kau punya sentimen?"

​"Urusan pribadi," potong Varian tajam. Mata ungunya menatap satu mata Spider dengan intensitas membunuh. "Kau jual atau tidak?"

​Spider tertawa pelan, suara tawa yang kering. "Tenang, Void. Di sini, emas adalah raja. Aku tidak peduli motifmu, meski itu bunuh diri."

​Spider bangkit, berjalan terseok-seok dengan kaki yang pincang ke bagian belakang rak yang paling gelap. Dia membongkar beberapa gulungan berdebu, batuk beberapa kali, lalu kembali membawa selembar perkamen tua yang pinggirannya hangus.

​"Operasi Pembersihan Distrik Bawah," baca Spider. "Dipimpin oleh Unit Inkuisisi ke-4. Tujuannya membasmi wabah dan bidah."

​Spider meletakkan kertas itu di depan Varian. Jari kurusnya yang panjang dan kotor menunjuk satu nama di urutan paling atas.

​"Pemimpin operasi: High Priest Lucius."

​Mata Varian menyipit membaca nama itu. Ingatannya berputar kembali ke malam itu. Wajah sombong pendeta yang memegang tongkat emas di kejauhan, sementara anak buahnya membakar rumah-rumah. Orang yang memberikan perintah eksekusi.

​"Dimana dia sekarang?" tanya Varian. Suaranya sangat dingin hingga uap napas terlihat keluar dari mulutnya.

​"Ah, itu bagian menariknya," kata Spider sambil menyeringai lagi. "Berkat kesuksesannya 'membersihkan' kota dari wabah—atau lebih tepatnya, membunuh orang miskin agar tidak menyebarkan penyakit—karirnya melejit. Dia dipromosikan."

​Spider mengambil peta besar kerajaan dan menunjuk ke Ibu Kota.

​"Dia sekarang adalah Uskup Lucius (Bishop Lucius). Salah satu dari dua belas petinggi Gereja di wilayah ini. Dia tinggal di Katedral Agung Ibu Kota, dilindungi oleh ratusan Paladin dan ribuan umat yang memujanya sebagai orang suci."

​Varian mengepalkan tangannya di bawah jubah. Kuku jarinya menancap ke telapak tangan hingga berdarah. Menahan gejolak Mana Void yang ingin meledak mendengar nama musuhnya sukses di atas mayat adiknya.

​"Dia tidak tersentuh," tambah Spider, menikmati ekspresi Varian. "Mencoba membunuhnya di Katedral sama saja dengan bunuh diri. Bahkan Black Lotus tidak akan mengambil kontrak itu tanpa bayaran setara satu kerajaan."

​Varian mengambil kertas itu, melipatnya dengan rapi, dan memasukkannya ke saku dalam armornya.

​"Setiap orang pasti keluar dari sarangnya sesekali," gumam Varian. "Apakah dia punya jadwal perjalanan?"

​Spider mengangguk, terkesan dengan ketenangan bocah itu. "Kau beruntung. Atau mungkin sial. Dua minggu lagi, Uskup Lucius akan melakukan kunjungan ke Kota Suci Oregard untuk memberkati artefak baru. Dia akan melewati Jalan Hutan Silverleaf."

​"Terima kasih," kata Varian berbalik pergi.

​"Satu saran, Nak," panggil Spider saat Varian mencapai pintu. "Lucius bukan pendeta biasa. Dia pengguna Sihir Cahaya Tingkat 6. Dan pengawal pribadinya... Kapten Agatha, dia adalah monster berwujud wanita. Jika kau mendekatinya dengan aura gelapmu itu, dia akan mencium baumu dari jarak satu mil."

​Varian berhenti sejenak, tapi tidak menoleh.

​"Biarkan dia menciumnya," jawab Varian. "Biar dia tahu ketakutan itu rasanya seperti apa."

​Dua Minggu Kemudian. Tebing di atas Jalan Hutan Silverleaf.

​Varian tiarap di antara semak-semak, ratusan meter di atas jalan utama yang membelah hutan. Dia mengenakan jubah kamuflase yang terbuat dari daun dan lumpur, menutupi armor hitam-ungunya.

​Hari ini adalah hari konvoi Uskup Lucius lewat.

​Varian tidak berniat menyerang hari ini. Dia tahu kekuatannya. Dia baru 13 tahun. Dia kuat, tapi melawan Uskup dengan pengawalan satu batalyon adalah hal bodoh. Dia di sini untuk menganalisis. Untuk mencari celah.

​"Aktif," bisik Varian.

​Dia menggeser perban di mata kanannya. Mata Iblis Malakar terbuka. Pupil vertikalnya berputar, memfokuskan pandangan layaknya teropong jarak jauh magis.

​Dunia di mata kanannya berubah menjadi spektrum warna mana.

​Dari kejauhan, rombongan itu terlihat. Megah dan menyilaukan.

​Dua puluh Ksatria Suci berkuda di depan dengan baju zirah perak yang berkilau.

Sebuah kereta kencana emas yang sangat mewah di tengah, ditarik oleh enam kuda putih.

Dua puluh Ksatria Suci di belakang.

​Dan di dalam kereta itu...

​Mata Varian menembus dinding kayu kereta berkat kemampuan Mana Perception.

​Dia melihat sosok pria paruh baya berjubah putih sutra. Wajahnya bersih, terawat, dan memancarkan aura wibawa palsu. Di lehernya tergantung kalung salib emas besar bertatahkan berlian.

​Itu dia. Lucius.

​Tubuh Lucius bersinar sangat terang di mata Varian. Itu adalah Mana Cahaya yang padat dan murni.

​Deg.

​Mata kanan Varian berdenyut sakit. Energi Void di tubuhnya bereaksi agresif, ingin melahap cahaya itu. Varian harus menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan diri agar tidak melepaskan Killing Intent (Niat Membunuh).

​Varian mengalihkan pandangannya ke para pengawal.

​Analisis Musuh:

Lucius: Sihir Cahaya Tipe Area. Punya pelindung sihir otomatis (Barrier) yang aktif 24 jam. Sangat sulit ditembus.

Ksatria Pengawal: Formasi rapat. Tidak ada celah untuk penyusupan fisik.

​Dan kemudian, mata Varian menangkap satu sosok lain. Berkuda tepat di samping jendela kereta.

​Seorang wanita berbaju zirah perak penuh, tidak memakai helm. Rambutnya pirang pendek, wajahnya tegas dan penuh luka parut pertempuran. Aura mananya... tajam seperti pedang yang baru diasah.

​"Paladin," batin Varian. "Kapten Agatha."

​Wanita itu tiba-tiba menoleh ke atas, langsung ke arah tebing tempat Varian bersembunyi.

​Sial! Instingnya tajam sekali!

​Varian segera menutup mata kanannya dan menahan napas, menggunakan teknik Silent Breath yang dia pelajari di Guild. Dia mematikan detak jantungnya hingga seminimal mungkin, nyaris seperti mayat.

​Di bawah sana, Kapten Agatha mengerutkan kening. Tangannya sudah setengah mencabut pedang.

​"Ada apa, Kapten Agatha?" tanya salah satu ksatria.

​Agatha terdiam sejenak, memindai tebing dengan mata birunya. "Hanya perasaan. Seperti ada tikus yang mengintip. Mungkin hewan liar."

​Dia melepaskan gagang pedangnya. "Tetap waspada. Hutan ini berbahaya."

​Di atas tebing, Varian menunggu lima menit penuh tanpa bergerak sedikitpun, keringat dingin membasahi punggungnya. Barulah setelah rombongan itu menjauh, dia berani bergerak.

​Varian duduk, menyandarkan punggungnya ke pohon pinus. Dia membuka buku catatan kecil dan mulai menulis dengan tangan yang sedikit gemetar karena adrenalin.

​Target: Uskup Lucius.

Kesimpulan: Serangan langsung mustahil.

Kelemahan Fisik: Tidak terlihat.

​Varian menutup bukunya dengan kasar.

​"Aku tidak bisa membunuhnya sendirian," akuinya pada kesunyian hutan. "Satu lawan satu, mungkin aku bisa menang. Tapi satu lawan lima puluh ksatria elit plus Paladin? Aku butuh pasukan."

​Tapi dari mana dia bisa mendapatkan pasukan? Black Lotus tidak akan memberinya pasukan untuk misi bunuh diri ini.

​Mata Varian tidak sengaja tertuju pada sekawanan semut yang sedang mengerubungi bangkai kumbang besar. Semut-semut itu kecil, tapi jumlah mereka ribuan. Dan yang paling penting... mereka tidak takut mati demi ratu mereka.

​Ide gila muncul di benak Varian.

​Berdasarkan petunjuk dari visi Mata Malakar yang tadi sempat melihat aliran energi bawah tanah, Varian merasakan adanya sumber kekuatan gelap yang terpendam jauh di dalam hutan ini. Sebuah Dungeon kuno yang sudah lama dilupakan.

​Varian berdiri.

​"Jika aku tidak bisa merekrut manusia," gumam Varian, senyum tipis yang mengerikan terukir di wajahnya. "Maka aku akan merekrut mereka yang sudah tidak butuh gaji."

​Varian melangkah menuju bagian hutan yang paling gelap, tempat di mana pohon-pohon mati berdiri seperti nisan. Dia mencari pintu masuk ke perpustakaan terlarang sekte penyembah iblis yang terkubur.

​Di sanalah dia menemukan takdirnya yang baru. Di atas altar tulang, sebuah buku hitam besar terikat rantai besi dingin menunggunya.

​Judulnya tertulis dalam bahasa Abyssal yang membakar mata:

"Codex of the Undying King" (Kitab Raja Abadi).

​Varian menyentuhnya. Kulit tangannya melepuh, tapi dia tidak melepaskannya. Dia membuka halaman pertama.

​Necromancy (Void Infused).

Abyssal Immortality.

​Malam itu, di dalam dungeon yang lembap, teriakan kesakitan Varian menggema saat dia melakukan ritual terlarang pada dirinya sendiri. Membedah tubuhnya, menanamkan sihir kematian ke dalam tulangnya, mengubah dirinya menjadi wadah yang tidak bisa mati, demi satu tujuan:

​Menciptakan pasukan mayat hidup yang akan meratakan konvoi suci itu menjadi tanah.

Perang baru saja di mulai

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!