menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
janji di taman yang hijau
Langit retak.
Awan hitam berputar seperti pusaran luka, disambar kilatan sihir yang gagal menembus satu sosok di tengah kehancuran.
Tanah dari seluruh penjuru kerajaan—atau apa pun yang tersisa darinya—telah berubah menjadi lautan puing. Menara sihir runtuh, segel pelindung pecah berkeping-keping, dan simbol-simbol kuno yang dulu dianggap abadi kini padam satu per satu.
Penyihir.
Mereka yang disebut terkuat di benua itu kini tergeletak di tanah, bersimbah darah dan debu. Beberapa masih berusaha bangkit, gemetar, memaksakan sihir terakhir mereka—namun hasilnya sama.
Hancur sebelum sempat terbentuk.
Di tengah semua itu, ia berdiri.
Jubah hitamnya tak tersentuh debu. Tak ada luka. Tak ada napas terengah. Seolah kehancuran di sekitarnya bukan akibat, melainkan latar belakang.
Wajah kosong itu mulai menunjukkan sebuah mulut.
“Ah…”
Suaranya pelan, hampir seperti bisikan, namun entah mengapa terdengar jelas di antara jeritan dan runtuhan.
“Beginikah akhir dari harapan kalian?”
Salah satu High Magnus mencoba merapal mantra terakhir. Lingkaran sihir bergetar di udara—lalu retak, sebelum menghilang seperti kaca diinjak kaki.
Sosok itu menoleh sedikit.
Wajah kosong itu dingin. kejahatan yang sangat sangat kuat dengan aura yang menakutkan.
“Sudah sejauh ini,” katanya lirih,
“namun tetap saja… lemah.”
Ia melangkah maju satu kali.
Hanya satu.
Dan di depan nya terlihat empat orang yang sedang berdiri menatap para penyihir yang tak punya harapan.
Namun dunia terasa runtuh bersamanya.
Cahaya memudar.
Suara menghilang.
Dan di ambang kegelapan, sebuah kalimat terlintas—entah milik siapa.
Janji itu…
tak pernah ditakdirkan untuk ditepati.
Lalu—
gelap.
Di sebuah alun-alun Kota Vantier tak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan di pagi hari, ketika matahari baru mulai naik dan udara masih terasa dingin, suara kehidupan sudah memenuhi setiap sudutnya.
Di bawah langit biru yang terbentang luas, berbagai ras hidup berdampingan—elf dengan telinga runcing yang berkilau diterpa cahaya, ras naga dengan sisik keras yang memantulkan sinar matahari, orc bertubuh besar dengan langkah berat, manusia bertelinga kucing yang berlarian lincah, serta banyak ras lain yang sulit dihitung jumlahnya.
Bau rempah dari kios-kios kecil bercampur dengan aroma daging panggang dan roti hangat, sementara suara tawa, langkah kaki, dan percakapan dari berbagai bahasa menyatu menjadi denyut kehidupan kerajaan terbesar di benua ini.
Namun, di balik hiruk-pikuk itu, taman kerajaan menyimpan ketenangan yang berbeda.
Di sebuah kerajaan vantier.
Pepohonan tinggi menjulang, membentuk dinding hijau yang memisahkan taman dari dunia luar. Angin berhembus lembut, menggerakkan dedaunan dan membuat cahaya matahari menari di atas rumput. Di tempat itulah suasana terasa lebih pelan, lebih damai—seolah waktu sendiri enggan berlari terlalu cepat.
Di sanalah dua anak berambut putih dengan mata merah darah berlari di antara pepohonan. Rambut mereka berkilau diterpa cahaya matahari, hampir tampak seperti cahaya itu sendiri. Aura dingin samar mengiringi langkah mereka, menandakan bahwa mereka bukan anak biasa.
Seorang anak laki-laki tertawa lepas sambil berlari zig-zag, meninggalkan jejak kristal es tipis di tanah. Setiap kali kakinya menyentuh rumput, es itu muncul lalu pecah, berkilau sebelum menghilang. Sesekali, bayangan tubuhnya terbelah—kloning elemen muncul sebentar lalu lenyap, membuatnya terlihat seperti berlari lebih dari satu arah sekaligus.
“Ahahahaha! Kakak tunggu aku! Aku belum siap!”
suara polos itu menggema di taman kerajaan.
Anak perempuan di belakangnya tersenyum lebar. Tatapannya lembut dan penuh kasih, namun ada fokus tajam di mata merahnya.
“Ayo, siap atau tidak,” katanya sambil mengangkat tangan.
“Kakak pasti akan menangkapmu, Lucyfer.”
Dengan satu sentakan kaki, hawa dingin menyelimuti udara. Tanah di depan Lucyfer membeku, lapisan es tipis terbentuk dan membuatnya terpeleset ringan hingga berhenti.
“Ngh… lelah, Kak Elice…”
Lucyfer membungkuk lalu menjatuhkan diri di atas hamparan rumput hijau. Dadanya naik turun, napasnya terengah-engah.
Dari balik pohon besar, sang kakak muncul.
Rambut putihnya terikat rapi, pakaiannya putih dengan hiasan kekuningan yang menandakan darah bangsawan. Mata merahnya lembut—dialah Iglesias Elice, kakak perempuan Lucyfer.
“Baaa!” katanya tiba-tiba dari balik pohon.
Lucyfer tersentak kaget sebelum tertawa kecil.
"Haaa... Kakak kau kah."kata Lucyfer tersentak kaget
"jangan mengejutkan ku seperti itu hmph."
Lucyfer memalingkan wajah nya Dnegan mengembungkan pipinya.
Elice hanya tertawa dengan perilaku adik nya yang menggemaskan.
"Ahahaha, Lucyfer maafkan kakak ya."
Di tangan Elice terdapat sebuah kotak kecil dan dua gelas bening.
“Lucyfer…” katanya pelan sambil tersenyum.
“Kakak bawa makanan manis dan jus jeruk. Kamu suka, kan? Apalagi kue cokelat ini.”
Mata Lucyfer langsung berbinar dan ia mengangguk cepat.
“Waaaah! Kakak! Aku mau! Aku mau!”
Ia berlari kecil lalu memeluk Elice tanpa ragu.
“Hati-hati,” Elice terkekeh.
“Sini, duduk di pangkuan kakak.”
Lucyfer pun duduk manis. Kakinya bergoyang kecil saat Elice menyuapinya perlahan, memastikan tak ada remah yang jatuh.
Sementara Lucyfer sibuk mengunyah kue cokelat, Elice mendongak ke langit. Awan putih bergerak pelan, seolah waktu melambat di taman itu.
“Hei, Lucyfer,” ucapnya tiba-tiba.
“Jujur saja… kakak ingin bicara padamu.”
“Hm?” Lucyfer mengunyah sambil bicara. “Apa itu?” katanya, lalu mengambil kue lagi.
“Kakak ingin jadi High Magnus,” kata Elice pelan namun penuh tekad.
“Dan menjadi seorang penyihir yang hebat.”
Lucyfer berhenti mengunyah, matanya melebar.
“Nanti kakak ingin jadi High Magnus Es yang hebat,” lanjut Elice dengan mata berbinar.
“High Magnus yang bisa melindungi banyak orang… termasuk kamu, Lucyfer.”
Lucyfer langsung menggeleng cepat, pipinya menggembung.
“Tak boleh! Tak boleh!”
“Nanti siapa yang menemani aku?!”
Elice tertawa kecil lalu mencubit pipi adiknya yang lembut.
“Hei, kakak cuma mau melindungi orang-orang,” katanya lembut.
“Sekalian melindungi kamu juga, dasar manja.”
Lucyfer menunduk.
“Kakak… untuk apa jadi High Magnus? Di sini kita bisa makan apa saja… kita kan pangeran dan putri Kerajaan Vantier…”
Suaranya melemah.
“Walaupun… ayah dan ibu sudah tidak ada.”
Elice terdiam. Kenangan tentang orang tua mereka melintas di pikirannya.
Ia mengelus kepala Lucyfer lalu memeluknya erat.
“Tenang saja,” katanya lembut.
“Nanti kamu juga akan jadi High Magnus bersama kakak.”
“Kamu masih enam tahun,” lanjutnya sambil tersenyum kecil.
“Sedangkan kakak sepuluh tahun. Kakak jadi High Magnus dulu… lalu kamu jadi yang terkuat setelah kakak.”
Ia mengulurkan jari kelingking.
“Kita berjanji, ya?”
Lucyfer tersenyum polos dan mengaitkan jari kelingkingnya.
Angin berhembus pelan, dedaunan bergoyang seolah menjadi saksi atas janji itu.
Namun…
Di kejauhan, di balik bayangan bangunan taman, seseorang berdiri dengan tudung hitam. Tatapan matanya dipenuhi kekecewaan… dan setetes air mata jatuh tanpa suara.
“Aku… ingin berada di posisi itu…” bisiknya.
“Sumpahku sama… tapi aku tak akan pernah bisa…”
Suara itu terdengar berat dan aneh, seperti bukan berasal dari manusia.
Janji itu terdengar indah.
Namun di masa depan,
apakah janji itu akan ditepati—
atau justru dikhianati dengan cara yang jauh lebih kejam?
sekali lagi saya minta maaf