Rania Kirana seorang penjual cilok berprinsip dari kontrakan sederhana, terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Abimana Sanjaya seorang CEO S.T.G. Group yang dingin dan sangat logis.
Syarat Rania hanya satu jaminan perawatan ibunya yang sakit.
Abimana, yang ingin menghindari pernikahan yang diatur keluarganya dan ancaman bisnis, menjadikan Rania 'istri kontrak' dengan batasan ketat, terutama Pasal 7 yaitu tidak ada hubungan fisik atau emosional.
Bagaimana kelanjutannya yukkk Kepoin!!!!
FOLLOW ME :
IG : Lala_Syalala13
FB : Lala Syalala13
FN : Lala_Syalala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKCD BAB 34_Malam yang Melelahkan namun Membanggakan
Ia juga harus menghadapi tugas-tugas awal yang menuntut referensi jurnal internasional, Bahasa Inggris akademisnya masih terasa kaku.
Alih-alih menggunakan jasa penerjemah profesional yang bisa dengan mudah ia sewa dengan uang Abimana, Rania duduk di pojok perpustakaan dengan kamus tebal di sampingnya.
Ia menerjemahkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga larut malam.
Rania kembali ke penthouse saat jam menunjukkan pukul delapan malam.
Tubuhnya terasa pegal dan matanya perih karena terlalu lama menatap buku di bawah cahaya lampu perpustakaan yang remang.
Namun ada kepuasan yang terpancar dari wajahnya setelah mulai belajar kembali.
Di ruang tengah Abimana tampak gelisah, ia tidak bisa berkonsentrasi pada laporan bisnisnya.
Begitu melihat Rania masuk ia segera menghampirinya dengan khawatir karena sang istri baru pulang di malam hari.
"Kamu baru pulang? Kenapa tidak menelepon? Aku sangat khawatir," ujar Abimana, tangannya refleks mengambil ransel berat di bahu Rania.
Rania terduduk di sofa, menyandarkan kepalanya yang terasa berdenyut.
"Aku tadi di perpustakaan Abi mencari referensi, ternyata kuliah itu jauh lebih berat dari yang kubayangkan, tapi juga jauh lebih menyenangkan." seru Rania.
Abimana melihat telapak tangan Rania yang sedikit kemerahan karena membawa tas berat dan menulis terlalu banyak.
Ia merasa iba namun ia teringat janji mereka pagi tadi, ia tidak ingin merusak kebanggaan Rania dengan menawarkan solusi instan.
"Mau aku buatkan teh?" tanya Abimana lembut.
Rania menatap suaminya dengan terkejut.
"Kamu mau membuatkan teh untukku?"
Abimana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan.
"Aku belajar dari kamu Rania, bahwa pelayanan terbaik bukan diberikan oleh pelayan, tapi oleh orang yang peduli. Tunggu di sini." ujar Abimana kemudian pergi ke arah dapur untuk membuatkan teh untuk sang istri.
Beberapa menit kemudian, Abimana kembali dengan secangkir teh camomile hangat dan sepiring kecil camilan.
Ia duduk di samping Rania, membiarkan istrinya menyandarkan kepala di bahunya.
"Bagaimana hari pertamamu? Ada yang menyakitimu? Atau ada yang mengenalimu?" tanya Abimana penasaran.
"Tidak ada yang mengenaliku sebagai Nyonya Sanjaya Abi dan itu sangat melegakan, aku merasa seperti manusia lagi. Aku bertemu Sari yaitu teman baru ku, Aku belajar tentang teori Marx dan Weber, meskipun kepalaku rasanya mau pecah karena jurnal bahasa Inggris, aku merasa... berdaya," cerita Rania dengan mata yang berbinar, meskipun ia tampak kelelahan.
Abimana mendengarkan dengan seksama, ia merasa cemburu pada "kemandirian" itu, namun ia juga merasa sangat bangga.
Ia menyadari bahwa Rania sedang membangun dunianya sendiri, sebuah dunia di mana ia bukan sekadar bayang-bayang seorang Abimana Sanjaya.
Minggu-minggu pertama kuliah diisi dengan jadwal yang padat.
Rania harus pintar membagi waktu antara perannya sebagai istri yang terkadang harus mendampingi Abimana di acara formal (meskipun ia membatasi itu), dan perannya sebagai mahasiswi yang harus mengejar ketertinggalan.
Suatu malam Abimana menemukan Rania tertidur di meja belajar dengan dahi menempel pada buku sosiologi.
Lampu meja masih menyala dan di layar laptop tuanya terdapat draf esai yang baru setengah jadi.
Abimana melihat draf tersebut, ia melihat coretan-coretan tangan Rania di pinggir kertas, mencoba memahami istilah-istilah sulit.
Abimana hampir saja menyalakan laptopnya sendiri untuk membantu memperbaiki esai itu atau mengganti laptop Rania dengan seri terbaru yang sudah ia simpan di dalam lemari kerjanya.
Namun ia berhenti, ia melihat sebuah catatan kecil yang ditempel Rania di sudut meja yaitu
"Jangan menyerah, Rania. Kamu melakukannya untuk Ibu, untuk anak-anak di Karet Kuningan, dan untuk harga dirimu sendiri."
Abimana menarik napas dalam, ia mematikan lampu meja dengan pelan, lalu menggendong Rania menuju tempat tidur kemudian ia menyelimuti istrinya dengan lembut.
"Kamu adalah wanita terkuat yang pernah aku kenal Rania." bisik Abimana di telinga Rania yang masih terlelap.
"Aku akan berdiri di sini menjagamu dari jauh, sampai kamu siap untuk terbang dengan sayapmu sendiri." lanjutnya.
Kemandirian Rania justru membawa dimensi baru dalam hubungan mereka.
Kini, pembicaraan mereka di meja makan tidak lagi hanya seputar Proyek Bali atau gosip sosialita.
Rania sering membawa topik tentang fenomena sosial yang ia pelajari dan Abimana memberikan perspektif dari sisi ekonomi dan kebijakan.
"Abi, menurutmu apakah kemiskinan struktural itu benar-benar bisa dipecahkan hanya dengan bantuan modal?" tanya Rania suatu pagi.
Abimana meletakkan korannya, tampak tertarik.
"Modal saja tidak cukup Rania tapi perlu ada edukasi dan perubahan pola pikir, tapi tanpa modal, pola pikir itu tidak punya ruang untuk berkembang, kenapa?" tanya Abimana.
"Aku sedang menulis makalah tentang itu, aku ingin menghubungkannya dengan rencana yayasan ku nanti. Aku tidak mau yayasan itu hanya memberi uang, tapi memberi 'pancing'," jelas Rania bersemangat.
Melihat Rania yang begitu berdedikasi pada mimpinya, Abimana merasa terinspirasi.
Ia yang dulu melihat segala sesuatu sebagai transaksi, kini mulai melihat nilai-nilai kemanusiaan yang lebih dalam melalui mata Rania yang sedang belajar.
Perjalanan baru ini memang lambat namun pasti dan Rania dengan usahanya sendiri berhasil meruntuhkan stigma bahwa ia hanyalah wanita yang "beruntung" karena menikah dengan orang kaya.
Ia sedang membuktikan bahwa ia adalah berlian yang hanya membutuhkan sedikit ruang untuk bersinar dengan cahayanya sendiri.
Dan di sisinya Abimana telah belajar menjadi pelabuhan yang tenang, yang menghargai kekuatan ombak pasang tanpa harus mencoba menjinakkannya.
Malam itu Jakarta tampak tenang dari ketinggian lantai lima puluh.
Di dalam penthouse ada sebuah harmoni yang nyata, bukan karena kesamaan status tapi karena dua orang yang berbeda telah belajar untuk saling menghormati jalan hidup masing-masing.
Rania dengan buku-bukunya dan Abimana dengan rasa bangganya yang tak terukur.
Angin malam di bulan Desember berembus cukup kencang, mengetuk-ngetuk jendela kaca penthouse lantai lima puluh dengan suara yang monoton.
Namun, di dalam ruangan yang biasanya tenang itu, suasana terasa jauh lebih intens.
Di atas meja makan marmer yang luas, piring-piring porselen telah digantikan oleh tumpukan fotokopi jurnal, buku teks tebal dengan banyak tempelan sticky notes dan coretan-coretan skema sosiologi yang rumit.
Rania duduk dengan bahu yang tegang, kedua tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut.
Ini adalah minggu ujian akhir semester pertamanya, bagi mahasiswa lain ini mungkin sekadar rutinitas akademis, tetapi bagi Rania ini adalah pembuktian harga diri.
Ia ingin membuktikan bahwa otaknya mampu bersaing di universitas ternama tanpa harus "membeli" nilai dengan nama besar suaminya.
"Rania kenapa masih terjaga, ini sudah jam dua pagi, kamu perlu tidur agar tidak sakit." suara Abimana memecah keheningan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
lanjut Thor semangat 💪 salam