NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat Gadis Desa

Di dalam kamar yang sunyi, Shasha masih terus berdiam diri. Ia duduk di tengah ranjang dengan kaki ditekuk, memeluk lututnya sendiri seolah sedang membangun benteng perlindungan. Makanan yang diantar Kevin pagi tadi baru ia sentuh lima belas menit yang lalu. Meski sudah dingin dan hambar, rasa lapar yang melilit perut akhirnya mengalahkan keras kepalanya.

Tok tok tok

Suara ketukan di pintu memecah lamunannya. Shasha menoleh dengan waspada, “Siapa?”

“Nona, silakan turun,” sahut sebuah suara berat dari luar.

“Kenapa?”

“Perintah Tuan Jake,” balas suara itu dingin, disusul suara langkah kaki yang mulai menjauh.

Shasha menghela napas panjang. Dengan perasaan ogah-ogahan, ia mulai menggeser tubuhnya ke tepi ranjang. Sebelum benar-benar menapakkan kaki ke lantai, ia memeriksa keadaan telapak kakinya yang terluka. Ia mengamati balutan kasa yang masih rapi, lalu mencoba menekan-nekannya perlahan. Rasanya sudah jauh membaik. Hanya tersisa sedikit perih yang hampir hilang saat ia mencoba berdiri dan berjalan beberapa langkah. Tampaknya pengobatan Jake, meski menurutnya dilakukan dengan tidak ikhlas, tapi rupanya memang cukup manjur.

Ia kemudian keluar kamar dengan langkah pelan. Namun sesampainya di pertengahan tangga, langkahnya semakin melambat. Ia mengamati beberapa pengawal berpakaian hitam masuk silih berganti membawa bahan-bahan makanan segar menuju area dapur.

Dengan hati yang dipenuhi tanda tanya, Shasha ikut menyusul mereka menuju dapur. Di sana, ia tertegun melihat lemari pendingin besar yang kini sudah dipenuhi bahan makanan yang luar biasa lengkap. Sangat kontras dengan isi lemari pendingin di kosannya yang sering kali hanya berisi air mineral.

“Siapkan makan malam untuk Tuan Jake. Saat Tuan pulang, semuanya harus sudah siap,” ucap salah seorang pengawal tanpa basa-basi.

Harga diri Shasha terusik. Ia berdiri tegak dan menatap pengawal itu, “Aku bukan pembantunya,” tegasnya.

Pengawal itu tidak membantah dengan kata-kata. Sebagai jawaban, ia melangkah mendekat sambil mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Sebuah pistol hitam yang tampak dingin dan mematikan.

Refleks, Shasha mundur hingga punggungnya menabrak pinggiran meja dapur. Pengawal itu semakin mendekat, sengaja memukul-mukul moncong pistol itu ke telapak tangannya sendiri, memberikan tekanan mental yang nyata pada Shasha.

“Metode membunuhku jauh lebih ringan daripada cara Tuan Jake,” ancam pengawal itu dengan suara rendah, “Pilihlah, ingin mati di tanganku sekarang, atau di tangan Tuan Jake nanti?”

Nyali Shasha menciut seketika. Ancaman pria ini tidak terdengar seperti gertakan biasa, “B-baiklah. Aku akan melakukannya,” jawab Shasha cepat dengan suara bergetar.

Ia segera berbalik menuju lemari pendingin, berpura-pura sibuk mengamati bahan-bahan mewah di dalamnya agar bisa menghindar dari tatapan tajam pengawal itu.

Sementara itu, sang pengawal memberikan kode lewat gerakan tangan agar rekan-rekannya segera keluar, meninggalkan Shasha sendirian untuk memulai tugas paksaan itu.

“Apa yang harus kubuatkan untuk pria jahat itu?” gumam Shasha pada dirinya sendiri sembari menatap deretan bahan makanan di depannya.

Jemarinya menyentuh potongan daging sapi segar premium yang ditata begitu rapi, terbungkus plastic wrap dengan logo supermarket kelas atas, “Bahan makanan ini bahkan lebih mahal daripada sewa kosanku,” ucapnya getir, menyadari betapa jauh perbedaan kasta di antara mereka.

Matanya kemudian tertuju pada sekotak anggur shine muscat yang hijau berkilau. Karena penasaran, ia mengambil satu butir dan memasukkannya ke mulut, “Ternyata seperti ini rasanya,” bisiknya sambil mengangguk-angguk kecil, menikmati sensasi rasa manis madu yang menguar di lidahnya. Sesaat ia terbuai, namun segera tersadar kembali pada tujuannya.

“Lidah pria itu pasti hanya tahu makanan mahal,” cibirnya.

Tiba-tiba, pandangan Shasha terhenti pada beberapa santan instan yang masih tergeletak di dalam kantung kresek, lalu beralih menatap beberapa kotak tahu putih di dalam lemari pendingin. Sebuah ide nakal muncul di kepalanya, memicu senyuman miring yang penuh kemenangan.

“Kita lihat bagaimana sikap orang kaya itu ketika disuguhkan makanan desa,” tantang Shasha.

Alih-alih membuat steak atau makanan mewah lainnya, Shasha justru memilih membuat gulai tahu telur. Ia juga menyiapkan potongan wortel dan buncis untuk melengkapi hidangannya. Sebuah perpaduan yang unik. Menu sederhana khas rumahan, namun dieksekusi dengan bahan-bahan berkualitas premium.

Shasha mulai menyingsingkan lengan bajunya, merasa sangat puas dengan rencananya untuk sedikit merendahkan selera lidah Jake Giordino yang sombong itu.

......................

Di pusat kota, di balik dinding kokoh gedung pencakar langit, Jake Giordino tengah duduk di singgasana kerjanya. Jemarinya yang kokoh menari di atas berkas-berkas terakhir hari itu, menyelesaikan administrasi kerajaan bisnisnya sebelum memutuskan untuk pulang. Namun keheningan ruang kerja itu terusik oleh ketukan pintu yang teratur.

“Masuk,” perintah Jake tanpa mengalihkan pandangan dari barisan angka di hadapannya.

Kevin melangkah masuk dengan langkah tanpa suara, “Tuan Wira datang berkunjung,” lapornya singkat.

Jake akhirnya mendongak. Matanya yang tajam menatap Kevin sejenak sebelum ia menutup berkasnya dengan gerakan yang mantap, “Bawa hadiahku untuknya.”

“Baik, Tuan.” Kevin mengundurkan diri untuk menyambut tamu itu.

Sementara Jake segera bangkit dari kursinya. Berdiri tegak sembari melonggarkan simpul dasinya yang terasa mencekik setelah seharian bekerja. Aura intimidasi seolah menguar dari setiap gerakannya.

“Selamat sore, Tuan Jake,” sapa seorang pria yang mengenakan jaket hitam tebal. Tangannya menenteng sekotak minuman berenergi sebagai buah tangan.

“Apa yang kau bawa?” tanya Jake, tangannya menunjuk ke arah sofa, memberi isyarat agar tamu itu duduk tanpa perlu banyak basa-basi.

“Ah, ini untuk Anda. Rasanya tidak sopan jika saya datang dengan tangan kosong,” ujar Wira sembari meletakkan bawaannya di atas meja dan mendudukkan diri dengan sikap yang sedikit kaku.

Jake duduk di hadapannya, menyilangkan kaki dengan santai, “Datang untuk melapor? Bukankah kau bisa menyampaikannya lewat tangan kananku?”

“Sepertinya itu kurang pantas untuk urusan sepenting ini, Tuan,” sahut Wira. Ia perlahan membuka ritsleting jaket tebalnya, hingga menyingkap seragam polisi lengkap yang tersembunyi di balik lapisan hitam itu.

Jake mengamati lencana di dada pria itu dengan tatapan datar, “Sebagai Kepala Polisi, kau seharusnya lebih lihai menjaga penampilan agar tidak mengundang kecurigaan.”

Wira terkekeh rendah, mencoba mencairkan suasana, “Tenang saja, Tuan. Lagipula, siapa di kota ini yang mempunyai nyali untuk melawan Anda?”

Jake menyunggingkan senyum tipis, sebuah pengakuan dingin atas fakta itu, “Jadi, apa yang kau bawa kali ini?”

“Bima Elbar masih gigih mencari keberadaan Nona Shasha Oberon. Dia terus-menerus mendesak kami, memojokkan institusi untuk segera menemukannya.”

“Lalu?” tanya Jake dengan nada yang begitu tenang, seolah pencarian besar-besaran itu hanyalah gangguan kecil baginya. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak rokok. Dengan gerakan acuh tak acuh, ia mengambil sebatang dan melemparkan kotak itu ke atas meja di depan Wira. Sebuah gestur kekuasaan yang halus namun dominan.

Suara klik dari pemantik api miliknya memecah keheningan sesaat sebelum api kecil menyambar ujung rokoknya.

“Tapi Tuan tidak perlu khawatir,” lanjut Wira cepat, mencoba mengimbangi aura Jake, “Kami tidak benar-benar mencarinya. Saya pastikan Bima Elbar akan menyerah dengan sendirinya.”

Jake menghembuskan asap putih dari mulutnya, membiarkan kabut tipis itu menghalangi pandangan mereka sejenak. Mata elangnya menyipit di balik kepulan asap, “Apa kau begitu yakin?”

“Sangat yakin,” jawab Wira dengan binar mata penuh percaya diri, “Kami memberikan laporan palsu atas penyelidikan di seluruh penjuru kota dan Bima Elbar memercayainya mentah-mentah. Setiap kantor polisi, dari pusat hingga daerah pinggiran, sudah berada di bawah kendali saya.”

“Bagus,” gumam Jake, lalu kembali mengisap rokoknya dalam-dalam.

Wira tersenyum lebar, senyuman yang penuh dengan keserakahan yang sulit disembunyikan, “Lalu bagaimana dengan...?”

“Jabatanmu tentu akan diperpanjang,” potong Jake langsung, tahu persis apa yang diinginkan pionnya itu.

“Terima kasih, Tuan!” Wira tampak sangat puas dengan wajah yang berseri-seri.

Pintu kembali terbuka, menampakkan Kevin yang membawa sebuah koper berwarna coklat tua. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di depan Wira. Hanya dengan satu gerakan dagu dari Jake, Kevin langsung membuka kunci koper itu.

Mata Wira membelalak lebar, wajahnya seolah tersiram cahaya dari tumpukan uang tunai yang tertata sangat rapi di dalamnya, “Tuan, ini...?”

“Hadiah kecil atas kesetiaanmu.”

“Tuan, Anda memang luar biasa! Saya berjanji akan terus patuh pada perintah Anda,” ucap Wira dengan semangat, jemarinya hampir tidak sabar ingin menyentuh lembaran uang itu.

Kevin yang berdiri di samping mereka hanya bisa menggelengkan kepala dalam diam. Ia sudah terlalu sering melihat bagaimana materi bisa membutakan nurani seseorang dalam sekejap.

Jake menekan ujung rokoknya ke asbak kristal, mematikan nyalanya dengan perlahan, “Tapi, ada satu tugas lagi yang menantimu.”

Wira segera menegakkan punggung, menatap Jake dengan penuh perhatian, “Apa itu, Tuan?”

“Ratusan senjata untuk anak buahku akan tiba dua hari lagi melalui dermaga pantai barat. Isolasi area itu sepenuhnya. Pastikan tidak ada satu pun warga sipil atau publik yang mencium bau ini.”

“Baik, Tuan. Anggap saja sudah beres.”

“Pergilah,” perintah Jake mutlak.

Wira mengangguk penuh hormat, menutup koper berharganya dengan hati-hati, lalu berdiri. Dengan senyuman kemenangan yang masih melekat di wajahnya, ia langsung melangkah keluar ruangan.

“Apa ada kabar dari mansion?” tanya Jake, memecah keheningan ruangan setelah kepergian Wira.

Kevin langsung menegakkan tubuhnya, memberikan perhatian penuh pada sang tuan, “Semuanya sudah disiapkan, dan gadis itu sudah menyanggupi perintah Anda.”

“Oh, benarkah?” Jake menyunggingkan senyum tipis, “Tidak seperti biasanya gadis itu setuju dengan mudah tanpa melakukan perlawanan.”

“Saya yang menyuruh pengawal untuk mengancamnya dengan pistol,” lapor Kevin dengan suara datar, mencoba tetap profesional.

Mendengar hal itu, Jake langsung mengangkat kepalanya. Ia menatap Kevin dengan tatapan tajam dan dingin, seolah sorot matanya sanggup menguliti pria di hadapannya itu hidup-hidup. Suasana ruangan mendadak terasa mencekik.

“Tidak ada cara lain, Tuan. Gadis itu hanya takut jika nyawanya terancam,” bela Kevin, mencoba menjelaskan logikanya.

Jake memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang seolah sedang meredam emosi yang bergejolak di balik dadanya. Ia kemudian berdiri dengan gerakan tegap, “Aku akan menyelesaikan pekerjaanku. Setelah itu, kita kembali ke mansion. Dan juga, buang kotak minuman ini,” ucapnya tegas sambil menunjuk barang bawaan Wira, lalu melangkah menuju kursi kebesarannya.

Kevin mengangguk patuh, “Tapi Tuan, kalau boleh saya tahu... kenapa Anda menyuruhnya untuk memasak?” tanya Kevin penuh rasa penasaran yang tidak terbendung.

Jake melirik pria itu tajam, memberikan peringatan lewat sorot matanya yang mengintimidasi, “Apa menurutmu aku perlu menjawab pertanyaanmu itu?”

“Eh, tidak Tuan. Kalau begitu, saya permisi,” sahut Kevin cepat. Dengan langkah seribu, ia segera keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan rapat.

“Setelah ini, sepertinya aku harus melakban mulutnya,” gumam Jake kesal. Ia kemudian menghempaskan tubuhnya ke kursi dan kembali membuka berkas di atas mejanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!