NovelToon NovelToon
Jadi Simpanan Ceo

Jadi Simpanan Ceo

Status: tamat
Genre:Obsesi / CEO / Selingkuh / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

Nadia mengira melarikan diri adalah jalan keluar setelah ia terbangun di hotel mewah, hamil, dan membawa benih dari Bramantyo Dirgantara—seorang CEO berkuasa yang sudah beristri. Ia menolak uang bayaran pria itu, tetapi ia tidak bisa menolak takdir yang tumbuh di rahimnya.
Saat kabar kehamilan itu bocor, Bramantyo tidak ragu. Ia menculik Nadia, mengurungnya di sebuah rumah terpencil di tengah hutan, mengubahnya menjadi simpanan yang terpenjara demi mengamankan ahli warisnya.
Ketika Bramantyo dihadapkan pada ancaman perceraian dan kehancuran reputasi, ia mengajukan keputusan dingin: ia akan menceraikan istrinya dan menikahi Nadia. Pernikahan ini bukanlah cinta, melainkan kontrak kejam yang mengangkat Nadia .

‼️warning‼️
jangan mengcopy saya cape mikir soalnya heheh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Berita tentang kehancuran Dirgantara Group di televisi ternyata menjadi pemantik api yang selama ini padam di dalam jiwa Bramantyo. Di dalam istana yang kini terasa seperti penjara, sesuatu yang luar biasa terjadi—sebuah keajaiban yang dipicu oleh amarah dan pengkhianatan.

Malam itu, Bramantyo secara tidak sengaja mendengar percakapan telepon Larasati di ruang tengah. Larasati sedang tertawa bersama pengacaranya, membahas rencana untuk memasukkan Bramantyo ke panti jompo setelah semua aset berpindah tangan.

"Dia sudah tidak berguna," ucap Larasati dingin. "Lumpuh, amnesia, dan sebentar lagi dia akan benar-benar gila karena dosis obat yang kuberikan."

Mendengar itu, adrenalin Bramantyo melonjak hebat. Rasa muak, benci, dan kerinduan pada Arka bersatu menjadi kekuatan fisik yang mustahil. Saat Larasati masuk ke kamar untuk memberikan "minuman malamnya", Bramantyo mencoba menggerakkan jemari kakinya.

Awalnya hanya getaran kecil, lalu rasa sakit yang luar biasa menjalar seperti sengatan listrik dari tulang belakang ke ujung kakinya. Dengan erangan yang tertahan, Bramantyo mencengkeram pinggiran ranjang dan... ia berdiri.

Larasati membeku di pintu. Gelas berisi obat bius yang dipegangnya jatuh dan hancur berkeping-keping.

"Bram... kau... kau bisa berdiri?" suara Larasati bergetar hebat.

Bramantyo melangkah maju. Langkahnya goyah, namun setiap pijakannya terasa seperti gempa bumi bagi Larasati. Ia memojokkan wanita itu ke dinding dengan satu tangan mencengkeram lehernya—bukan untuk membunuh, tapi untuk menunjukkan siapa penguasa sebenarnya.

"Kau pikir naga ini bisa kau jinakkan dengan racun murahan, Laras?" bisik Bramantyo dengan suara bariton yang begitu gelap hingga membuat Larasati nyaris pingsan karena ketakutan. "Aku ingat semuanya sekarang. Aku ingat bagaimana kau meracuni anakku. Aku ingat bagaimana kau mengusir Nadia."

Malam itu juga, Bramantyo memanggil tim keamanan pribadinya yang paling elit—yang selama ini disembunyikan Larasati darinya. Dengan kaki yang masih terasa kaku namun kokoh, ia berdiri di ruang tengah sementara Larasati diseret keluar oleh petugas keamanan.

"Buang dia ke tempat yang paling jauh. Pastikan dia tidak punya sepeser pun uang atas nama Dirgantara," perintah Bramantyo dingin.

Ia kemudian berbalik ke arah asistennya. "Cari Nadia. Aku tidak peduli jika aku harus membeli seluruh kota ini untuk menemukannya. Aku akan menjemput istri dan anakku."

Beberapa hari kemudian, sebuah iring-iringan mobil hitam mewah berhenti di depan vila kecil tempat Nadia tinggal. Nadia, yang baru saja selesai melukis di teras, menegang melihat mobil-mobil itu. Ia mengira itu adalah orang-orang Adrian.

Namun, saat pintu mobil terbuka, bukan pengawal yang keluar terlebih dahulu.

Seorang pria dengan setelan jas hitam sempurna keluar dari mobil. Ia tidak menggunakan kursi roda. Ia berjalan dengan tegak, meskipun sedikit lambat, dengan tongkat kayu berujung perak di tangannya.

Nadia menjatuhkan palet warnanya. "Bramantyo?"

Bramantyo berhenti tepat di depan teras. Ia melihat Nadia yang tampak lebih cantik dan "hidup", lalu matanya beralih ke arah Julian yang berdiri protektif di belakang Nadia.

Bramantyo tidak marah. Ia justru melepaskan tongkatnya, membiarkannya jatuh ke tanah, lalu ia berlutut di atas kedua kakinya yang baru saja pulih—tepat di depan Nadia.

"Aku tidak datang untuk membawamu pulang sebagai tawanan, Nadia," ucap Bramantyo, suaranya parau. "Aku datang untuk memohon ampunan. Aku sudah membuang racun itu dari hidupku. Aku sudah menghancurkan Larasati."

Nadia menatapnya dengan mata berkaca-kaca, namun ada keraguan besar. "Kau sudah terlambat, Bram. Kau hampir membunuh Arka dengan kebodohanmu."

"Aku tahu," jawab Bramantyo. "Karena itu, aku tidak memintamu kembali ke rumah itu. Rumah itu sudah kujual. Aku membangun tempat baru untuk kita... jika kau masih memberiku satu kesempatan lagi untuk menjadi ayah bagi Arka."

Tepat saat itu, Arka lari keluar dari dalam rumah. "Ayah! Ayah sudah bisa jalan?!"

Bramantyo merentangkan tangannya, dan Arka menghambur ke pelukannya. Bramantyo memeluk anaknya begitu erat, seolah takkan pernah melepaskannya lagi. Ia menoleh ke arah Nadia, menunggu keputusan darinya.

1
Meyliana Rembonan
lanjutkan donk
Meyliana Rembonan
lanjutkan donk
Thecel Put
karya menarik
membuat saya ingin terus membacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!