NovelToon NovelToon
Ranjang Kosong Memanggil Istri Kedua

Ranjang Kosong Memanggil Istri Kedua

Status: tamat
Genre:Kaya Raya / Beda Usia / Selingkuh / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kemewahan rumah Tiyas, tersembunyi kehampaan pernikahan yang telah lama retak. Rizal menjalani sepuluh tahun tanpa kehangatan, hingga kehadiran Hayu—sahabat lama Tiyas yang bekerja di rumah mereka—memberinya kembali rasa dimengerti. Saat Tiyas, yang sibuk dengan kehidupan sosial dan lelaki lain, menantang Rizal untuk menceraikannya, luka hati yang terabaikan pun pecah. Rizal memilih pergi dan menikahi Hayu, memulai hidup baru yang sederhana namun tulus. Berbulan-bulan kemudian, Tiyas kembali dengan penyesalan, hanya untuk menemukan bahwa kesempatan itu telah hilang; yang menunggunya hanyalah surat perceraian yang pernah ia minta sendiri. Keputusan yang mengubah hidup mereka selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Melihat istrinya yang masih terkulai lemas setelah mual hebat, tiba-tiba sebuah sensasi aneh muncul di perut Rizal.

Bukan mual seperti biasanya, melainkan rasa lapar yang sangat spesifik dan mendesak.

Rizal tiba-tiba ngidam bubur ayam dengan full topping penuh dengan ayam dan cakwe.

Pikirannya langsung terbayang semangkuk bubur panas yang kental, dengan taburan suwiran ayam yang melimpah hingga menutupi buburnya, potongan cakwe yang renyah, kacang kedelai, dan sedikit kuah kuning yang gurih.

Rizal menelan salivanya, ia merasa ini sangat aneh, karena biasanya ia tidak terlalu menyukai bubur ayam untuk sarapan.

"Sayang, kok tiba-tiba aku ingin sekali makan bubur ayam ya?" gumam Rizal spontan sambil memegangi perutnya sendiri.

Hayu, yang masih bersandar di bantal, menatap suaminya dengan senyum tipis.

"Mas ngidam lagi ya? Ganti aku yang membuatmu ingin makan macam-macam?"

Rizal tertawa kecil, merasa lucu dengan situasinya. Tanpa menunggu lama, ia kembali menghubungi Riska.

"Riska, cari bubur ayam terbaik sekarang juga. Saya mau yang ayamnya melimpah, cakwenya banyak, jangan pelit topping. Antar ke sini secepatnya," perintah Rizal lewat telepon.

Di seberang sana, Riska hanya bisa menghela napas maklum.

Sepertinya tugasnya sebagai sekretaris eksekutif sementara ini berubah menjadi "pemburu kuliner" demi pasangan ini.

Sambil menunggu bubur itu datang, Rizal tetap setia di samping Hayu, meskipun pikirannya sekarang terbagi antara rasa cemas pada istrinya dan bayangan lezatnya semangkuk bubur ayam full topping.

Tak lama kemudian, pintu kamar perawatan kembali terbuka.

Riska datang membawa bubur ayam pesanan Rizal.

Uap panas mengepul dari kantong plastik yang ia bawa, membawa aroma gurih kaldu dan bawang goreng yang sangat menggoda.

Rizal segera menyambut bungkusan itu dengan semangat.

Begitu mangkuk diletakkan di atas meja kecil, aroma bubur itu justru membuat Hayu lapar.

Ajaibnya, rasa mual yang sejak pagi menyiksanya seolah hilang begitu saja tergantikan oleh rasa lapar yang mendesak.

"Mas, baunya enak sekali," bisik Hayu sambil memperhatikan Rizal yang sedang menata bubur dengan topping ayam dan cakwe yang menggunung.

Rizal menoleh terkejut sekaligus senang. "Kamu mau, Sayang? Aku pesankan satu lagi kalau kamu mau."

"Bagi sedikit punya Mas saja, aku ingin coba dulu," jawab Hayu.

Rizal dengan telaten menyuapi istrinya perlahan. Hayu juga memakannya tanpa ada rasa mual sedikit pun.

Suapan demi suapan masuk dengan lancar. Tampaknya, "ngidam" Rizal kali ini menular secara positif pada Hayu, membuat selera makannya kembali pulih secara tiba-tiba.

Melihat Hayu makan dengan lahap, Rizal merasa beban di hatinya benar-benar terangkat.

Ia ikut makan dengan sangat lahap, menikmati setiap potongan cakwe dan suwiran ayam yang melimpah seperti keinginannya tadi.

"Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa makan, Sayang," ujar Rizal sambil tersenyum lebar, merasa bersyukur meskipun ia harus melewati drama "ngidam" yang aneh-aneh setiap harinya.

Melihat Hayu makan dengan sangat lahap hingga mangkuk itu bersih tanpa sisa, Rizal justru merasa sangat bahagia.

Rasa lapar yang tadinya mendesak di perutnya seolah terbayar hanya dengan melihat istrinya kembali bertenaga.

Hayu meminta maaf karena menghabiskan bubur ayam milik suaminya.

Ia menatap Rizal dengan perasaan tidak enak, apalagi ia tahu tadi Rizal sangat menginginkan bubur dengan full topping tersebut.

"Mas, maaf ya. Aku malah menghabiskan punya kamu. Padahal Mas yang tadi kepengin sekali," ucap Hayu merasa bersalah sambil menyerahkan mangkuk kosong itu.

Rizal tertawa renyah, ia mengacak rambut istrinya dengan sayang.

"Kenapa minta maaf, Sayang? Aku justru senang sekali melihat kamu bisa makan banyak tanpa mual. Itu artinya anak kita juga senang makan bubur."

Rizal kemudian meraih ponselnya kembali. Tanpa rasa kesal sedikit pun, Rizal kembali memesan bubur ayam untuk dirinya.

Ia menghubungi Riska lagi—yang mungkin saat ini sedang dalam perjalanan kembali ke kantor atau sedang beristirahat.

"Riska, maaf merepotkan lagi. Tolong belikan satu porsi lagi bubur yang persis seperti tadi untuk saya. Istri saya tadi sangat menyukainya sampai habis," ujar Rizal dengan nada santai.

Sambil menunggu pesanan keduanya datang, Rizal membenarkan posisi tidur Hayu.

"Kamu istirahat saja dulu. Biar Mas yang tunggu bubur selanjutnya datang. Sekarang aku tidak perlu merasa bersalah makan di depan kamu, karena kamu sudah kenyang duluan," canda Rizal yang membuat Hayu ikut tersenyum.

Suasana di kamar rawat itu kini terasa jauh lebih hangat dan santai, jauh dari ketegangan yang terjadi sejak kemarin.

Pintu kamar kembali terbuka, dan munculah sosok Riska dengan napas yang sedikit tidak teratur.

Riska datang membawa bubur kedua dengan wajah sedikit lelah namun lucu karena terus menjadi kurir bubur dalam waktu yang berdekatan.

Rambutnya sedikit berantakan karena harus berpacu dengan waktu (dan mungkin antrean bubur yang panjang).

"Ini, bubur keduanya, Pak Rizal. Persis seperti tadi, full topping ayam dan cakwe," ujar Riska sambil menyerahkan bungkusan itu dengan senyum yang dipaksakan sopan, meski raut wajahnya menunjukkan betapa ia merasa hari ini tugasnya lebih mirip asisten pribadi kuliner daripada sekretaris korporat.

Rizal menerima bubur itu dengan perasaan bersalah sekaligus geli.

Ia menyadari betapa ia telah merepotkan sekretarisnya itu sejak kemarin.

Sambil merogoh dompetnya, Rizal memberikan bonus kepada Riska berupa beberapa lembar uang bernilai besar yang jauh melampaui harga bubur tersebut.

"Terima kasih banyak, Riska. Maaf ya, pagi ini kamu saya jadikan kurir bubur bolak-balik. Ini untuk uang bensin dan makan siangmu. Ambillah," ucap Rizal sambil menyodorkan bonus tersebut.

Melihat jumlah uang yang diberikan bosnya, rasa lelah di wajah Riska seketika sirna.

Matanya berbinar, dan senyumnya kini menjadi sangat tulus. Bonus itu lebih dari cukup untuk makan mewah selama seminggu.

"Terima kasih, Pak Rizal! Tidak apa-apa, Pak. Saya siap mencarikan bubur sampai ke ujung kota kalau memang itu perintah Bapak," jawab Riska dengan semangat baru.

"Kalau begitu, saya permisi kembali ke depan untuk memantau pekerjaan kantor lewat laptop saya."

Hayu yang melihat kejadian itu dari atas ranjang hanya bisa tertawa kecil.

"Mas, kamu ini, kasihan Riska sampai keringatan begitu."

"Tidak apa-apa, Sayang. Dia bekerja dengan sangat baik, dan dia layak mendapatkannya," jawab Rizal sambil mulai membuka mangkuk bubur keduanya dengan aroma yang kembali membangkitkan selera makannya.

Rizal menikmati buburnya sambil mengobrol santai dengan Hayu, suasana di kamar rawat inap itu terasa sangat hangat.

Rizal bercerita tentang betapa lucunya wajah Riska saat menerima bonus tadi, sementara Hayu mendengarkan sambil sesekali mengusap perutnya yang sudah merasa jauh lebih nyaman.

Di tengah obrolan mereka, terdengar ketukan pintu yang teratur.

Kedatangan dokter yang merawat Hayu sejak kemarin membawa kabar yang sudah sangat mereka nantikan.

Dokter memeriksa grafik kesehatan Hayu dan tersenyum melihat kondisi pasiennya yang sudah tampak lebih segar.

"Melihat kondisi Ibu yang sudah stabil, tidak ada pendarahan lagi, dan sudah bisa makan tanpa muntah, dokter mengatakan kalau Hayu boleh pulang hari ini," ujar sang dokter sambil menutup papan catatannya.

Rizal langsung menghentikan suapan buburnya. Wajahnya berseri-seri penuh kelegaan.

"Benarkah, Dok? Terima kasih banyak."

Namun, dokter memberikan peringatan tambahan agar kejadian mual hebat tadi pagi tidak terulang dan mengganggu asupan nutrisi janin.

Dokter memberikan obat penghilang rasa mual yang aman untuk ibu hamil trimester pertama.

"Ini resep obat mualnya, diminum jika merasa mulai tidak enak saja. Tapi ingat ya, Pak Rizal, di rumah nanti Ibu tetap harus bedrest. Jangan banyak beraktivitas dulu sampai kontrol minggu depan," pesan Dokter dengan tegas.

Rizal mengangguk mantap. "Siap, Dok. Saya akan pastikan istri saya hanya rebahan dan istirahat di rumah."

Hayu tersenyum bahagia. Akhirnya ia bisa kembali ke rumah mereka yang nyaman, jauh dari aroma rumah sakit, meskipun ia tahu Rizal akan berubah menjadi "satpam" yang super protektif selama masa bedrest nanti.

1
Yul Kin
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!