Setelah kesalahan yang dilakukan akibat jebakan orang lain, Humaira harus menanggung tahun-tahun penuh penderitaan. Hingga delapan tahun pun terlewati, dan ia kembali dipertemukan sosok pria yang dicintainya.
Pria itu, Farel Erganick. Menikahi sahabatnya sendiri karena berpikir itu adalah kesalahan diperbuat olehnya saat mabuk, namun bertemu wanita yang dicintainya membuat Farel tau kebenaran dibalik kesalahan satu malam delapan tahun lalu.
Indira, sang pelaku perkara mencoba berbagai cara untuk mendapat kembali miliknya. Dan rela melakukan apapun, termasuk berada di antara Farel dan Humaira.
Sebenarnya siapa penjahatnya?
Aku, Kamu, atau Dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girl_Rain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Terkaan
Seorang pria terlihat fokus pada laptop di depannya, sementara jemarinya menari-nari di atas laptop. Farel memajukan wajahnya mendekati laptop dengan kening di kerutkan, dan jemarinya semakin cepat mengetik.
Bom! "$ial" Farel menghempas laptopnya yang untungnya pelan, sehingga laptop tersebut tidak sampai melewati meja.
Dan kelakuannya berhasil membuat jantung Fredrik ingin keluar dari tempatnya. Dia memandang malas bosnya yang mengebrak meja secara mendadak.
"استعفر اللہ العظیم!" pekik Farel.
"Aku mau pulang." Farel menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Di sofa tempat Fredrik duduk, ia hanya bisa mengelus dada. "Saya tidak percaya seseorang yang selalu duduk di depan laptop sampai lupa waktu bisa berkata demikian."
Farel yang awalnya tidak memandang asistennya, kini memutar kepalanya menghadap Fredrik. "Ya, kamu berkata begitu karena belum pernah jatuh cinta."
"Siapa bilang saya belum pernah jatuh cinta? Saya pernah sekali, cuma tidak senorak anda," sindir Fredrik memberi lirikan sinis.
"Berarti itu bukan cinta yang benar-benar cinta," kilah Farel tak mau mengalah.
"Terserah anda saja 'deh." Fredrik memutuskan final.
Dering ponsel membuat Farel mau tak mau mengangkat wajahnya, ekspresinya berubah serius melihat nama kontak yang tertera di layar. Farel menggeser tombol hijau. "السلام علیکم، Bro."
"وعلیکم السلام، Man. Gue mau beritahu lo sesuatu," balas Imam.
"Apa ini ada sangkut pautnya dengan om Alex? Cepat juga lo selidikinya," ucap Farel menegakkan punggung dan menyandarkan diri pada kursi.
"Justru gue mau minta maaf sama lo, soalnya gue nggak dapat apapun setelah mencari tahu seharian ini. Sepertinya Alex Rudiart hanya menunjukkan wajahnya padamu dan anaknya saja, nama saja nggak ada dalam daftar penduduk Indonesia," terang Imam. Dia memutar kursinya hingga dirinya membelakangi meja.
Farel menghela napas. "Jadi, lo nelpon gue cuma buat ngasih tau hal yang bisa gue tebak sendiri?"
"Nggak, gue cuma kepikiran sesuatu. Gue mau nanya, kenapa lo bisa dekat sama anaknya Alex Rudiart?"
Farel mengerutkan kening. "Ya, dulu pas meninggalnya mamanya Indira, gue ngajak Indira ikut sama gue."
"Kenapa lo ngajak perempuan itu ikut sama lo?"
"Ya, kasihan aja dia nggak punya siapa-siapa lagi. Tapi awalnya karena disuruh Oma gue 'sih," jelas Farel.
"Disuruh Oma lo ya, jadi lo nggak bakal ngajak perempuan itu ikut lo kalau bukan karena permintaan Oma lo ya?"
"Nggak tau ya, kayaknya iya soalnya umur gue waktu itu sepuluh tahun, mana paham tentang ngajak seseorang untuk hidup bersama. Kalau pun paham, perkataan Oma gue yang jadi dorongannya." Farel ikut berpikir juga. Rasanya pertanyaan Imam yang mutar-mutar ini ada maksudnya.
"Apa Oma lo punya hubungan sama mamanya perempuan itu? Kenapa Oma lo hadiri pemakaman mamanya dan mau mengurus anaknya ya? Kalau Oma lo sayang anak yatim, harusnya adopsi saja seluruh anak di panti asuhan atau jadi donatur mereka, tapi aku tanya beberapa panti di Jakarta nggak ada yang kenal Renaina Rose Erganick."
Farel memejamkan mata. "Gue ingat Oma cuma bilang mau ke pemakaman, dan baru kali itu gue di ajak Oma ke pemakaman. Kalau gue mikir-mikir lagi, memang kelihatan kayak rencana agar gue ketemu Indira."
"Nah, itu maksud gue. Gue berpikir kayaknya Oma lo punya hubungan sama papanya perempuan itu. Kalau sama mamanya ada kemungkinan sih, tapi perbedaan umur Oma lo sama mamanya kentara juga kayak nggak cocok jadi teman." Imam mengutarakan pendapatnya.
"Iya, lo benar. Kemungkinan apapun bisa terjadi, dan gue bakal selidiki. Lo kalo dapat apa-apa, hubungi gue."
"Oke. السلام علیکم."
"وعلیکم السلام." Dan hubungan sinyal diantara keduanya pun berakhir.
Farel meletakkan ponselnya di dalam jas. "Fredrik, kamu dengar 'kan tadi. Tolong selidiki Oma ku yang lagi di liburan di Singapura."
"Baik." Fredrik beranjak dari sofa, dan membuka pintu. Lantas ia terkejut mendapati wanita berpakaian tertutup serta anak perempuan di depannya.
"Ah, pak Fredrik," seru Rifqa menunjuk ke arah asisten papanya.
"Nggak boleh nunjuk sembarangan, nggak sopan." Humaira menangkap telunjuk itu dan menurunkan lengan Rifqa.
"Maaf, kata Rifqa ini ruangan Farel. Apa benar?" tanya Humaira tanpa menatap lawan bicaranya. Meski kelakuannya ini tidak sopan, Humaira mencoba menyampaikan santunnya lewat suara yang rendah.
Merasa asistennya cuma berdiri membeku di pintu, alis Farel terangkat sebelah. "Apa berat bagimu untuk keluar, Fredrik?"
"Bos, Anda kedatangan tamu." Fredrik menyingkir, dan memperlihatkan dua manusia yang mau menemui bosnya.
"Humaira." Farel kegirangan. Dia beranjak cepat dari kursi dan menghampiri istrinya.
"Kamu datang ke sini?" Farel mengecup kening Humaira, dan membacakan selawat. Tersenyum lembut pada istri sholehahnya itu.
"Mau makan siang bersama kamu, sama Rifqa juga," jawab Humaira menyalami Farel sembari membacakan selawat.
Disinggung begitu barulah Farel memandang ke bawah, dan mendapati Rifqa yang cemberut.
"Papa ini nggak ingat, Rifqa," keluh Rifqa melipat kedua tangannya.
Farel tertawa renyah. Dirinya segera berlutut di hadapan sang putri. "Nggak gitu, papa cuma nyapa Bunda aja dulu, baru putri papa yang cantik ini."
Farel menarik gemas kedua pipi Rifqa. "Sayangnya papa baru pulang sekolah ya, pasti lapar. Papa pesanin makanan ya?"
"Iya, boleh. Tapi Rifqa yang pilih," seru Rifqa kembali bersemangat.
"Oke, Papa setuju." Farel mengelus kepala Rifqa sebelum berdiri tegak.
"Kamu boleh pergi, Fredrik," ucap Farel pada asisten yang tidak ia lupakan keberadaannya, hanya tak mau menganggapnya saja.
Asistennya itu berdiri mematung menyaksikan mereka, dan ketika disuruh barulah pergi ditelan pintu yang ditutup.
"Mau makan di luar? Kebetulan ada restoran enak dekat perusahaan," ucap Farel yang kemudian tersenyum.
"Mau." Rifqa berseru riang.
"Kayaknya enggak deh, Mas. Maafin Bunda ya, Rifqa. Bunda nggak nyaman makan diluar, kurang bebas," timpal Humaira menunduk untuk saling menatap dengan Rifqa. Anak kecil itu mengangguk, dan tersenyum sebagai persetujuan.
Sementara Farel, ia justru merasa ingin mengorek kupingnya. Rasa tadi mendengar kata asing yang bikin jantungnya tidak karuan.
"Ayo, ke sofa." Humaira mengajak Rifqa ke sofa, yang lebih dulu sampai ketimbang Farel yang berjalan agak linglung.
Farel membuka aplikasi pesan makanan, dan menyerahkannya pada Rifqa. "Pilihlah makanan yang kamu mau, My Princess. Kamu juga, My Wife."
"Yei," seru riang dari Rifqa dan Humaira yang ikut-ikutan.
Farel tersenyum saja.
...🌾🌾🌾...