"DAVINNNN!" Suara lantang Leora memenuhi seisi kamar.
Ia terbangun dengan kepala berat dan tubuh yang terasa aneh.
Selimut tebal melilit rapat di tubuhnya, dan ketika ia sadar… sesuatu sudah berubah. Bajunya tak lagi terpasang. Davin menoleh dari kursi dekat jendela,
"Kenapa. Kaget?"
"Semalem, lo apain gue. Hah?!!"
"Nggak, ngapa-ngapain sih. Cuma, 'masuk sedikit'. Gak papa, 'kan?"
"Dasaaar Cowok Gila!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aduh, Bi Marni!
Gawat.
Kenapa mereka datang secepat ini?
Coach melangkah mendekat ke ranjang.
“Davin,” panggilnya pelan.
Davin membuka mata “…Coach?”
“Untung kamu sadar. Anak-anak panik semua.”
Di belakangnya, beberapa anggota tim ikut menyapa.
“Vin, lu gimana tangan lu?”
“Lu udah agak baikan kan?”
“Kami langsung ke sini habis penentuan.”
Leora mundur setengah langkah ke sisi lemari, namun tatapan perawat sempat mengikuti gerakannya.
Alisnya berkerut tipis.
“Lho… tadi ada perempuan yang jagain pasien, kan?” gumamnya.
Jantung Leora langsung mencelos.
Coach ikut melirik sekilas ke arah sudut ruangan.
Perawat hendak melanjutkan—
“Yang berseragam SMA itu… dia—”
Seketika Davin mengerang kecil.
Tangan kanan yang terluka mendadak menegang.
“Ah—! Suster… sakitnya kambuh lagi…”
Perawat langsung fokus padanya.
“Masih nyeri?”
“Tadi obatnya sudah diberikan…”
“N…nyerinya menjalar ke lengan, Sus…”
Perawat segera mendekat, memeriksa infus dan denyut nadi.
Coach pun ikut panik.
“Hey, jangan dipaksa bicara dulu. Istirahat.”
Anak-anak tim refleks ikut diam.
Perawat mulai mencatat gejala.
“Kalau nyeri bertambah, saya tambah dosis obatnya sedikit ya. Tapi Masnya jangan banyak bergerak dulu.”
Leora menahan napas di balik tirai kecil, menutup mulutnya agar tidak bersuara.
Perawat hendak menoleh lagi ke arah sudut kamar. Namun Davin kembali mengaduh pelan.
“Ma…af… tadi saya maksa bangun pas dengar orang masuk…”
Perawat langsung terpaku padanya lagi.
“Nggak boleh! Mas harus benar-benar istirahat tanpa banyak gerakan.”
Coach mengangguk cepat.
“Baik, Suster. Kami cuma mau pastikan kondisinya aja.”
Perawat akhirnya menyerah pada prioritas pertanyaan tentang “siswi SMA” itu, lalu setelah pengecekan selesai Perawat keluar sebentar untuk mengambil obat tambahan.
Coach menatap Davin.
“Kalau keadaanmu parah, stop paksain diri. Tim bisa nunggu kamu pulih.”
Davin tersenyum samar — terkontrol.
“Terima kasih, Coach.”
Seorang anggota tim yang paling dekat berkata lirih:
“Kami dengar… kamu ditemani seseorang di sini. Siapa?”
Leora menutup wajahnya di balik tirai.
“Cuma… sodara jauh aja.”
Coach tidak memperpanjang.
“Syukurlah, yang penting sekarang kamu selamat.”
Suasana kembali mereda, sampai akhirnya Raga bersuara.
"Oh ya, Vin. Soal turnamen, lo udah berjuang sekuat tenaga. Dan..."
"Kita kalah kan?" serobot Davin, tak sabar.
“Kita cuma... kalah curang. Soalnya tim kita jadi juara, makannya kita langsung ke sini buat kasih kabar bahagia ke lo yang banyak berjuang sebagai kapten.”
Ruangan seketika hening. Beberapa anggota tim terkekeh kecil.
“Serius?” tanya Davin, tak percaya.
Raga mengangguk lebar.
“Lo tau nggak, poin akhir beda tipis banget. Dan semua orang bilang kalo permainan kita naik level karena lo.”
Anak-anak lain ikut bersuara.
“Lo emang nggak ikut tanding sepenuhnya, tapi strategi lo tetap kita pakai.”
“Kami cuma lanjutin apa yang lo mulai, Kapten.”
“Piala kemenangan ini juga punya lo.”
Coach menepuk bahunya pelan.
“Kamu tetap bagian dari kemenangan ini, Davin.”
Davin mengedip cepat.
Seolah menahan sesuatu di sudut matanya. “…syukurlah,” ucapnya lirih.
Suara itu nyaris patah.
Sementara di balik tirai, Leora sedang menggigit bibirnya. Ada perasaan aneh yang kini menyeruak di dadanya.
Campuran bangga dan juga… sedih.
Karena baru sadar, Davin tidak hanya kuat di depan dirinya. Tapi, pria itu memikul banyak orang selama ini.
Raga mengusap tengkuknya canggung.
“Maaf ya, Vin. Kami nggak bisa tinggal lama. Anak-anak masih harus beresin adminitrasi turnamen.”
Coach ikut berdiri.
“Kamu fokus pulih. Jangan pikirin apapun dulu.”
Davin mengangguk pelan. “Siap… Coach. Terima kasih semuanya.”
Satu per satu mereka menepuk bahu Davin dengan cara mereka sendiri.
Lelaki yang keras, yang cuek, yang slengean kini, semuanya mendadak terlihat lebih dewasa.
Pintu menutup perlahan.
Menyisakan kembali keheningan.
—
Sementara Leora masih belum keluar dari tempat sembunyinya.
Davin berbisik pelan.
“Lo udah boleh keluar, sekaramg.”
Leora refleks terdiam di tempat.
“…aman kan?”
“Aman banget.”
Ada jeda.
Leora keluar dari balik tirai — masih dengan wajah gugup.
Tatapan mereka bertemu.
"Lo keren," kata pertama yang keluar dari mulut Leora.
"Untuk?"
"Ya, untuk seorang kapten basket. Kalo untuk suami... lo masih banyak kurangnya" balas Leora, mendadak ketus.
“Gila… jawaban lo selalu nusuk di bagian yang penting,” ucapnya lirih.
Leora menyilangkan tangan di dada.
“Bagus dong. Biar lo inget kalau lo harus lebih baik lagi.”
“Kalau gue makin baik, emangnya lo bakal berubah cinta?”
“Jangan bacot.”
Davin tertawa pelan lagi, tapi wajahnya ikut menegang karena urat di tangannya terasa ditarik.
Leora spontan maju dua langkah.
“Jangan ketawa! Tangan lo baru aja—”
“Tenang. Gue cuma pura-pura sakit kalau perlu doang,” potongnya santai.
Leora membelalak.
“Pura-pura?”
“Tadi… waktu suster hampir nyebut ‘siswi SMA’, gue tau lo udah setengah mati ketakutan. Jadi ya gue tambahin dikit dramanya.”
Leora menahan kata-kata.
Matanya memanas, entah karena takut, lega, atau kesal.
“…lo bego banget,” gumamnya pelan.
“Bego… tapi berhasil kan?”
Leora tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah lagi, menatap jendela agar Davin tidak melihat matanya.
Satu menit berlalu tanpa suara.
Davin kembali bersandar, napasnya lebih teratur.
Namun senyum kecil tidak benar-benar turun dari wajahnya.
“Lo tau,” ucapnya pelan, “waktu coach bilang tim menang… gue pengin ketawa keras-keras. Tapi yang pertama kepikiran malah—”
“Jangan lanjut,” potong Leora cepat.
Davin mengerjap.
“Jangan bikin gue tambah repot mikirin lo.”
Davin terdiam sejenak.
Kemudian ia tertawa kecil. Bukan menggoda. Lebih seperti… mengerti.
“Gue nggak minta lo mikirin gue,” katanya lembut. “Gue cuma… seneng lo ada di sini.”
Leora mengetuk ujung sepatu ke lantai.
“…gue di sini karena lo gegabah. Bukan karena gue—”
Pintu tiba-tiba diketuk dari luar.
Leora langsung menegang. Davin refleks menoleh. Langkah seseorang terdengar mendekat di lorong.
Suara sepatu formal.
“…itu bukan perawat,” bisik Leora cemas.
Ketukan itu berhenti. Kemudian terdengar gagang pintu diputar perlahan.
Leora panik refleks melangkah mundur ke balik tirai lagi.
“Gue harus sembunyi lagi,” bisiknya cepat. “Lo bilang aja—”
Pintu terbuka. Suara khas seseorang langsung memenuhi ruangan.
“Assalamualaikum… Den Davin! Bibi masuk yaaa—”
Davin menoleh cepat.
“…Bi Marni?”
Wanita paro baya itu masuk sambil menenteng dua kantong plastik besar dan satu tas kain di tangan lainnya.
“Ya Allah den… akhirnya bibi ketemu juga ruangannya. Dari tadi muter—muter lantai tiga, tanya suster, tanya satpam,” gumamnya sambil mengibas kerudungnya.
Davin tersenyum lemah.
“Maaf ya, Bi. Ngerepotin lagi.”
“Udah, udah, nggak usah pake minta maaf,” potong Bi Marni cepat.
“Yang penting kamu selamat. Tuh tangan masih dibalut kan? Makanya jangan sok kuat—”
Bi Marni belum selesai ngomel… tapi langkahnya mendadak berhenti.Matanya menyipit menatap tirai kecil di sudut ruangan.
“…lah?”
Leora refleks keluar dari tirai, dan cekrek. Mata mereka saling bertemu.
Lalu—
“Oh… ini toh yang dari tadi jagain Den Davin?”
“…bibi ngangetin aja”
“Non ngapain sembunyi,” ujar Bi Marni santai. “Nggak usah takut toh, ini bibi. sini duduk. Kamu dari tadi belum makan, kan?”
Leora langsung salah tingkah.
“…aku cuma… nunggu sebentar karena Papa berisik banget—”
Bi Marni tersenyum, dan menaruh kantong plastik pertama ke meja.
Isinya… makanan.
Banyak.
“Ini bibi bawain bubur ayam, sop hangat, ada roti, sama teh botol. Non mau yang mana?”
Leora tercengang.
“B…buat aku…?”
“Siapa lagi? Masa buat suster,” jawab Bi Marni santai.
Davin menahan tawa.
“A-aku—eh—saya nggak apa-apa, Bi. Saya udah makan kok. Tuh si Davin yang harus dikasih.”
Bi Marni menahan tawa.
“Dari tadi Non juga jaga Davin, mana sempet makan? Sini, duduk dulu.”
Leora terpaksa duduk… tepat di kursi sisi ranjang Davin.
Davin meliriknya, geli campur haru.
Lalu, Bi Marni kembali mengeluarkan tas kain kedua.
“Nah, ini baju ganti untuk Non.”
Leora hampir terlonjak.
“Kok Bibi tau. Kan aku belum bilang?”
“Iya dong.”
“Den—eh… Tuan Ardy bilang Non masih pake seragam. Jadi bibi bawain baju yang ada di luar lemari… nggak papa kan?”
Leora menatap Davin pelan. Davin langsung memalingkan wajah pura-pura tidak terlibat.
Bi Marni tersenyum hangat.
“Ganti nanti di kamar mandi aja ya. Biar Non lebih nyaman.”
Leora menelan ludah.
Pipi terasa panas.
“…makasih Bi.”
Davin batuk kecil.
Leora langsung melotot ke arahnya — memperingatkan.
Bi Marni tidak sadar apa-apa. Ia masih sibuk mengeluarkan termos kecil berisi air hangat.
“Dan untuk Den Davin, minum ini dulu. Abis itu baru istirahat. Jangan banyak mikir yang aneh-aneh.”
banyak" in update kak
*kenapa di novel2 pernikahan paksa dan sang suami masih punya pacar, maka kalian tegas anggap itu selingkuh, dan pacar suami kalian anggap wanita murahana, dan suami kalian anggap melakukan kesalahan paling fatal karena tidak menghargai pernikahan dan tidak menghargai istrinya, kalian akan buat suami dapat karma, menyesal, dan mengemis maaf, istri kalian buat tegas pergi dan tidak mudah memaafkan, dan satu lagi kalian pasti hadirkan lelaki lain yang jadi pahlawan bagi sang istri
*tapi sangat berbanding terbalik dengan novel2 pernikahan paksa tapi sang istri yang masih punya pacar, kalian bukan anggap itu selingkuh, pacar istri kalian anggap korban yang harus diperlakukan sangat2 lembut, kalian membenarkan kelakuan istri dan anggap itu bukan kesalahan serius, nanti semudah itu dimaafkan dan sang suami kalian buat kayak budak cinta dan kayak boneka yang Terima saja diperlakukan kayak gitu oleh istrinya, dan dia akan nerima begitu saja dan mudah sekali memaafkan, dan kalian tidak akan berani hadirkan wanita lain yang baik dan bak pahlawan bagi suami kalau pun kalian hadirkan tetap saja kalian perlakuan kayak pelakor dan wanita murahan, dan yang paling parah di novel2 kayak gini ada yang malah memutar balik fakta jadi suami yang salah karena tidak sabar dan tidak bisa mengerti perasaan istri yang masih mencintai pria lain
tolong Thor tanggapan dan jawaban?