Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemas dan Khawatir
"B-Buku nikah?"
"Ya, buku nikah. Kau tahu ini, kan?" Essa menunjuk Heyra dengan buku nikah itu. Wajahnya tampak marah karena Heyra masih tidak percaya. Harus dengan cara apalagi Essa, membuktikannya.
Aneh, rasanya ketika Essa terus ingin membuktikan pernikahannya sungguhan kepada Heyra.
"Bacalah, apa itu terlihat palsu." Essa bicara dengan puas.
Heyra mengambil buku nikah itu yang langsung dibukanya. Matanya terlihat sendu setelah membaca kedua nama yang tertulis dalam buku nikah. Wajahnya terlihat merah entah karena malu atau kesal. Setelah itu Heyra melemparkan bukunya ke arah meja. Ia menatap kecewa kepada Alex lalu pergi.
Namun, ketika tiba di depan pintu Heyran langkahnya terhenti dan berbalik. "Pernikahan yang belasan tahun pun bisa cerai, jadi— itu mungkin saja terjadi kepada kalian."
Essa terbelalak, begitupun dengan Alex. Sambil berdecak gadis itu bergumam. "Dia sungguh tidak waras. Om—" ucapnya terhenti, Essa melirik Alex bersamaan dengan menghela nafas pelan.
"Apa mantanmu itu tidak waras. Dia mengharapkan kita bercerai. Sepertinya memang pernikahan kita ini tidak harus terjadi. Aku muak, aku pusing, selalu saja mantanmu itu mengganggu."
Brakk
Essa membanting pintu kamarnya dengan keras. Amarahnya kini sedang meluap, selera makannya pun jadi hilang. Kedatangan Heyra membuat mood-Nya buruk.
Sementara Alex, pria itu masih berdiri di antara meja makan dan kamarnya. Satu tangannya dibiarkan berkacak pinggang satu tangannya lagi terus memijat keningnya. Alex, pun tidak mengerti ada apa dengan Heyra yang selalu mengganggunya.
"Kenapa jadi rumit begini. Sepertinya aku harus bicara pada Heyra. Ya, aku akan bicara dengannya besok," ucapnya membuang nafas kasar.
Alex, melirik meja makan, sedetik ia tertegun menatap tumis capcay yang ada dalam piring. Perkataan Heyra pun kembali terngiang.
...Kau tidak tahu kesukaan Alex? Dia tidak menyukai tumisan...
Alex, berpikir Essa pasti kecewa juga karena ucapan Heyra tadi. Dia tidak menyukainya, tapi Alex juga tidak bisa menghentikan Essa ketika ingin memasak. Jika Alex mengatakan hal demikian dia takut itu akan menyakiti Essa, dan menghancurkan semangatnya.
Alex, berjalan kearah meja makan lalu mendaratkan bokongnya di sana. Satu tangannya bergerak mengambil sesendok tumis capcay yang lama ia lihat. Perlahan sendok itu masuk ke dalam mulutnya bersama semua sayuran yang tidak ia sukai.
Alex, mengunyahnya pelan, merasakan setiap rasa dari dedaunan yang tertelan. Tangannya kembali menyendok tumisan itu lalu dimakannya bersama nasi putih. Mulutnya bergoyang mengunyah dengan pelan.
"Hmm ... tidak buruk. Rasanya enak, kenapa aku tidak pernah mencobanya dulu," ucapnya dengan senyum.
Di tempat lain, Heyra baru saja memasuki mobilnya. Bantingan pintu yang keras jelas terdengar di area basement yang sepi. Tubuhnya tak bergeming, tidak juga melakukan mobilnya. Heyra masih diam menenggelamkan kepalanya pada sandaran kursi.
Matanya terpejam mengingat kembali perkataannya sebelumnya.
...Pernikahan belasan tahun pun bisa bercerai— tidak ada kemungkinan jika itu bisa terjadi pada kalian...
"Huh." Hanya hembusan nafas yang terdengar dari mulutnya. Perlahan matanya terbuka, menatap kosong keatas sana. "Kenapa aku bisa bicara seperti itu. Oh Tuhan, apa yang aku lakukan kenapa aku jadi seperti ini di depan Alex."
Heyra, duduk dengan tegak sambil memasangkan seatbelt. Kedua tangan mulai berputar di atas setir, mengendalikannya membuat mobil bergerak mundur dan maju. Heyra, berlenggang meninggalkan apartemen bersamaan dengan itu seorang pria misterius menaiki roda duanya lalu mengikuti Heyra.
Sepertinya pria itu sudah memantaunya sejak tadi.
Di jalanan raya yang seharusnya padat merayap kendaraan ditambah suara klakson yang saling bersahutan memenuhi jalanan ibu kota. Akan tetapi, malam ini sangat berbeda, suasana mendadak mencekam entah karena terlalu sunyi atau perasaan Heyra yang diselimuti rasa gelisah.
Heyra mengendarai mobilnya dengan pelan, sambil sesekali matanya memperhatikan sebuah motor di belakangnya.
Aku rasa motor itu mengikutiku, tapi ... apa itu hanya perasaanku saja.
Heyra, terus membatin, sampai ia melajukan dengan cepat mobilnya, kendaraan di belakang masih terus mengikutinya. Heyra, semakin takut dan gugup. Dengan tangan gemetar ia berusaha meraih ponselnya, tapi sayang ponsel itu terjatuh.
Brakk
"Ah, sial! Kenapa harus terjatuh sih."
Heyra kembali fokus ke arah jalanan sambil sesekali ia menoleh ke belakang. "Apa mau orang itu siapa dia?" rutuknya.
Sedetik matanya membola Heyra mengingat perkataan Karla sebelumnya.
...Aku memang menyuruh orang untuk berpura-pura gila padamu. Tapi, orang suruhanku hanya akan bergerak setelah ada instruksi dariku. Tapi sebelum itu ... seseorang sudah lebih dulu datang. ...
...Heyra aku rasa kamu harus berhati-hati bisa saja orang itu tidak waras dia benar-benar mengejarmu....
"Tidak—itu tidak mungkin. Aku harus hubungi Karla, tapi di mana ponselku."
drt ... drt ... drt ...
Getaran yang berasal dari benda pipih yang terdampar di bawah sana. Heyra berusaha meraih benda itu dengan kakinya, tertera nama Karla yang terus memanggilnya tapi detik demikian cahaya dari benda itu pun redup bersamaan dengan getaran yang berhenti.
"Oh tidak, Karla ayolah ... aku membutuhkanmu sekarang."
Heyra, kini mencoba menunduk dengan satu tangan yang masih mengendalikan setir. Dan satu tangannya lagi berusaha meraih benda itu.
"Ayolah ... hap."
Akhirnya Heyra berhasil mengambil ponselnya, ia tersenyum senang tapi tidak setelah beranjak dari bawah. Matanya seketika membola bersamaan dengan bantingan setir yang ia lemparkan ke sisi jalanan.
Motor yang mengikutinya tadi tiba-tiba menghadang jalannya. Karena kaget Heyra melemparkan mobilnya ke sisi kanan hingga menabrak pagar pembatas.
Brukk
Spontan tubuhnya pun terhuyung dan kepalanya membentur setir. Mobil Mercedes-Benz merah pun berhenti dengan kondisi yang tidak baik-baik saja.
Seseorang tidak ada yang melihat baik itu menyelamatkannya. Si pria misterius itu turun dari motornya berjalan ke arah mobil yang hampir jatuh dari atas jalan layang.
Langkahnya sangat pelan tapi menyeramkan. Dibalik kaca mobil yang tertutup tubuh Heyra terkulai lemah, tanpa sadarkan diri dan kening yang penuh dengan darah. Pria itu hanya melihat tapi tidak menolong.
***
Drt ... drt ... drt ...
Deringan ponsel mengejutkan Alex, yang hendak naik ke atas ranjang tidurnya. Essa memang belum siap untuk melakukan hubungan 1ntim tetapi bukan berarti ia tidak bisa satu ranjang.
Ya, setelah hubungan mereka mulai membaik dan menerima satu sama lain Essa dan Alex akhirnya bisa tidur bersama dalam artian satu ranjang. Namun, malam ini ponselnya terus berdering membuat langkah Alex harus turun dan berjalan ke arah meja nakas, mengambil benda pipih yang terus menyala.
"Karla," gumam Alex sambil mengerutkan keningnya.
"Untuk apa Bu Karla meneleponku," ucapnya dengan heran masih menatap ponselnya.
Bagaimana Alex tidak heran, wanita yang dikenal sebagai manajer sang mantan itu menghubunginya di jam yang tidak biasa. Pukul 00.00 waktu tengah malam yang seharusnya semua orang sedang tertidur. Dan Karla mengganggu tidurnya.
Alex, menghela nafas pelan sebelum akhirnya ia menjawab panggilan itu.
"Ada Bu Kar—"
"Alex, apa Heyra menginap di rumah mu?" potong Karla dengan tergesa-gesa.
"Heyra—" Alex mengerutkan keningnya. "Tidak, dia sudah pergi tiga jam yang lalu."
"Oh tidak Alex. Aku khawatir dengannya."
"Apa Heyra belum kembali ke apartemen?"
"Ya, itu yang mau aku katakan. Alex, aku mohon bantu cari Heyra, aku takut terjadi sesuatu padanya. Mungkin dia masih di dekat rumah mu ayolah Alex, aku mohon ... tolong carikan Heyra untukku."
Hati Alex mendadak cemas. Ia mulai gelisah memikirkan di mana mantan tunangannya itu. Bagaimanapun Heyra orang yang pernah dekat dengannya Alex tidak mungkin diam saja ketika Heyra sedang tidak baik-baik saja di luar.
Alex mematikan sambungan teleponnya. ia diam sesaat lantas menoleh kepada Essa yang terlelap di sana. Alex pikir tidak ada salahnya dia pergi mencari Heyra, Essa sudah tidur dan Alex akan kembali sebelum Essa bangun.
Alex, menyambar jaket yang menggantung lalu memakainya, ia pun mengambil kunci motor yang terakhir ia gunakan untuk mengantar Essa sekolah. Alex, pikir menggunakan motor adalah yang tercepat untuk menemukan Heyra.
Sebelum benar-benar pergi Alex, kembali memasuki kamarnya. Berjalan mendekati Essa, sedetik tubuhnya membungkuk—mendaratkan bibirnya mencium kening Essa.
"Maafkan aku, ya. Aku harus pergi sebentar," ucapnya demikian lalu pergi meninggalkan kamar.
Brakk
Suara pintu tertutup, sepertinya Alex sudah pergi meninggalkan apartemen. Alex, pikir istri kecilnya sedang tertidur, tapi nyatanya ia mendengar semuanya dan kini sudah bangun duduk merenung di atas tempat tidurnya.
"Dia pergi hanya untuk mencari Heyra, wanita itu memang licik. Kapan dia akan berhenti mengganggu ku."
lanjut thor smgt 💪😍
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.