Samanta tidak menyangka,setelah ia bertemu dengan pria bernama Alfin ia meras hidup di antara dua alam, akankah tumbuh perasaan di antara mereka, bisakah hantu dan manusia bisa bersama.
Yuk ikuti kelanjutan ceritanya,,..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deii Haqil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DUA DUNIA
33
Malam itu. Radit pun mengantarkan Sam untuk pulang ke kostannya. Di dalam perjalanan, Sam masih tidak percaya dengan kejadian yang ia alami hari ini. Ia hanya banyak terdiam sambil memandang keluar kaca jendela.
Radit pun mengerti, ia tidak banyak menanyakan hal apapun lagi kepadanya. Sebab ia tak ingin Sam, terlalu memikirkan kejadian barusan.
...
Tak terasa, saking larutnya mereka dalam lamunan masing-masing, akhirnya mereka sampai di depan gerbang kostan.
Sam turun dari dalam mobil dan menghampiri Radit yang masih berada di dalam kemudi.
"Terimakasih, Pak. Maaf sudah merepotkan." ucap Sam sambil membungkukkan sedikit badan.
"Iya, sama-sama, istirahatlah.. Aku lanjut ya." balas Radit.
Setelah berpamitan kepada Sam, Radit pun kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan malam.
Sam terdiam saat memandang mobil Radit meninggalkan halaman kostan sampai kendaraan itu menghilang dari pandangannya, ia baru membalikkan badan untuk melangkah memasuki gerbang kost.
Saat ia berjalan menuju pintu kostan nya. Suasana kala itu sangat sepi, mungkin karena menjelang malam, para penghuni yang lain pun sudah berada di kamar mereka masing-masing. Saat beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Sam di kejutkan dengan suara anak kecil yang tertawa sambil berlari melintas di belakangnya.
Merasa ada yang aneh, Sam menoleh cepat ke arah sumber suara itu.
"Hi.. hi..hi," Sekelebat bayang terus saja berlarian membuntuti Sam.
Sam yang sudah biasa dengan keberadaan mahkluk astral pun, melangkah maju untuk mencari sumber suara tersebut.
Ketika ia berjalan perlahan menuju kamar kostan paling ujung. Ia terhenti sejenak, seperti ada seseorang yang menarik tas selempangnya dari belakang.
Saat Sam menoleh ke belakang, ia sedikit terkejut dengan penampakan bocah kecil memakai kain penutup seperti popok dengan wajah putih dan lingkar mata yang hitam.
"He, he, he"
Sosok kecil berkepala botak itu hanya terdiam menatap Sam sambil tersenyum lebar, dengan sebelah tangannya yang perlahan merogoh masuk kedalam tas selempangnya.
"Desir pasir di padang tandus~"
.
.
.
"Pinjam dulu seratus~"
Bagaikan efek slow motions, tuyul itu memperlihatkan beberapa lembar uang kertas yang sudah ia ambil dari tas selempang milik Sam dan menunjukkannya kepada Sam dengan gerakan perlahan.
*Sret!—
Sebelah tangan sam seketika langsung menyambar lembaran uang kertas yang digenggam tuyul itu, matanya mengernyit kesal melihat kelakuan mahkluk botak yang tidak berfaedah sama sekali itu.
"Sembarangan! Anak siapa sih lu? Jangan sembarangan ngambil duit orang, nanti kalo aku mau makan gimana?!" hardik Sam dengan tangan yang menggenggam erat-erat duitnya yang telah berhasil Sam rampas kembali dari sosok bocah kecil itu.
Tuyul yang tadi hanya terdiam meratap Sam dengan cemberut tipis.
"dih? Pelit amat jadi orang, sedekah ke anak kecil itu baik loh kak," celetuk tuyul itu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Nanti aja sedekahnya kalo aku udah gajian!" sewot Sam sambil menatap jengkel ke arah tuyul tersebut.
Ditengah perdebatan yang tidak manfaat itu, Alfin seketika muncul di tengah-tengah mereka berdua. Lalu sebelah tangannya terangkat ke arah tuyul itu, dan ia langsung menarik telinga si tuyul botak tersebut dengan cukup keras.
"Bandel, pengen di tarik lebih keras lagi tuh telinganya, hm?" Alfin perlahan menarik lebih kencang telinga tuyul itu sehingga ia menjerit kecil.
"A—ampun Bang! Ga main-main lagi deh kesini!" pekik Tuyul itu. Saat tarikan di telinganya sudah dilepas oleh Alfin, ia mengusap-usap sebelah telinganya itu sambil meringis pelan.
"Ya udah, pulang sana!" usir Alfin kepada tuyul yang terdiam memandangnya dengan tatapan sinis.
Tuyul itu mendengus kecil, lalu ia membalikkan badan, dan melangkah ingin pergi meninggalkan dua orang dibelakangnya.
"Eh tunggu, kesini dulu!"
Tuyul tadi terdiam sejenak, lalu ia menoleh ke belakang. Dan terlihat Sam yang menyuruhnya untuk menghampirinya.
Sam terdiam sejenak, lalu ia mengulurkan tangannya ke arah sang tuyul. Dan memberikan satu buah permen kepada tuyul itu.
Sementara sang tuyul yang diberikan permen itu hanya mengernyit heran, lalu ia melirik ke arah Sam dengan ekspresi kebingungan.
"Lah, Apaan ini Kak? Kok cuma dikasih permen? Minimal mah kasih emas sama duit segepok kalo ke aku mah" ucap tuyul itu dengan tampang tak berdosa.
Sementara Alfin hanya terdiam melihat interaksi hantu dan manusia itu dengan ekspresi datar. Lumayan, nonton hiburan gratis.
Sam mengerutkan keningnya, ia menatap sang tuyul dengan ekspresi jengkel, "Terima aja, lumayan kan.. Udah sono pulang!!" ucap Sam, sambil menahan tawanya, melihat Tuyul yang terlihat memelas itu.
Akhirnya Tuyul itu membalikkan badannya, dan berjalan pergi meninggalkan Sam dan Alfin. Mungkin saja tuyul itu berniat untuk mencari korban selanjutnya.
Sam dan Alfin saling bertukar pandang, keheningan memenuhi ruangan disekitar mereka sejenak. Sampai perlahan Alfin meletakkan sebelah tangannya ke atas kepala Sam, lalu mengusapnya dengan lembut.
"Udah, sana istirahat dikamar. Udah malam" ucap Alfin sekilas. Sebelum tangannya kini mencubit pelan pipi Sam dengan gemas.
"Kalo masih belum istirahat, nanti aku undang temen-temen hantu yang lainnya buat party di dalam kamar kamu." ancam Alfin yang mampu membuat Sam bergidik ngeri.
Ia tak mau sampai dedemit lain masuk, dan berpesta di dalam kamarnya, jangan sampai itu terjadi. Mungkin ia tidak akan bisa tenang jika begitu.
Sam terdiam sejenak, lalu ia mengangguk kecil, "iya deh, dah sana kamu hilang aja lagi. Mau makan terus tidur, jangan ganggu!"
Sam membuka pintu kamarnya dengan lebar, lalu ia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Seketika pintu tertutup dengan keras, menyisakan Alfin yang masih terdiam dari luar kamar.
*Bersambung*