Selby dan Bagas saling mencintai dalam diam. Saat Bagas menyatakan cinta Selby menolak karena berpikir mereka saudara sedarah.
Padahal mereka bukan sedarah. Akankah hal itu bisa terungkap?
Akankah ibu dari Bagas mengungkap rahasia yang selama ini dia simpan rapat?
Dapatkah Bagas dan Selby bersatu.(Disarankan baca lebih dulu novel Benih Kakak Iparku.)
Baca kisah mereka hanya di Mangatoon/Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss ning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
“Apa yang kau ketahui tentang Selby?”
Bagas menatap lurus ke depan. Matanya melihat keindahan malam dari atas balkon kamar hotel milik Dalton.
Ia menghela nafas pelan lalu tersenyum.
“Aku tahu dia Victoria.”
Dalton langsung menoleh ke arah Bagas. Selama ini tidak ada yang tahu bahwa Victoria adalah Selby.
“Apa dia yang memberitahumu?”
Bagas menggeleng.
Victoria adalah nama desainer terkenal yang selama tiga tahun berturut-turut menang dalam perlombaan desain. Tidak ada yang tahu wajah asli Victoria sebab setiap mengikuti perlombaan wanita itu selalu memakai topeng.
“Aku tahu karena ketidaksengajaan Dad.”
Dalton menawarkan rokok kepada Bagas. Pria itu mengambil sebatang. Lalu Dalton menyalakan rokok itu dengan koreknya.
“Lalu apalagi yang kau tahu tentang dia?”
Bagas mengisap rokok. Mengbuang asapnya ke atas.
“Dia putrimu tentu saja banyak keahlian yang ia miliki. Kau tentu tidak akan membiarkan dia ditindas oleh orang lain. Kau juga tidak akan membiarkan dia dalam bahaya. Aku selalu melihat Marco di sekitar Selby. Meski dia menyamar sebagai apapun aku tetap akan tahu jika itu menyangkut soal Selby.”
Tertawa
Dalton tertawa senang. Ia tidak mengira Bagas menyadari Marco di sekitar Selby.
Pria itu membuang nafas lega. Kini ia tenang. Putrinya telah menemukan pasangan yang cocok. Lelaki yang menyayanginya dengan tulus. Setulus ia mencintai kekasihnya dulu.
“Kau tahu kenapa dulu aku mengangkat Selby sebagai putriku?”
Bagas menggeleng. Pria itu juga penasaran bagaimana Selby bisa menjadi putri seorang mafia seperti Dalton.
“Karena dia mirip dengan mendiang kekasihku, Kuat dan mandiri. Memiliki keluarga tetapi serasa sendiri. Tidak pernah mengeluh dan yang paling penting tetap menjadi pribadi yang baik.”
Dalton menghisap rokoknya. Membuang asapnya ke atas. Melihat langit yang penuh dengan bintang.
“Kau beruntung dapat hidup dengan orang yang kau cintai. Bahagiakan dia selagi ada. Jangan pernah menyakitinya. Jika kau sudah tidak mencintainya kau tahu harus kemana mengembalikan putriku. Jangan sampai aku membunuhmu jika kau membuat putriku sakit hati.”
“Kau tenang saja dad. Hal itu tidak akan pernah terjadi. Kau bisa menembakku langsung jika hal itu terjadi.”
Dalton menepuk bahu Bagas. “Aku pegang janjimu anak muda.”
***
Lima hari berlalu
Dua hari lagi Bagas dan Selby menikah tetapi mereka masih sibuk bekerja. Meski begitu persiapan pernikahan sudah selesai. Sudah 100 persen dalam waktu singkat.
Tidak perlu fitting gaun pengantin. Selby sendiri yang mendesain. Dan sudah selesai satu tahun lalu. Kebaya putih yang elegan dan cantik. Serta gaun malam yang mewah tapi tetap terlihat sederhana yang Ia simpan sendiri di galeri bajunya.
“Aku tahu Bagas mencintaimu.”
Selby tersenyum. Ia sedang video call dengan Rara yang sedang menjalani proses bayi tabung di Singapura bersama dengan Zean.
“Maaf sepertinya kami tidak bisa hadir di hari bahagiamu.”
Rara terlihat sedih. Ia sangat ingin hadir tetapi kondisinya tidak memungkinkan. Ia harus fokus pada dirinya jika usahanya ingin berhasil.
“Tidak apa. Jangan sedih. Fokuslah pada urusan kalian. Semoga berhasil dan berilah aku keponakan yang lucu-lucu.”
“Padahal nanti kau bisa membuatnya sendiri.”
Blush
Pipi Selby langsung bersemu merah. Ia mendadak malu. Rara tertawa senang saat melihat wajah Selby. Baru kali ini ia melihat wajah yang biasanya tenang dan datar bisa malu juga ternyata.
“Sayang, ayo pergi. Dokter sudah menunggu kita.” Ucap Zean pada sang istri.
“Selby maaf ya aku harus mengakhiri obrolan kita.”
“Pergilah.”
Rara mengangguk lalu memutuskan sambungan video call.
Selby meletakkan ponsel miliknya di atas meja. Ia membayangkan ucapan Rara.
Memiliki anak.
Ia akan memiliki keluarga sendiri. Keluarga yang akan menginginkan dirinya. Keluarga yang akan mencintainya dengan tulus.
Tes
Tanpa terasa air mata Selby jatuh membasahi pipinya. Bersamaan dengan itu Bagas masuk ke ruangan Selby. Dengan cepat gadis itu menyeka air matanya. Terlambat Bagas sudah melihat Selby menangis.
Pria itu langsung menghampiri Selby. Menatap dalam wajah Selby. Lalu memegang bahu Selby dengan lembut.
“Kau kenapa By?”
Selby menggeleng. “Aku baik-baik saja.”
“Apa kau begitu tidak percaya padaku?”
Selby menatap wajah Bagas yang sedih. Ia tidak bermaksud begitu. Ia hanya tidak ingin membuat Bagas khawatir.
“Bukan begitu.”
“Kau tahu, aku ingin menjadi sandaran bagimu setiap waktu. Aku ingin orang pertama yang tahu jika kau sedih atau senang. Aku ingin kau tidak menyembunyikan apapun dariku. Kita sebentar lagi menikah. Tidak bisakah kau berbagi semua hal bersama ku?”
Selby memejamkan mata lalu membuang nafas dengan pelan.
“Aku hanya membayangkan akan memiliki keluarga yang bahagia. Bersamamu dan bersama anak-anak kita. Aku ingin anak-anak kita nanti mendapat kasih sayang yang utuh. Tidak sepertiku yang…”
“Stststsss.”
Jari telunjuk Bagas ia tempelkan di bibir Selby. Ia tidak ingin mendengar lanjutan ucapan Selby yang membahas tentang kesedihannya di masa lalu.
Pria itu memeluk Selby. Ia tidak akan membiarkan keluarganya nanti kekurangan kasih sayang. Ia akan berusaha membahagiakan Selby. Dan atau tanpa anak sekalipun.
“Aku mencintaimu. Aku pasti akan membahagiakanmu dan anak-anak kita nanti.”
“Terima kasih Bagas.”
**
Arrrgghhh
Lili mengamuk.
Wanita itu marah. Sangat marah mengetahui Bagas akan menikah dengan Selby.
Tidak bisa.
Tidak boleh.
Bagas miliknya. Tidak ada wanita lain yang boleh memiliki Bagas selain dirinya.
Prang
Pyar
Lili membanting, melempar barang-barang yang ada di kamarnya. Melampiaskan segala amarah yang ada di dalam dirinya. Kamar yang tadinya rapi sudah berantakan. Banyak pecahan beling yang tercecer di lantai.
Wanita itu memandangi pecahan kaca. Terlintas sebuah ide gila yang ada di dalam otaknya. Ia akan menggagalkan pernikahan Bagas. Ia akan menghancurkan acara itu. Ia tidak peduli apapun caranya. Ia akan membuat acara itu gagal.
Tidak peduli Toni yang memintanya untuk mengalah. Ia tetap menginginkan Bagas. Pria itu lelaki idamannya. Pengisi hatinya selama ini. Bagaimana mungkin ia membiarkan Bagas menikah dengan wanita lain.
Tidak akan.
Dan tidak akan pernah.
Jangan mimpi.
“Selby sialan.”
“Dasar Perempuan jalang. Berani-beraninya merebut Bagas dariku.”
“Toni sialan. Sudah menjualku lalu memintaku melupakan Bagas. Dasar pria tua brengsek.”
Lili gelap mata. Jika Toni menghalanginya ia pun akan menyingkirkan pria tua brengsek yang tidak tahu diri itu.
Tertawa
Lili tertawa.” Hahaha.”
Beberapa detik kemudian dia menangis. Memeluk lututnya. Duduk di lantai. Meratapi nasibnya yang hina. Ia marah.
“Kenapa?”
“Kenapa kau membuat takdirku seperti ini?” ucap Lili menatap langit-langit kamar.
Ia marah kepada Tuhan. Kenapa Tuhan memberinya takdir seperti ini? Kenapa ia tidak bisa hidup bahagia seperti orang lain? Kenapa Tuhan tidak memberinya takdir seperti Selby? Dicintai oleh orang yang mencintainya.
“Aku benci kau Tuhan. Aku tidak punya kau. Kau membuat nasibku buruk. Kau menghancurkan hidupku.”
Lili kembali tertawa sendiri. “Hahaha.”
Lalu menangis lagi. Pikiran wanita itu sudah kacau. Ditambah hatinya yang hancur. Membuat emosinya tidak stabil. Ia tidak tahu kenapa menjadi sangat pemarah dan sensitive akhir-akhir ini. Wanita itu pun bingung dengan keadaan dirinya sendiri. Tapi satu yang pasti ia menginginkan Bagas.
Hanya Bagas.
wah dalton akhirnya muncul ayo bikin bsyu menyesal dan malu
duh kemana si dalton ko GK muncul