Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Dian terbangun pukul sembilan pagi. Setelah membersihkan diri dan sarapan sederhana bersama Naya, ia kembali masuk ke kamar. Hari ini ia memilih berhenti sejenak dari rutinitas rumah yang melelahkan. Ia ingin menikmati waktunya—tanpa terburu-buru, tanpa suara omelan.
Sambil rebahan menemani Naya bermain, Dian mengunggah story singkat agar para pelanggan tahu stok dagangannya sudah ready. Tak lama, ponselnya dipenuhi balasan dan pertanyaan. Ia menjawab satu per satu dengan tenang.
Di tengah kesibukan membalas pesan, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama ibu terpampang di layar. Dian segera mengangkat.
“Assalamualaikum, nak. Uangnya sudah ibu transfer ya,” suara Bu Eni terdengar hangat dari seberang.
“Waalaikumsalam, Bu. Baik… terima kasih banyak ya, Bu,” jawab Dian pelan, matanya berkaca-kaca.
Telepon ditutup. Dian memandangi layar ponselnya sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam. Ada rasa lega yang perlahan mengalir di dadanya—bukan karena jumlah uangnya, tapi karena ia tahu masih ada tempat bersandar, masih ada yang benar-benar memikirkannya.
Ia menoleh ke arah Naya yang sedang tertawa kecil di atas kasur. Dian tersenyum tipis.
“Pelan-pelan ya, Nak,” bisiknya dalam hati. “Ibu lagi belajar kuat.”
Sejak pagi hingga menjelang siang, kurir datang silih berganti ke rumah Dian. Suara motor berhenti di depan pagar terdengar berulang kali, disusul panggilan singkat dari luar. Dian keluar–masuk rumah dengan cekatan, menyerahkan satu per satu pesanan yang sudah ia siapkan sejak malam.
Di sela-sela kesibukan itu, Naya duduk manis di ruang tengah, kadang ikut mengintip dari balik pintu sambil melambai polos pada para kurir. Dian sesekali tersenyum melihat tingkah putrinya, lelahnya sedikit terbayar.
Tangannya memang pegal, punggungnya terasa nyeri, namun hatinya terasa hangat. Setiap pesanan yang keluar adalah bukti bahwa usahanya tidak sia-sia, bahwa ia masih mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Saat kurir terakhir pamit dan halaman rumah kembali sepi, Dian menutup pagar perlahan. Ia menarik napas panjang, lalu menatap rumah yang kini terasa lebih tenang.
“Alhamdulillah,” gumamnya lirih, sambil melangkah masuk menghampiri Naya.
Saat makan siang, Dian menyantap ikan lele bersama Naya. Ikan goreng sederhana itu ia sajikan hangat di meja makan. Naya makan dengan lahap, tangannya sesekali meraih nasi sambil tersenyum riang.
Dian memperhatikan putrinya dengan perasaan campur aduk—lelah, haru, sekaligus bahagia. Melihat Naya makan dengan nikmat, hatinya terasa tenang. Sesederhana apa pun hidangan hari ini, baginya sudah lebih dari cukup selama Naya sehat dan ceria.
Setelah makan siang selesai, Naya masuk ke kamar untuk bermain. Dian berjongkok di hadapan putrinya, mengusap kepala kecil itu dengan lembut.
“Naya, ibu bersihin kamar mandi dulu ya. Jangan ke mana-mana,” pesan Dian pelan.
“Iya, Ibu,” jawab Naya patuh, lalu kembali sibuk dengan mainannya.
Dian melangkah ke kamar mandi dengan hati sedikit lebih tenang. Meski lelah belum sepenuhnya hilang, ia tetap berusaha menuntaskan pekerjaan rumah satu per satu, memastikan semuanya rapi sebelum kembali menemani Naya.
Malam pun tiba. Ponsel Dian tiba-tiba berdering, nama Andi tertera di layar. Ada rasa kesal yang masih mengendap di dada, namun ia tetap mengangkatnya. Tanpa banyak bicara, Dian mengarahkan ponsel itu ke arah Naya yang sedang duduk di sampingnya.
Dari seberang terdengar suara Andi, sedikit ragu namun berusaha hangat.
“Naya… ini ayah.”
Naya menoleh perlahan. Matanya menatap layar ponsel itu beberapa detik, namun tak ada senyum, tak ada sapaan. Gadis kecil itu hanya terdiam, seolah sedang mencari-cari sosok yang seharusnya ia kenal.
Hati Dian terasa perih. Bukan karena marah, melainkan karena takut—takut jika jarak dan waktu benar-benar mulai menghapus kehadiran seorang ayah dari ingatan anaknya.
Tiba-tiba suara Andi berubah tinggi, nadanya penuh emosi.
“Kamu bilang apa sama Naya, Dian? Kok dia jadi begitu sama aku! Kamu itu jadi ibu kok jahat!”
Dian terdiam. Dadanya terasa sesak. Belum sempat ia menjawab atau membela diri, suara tut terdengar dari ponsel—Andi sudah lebih dulu mematikan sambungan.
Dian menatap layar yang kini gelap, lalu menghela napas panjang. Ia menunduk, memeluk Naya yang masih diam di pangkuannya.
“Enggak apa-apa, nak…” bisiknya lirih, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri.
Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh perlahan. Bukan karena dimarahi, melainkan karena lelah—lelah harus selalu menjadi pihak yang disalahkan, lelah menghadapi jarak, dan lelah menjelaskan sesuatu yang seharusnya tak perlu dijelaskan: bahwa cinta seorang ayah tak bisa digantikan oleh alasan sibuk atau waktu yang jarang.
Hari ini adalah hari pernikahan Arif dan Nuri—hari yang sejak lama dinantikan Bu Minah.
Sejak pagi, rumah mempelai wanita sudah dipenuhi kesibukan. Bu Minah dan Tasya tampil rapi dan anggun, wajah mereka berseri oleh rasa bangga.
Pukul tujuh pagi, akad nikah pun dilangsungkan. Suasana khidmat menyelimuti ruangan saat ijab kabul terucap dengan lancar. Setelah itu, rangkaian acara berlanjut ke resepsi yang akan dihadiri para kolega Arif dan Nuri.
Sejak tadi, Tasya tampak menggandeng tangan Andi. Sesekali mereka berbincang pelan, tersenyum, seolah benar-benar menikmati momen itu. Bu Minah memandang mereka dengan mata berbinar—bahagia yang tak ia sembunyikan, seakan semua harapannya hari ini terpenuhi.
Acara pun dilanjutkan di salah satu hotel yang telah dibooking. Ballroom tampak megah, dekorasi serba putih dan emas menyambut para tamu yang mulai berdatangan. Seluruh keluarga besar Arif dan Nuri hadir—lengkap, ramai, penuh tawa—kecuali dua nama yang seharusnya ada di sana: Dian dan Naya.
Arif dan Nuri masuk ke ruang rias untuk berganti busana resepsi. Musik lembut mengalun, para tamu saling bersalaman, berfoto, dan menikmati hidangan pembuka.
Di tengah keramaian itu, Andi dan Tasya tampak berjalan berdampingan. Tasya sesekali merapikan jas Andi, tertawa kecil, lalu berdiri sangat dekat seolah tak ada jarak di antara mereka. Bu Minah berdiri tak jauh dari sana, wajahnya sumringah, sibuk memperkenalkan Arif kepada kerabat dan kolega seakan ia benar-benar kebanggaannya hari itu.
Namun tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan.
Tatapan itu tajam, penuh selidik.
Orang itu berdiri agak menyamping, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Tangannya terangkat perlahan—klik.
Satu foto.
Lalu video singkat saat Tasya menggandeng lengan Andi, tertawa lepas.
Klik.
Klik.
Semua terekam jelas.
Wajah Andi, kedekatannya dengan Tasya, ekspresi Bu Minah yang terlihat begitu bahagia. Orang itu menyimpan ponselnya kembali, menarik napas pelan, lalu tersenyum tipis—senyum yang bukan pertanda baik.
Sementara di tempat lain, jauh dari gemerlap hotel dan tawa para tamu, Dian tengah menidurkan Naya di rumah. Ia sama sekali tak tahu, bahwa hari ini bukan hanya pernikahan yang berlangsung…
melainkan juga awal dari sebuah kebenaran yang perlahan akan terungkap.