NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Menghilangkan jejak

Rencana untuk memusnahkan sisa-sisa kehancurannya menjadi satu-satunya fokus utama yang tersisa di dalam benak Anindira yang sedang kalut. Ia segera mengambil sebuah korek api gas yang tersimpan di dalam laci meja riasnya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Anindira berjalan menuju arah perapian kecil yang terletak di sudut kamarnya sambil membawa gaun sutra yang sudah tidak berbentuk lagi.

Kain mewah itu kini nampak seperti onggokan sampah yang membawa memori paling kelam dalam hidupnya sebagai seorang wanita. Ia melemparkan gaun itu ke dalam perapian lalu menyalakan api hingga percikan jingga mulai melahap serat kain tersebut. Bau hangus segera memenuhi seisi ruangan yang sunyi dan membuat dadanya terasa semakin sesak akibat asap tipis yang mulai mengepul.

"Hancurlah kalian semua beserta rahasia busuk ini," bisik Anindira dengan tatapan mata yang kosong dan tanpa emosi.

Pintu kamarnya tiba-tiba didobrak dari arah luar hingga menimbulkan dentuman keras yang menggetarkan dinding kayu yang kokoh. Anindira tersentak dan mencoba menutupi perapian dengan tubuhnya yang gemetar akibat rasa takut yang luar biasa. Ia melihat sosok ayahnya berdiri di ambang pintu dengan wajah yang merah padam dan mata yang seolah ingin meledak.

"Apa yang sedang kamu bakar di dalam sana, Anindira?" tanya ayahnya dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman yang mematikan.

Anindira tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun karena lidahnya terasa sangat kelu dan kerongkongannya mendadak menjadi sangat kering. Ia hanya bisa menundukkan kepala sambil meremas ujung kemeja tidurnya dengan sangat kuat hingga jemarinya memutih. Ayahnya melangkah mendekat dengan sepatu kulit yang menimbulkan suara ketukan sangat nyaring di atas lantai ubin yang dingin.

"Jawab pertanyaan ayah sekarang juga sebelum kesabaranku benar-benar habis!" teriak ayahnya sambil mencengkeram bahu Anindira dengan sangat kasar.

"Aku hanya membakar beberapa kertas lama yang sudah tidak terpakai lagi, Ayah," jawab Anindira dengan suara yang nyaris hilang tertelan rasa takut.

Ayahnya tidak mempercayai perkataan itu begitu saja dan segera mendorong tubuh Anindira hingga ia jatuh terduduk di atas lantai. Pria itu menggunakan besi penjepit bara untuk mengais sisa kain yang belum sepenuhnya hangus terbakar oleh api. Matanya yang tajam menangkap sisa label hotel mewah yang masih bisa terbaca dengan jelas di antara abu yang berterbangan.

"Kertas lama tidak memiliki label hotel mahal seperti ini di permukaannya!" bentak ayahnya sambil melemparkan sisa kain itu ke arah wajah Anindira.

Anindira hanya bisa terisak tanpa suara sambil memeluk lututnya sendiri di tengah kekacauan yang terjadi di dalam kamarnya. Ia merasa seluruh pertahanannya runtuh seketika saat ayahnya mulai menggeledah setiap sudut ruangan dengan sangat beringas. Semua barang miliknya dilemparkan ke lantai hingga suasana kamar menjadi sangat berantakan seperti baru saja dihantam badai besar.

"Di mana kamu menyembunyikan pria yang sudah berani menyentuh putriku dengan cara yang sangat menjijikkan ini?" tanya ayahnya dengan napas yang memburu liar.

"Tidak ada siapa-siapa, Ayah, aku bersumpah aku melakukan semuanya sendirian tanpa melibatkan orang lain," rintih Anindira sambil memohon ampunan.

Ayahnya tertawa dengan nada yang sangat sinis seolah sedang mendengar sebuah lelucon yang paling buruk di dunia. Ia menjambak rambut Anindira hingga kepala wanita itu mendongak dan terpaksa menatap mata ayahnya yang penuh dengan rasa benci. Anindira merintih kesakitan namun ia tidak berani memberikan perlawanan apa pun kepada pria yang sangat ia segani itu.

"Kamu telah mencoreng nama baik keluarga Aditama yang sudah aku bangun dengan susah payah selama berpuluh-puluh tahun!" maki ayahnya dengan suara yang menggelegar di seluruh penjuru rumah mewah itu.

Sarah muncul di balik pintu dengan wajah yang pura-pura terkejut namun bibirnya membentuk garis senyum kemenangan yang sangat tipis. Ia menikmati setiap detik penderitaan yang dialami oleh saudara tirinya yang selama ini selalu menjadi kesayangan sang ayah. Kehadirannya di sana seolah menjadi bumbu pelengkap bagi penderitaan Anindira yang sudah berada di titik nadir.

"Mungkin kita harus memeriksanya ke dokter agar semuanya menjadi lebih jelas dan pasti, Ayah," saran Sarah dengan nada suara yang terdengar sangat peduli.

Anindira membelalakkan matanya saat mendengar usul keji yang keluar dari mulut saudara tirinya yang sangat manipulatif itu. Ia tahu bahwa jika ia dibawa ke dokter maka rahasia tentang benih yang tumbuh di rahimnya akan terbongkar secara otomatis. Rasa mual kembali menyerang perutnya dengan sangat hebat hingga ia harus menahan napas agar tidak memuntahkan isi perutnya saat itu juga.

"Siapkan mobil sekarang juga karena kita akan memastikan apakah dia masih suci atau sudah menjadi sampah yang tidak berguna!" perintah ayahnya kepada pelayan rumah dengan sangat tegas.

Anindira merasa jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendengar keputusan final yang dijatuhkan oleh ayahnya tanpa mau mendengar penjelasannya. Ia mencoba merangkak dan memegang kaki ayahnya untuk memohon agar rencana pemeriksaan itu dibatalkan dengan segera. Namun ayahnya justru menendang tangan Anindira dan pergi meninggalkan kamar dengan langkah kaki yang sangat berat dan penuh amarah.

Ia kini hanya bisa bersimpuh di atas lantai yang dingin sambil menatap sisa abu gaunnya yang sudah tidak lagi memiliki bentuk. Harapan untuk menghilangkan jejak malam itu musnah seketika dan berganti menjadi ketakutan yang sangat nyata di depan mata. Rasa mual yang semakin menjadi-jadi di dalam perutnya seolah memberi tahu bahwa kebenaran yang pahit tidak akan bisa lagi disembunyikan.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!