Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.
Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.
Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Aku melihat sisi lainmu..
Di kamar rawat yang sunyi itu, pagi merambat pelan melalui celah tirai. Jingga duduk di sisi ranjang,kepalanya menuntuk tepat di sisi lengan Arjuna.Masih terlelap karena baru saja tidur saat menjelang subuh tadi.
Wajah Arjuna pun tampak masih sedikit pucat, namun napasnya kini lebih teratur. Alat di tubuhnya pun satu persatu mulai di lepas.Hanya tinggal sebuah infusan di tangan kiri dan selang oksigen saja yang terpasang.
Arjuna perlahan membuka matanya,mencoba menyesuaikan netranya saat cahaya masuk melalu celah kaca seakan menyambut kembali dirina setelah hampir satu dua hari menutup mata.
Butuh beberapa detik hingga ia bisa merasa nyaman.Ia mencoba menggerakan tangannya namun terasa berat,perlahan matanya melihat ke samping.
Seorang gadis nampak tertidur sambil duduk.Wajah polos tanpa make up terlihat begitu cantik,bulu mata lentik serta bibir yang tipis membuat jantung Arjuna berdesir.
JINGGA
Gadisnya,ternyata sungguh nyata.Ia ada di sini..
Di sisinya...
Arjuna mengusap kepala Jingga dengan lembut, seakan takut sentuhan sekecil apa pun bisa mengganggu tidurnya.
“Sayang,” bisiknya.
Jingga merasa terusik kemudian membuka mata perlahan, sorotnya masih lelah, namun senyum tipis itu cukup membuat Arjuna semakin berdesir hebat.
“Kamu di sini,” ucap Arjuna lirih.
“Aku di sini,” jawab Jingga cepat.Jingga langsung menegakkan punggungnya kemudian Ia meraih segelas air hangat, membantu Arjuna minum seteguk demi seteguk. Gerakannya telaten, sabar,seolah tak ingin menyakiti Arjuna.
Setelah itu Jingga membenarkan ranjang yang di tempati Arjuna agar dirinya bisa bersandar dengan nyaman.Jingga menyusun bantal dan membantu Arjuna dengan hati-hati kemudian Jingga membetulkan selimut yang tersingkap.
"Sudah nyaman?" Tanya Jingga kemudian
Arjuna mengangguk sambil terseyum.
"Apa masih sakit?" Tanya Jingga saat melihat luka di tubuh Arjuna serta kakinya.
"Sedikit." Ucapnya pelan "Tapi sudah lebih baik karena kamu disini."
Jingga tersenyum,hatinya terasa menghangat.Keputusannya untuk datang ke kota ternyata sudah tepat.
"Kamu kelihatan lelah,Jingga." Kata Arjuna,tangannya perlahan mengusap pipi Jingga yang terlihat sedikit tirus.
"Aku gak apa-apa ka,kamu tidak usah khawatir." Jawabnya kemudian memegang tangan Arjuna yang berada di pipinya. "Cepat lah sembuh,ini bukanlah dirimu yang selama ini."
Kedua pasang mata itu saling menatap dalam,tak ada kata tak ada kalimat.Hanya sebuah sorot mata yang seolah menyiratkan perasaan yang begitu menggebu terbalut sebuah kekhawatiran.
Jingga kemudian menyiapkan bubur yang masih hangat agar bisa memastikan obat diminum tepat waktu.Dengan telaten ia menyuapi Arjuna hingga bubur habis kemudian memberikannya obat .
Di sela-sela itu, Jingga bercerita tentang hal-hal kecil tentang pertemuan pertamanya dengan Ibu Nadira dan Nayya, tentang makan bersama kemarin, tentang rencana sederhana yang kelak mereka jalani setelah Arjuna sembuh. Cerita-cerita itu seperti obat tambahan, menghangatkan suasana yang dingin.
Arjuna memperhatikan Jingga dalam diam. Ada kekuatan yang tumbuh dari perhatian sederhana itu. Setiap kali Jingga tersenyum, rasa sakitnya seolah berkurang.
“Maaf merepotkan,” katanya pelan.
Jingga menggeleng. “Merawatmu bukan merepotkan. Ini… bagian dari kita.”
"Tapi kamu pasti lelah."
"Tidak ada kata lelah untuk orang yang kita cintai."
Sederhana tapi mampu membuat Arjuna merasa menjadi pria yang paling beruntung karena di cinta seorang Jingga,gadis kuat dan mandiri.
Malam datang.Lampu sudah di redupkan dan Jingga masih bertahan di kursi kecil, kepalanya bersandar di tepi ranjang. Arjuna meraih jemarinya, menggenggam dengan sisa tenaga. Jingga menoleh, mata mereka bertemu tanpa kata, tanpa janji berlebihan. Hanya keyakinan bahwa mereka saling ada.
“Tidurlah,” kata Jingga lembut. “Aku jaga.”
Arjuna tersenyum, lalu memejamkan mata. Genggaman itu tak dilepas, seolah takut kehilangan. Jingga tetap di sana, menghitung napas Arjuna, memastikan setiap detik berlalu dengan tenang.
Keesokannya Arjuna mulai membaik.Langkahnya masih pelan, namun senyumnya kini lebih sering muncul. Jingga membantunya duduk, menyuapi dengan canda kecil yang membuat mereka tertawa pelan. Tawa itu sederhana, namun mengisi ruang yang sebelumnya dipenuhi kekhawatiran.
Di antara hari-hari perawatan,keromantisan mereka tumbuh tanpa perlu kata-kata besar. Ia hadir dalam secangkir teh hangat, dalam selimut yang dirapikan, dalam genggaman tangan yang tak pernah lepas. Cinta mereka bukan tentang gemuruh, melainkan tentang kesetiaan untuk menjaga, dan percaya bahwa bersama, luka akan sembuh.
Kejadian ini membuat Jingga sadar bahwa bersama cinta mereka belajar menjadi dewasa, sabar, dan kuat.
Namu sejak kondisi Arjuna berangsur membaik, ada satu hal yang berubah yaitu ia menjadi jauh lebih manja pada Jingga. Jika sebelumnya Arjuna dikenal tegar dan jarang mengeluh, kini ia justru sering mencari perhatian kecil dari perempuan yang setia merawatnya itu.
Saat Jingga hendak berdiri mengambil air minum, tangan Arjuna langsung menahannya. “Mau kemana?,” ucapnya pelan, nada suaranya hampir seperti anak kecil yang takut ditinggal.
Jingga menoleh, lalu tersenyum geli. “Aku cuma ambil air,” katanya lembut. Namun tetap saja ia duduk kembali, menepuk tangan Arjuna dengan sabar.
"Sudah waktunya makan siang,Ka." Ucap Jingga.Kemudian ia menyiapkan makan untuk Arjuna.
Jingga menyimpan nampan yang berisi makanan di depan Arjuna,Namun Arjuna hanya diam saja.
"Kenapa?" tanya Jingga
"Tangan aku masih pegal,sayang." Ucap Arjuna dengan wajah memelas. "Suapin aja,ya!." Pintanya. padahal dokter sudah mengatakan kondisinya jauh membaik.
Jingga sempat mengernyit, tapi akhirnya menurut. Ia menyuapi Arjuna dengan penuh kesabaran, “Kalau sudah sembuh nanti,jangan lupa ya, kamu yang gantian manja ke aku.” Ucap Jingga penuh sindiran.
Arjuna terkekeh pelan. “Aku janji.”
"Geli banget liat kaka kaya gini,biasanya kuat " Ucap Jingga sambil terkekeh.
"Sayang.." protes Arjuna semakin membuat Jingga tertawa.
Namun Arjuna semakin terang-terangan bersikap manja pada Jingga. Ia meminta Jingga duduk lebih dekat, bahkan meletakkan kepalanya di bahu Jingga. “Kalau begini, rasanya sakitnya cepat hilang,” katanya jujur.
Jingga terdiam sejenak, lalu mengusap rambut Arjuna perlahan. Sentuhan itu bukan sekadar menenangkan tubuh, tapi juga hati.
“Jangan kemana-mana,Kamu temani aku sampai tidur,” pintanya lirih. Jingga mengangguk tanpa ragu.
"Apa kaka seperti ini setiap kali sakit?"
"Maksudnya?".
"Manja."
"Tidak.Baru kali ini dan itupun sama kamu aja."
"Oh,ya." Ucap Jingga tak percaya.
"Serius.Aku gak pernah manja..Kalaupun sakit aku paling hanya istirahat sebentar setelah itu kembali kerja."
Jingga mengangguk,ia memang tau Arjuna laki-laki pekerja keras.
Dan dalam kondisi lemah sekarang, Arjuna tak malu menunjukkan sisi rapuhnya. Ia manja, bergantung, dan jujur pada perasaannya. Dan Jingga menerimanya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh, tanpa merasa terbebani.
Di antara rasa sakit dan proses penyembuhan, Arjuna belajar bahwa bersandar bukan tanda kelemahan. Bersama Jingga, ia tahu bahwa cinta juga berarti berani menjadi manja, karena ada seseorang yang siap menjaga dan tak pernah pergi.
Dan saat kondisi Arjuna terus membaik, satu perasaan justru semakin kuat di dalam dirinya,ia tak ingin jauh dari Jingga, sedetik pun. Keberadaan Jingga kini menjadi penopang yang membuatnya merasa aman, lebih dari obat apa pun yang diminumnya.
Setiap kali Jingga berdiri hendak keluar kamar entah untuk menemui perawat atau sekadar menghirup udara sebentar mata Arjuna langsung mengikuti. “Kamu ke mana?” tanyanya cepat, ada nada cemas yang tak ia sembunyikan. Jingga hanya tersenyum, mengangkat bahu ringan. “Sebentar saja.” Namun Arjuna tetap meraih ujung jemarinya, seolah meminta jaminan bahwa Jingga akan kembali.
Atau Saat Jingga duduk di kursi yang agak jauh, Arjuna menggeser tubuhnya, menepuk sisi ranjang. “Di sini,” pintanya pelan. Jingga menurut, duduk lebih dekat. Arjuna pun menghela napas lega, wajahnya tampak lebih tenang. Jarak kecil itu ternyata berarti besar baginya.
Bahkan ketika Jingga sibuk membaca atau menulis pesan di ponselnya, Arjuna tetap mencari cara untuk memastikan ia ada. Terkadang hanya dengan menyentuh punggung tangan Jingga, terkadang dengan memanggil namanya tanpa alasan jelas. “Aku cuma mau dengar suaramu,” katanya jujur, membuat Jingga tersenyum hangat.
Dan malam hari menjadi waktu paling sulit bagi Arjuna. Rasa sepi datang lebih cepat saat lampu diredupkan. Ia meminta Jingga tetap di sisinya, tak perlu bicara, cukup duduk dan menemani. Jingga mengangguk, menggenggam tangannya, memberi kehangatan yang membuat Arjuna merasa tak sendirian.
“Aku jadi takut kalau kamu nggak ada,” ucap Arjuna suaranya terdengar lirih.
Jingga menoleh, menatapnya dengan penuh pengertian. “Aku di sini. Selama kamu butuh, aku nggak ke mana-mana.”
Kata-kata itu menenangkan hati Arjuna. Ia tersenyum kecil, lalu memejamkan mata dengan perasaan lega. Dalam kelemahan dan pemulihan itu, Arjuna menyadari bahwa Jingga bukan hanya orang yang merawatnya, tetapi tempat ia ingin selalu dekat,tanpa jarak, tanpa keraguan.
...🍀🍀🍀...
...🍃Langit Jingga Setelah Hujan🍃...
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
semangat
Arjuna.. Jingga