“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
“Astaghfirullah!” suara Arman semakin khawatir, “Terus sekarang kamu di mana? Kamu gapapa kan? Kamu—”
“Kayla gapapa, Om,” potong Kayla cepat, menahan isaknya. “Tapi Kayla nggak tahu sekarang di mana.”
“Ya sudah, share lokasi sekarang. Om ke sana.”
Kayla menoleh ke arah Fatimah, lalu menggeleng kecil. “Om, nggak usah deh kayaknya. Besok Kayla pulang sendiri aja. Ini udah malam, Kayla nggak enak.”
“Kamu sekarang di mana, Kay?”
“Kayla tadi ditolong orang, terus dibawa ke rumahnya.”
“Siapa?” suara Arman terdengar lebih tenang, tapi masih penuh waspada.
Kayla menatap Fatimah yang tersenyum teduh ke arahnya. “Namanya Fatimah, Om.”
Di seberang sana, Arman menghela napas lega. Setidaknya keponakannya bersama seorang perempuan.
“Om mau bicara sama dia,” ujar Arman tegas.
Kayla mengangguk, lalu menyerahkan ponselnya pada Fatimah. Fatimah menerimanya dengan dua tangan.
“Assalamualaikum,” ucap Fatimah lembut.
“Waalaikumsalam. Ini Fatimah ya?” tanya Arman.
“Iya, Om. Saya Fatimah. Sekarang Mbak Kayla ada di sini. Tadi dia pingsan, jadi kami bawa ke rumah.”
“Maaf ya sudah merepotkan,” ucap Arman tulus. “Dan terima kasih banyak sudah menolong keponakan saya.”
“Sama-sama, Om,” jawab Fatimah hangat. “Mbak Kayla aman di sini. InsyaAllah besok pagi bisa pulang dengan baik.”
Fatimah menutup panggilan, lalu mengembalikan ponsel itu pada Kayla.
“Om kamu baik banget,” katanya sambil tersenyum.
Kayla hanya mengangguk. Matanya kembali berkaca-kaca. Malam ini terlalu panjang untuknya, terlalu banyak ketakutan, terlalu banyak kejutan.
Namun di rumah asing yang hangat ini, untuk pertama kalinya sejak lama, Kayla merasa… tidak sendirian.
**
Pagi menjelang dengan pelan.
Sinar matahari menyelinap masuk melalui sela-sela jendela kamar Fatimah, menimpa wajah Kayla yang sejak semalam tertidur begitu lelap tidur paling nyenyak yang ia rasakan setelah sekian lama.
Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka. Kayla menatap langit-langit kamar yang asing. Butuh beberapa detik sampai kesadarannya benar-benar kembali.
“Astaga…” gumamnya pelan sambil bangkit duduk. “Aku lupa kalau lagi di rumah orang.”
Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia langsung berdiri, meraih tas kecil berisi ponsel dan dompet, memastikan semuanya masih lengkap. Setelah itu, tanpa banyak pikir, Kayla melangkah ke arah pintu kamar.
Cklek!
“Astaghfirullah!” gumam laki laki itu langsung mundur.
Laki-laki yang semalam menolongnya.
Masih dengan pakaian yang serupa: koko, sarung, dan peci. Hanya warnanya yang berbeda. Wajahnya terlihat lebih jelas di bawah cahaya pagi, tenang, bersih, dengan sorot mata yang teduh.
Namun begitu mata mereka hampir bertemu, laki-laki itu langsung menunduk. Sedikit memalingkan wajah ke samping, menjaga jarak pandang seolah Kayla adalah sesuatu yang tak pantas terlalu lama ditatap.
Kayla mengerjap, sedikit terkejut dengan reaksi itu.
“Kamu yang nolongin aku semalam, ya?” katanya akhirnya, mencoba terdengar santai. “Makasih…”
Ia mengulurkan tangan, refleks kebiasaan yang selalu ia lakukan. Namun laki-laki itu hanya mengangguk kecil dan tersenyum tipis. Tangannya tetap di sisi tubuhnya, tak bergerak menyambut jabatan tangan Kayla.
Kayla mendengus pelan, lalu menarik kembali tangannya.
“Oke…” gumamnya.
Ia mengalihkan pandangan sebentar, lalu bertanya, “Aku mau pulang. Fatimah di mana ya?”
“Di bawah,” jawab laki-laki itu singkat. Suaranya tenang. “Kamu tidak mandi dulu? Kamu bisa pakai baju Fatim.”
“Nggak usah,” Kayla menggeleng cepat. “Aku buru-buru. Eyangku pasti udah khawatir karena aku nggak pulang semalaman. Aku harus segera pulang.”
Laki-laki itu mengangguk lagi, tak memaksa. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung.
Kayla memperhatikannya. Sejak tadi, lelaki itu tak sekali pun menatap wajahnya secara utuh. Selalu menunduk, selalu menjaga jarak. Entah kenapa, hal itu sedikit… mengganggunya.
“Mukaku serem banget ya?” tanya Kayla tiba-tiba, nadanya setengah bercanda, setengah menantang. “Kenapa kamu nggak mau lihat aku? Aku di sini loh, bukan di sana.”
Laki-laki itu terdiam sejenak.
“Maaf,” ucapnya akhirnya, lirih namun sopan.
Kayla menghela napas berat. Ada sesuatu dalam sikapnya yang membuat Kayla merasa… asing. Bukan tersinggung, tapi seperti sedang berhadapan dengan dunia yang sama sekali berbeda dari dunianya.
“Ya udahlah,” katanya akhirnya, menyerah. “Aku pamit dulu. Sekali lagi, terima kasih.”
Ia melangkah pergi, menuruni tangga dengan langkah cepat. Sementara itu, laki-laki itu tetap berdiri di tempatnya. Menatap punggung Kayla yang menjauh bukan dengan mata, melainkan dengan hati yang tiba-tiba terasa terusik.
Di bawah, Fatimah sudah menunggu. Dan tanpa Kayla sadari, pertemuan singkat di pagi itu bukanlah akhir. Melainkan awal dari jalan panjang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Mbak Kayla!”
Suara Fatimah yang ceria membuat langkah Kayla terhenti di anak tangga terakhir. Gadis berhijab khimar itu tersenyum hangat.
“Kamu sudah bangun, Nak?” sambung Anisa dari arah ruang makan.
Kayla menoleh. Untuk sesaat, ia tertegun. Fatimah dan ibunya berdiri berdampingan dengan pakaian muslim panjang yang anggun.
Warna-warna lembut, potongan yang sederhana, dan raut wajah yang tenang. Sekilas, rumah ini terasa seperti dunia yang benar-benar berbeda dari kehidupan yang biasa Kayla jalani.
Tadi malam laki-laki itu, juga memakai koko dan sarung.
Kayla mengerjap pelan.
‘Apa ini sudah Lebaran? Kenapa semua orang pakai baju muslim?’ gumamnya dalam hati, nyaris geli sendiri dengan pikirannya.
“Gimana keadaan kamu, Nak?” tanya Anisa sambil mendekat dan menepuk pelan punggung Kayla. “Ayo duduk dulu. Sarapan dulu ya.”
“Maaf, Tante, aku—” Kayla refleks menggeleng, berniat menolak dengan halus.
“Mbak, panggil Umi aja,” sela Fatimah sambil terkekeh kecil. “Jangan Tante. Kedengaran aneh banget.”
Anisa ikut tersenyum lembut. “Iya, Nak. Panggil Umi saja.”
Kayla tersenyum kikuk. “Ah… iya, Umi. Maaf ya, Umi. Tapi sepertinya Kayla harus pulang sekarang. Eyang sama Om Arman pasti udah nyariin.”
Anisa menatapnya penuh perhatian. “Kamu hafal rumah kamu di mana?”
“Aku bisa pakai GPS, Umi,” jawab Kayla cepat. Ia mengangkat ponselnya sedikit. “Tadi sudah beli paket data.”
“Alhamdulillah,” ucap Anisa lega.
Fatimah dan Anisa kemudian mengantar Kayla sampai ke luar rumah. Begitu kaki Kayla melangkah melewati ambang pintu—
Deg.
Langkahnya terhenti. Kayla berdiri mematung, menatap sekeliling dengan mata membulat. Bangunan-bangunan sederhana berjajar rapi, suara mengaji terdengar samar dari kejauhan, beberapa santri berjalan berkelompok dengan pakaian sopan dan wajah segar.
Pondok pesantren.
Ia menelan ludah. Pantas saja semua orang berpakaian seperti itu.
‘Baju mereka begitu karena memang begitu, bukan karena lebaran!’ gumam Kayla dalam hati.
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj