NovelToon NovelToon
Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Status: tamat
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:58.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Selama ini Tania hidup dalam peran yang ia ciptakan sendiri: istri yang sempurna, pendamping yang setia, dan wanita yang selalu ada di belakang suaminya. Ia rela menepi dari sorot lampu demi kesuksesan Dika, mengubur mimpinya menjadi seorang desainer perhiasan terkenal, memilih hidup sederhana menemaninya dari nol hingga mencapai puncak kesuksesan.
Namun, kesuksesan Dika merenggut kesetiaannya. Dika memilih wanita lain dan menganggap Tania sebagai "relik" masa lalu. Dunia yang dibangun bersama selama lima tahun hancur dalam sekejap.
Dika meremehkan Tania, ia pikir Tania hanya tahu cara mencintai. Ia lupa bahwa wanita yang mampu membangun seorang pria dari nol, juga mampu membangun kembali dirinya sendiri menjadi lebih tangguh—dan lebih berbahaya.
Tania tidak menangis. Ia tidak marah. Sebaliknya, ia merencanakan pembalasan.

Ikuti kisah Tania yang kembali ke dunia lamanya, menggunakan kecerdasan dan bakat yang selama ini tersembunyi, untuk melancarkan "Balas Dendam yang Dingin."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Malam merayap sunyi di rumah mewah itu, waktu di mana keheningan menjadi latar suara bagi pengkhianatan. Di kamar utama, Tania dan Dika kembali memainkan sandiwara tidur mereka. Tania berpura-pura terlelap, sementara Dika gelisah, hasratnya membara oleh pesan menggoda dari Farah. Penyesalan sore tadi menguap begitu saja. Dika menunggu napas Tania teratur, lalu menyelinap keluar kamar.

Dika melangkah pelan menyusuri koridor. Keraguan yang sempat muncul sore tadi lenyap tak berbekas, tergantikan oleh hasrat yang membara. Farah mengiriminya pesan sesaat setelah Dika masuk ke kamarnya usai makan malam, pesan yang menggodanya habis-habisan.

Dika menyelinap masuk ke kamar Farah. Begitu pintu tertutup, Dika langsung memeluk Farah erat.

Farah, meskipun senang dengan kehadiran Dika, masih menunjukkan sikap kesalnya. "Mas, gimana sih. Aku kesel banget sama kamu seharian ini!"

"Mas gak balas pesan aku satu pun!"

"Maaf, Sayang," bisik Dika, "tadi kan ada Tania, aku nggak bisa gegabah."

"Alasan terus, aku bosan!"

Farah melepas pelukan Dika, menatapnya kesal.

"Aku cemburu, Mas! Kamu mesra-mesraan sama Tania di depan aku. Kamu sebenarnya cinta nggak sih sama aku? Sampai kapan kita harus main kucing-kucingan begini?"

"Aku cape tau gak, Mas. Aku pengen balik kaya dulu lagi, aku tertekan di sini, Mas."

Dika mulai membujuk Farah dengan kata-kata manis. "Cinta dong, Sayang. Tania itu cuma istri di atas kertas. Dia kan bodoh, wanita rumahan biasa, nggak ngerti apa-apa." Hinaan dan nada meremehkan Dika menguar jelas, setiap kata adalah kebohongan yang keji.

"Terus kenapa kamu takut ketahuan sama dia?" tanya Farah, menuntut jawaban.

"Kamu selalu bilang gitu, tapi aku lihatnya lain, aku lihat kamu seperti suami yang takut sama istri."

Dika menghela napas, bersiap menceritakan rahasia terbesarnya. "Begini, Sayang. Dulu sebelum menikah, Tania dan aku membuat perjanjian. Semua harta akan jadi milik satu pihak jika terjadi perselingkuhan dalam rumah tangga."

Farah membelalakkan mata. "Perjanjian bodoh! Bagaimana bisa kamu setuju sama perjanjian kayak gitu, Mas?"

"Karena itulah aku nggak bisa gegabah," balas Dika. "Itulah sebabnya aku bawa kamu masuk ke rumah ini dan mengaku kamu sebagai sepupuku. Cara ini yang paling aman dan minim risiko ketahuan Tania. Percaya aku, Sayang, sebentar lagi semua akan jadi milik kita."

Di kamar utama, Tania mendengarkan semuanya melalui earphone nirkabel nya. Kali ini, ia memilih mendengarkan saja percakapan mereka; rasanya menjijikkan sekali, tapi informasi itu terlalu berharga. Mendengar ucapan Dika soal perjanjian pra-nikah, Tania tersentak. Dia hampir lupa soal dokumen penting itu. Pikirannya langsung bekerja cepat, ketakutan sesaat merayapi nya—Dika pasti merencanakan sesuatu untuk menghilangkan dokumen itu.

Tania bangkit dari tempat tidurnya. Dengan gerakan cepat dan senyap, dia menuju brankas kecil yang tersembunyi di balik lukisan. Dia harus mengamankan surat perjanjian tersebut terlebih dahulu, mengantisipasi sebelum Dika sadar betapa cerdik istrinya. Tania membuka brankas, mengambil map berisi dokumen perjanjian itu, dan menyembunyikannya di tempat yang lebih aman.

"Kamu meremehkan aku, Mas," bisik Tania pada keheningan malam, seringai dingin terukir di bibirnya. "Tapi aku tidak akan sebodoh itu membiarkanmu menang."

.....

Pagi kembali menyapa, namun ketegangan semalam masih terasa, menggantung seperti kabut dingin di antara penghuni rumah. Tania sudah sibuk di dapur sejak subuh, menyiapkan sarapan. Aroma kopi yang menguar di udara tidak mampu menghangatkan suasana canggung di ruang makan. Piring-piring ditata rapi, setiap gerakan Tania penuh perhitungan, menyimpan dokumen perjanjian yang kini aman di tempat persembunyian barunya.

Tiba-tiba, Dika berlari kecil ke ruang makan, tampak terburu-buru. "Tania! Tolong pasangkan dasiku, aku sudah telat!" pintanya dengan suara sedikit keras, mengabaikan kehadiran Farah yang sudah duduk di ruang makan.

Farah, yang melihat itu sebagai kesempatan emas untuk unjuk gigi di depan Tania dan Dika, segera bangkit. Dengan gerakan cepat, ia ingin mengambil alih tugas itu, lupa dirinya di rumah itu berperan sebagai sepupu Dika, yang tidak mungkin seorang sepupu dengan lancang memasangkan dasi sepupunya di depan sang istri.

Namun, gerakan Tania lebih cepat. Saat berbalik membawa teko kopi, ia melangkah maju tepat saat Farah mendekat. Bukan tidak sengaja, Tania menyeringai tipis dalam hati, sebuah pembalasan kecil untuk rasa jijik semalam.

Farah tersenggol bahu Tania dan kehilangan keseimbangan. Brukk! Farah jatuh terduduk di lantai dengan suara yang cukup keras, membuat Ibu Dika yang baru masuk terperanjat. Air mata tipis muncul di matanya, menahan rasa sakit dan malu yang luar biasa.

Tania berpura-pura kaget. "Astaga, Far! Maaf, saya tidak lihat!" katanya, tanpa menghentikan gerakannya membantu Dika.

Tania fokus memasangkan dasi untuk Dika, dengan seringaian tipis tersembunyi di wajahnya yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

Di bawah lantai, Farah mengepalkan tangannya kuat, menatap Dika dengan pandangan penuh ancaman—seolah berkata, Awas kamu, Mas! Beraninya kamu diam saja!

Dika menangkap tatapan itu. Dia merasa serba salah, tapi tidak bisa bereaksi banyak di depan Tania. Dia memberi Farah tatapan menenangkan dan juga gerakan bibir seperti menciumnya dari jauh sebelum bergegas pergi, meninggalkan dua wanita itu di ruang makan yang tegang. Ibu Dika hanya menatap adegan itu dengan tatapan lelah, memilih diam.

Setelah Dika pergi, keheningan kembali melanda rumah. Farah bangkit dari lantai, berjalan cepat ke arah ruang keluarga, ia melampiaskan amarahnya. "Wanita itu pasti sengaja! Mas Dika bilang dia bodoh dan polos? Tidak mungkin!"

Farah menggerutu, melampiaskan kekesalannya.

"Tania itu licik. Setiap gerakannya penuh perhitungan. Bagaimana caranya aku menyadarkan Mas Dika soal itu, ya?" Farah merasa terasing, terjebak di rumah yang terasa seperti jebakan.

Di dapur, Tania tersenyum dingin mendengar monolog Farah melalui earphone-nya. 

"Oh, jadi kamu sudah mulai sadar? Bagus," Pikir Tania, pandangannya tajam. "Kamu mungkin cerdik dalam memanipulasi pria, tapi kamu tidak tahu medan pertempuran mu, Far."

"Setiap kata yang kamu ucapkan adalah amunisi bagiku. Kamu mencoba menyadarkan Mas Dika? Sia-sia. Mas Dika hanya akan melihat apa yang ingin dia lihat."

"Aku mengendalikan situasi ini sepenuhnya, dan aku akan menikmati setiap detiknya."

Tania mematikan aplikasi perekam di ponselnya, lalu menyembunyikannya di saku celemek nya.

Farah kini tahu Tania bukan wanita polos, tapi akankah dia menemukan cara untuk membuktikan itu pada Dika, sebelum Tania melancarkan serangan berikutnya yang sudah terencana?

Akankah Dika mempercayai Farah jika nanti Farah berhasil mendapatkan bukti tentang Tania bukanlah wanita yang bodoh dan wanita rumahan biasa, seperti yang selalu diucapkan Dika padanya?

Dan apa hal yang akan di lakukan Tania lagi?

Bersambung...

1
Rina Arie
good book
Eve_Lyn: kak...nanti baca juga novel aku yang baru yaa..smntra ak banyakin babnya..seru kak...cameo nya Hartadinata sekeluarga hehehe...
total 1 replies
Irene Rambing
Luar biasa naluri i ai
Eve_Lyn: terimakasih kak...udah baca sampe tamat...nanti baca novelku yang baru ya kak...lagi otw beberapa bab...seru ada cameonya Keluarga Hartadinata alias Tania,dll...hehehehe
total 1 replies
Irene Rambing
Begitulah klu orang tersakiti apalagi dia pinter.
Irene Rambing
maklum kalau pelakor memang seperti itu tingkah nya. urat malu sudah putus.
Irene Rambing
bagus banyak pembelajaran hidup.
Eve_Lyn: terimakasih kak...
total 1 replies
Eve_Lyn
luar biasa!
Arin
/Heart/
Osie
Google.. aku mampir..ku suka wanita tangguh yg gak menye menye..smart apalagi kalau dibarengi jago bela diri..beeuuh paket komplit banget dah
Eve_Lyn: terimakasih...nnti aku bikin novel kek gtu yaa kak hehehe...kalo si Tania mainnya di otak dia kak.hehehe
total 1 replies
cinta semu
jgn gegabah ...main cantik aja ...kuras harta Dika ,,kalo miskin mana ada pelakor nempel 😂😂
Arin
Orang-orang begini mana pernah puas. Sebelum ambisinya tercapai. Biarpun dengan cara licik sekalipun
Eve_Lyn: 2 bab lagi kak...jangan bosen yaa
total 1 replies
Hasanah
🤣🤣 di kra dengan mereka mnyerang Tania dengan foto itu awal dari kbahagian mereka tau2 x itu adlah awal khancuran
Eve_Lyn: terimakasih kakak...stay terus yaa kak hehehe...kita masih punya 40 bab k depan lagi...di pertengahan ada bab refresh di akhir akan ada konflik lagi...stay tune kak hehehehe
total 1 replies
Hasanah
🤣🤣🤣 Farah kmu slah lawan dia lupa bahwa Tania punya semua bukti x
Hasanah
🤣🤣🤣 di kira mereka udah mnang
Hasanah
🤣🤣 trnyta kmu sdar juga Farah klau Tania lbih maju dri kmu yg tidak ad ap2x
Hasanah
kpan si terungkanya
Hasanah
minimal punya malu kmu Farah jngan trllu ngelunjak
Hasanah
🤣🤣🤣 nikmati aj Farah
Arin
Aku kira Rei seperti dulu. Saat masih terus memantau Dika. Ternyata gampang juga terpengaruh hanya dengan kata-kata beracun dari Bianca. Tanpa cek dulu kebenarannya
Eve_Lyn: hihihihi...gak baik kalo trllu sempurna kak..wkwkwk
total 1 replies
Arin
Bawa kabur 800 juta itu banyak lo..... Kemana uangnya? Jadi apa? Gak berwujud. Malah jebak suami orang untuk menutupi utang-utang.....
Arin
Niatnya gertak Tania. Malah terkejut sendiri kan Farah??? 😄 Ternyata Tania punya hal yang kalau diungkap bisa jadi "BOOM" dan bisa merugikan dirimu nantinya. Persiapan saja dirimu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!