Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE DUA PULUH LIMA
Langkah kaki Bastian tampak tak seimbang, berkali-kali pria itu mencoba untuk berjalan dengan tegak. Tangannya terus meremat pelan lengan sebelahnya yang terluka.
"Sial! Seperti ini bukan sekedar luka biasa. Tulangku rasanya ingin patah". Umpat Bastian lirih. Rahangnya mengeras.
Begitu sampai diluar pintu gerbang kediaman Hartmann, Bastian melangkah pelan mendekati sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana.
Melihat kedatangan tuannya, Darian yang sedari tadi hanya menunggu didalam mobil bergegas keluar. Ia berlari cepat menghampiri Bastian dan dengan sigap merangkul pria itu.
"Tuan anda baik-baik saja?" ujar Darian khawatir saat melihat lengan Bastian kembali mengeluarkan darah. Perban yang semula berwarna putih bersih kini berubah menjadi merah samar.
"Segera hubungan dokter Carlos". Titah Bastian rendah, napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.
"Baik, Tuan." Darian segera mengangguk. Tangannya makin menguat menopang tubuh Bastian saat merasakan beban pria itu sedikit bertumpu padanya.
Begitu pintu mobil terbuka, Bastian masuk dengan gerakan terkendali, meski jelas setiap tarikan napasnya menahan nyeri. Ia menyandarkan punggungnya perlahan, kepala terangkat sedikit, berusaha tetap sadar penuh.
Darian cepat mengambil ponselnya, menekan nomor yang sudah sangat familiar.
"Segera kemansion, tuan terluka cukup serius," ucapnya singkat sebelum memutus sambungan.
Mobil mulai bergerak meninggalkan kediaman Hartmann.
Lampu rumah itu perlahan menjauh dari pandangan Bastian melalui kaca jendela. Untuk sesaat, sorot matanya melembut saat sekelebat wajah Siena muncul begitu saja di benaknya.
Alis tebal gadis itu yang berkerut khawatir, raut wajah kesal dan sifat keras kepala yang terus menahannya agar tidak pergi.
Rahang Bastian mengeras kembali ketika mengingat semua nya. Namun, ekspresi itu seketika langsung lenyap saat mengingat pelaku yang sudah membuatnya terluka seperti ini.
"Kau sudah cari tau Dar?" tanya Bastian tanpa menolehkan kepala menatap kearah Darian.
Darian mengangguk, "Sudah tuan".
"Katakan".
Satu kata itu mampu membuat Darian menelan ludahnya kasar. Ia tak langsung menjawab, tangannya meremat erat stir kemudi.
Bukan Darian takut ingin menjawab, namun jawaban yang akan ia lontarkan ini harus pikirkan dengan hati-hati sebab menyangkut keluarga daddy Harvey.
Melihat Darian tak kunjung bersuara membuat Bastian merasa geram. Ia melirik tajam kearah Darian dengan ekor mata nya.
"Apa kau sekarang menjadi bisu Dar?" Ucapnya dingin
"M-maaf tuan. Tapi, yang membuat kekacuan hari ini juga tak luput dari rencana Nyonya Delta".
Brakkk!!!
Kepalan tangan Bastian menghantam keras sisi pintu mobil hingga suara benturannya menggema di dalam kabin. Napasnya memburu, bukan karena luka, melainkan amarah yang tiba-tiba melonjak tajam.
Darian refleks menegakkan punggungnya, menggenggam setir lebih kuat.
Suasana di dalam mobil berubah mencekam dalam sekejap.
"Brengseekk!!!" Bastian mengumpat penuh amarah. Tatapannya mengeras, gelap seperti malam di luar jendela. Otot rahangnya menegang.
"Tuan, luka anda". Ujar Darian hati-hati
Namun, ucapannya tak digubris sama sekali oleh Bastian. Pria itu sudah bener-benar diselimuti amarah.
"Cari mati rupanya dia. Aku masih diam saat mereka mengacak-acak perusahaan ku, tapi kali ini tidak akan ku biarkan dia lolos!" desis Bastian geram
Darian yang mendengar itu hanya bisa diam tanpa berani berkomentar apapun. Jika dia diposisi Bastian, ia pasti akan merasakan kemarahan yang sama.
Bagaimana tidak. Delta — ibu angkat Bastian itu memang sejak dulu tidak menyukai tuannya. Bahkan saat wanita itu memprovokasi Harvey hingga Bastian diasingkan dari keluarga, pria itu masih memilih menahan diri.
Namun kali ini berbeda.
Delta tidak lagi bermain di balik layar. Ia membuat kekacauan langsung di perusahaan Bastian. Dengan memanfaatkan salah satu direksi keuangan, wanita itu mengatur penggelapan dana yang hampir membuat beberapa investor utama menarik investasi mereka.
Saat itu, Bastian masih bisa menahan diri.
Tapi kejadian hari ini menjadi batas akhirnya.
Dua pria yang menyerang Bastian siang tadi ternyata juga merupakan orang suruhan Delta. Dan yang paling tidak bisa ia terima adalah Delta menjadikan Siena sebagai titik kelemahan seorang Bastian.
Ini bukan lagi sekadar persaingan antar klan mafia.
Ini sudah menjadi perang dalam keluarga.
Hening memenuhi kabin mobil sesaat setelah kata-kata itu terucap.
Hanya suara mesin yang meraung halus di tengah jalan malam yang lengang.
Bastian menyandarkan kepalanya ke kursi, matanya terpejam sejenak. Namun bukan karena lemah — ia sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari rasa sakit di lengannya.
Amarah.
Perlahan, jemarinya bergerak membuka kancing jasnya yang ternoda darah. Ekspresinya kini berubah total. Tidak ada lagi pria tenang dan sopan seperti di hadapan Siena tadi.
Sorot matanya mengeras. Dingin. Tajam
"Dua orang yang menyerangku tadi?" tanyanya dengan suara yang terdengar rendah namun tegas
"Satu orang sudah saya amankan dimarkas tuan, dan satu lagi berhasil melarikan diri. Anak buah kita sedang melakukan pengejaran". Jawab Darian cepat
Bastian membuka kedua matanya, menatap lurus kedepan.
"Putar balik ke markas". Perintahnya pada Darian
"Tapi luka anda tuan?" Darian melirik sekilas kearah Bastian dari kaca spion.
"Apa kau pernah melihat ku lemah hanya karena luka sekecil ini Dar?" Geram Bastian
Darian yang mendengar itu menunduk kecil. "Maaf tuan". Segera ia memutar stir kemudi berbalik arah menuju markas.
"Kita selesaikan ini malam ini."
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah Siena, aura Bastian benar-benar berubah.
Pria yang tadi membiarkan dirinya dipapah dengan tenang kini kembali menjadi sosok yang ditakuti banyak orang. Pemimpin yang tidak memberi kesempatan kedua pada siapa pun yang menyentuh miliknya.
Dan malam itu, seseorang akan membayar mahal atas kesalahan besar yang telah dibuatnya.
.
.
.
Bersambung....
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut