Alya, gadis sederhana dan salehah yang dijodohkan dengan Arga, lelaki kaya raya, arogan, dan tak mengenal Tuhan.
Pernikahan mereka bukan karena cinta, tapi karena perjanjian bisnis dua keluarga besar.
Bagi Arga, wanita berhijab seperti Alya hanyalah simbol kaku yang menjemukan.
Namun bagi Alya, suaminya adalah ladang ujian, tempatnya belajar sabar, ikhlas, dan tawakal.
Hingga satu hari, ketika kesabaran Alya mulai retak, Arga justru merasakan kehilangan yang tak pernah ia pahami.
Dalam perjalanan panjang penuh luka dan doa, dua hati yang bertolak belakang itu akhirnya belajar satu hal:
bahwa cinta sejati lahir bukan dari kata manis… tapi dari iman yang bertahan di tengah ujian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Qira’at di Tengah Hati yang Bergetar
Pagi itu langit Jakarta tampak cerah, berbeda dari hari-hari sebelumnya yang sering mendung dan gerimis. Arga berdiri di depan meja makan dengan kemeja biru laut yang rapi, menunggu Alya yang sedang mempersiapkan segala keperluan untuk berangkat ke pondok pesantren Al-Ma’arif.
Sebelum keluar rumah, Arga menyandarkan ponselnya di telinga. Sejak tadi ia mencoba menelpon Bima, tapi panggilan itu tidak juga dijawab.
“Halo, Clara?” suara Arga akhirnya terdengar tegas setelah panggilan lain tersambung.
“Iya, Pak Arga.”
“Kosongkan jadwal saya sampai jam makan siang. Ada urusan keluarga,” ucapnya datar tapi jelas.
“Baik, Pak. Tapi untuk siang ini ada meeting minor dengan vendor baru, apakah saya jadwalkan ulang?”
“Reschedule. Saya konfirmasi nanti sore.”
“Baik, Pak Arga.” Clara sempat terdiam sebentar sebelum menambahkan, “Oh iya Pak, Pak Bima belum datang ke kantor pagi ini.”
Arga mengerutkan kening, tapi nada suaranya tetap tenang, “Iya, biar saja. Mungkin dia lembur semalam.”
Panggilan berakhir. Arga menatap Alya yang baru saja keluar dari kamar membawa tas berisi mukena dan beberapa perlengkapan kecil untuk acara nanti.
“Udah siap, Mas?” tanya Alya sambil tersenyum tipis.
“Udah,” jawab Arga singkat, tapi matanya menyiratkan ketenangan. “Ayo, kita berangkat sekarang. Anak-anak panti pasti udah nunggu kamu.”
Alya mengangguk, lalu keduanya melangkah keluar rumah dengan langkah serasi.
---
Sementara itu, di belahan lain Jakarta, di sebuah kamar hotel dengan tirai setengah terbuka, cahaya pagi menembus masuk mengenai wajah dua orang yang baru saja tersadar.
Bima duduk di tepi ranjang, menatap gelas kosong di meja kecil di samping tempat tidur. Kepalanya berdenyut hebat, tapi yang lebih berat adalah rasa bersalah yang menyesakkan dada.
Ia menoleh sedikit, Dinda masih setengah duduk di ranjang, rambut berantakan, wajah pucat, dan mata yang tampak kebingungan.
“Bima... ini... kita...” suara Dinda parau, seolah memaksa dirinya untuk menyusun kalimat.
Bima menarik napas panjang. “Iya... aku tahu.”
“Kita... melakukan sesuatu semalam?”
Bima menatap lantai lama, lalu dengan berat hati mengangguk kecil. “Aku minta maaf, Din. Aku... nggak bisa kontrol diri. Kita mabuk berat.”
Dinda langsung menunduk, matanya berair. “Tuhan... aku bahkan nggak ingat apa-apa.” Ia memijat pelipisnya keras-keras, berusaha menolak kenyataan yang terasa kabur tapi menusuk.
“Udah, lupakan aja,” katanya akhirnya, dengan nada getir. “Nggak usah dibahas lagi. Anggap aja nggak pernah terjadi apa pun semalam. Oke?”
Bima menatap wajah Dinda sejenak, ia ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih diam. Ia tahu tidak ada kata yang bisa memperbaiki kekacauan ini.
Beberapa menit kemudian, keduanya bersiap dalam hening, lalu meninggalkan kamar hotel dengan wajah lelah.
---
Di perjalanan menuju pondok pesantren Al-Ma’arif, suasana di dalam mobil justru terasa hangat. Arga menyetir dengan satu tangan di kemudi, sementara tangannya yang lain sesekali menggenggam tangan Alya.
“Mas, yakin nggak salah jalan? Dari tadi kayaknya makin jauh dari kota,” tanya Alya sambil tertawa kecil.
Arga melirik sebentar, “Nggak kok. Udah aku cek di maps, ini jalan pintas. Jalanan desa begini malah enak, adem.”
“Hmm, iya juga sih,” Alya tersenyum. “Tapi aku seneng banget Mas mau ikut. Aku kira bakal sibuk banget hari ini.”
Arga hanya mengangkat alis. “Kalau urusannya buat kamu, aku selalu bisa nyempetin waktu.”
Alya menunduk malu, pura-pura sibuk menatap pemandangan di luar jendela.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di area pesantren yang asri. Dari kejauhan sudah terlihat anak-anak panti dengan seragam putih biru yang berlari-lari kecil menyambut mobil hitam milik Arga.
“Assalamu’alaikum!” teriak beberapa anak kecil bersamaan begitu Alya keluar dari mobil.
Alya langsung membalas salam dan tersenyum hangat. Beberapa anak menghampiri dan mencium punggung tangannya, sementara sebagian lainnya malah berlari mengerubungi Arga.
Arga sempat kaku. Tangannya menggantung, tidak tahu harus bagaimana menghadapi anak-anak yang menatapnya penuh rasa kagum.
Salah satu bocah laki-laki menarik ujung jasnya pelan, “Om-nya ganteng kayak ustadz!” katanya polos.
Semua orang tertawa, termasuk Alya. Arga mengacak rambut anak itu pelan, mungkin pertama kalinya dalam hidup dia melakukan hal sesederhana itu.
Ia memang sering bersedekah tapi lewat perusahaan, dan selalu melalui orang lain. Ia tidak pernah hadir langsung di acara-acara sosial. Dan hari itu... entah kenapa, kehadiran anak-anak itu membuat dadanya hangat dengan perasaan yang baru ia rasakan, tulus.
---
Tak lama, acara dimulai di aula besar pesantren. Aula itu sederhana, tapi penuh cahaya. Lantunan selawat bergema, memenuhi ruangan dengan kedamaian.
Acara tasyakuran itu diadakan untuk Gus Fawwaz, putra dari pemilik pesantren yang baru saja menyelesaikan studinya di Mesir. Pemuda berwajah teduh itu duduk di barisan depan, tersenyum ramah menyapa para tamu.
Namun tiba-tiba, panitia memanggil nama Alya.
“Dimohon kepada Ibu Alya untuk membacakan Qira’at sebagai pembuka acara.”
Alya yang tengah duduk di samping Arga langsung tertegun.
“Lho... kok aku?” bisiknya panik.
Ternyata, Bu Norma yang mengajukannya tanpa memberi tahu lebih dulu. “Maaf, Alya. Ibu batuk-batuk, jadi ibu usulkan kamu aja,” jelas Bu Norma lirih.
Alya menatap Arga, ragu.
Arga hanya mengangguk tenang. “Pergi aja, Al. Aku dengerin dari sini.”
Alya pun berdiri, melangkah pelan ke depan panggung. Suara pembawa acara mulai mereda, berganti dengan keheningan penuh harap.
Ketika Alya mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara lembut dan bergetar, seisi aula langsung terdiam. Suaranya bening, tajwidnya tepat, dan nadanya mengalun seperti angin sore yang menenangkan hati.
Di tengah deretan tamu undangan, Gus Fawwaz menunduk, tapi sesekali matanya tak sengaja menatap Alya.
Ia tahu itu tidak pantas, tapi entah mengapa pandangannya tak bisa lepas, seolah suara dan wajah perempuan itu menariknya ke dunia lain yang lebih damai.
Sementara Arga... hanya menatap dari jauh, matanya teduh tapi sorotnya tajam. Ada sesuatu yang bergetar dalam dadanya, bangga, tapi juga... sedikit tidak nyaman ketika menyadari arah pandang gus muda itu.
Alya menutup Qira’at dengan doa penutup yang lembut. Tepuk tangan lirih mengiringi langkahnya kembali ke kursinya. Arga menyambut dengan senyum tenang dan membisikkan, “Indah banget, Al. Suara kamu...”
Alya tersenyum malu, “Jangan dilebih-lebihin, Mas.”
Acara berlanjut dengan sambutan, ceramah singkat, dan doa bersama. Semua berjalan khidmat.
---
Setelah acara selesai, tamu-tamu mulai bersalaman. Gus Fawwaz menghampiri Arga untuk mengucapkan terima kasih. Bu Norma dan Alya sudah keluar lebih dulu bersama anak-anak.
“Terima kasih, Pak, sudah hadir dan ikut menyemarakkan acara kami. Bacaan Ibu tadi sungguh luar biasa.”
Arga tersenyum tipis. “Iya, suaranya memang menenangkan, ya.”
Tapi kemudian ia menatap gus muda itu lurus, nada suaranya sedikit berubah, dingin namun sopan.
“Oh ya, Gus...” katanya pelan, “perempuan yang tadi terus Anda tatap dari awal sampai akhir Qira’at itu, itu istri saya.”
Gus Fawwaz langsung menunduk dalam-dalam, wajahnya memerah. “Astaghfirullah... maaf, saya... saya tidak bermaksud apa-apa, Pak.”
“Tidak apa. Saya hanya mengingatkan.” Arga menepuk bahunya pelan sebelum beranjak pergi. Aura dinginnya seketika membuat udara di sekitar mereka menegang.
Beberapa orang yang melihat sempat saling pandang, mereka tak tahu apa yang terjadi, tapi jelas tatapan Arga tadi cukup membuat gus muda itu terdiam lama.
---
Ketika Arga kembali ke sisi Alya, ekspresinya sudah kembali lembut. Ia menyalami Bu Norma dan menitipkan amplop tebal di tangannya.
“Titip buat anak-anak, Bu. Semoga bermanfaat.”
Bu Norma terkejut dan langsung mengucap syukur. “MasyaAllah... terima kasih banyak, Mas Arga, Alya. Semoga Allah balas dengan keberkahan rumah tangga kalian.”
Alya menatap suaminya dengan binar mata yang lembut. Ia tidak menyangka, di balik sikap dingin dan pendiam Arga, ada sisi dermawan yang tulus.
Saat mereka pamit dan melangkah ke mobil, Arga sempat melirik anak-anak yang melambaikan tangan di depan gerbang pesantren.
“Mas...” panggil Alya pelan. “Terima kasih, ya, udah mau ikut ke sini. Aku tahu kamu pasti capek, tapi—”
Arga menoleh sebentar, senyum kecil terukir di wajahnya. “Aku malah seneng, Al.”
Alya menatapnya lama, perasaannya menghangat.
Di bawah langit sore yang mulai keemasan, mobil hitam mereka melaju perlahan meninggalkan pesantren.
Dan entah kenapa, meski dunia di luar masih penuh hiruk-pikuk, di dalam mobil itu... keheningan terasa manis, seperti doa yang baru saja diucapkan dalam hati mereka masing-masing.
aku aja klo ngomong diceramahi emosi apalagi modelan arga 🤣🤣