Arsenio Elvarendra, mafia kejam yang dihianati orang kepercayaannya, terlahir kembali di sebuah singgasana yang sangat megah sebagai Kaisar Iblis. Di dunia barunya, ia bertemu seorang wanita cantik—Dia seorang dewi yang menyembunyikan identitasnya.
Bisakah Arsenio mengungkap jati diri sang Dewi? Akankah cinta mereka mengubah jalan takdir di antara kegelapan dan cahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melodi Abadi
Malam di alun-alun Eden Bawah Tanah pecah oleh cahaya lampion warna-warni yang melayang di udara, ditenagai oleh perpaduan sihir cahaya malaikat dan api naga yang dikendalikan secara halus. Ribuan penduduk berkumpul, menciptakan lautan keragaman yang menakjubkan. Di tengah alun-alun, Elara—anak elf yang bertahun-tahun lalu diselamatkan Lucifer—kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang anggun. Ia berdiri di tengah lingkaran besar, memegang tangan seorang anak iblis dan seorang anak malaikat. Saat Lucifer dan Lilith muncul di balkon kehormatan tanpa jubah kebesaran, hanya mengenakan pakaian warga sipil yang sederhana, sorak-sorai meriah menyambut mereka. Namun, Lucifer mengangkat tangannya, meminta ketenangan bukan dengan otoritas, melainkan dengan kehangatan seorang ayah.
"Malam ini bukan tentang aku, Malam ini adalah tentang kalian semua yang memilih untuk tetap berpegangan tangan saat dunia luar masih mencoba memisahkan kalian. Elara, mulailah." Suara Lucifer menggema lembut, menyentuh hati setiap orang yang hadir.
Musik mulai mengalun—perpaduan harpa surgawi yang dentingnya jernih dengan tabuhan gendang kulit monster yang bergetar dalam. Elara memimpin tarian perdamaian, sebuah gerakan yang melambangkan keseimbangan alam. Saat mereka berputar, energi dari kaki mereka menumbuhkan bunga-bunga berpendar di sela-sela lantai batu alun-alun. Lilith menggenggam tangan Lucifer erat, menyaksikan pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. "Kau melihatnya, Lucifer? Mereka tidak lagi melihat kita sebagai dewa atau penguasa yang ditakuti. Mereka melihat kita sebagai bagian dari mereka."
"Itulah kemenangan yang sesungguhnya, Lilith," Jawab Lucifer tanpa menoleh ke arah Lilith.
Di sudut alun-alun, Aurelia duduk di bangku taman, memangku buku sejarahnya yang legendaris. Ia tidak lagi menulis dengan terburu-buru. Ia hanya menikmati momen itu, membiarkan pena emasnya beristirahat di atas sampul kulit bukunya. Raphael dan Sariel bergabung di sampingnya, masing-masing membawa cawan berisi sari buah api pemberian para naga.
"Siapa yang sangka, sang penjaga ketertiban surga akan berakhir di festival dunia bawah," goda Raphael sambil menyenggol bahu Sariel.
Sariel tertawa kecil, suara yang jarang terdengar sebelumnya. "Surga ada di mana pun hati merasa damai, Raphael. Dan malam ini, aku rasa aku sudah sampai di rumah."
"Lihatlah mereka, Raphael," gumam Aurelia sambil memandang Elara yang tertawa di tengah tarian. "Dulu, aku menulis tentang kehancuran dan pengasingan. Sekarang, tintaku hanya untuk mencatat kebahagiaan. Apakah menurutmu ini akan bertahan selamanya?"
Raphael menyesap sari buahnya, matanya merefleksikan cahaya lampion. "Selamanya adalah waktu yang sangat lama, Aurelia. Namun, selama Pohon Keseimbangan itu masih berdiri dan Lucifer tetap menjadi detak jantung tempat ini, aku tidak melihat alasan mengapa melodi ini harus berhenti."
Sariel menyela, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Michael mengirim pesan singkat padaku tadi sore. Dia bertanya apakah ada tempat kosong untuknya jika suatu saat dia ingin melepaskan baju zirah panglimanya."
Raphael nyaris tersedak. "Kau bercanda? Michael ingin ke sini?"
"Dia melihat apa yang kita lihat, Raphael. Kedamaian yang jujur," jawab Sariel tenang.
Di balkon, Lilith menyandarkan kepalanya ke bahu Lucifer. "Setelah festival ini, apa yang ingin kau lakukan? Tidak ada lagi misi sistem, tidak ada lagi pemberontakan."
Lucifer tersenyum, jemarinya membelai rambut Lilith. "Aku ingin menjadi pengajar. Aku ingin mengajar kelas sejarah di sekolah Aurelia—bukan sebagai kaisar, tapi sebagai seseorang yang pernah tersesat dan akhirnya menemukan jalan pulang."
"Kelas sejarah? Murid-muridmu akan ketakutan di hari pertama," goda Lilith.
"Tidak jika aku menceritakan bagaimana seorang ratu iblis yang cantik membantuku membangun seluruh dunia ini dari nol," balas Lucifer dengan nada hangat.
Tiba-tiba Elara berlari ke bawah balkon dan mendongak, matanya berbinar. "Yang Mulia! Ikutlah menari bersama kami! Hanya satu putaran!"
Lucifer menatap Lilith, lalu kembali menatap gadis kecil yang dulu hampir mati itu. Ia melompat turun dari balkon dengan gerakan seringan bulu, diikuti oleh Lilith yang tertawa renyah. Begitu kaki mereka menyentuh lantai alun-alun, lingkaran tarian terbuka lebar menyambut mereka.
"Hanya jika kau menjanjikan tarian ini tidak akan berakhir hingga fajar, Elara," ucap Lucifer sambil mengulurkan tangannya pada sang gadis elf dan anak iblis di sampingnya.
"Janji!" seru Elara riang.
Aurelia yang melihat pemandangan itu dari kejauhan segera meraih kembali penanya. Ia tidak bisa menahan diri untuk menambahkan satu baris terakhir di bawah cahaya kunang-kunang:
"Dan malam itu, sang pembawa cahaya tidak lagi berdiri di atas kita, melainkan menari di antara kita. Itulah saat kami tahu bahwa surga dan neraka telah benar-benar menyatu dalam sebuah tawa."
Lantai alun-alun yang dingin kini terasa hangat oleh aliran energi kegembiraan. Saat Lucifer dan Lilith mulai mengikuti irama tarian, seluruh penduduk—dari naga berukuran kecil hingga roh-roh hutan—ikut bergerak dalam harmoni yang sempurna. Tidak ada lagi jarak antara pencipta dan rakyatnya; yang ada hanyalah sekumpulan jiwa yang merayakan kehidupan.
Di tengah tarian, seorang prajurit naga muda mendekati Raphael dan Sariel, membawa nampan berisi kudapan khas Kota Ignis. "Tuan-tuan Malaikat, naga tua Vulcan menitipkan ini. Dia bilang, bahkan sayap yang paling kuat pun butuh energi untuk terus terbang di langit kedamaian ini."
Sariel menerima kudapan itu dengan anggukan hormat. "Sampaikan terima kasihku pada Sang Penjaga Api. Katakan padanya bahwa api naga tidak pernah terasa sehangat ini."
Malam semakin larut, namun energi di Eden Bawah Tanah justru semakin berpendar. Pohon Keseimbangan di pusat kota mulai mengeluarkan senandung frekuensi rendah yang menenangkan, seolah ikut bernyanyi bersama musik harpa dan gendang. Serbuk sarinya yang jatuh kini membentuk pola-pola konstelasi baru di tanah, melambangkan persatuan abadi semua ras.
Aurelia, yang masih asyik dengan penanya, tiba-tiba didatangi oleh sekelompok anak kecil dari ras berbeda. "Ibu Guru Aurelia, apakah kisah ini akan ada di buku sekolah kami besok?" Tanya seorang anak iblis dengan mata bulat yang penuh rasa ingin tahu.
Aurelia mengusap kepala anak itu dengan lembut. "Bukan hanya di buku sekolah, Nak. Kisah malam ini akan terukir di setiap batu dan setiap daun di kerajaan ini. Kalian adalah saksi hidup bahwa cinta bisa mengalahkan takdir yang paling gelap sekalipun."
Di tengah lingkaran tari, Lucifer berbisik pelan kepada Lilith sambil berputar mengikuti irama. "Lihatlah mereka, Lilith. Inilah alasan mengapa aku memilih jatuh dari surga. Bukan untuk menguasai kegelapan, tapi untuk menemukan cahaya yang lebih murni di tempat yang paling tidak terduga."
Lilith tersenyum, matanya memancarkan kebahagiaan yang tak terlukiskan. "Dan kau menemukannya, Lucifer. Kau menemukannya di dalam diri setiap mereka."
Tepat saat fajar mulai menyingsing di cakrawala, mengubah warna langit menjadi gradasi emas yang lembut, musik perlahan mereda. Namun, tawa dan obrolan hangat tidak berhenti. Mereka semua berdiri menghadap ke arah matahari terbit—sebuah fajar yang kini disambut tanpa ketakutan oleh penghuni dunia bawah.Lucifer berdiri di tengah-tengah mereka, menggenggam tangan Elara dan Lilith. Ia menatap ke langit luas dan menarik napas panjang. Kekuatannya sebagai Archon of Equilibrium memastikan bahwa selama napasnya masih ada, perlindungan dan kedamaian ini tidak akan pernah goyah.
Aurelia menutup bukunya dengan suara yang mantap. Di sampul depan buku sejarah yang kini sangat tebal itu, ia menuliskan satu kalimat terakhir dengan tinta emas yang permanen: "Dunia tidak lagi terbagi antara Atas dan Bawah. Dunia kini hanya satu, dan namanya adalah Harapan."