NovelToon NovelToon
My Possessiv Damian

My Possessiv Damian

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!

Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Valerie menelan ludah, mencoba mencari celah di tengah situasi yang sangat tidak profesional ini.

"Aku... aku bisa bekerja untukmu, Damian." ucapnya dengan suara yang diusahakan tetap stabil.

Damian mengernyit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan.

"Bekerja? Memangnya apa yang bisa kau kerjakan, Penipu Kecil?" tanyanya sambil memindahkan jarinya dari pipi ke bibir ranum Valerie, mengusap permukaannya dengan tekanan yang membuat napas gadis itu seakan tercekat.

Valerie tahu ia harus menawarkan sesuatu yang konkret agar tidak terus-menerus merasa berutang nyawa pada pria berbahaya ini.

"Aku bisa menjadi asisten pribadimu, Damian. Aku bisa mengurus jadwalmu, dokumenmu... apa saja," tawar Valerie mantap.

Damian terdiam sejenak, menatap manik mata Valerie dalam-dalam. Tawaran itu sebenarnya sangat menggiurkan.

Menjadikan Valerie asisten pribadi berarti ia punya alasan logis untuk menyeret gadis itu ke mana pun ia pergi, memudahkannya untuk mengawasi setiap gerak-geriknya.

Namun, Damian masih ingin menggoda gadis itu. "Kau yakin ingin menjadi asisten pribadiku?" bisiknya intim.

"Kau tahu sendiri, aku orang yang sangat penuntut. Aku tidak suka dengan gadis pembangkang yang tidak tahu aturan."

Valerie membalas tatapan tajam itu, mencoba menunjukkan keteguhan hatinya meskipun jantungnya berpacu liar. "Aku yakin. Aku akan bekerja dengan baik dan menuruti perintahmu."

Damian kembali menyeringai—kali ini seringai kemenangan yang mutlak.

"Baiklah. Mulai hari ini, kau resmi menjadi asisten pribadiku. Mulai besok, kau harus menyiapkan semua keperluan kantorku dan kebutuhan pribadiku." Damian menjeda kalimatnya, tatapannya turun ke bibir Valerie yang sedikit terbuka.

"Dan karena kontrakmu dimulai detik ini... kau juga harus memenuhi keinginanku saat ini."

Belum sempat Valerie mencerna maksud perkataan Damian atau memikirkan tugas pertama apa yang akan diberikan, pria itu sudah memangkas jarak di antara mereka.

Damian mendekatkan wajahnya dengan cepat dan langsung melumat bibir Valerie dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh tuntutan.

Valerie tersentak, tubuhnya sempat menegang saat merasakan dominasi Damian yang begitu kuat.

Namun, menyadari bahwa ia sudah masuk terlalu dalam dan tidak ada lagi jalan untuk mundur, Valerie akhirnya memejamkan mata.

Ia membiarkan dirinya pasrah, tenggelam dalam ciuman yang menandai awal dari pengabdian barunya sebagai asisten pribadi—sekaligus tawanan hati—sang Damian.

Ruangan itu seakan kehilangan oksigen saat Damian semakin memperdalam ciumannya. Suara napas mereka yang memburu menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan kamar.

Damian menarik diri hanya beberapa milimeter, membiarkan bibir mereka tetap bersentuhan saat ia berbisik dengan suara parau yang menghipnotis, "Buka mulutmu, Sayang..."

Entah sihir apa yang merasuki tubuh Valerie, namun pertahanannya runtuh seketika. Bibirnya yang awalnya terkatup rapat sebagai bentuk perlawanan terakhir, kini refleks terbuka, seolah menyambut undangan sang predator.

Pada detik itu, bayangan Aiden—kekasih yang seharusnya ia jaga perasaannya—lenyap tak bersisa dari benaknya.

Ia benar-benar lupa bahwa mungkin saat ini Aiden sedang menatap layar ponsel dengan cemas, mencoba menghubungi nomornya yang tak kunjung aktif.

Damian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia kembali melumat bibir ranum Valerie, lidahnya menyeruak masuk dengan dominasi yang tak tertahankan.

Ia menjelajahi setiap inci rongga mulut Valerie, memainkan lidah gadis itu dengan ritme yang menuntut sekaligus memabukkan.

Valerie merasa dunianya seolah berputar. Kesadaran dirinya mulai menipis, digantikan oleh sensasi panas yang menjalar ke seluruh sarafnya.

Tanpa ia sadari, tangannya yang tadi terkulai lemas kini terangkat, jemarinya menyusup ke sela-sela rambut gelap Damian dan meremasnya dengan kuat—sebuah respon naluriah yang menunjukkan bahwa ia tidak lagi sekadar pasrah, melainkan mulai tenggelam dalam permainan pria itu.

Damian mengerang rendah di tengah ciuman mereka, merasakan remasan tangan Valerie di rambutnya. Ia menarik tubuh gadis itu semakin rapat, seolah ingin menyatukan detak jantung mereka yang kini berpacu dengan kecepatan yang sama gilanya.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya dalam pagutan yang panas, Damian perlahan menarik diri.

Benang-benang saliva yang terputus di antara bibir mereka menjadi saksi bisu betapa intensnya ciuman itu.

Valerie memalingkan wajahnya sedikit, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menormalkan napasnya yang tersengal-sengal dan dadanya yang naik-turun dengan cepat.

Damian tetap bergeming di posisinya, menumpu tubuhnya dengan satu sikut sambil menatap lekat wajah Valerie.

Sebuah senyum tipis, hampir terlihat seperti senyum kemenangan, terukir di bibirnya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa ini adalah kali pertama Valerie tidak memberikan perlawanan fisik; gadis itu justru tenggelam bersamanya dalam ciuman liar tadi.

Di mata Damian, Valerie terlihat begitu menggemaskan—dan sangat menggoda. Pipi gadis itu merona merah padam, rambutnya sedikit berantakan akibat pergelutan mereka tadi, dan bibir ranumnya kini terlihat sedikit bengkak dan merah menyala.

Tiba-tiba, Damian mencondongkan tubuhnya lagi. Namun kali ini, bukan bibir yang ia tuju. Dengan penuh kelembutan yang tidak biasa, ia mendaratkan sebuah kecupan lama di dahi Valerie.

Sentuhan yang jauh lebih tenang itu justru membuat hati Valerie berdesir aneh, sebuah rasa hangat yang lebih menakutkan daripada nafsu pria itu sebelumnya.

"Kau sangat menggemaskan, Valerie," bisik Damian dengan suara baritonnya yang kini terdengar lebih renyah.

Ia mengusap sisa napas Valerie di pipinya, lalu kembali menyeringai misterius.

"Sekarang, tidurlah. Simpan energimu, karena besok akan ada banyak pekerjaan yang menantimu."

Valerie hanya bisa terdiam, menarik selimutnya kembali hingga ke dagu. Ia mencoba memejamkan mata, namun ia tahu, mulai besok hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Karna kini ia terjebak di tangan pria yang baru saja mengklaim bibir dan masa depannya.

1
@RearthaZ
lanjutin terus ceritanya kak
@RearthaZ
awalan cerita yang bagus kak
Raffa Ahmad
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!