NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Awal Dari Permainan Yang Lebih Dalam

Malam itu belum benar-benar berakhir ketika Lisa menyadari satu hal penting yang tidak pernah ia pahami di kehidupan sebelumnya—bahwa balas dendam bukan hanya tentang menghancurkan lawan secara langsung, melainkan tentang membuat mereka perlahan kehilangan kendali atas diri mereka sendiri tanpa mereka sadari.

Restoran yang tadi terasa hangat kini mulai dipenuhi dengan suasana yang lebih padat, suara percakapan dari meja-meja lain bercampur dengan alunan musik lembut yang mengalun dari sudut ruangan, menciptakan latar yang sempurna untuk sebuah sandiwara yang dimainkan dengan rapi.

Lisa duduk dengan anggun, punggungnya tegak, jemarinya perlahan menyentuh gelas di depannya, sementara matanya mengamati dua orang di hadapannya tanpa terlihat mencurigakan.

Arvin dan Clara.

Dua orang yang di kehidupan sebelumnya ia percayai sepenuh hati.

Dan dua orang yang juga mengakhiri hidupnya tanpa ragu.

Namun sekarang…

Peran telah berubah.

Lisa bukan lagi korban.

Ia adalah pemain utama dalam permainan ini.

“Lisa, kamu kelihatan beda malam ini.”

Suara Arvin memecah keheningan yang sempat menggantung di antara mereka.

Lisa mengangkat pandangannya perlahan, menatap pria itu dengan ekspresi yang tetap lembut, namun di balik matanya tersembunyi sesuatu yang tidak bisa dibaca dengan mudah.

“Beda?” ulang Lisa dengan nada ringan, seolah tidak mengerti maksudnya.

Arvin mengangguk pelan, matanya menatap Lisa lebih dalam seolah mencoba mencari sesuatu yang hilang atau berubah.

“Iya… aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana, tapi kamu terlihat lebih… tenang. Lebih percaya diri.”

Lisa tersenyum tipis.

Senyuman yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya penuh perhitungan.

“Bukankah itu hal yang bagus?” jawabnya dengan santai.

Arvin sedikit terdiam sebelum akhirnya tersenyum.

“Tentu saja bagus.”

Namun di dalam hatinya, Arvin mulai merasa ada sesuatu yang berbeda dari Lisa.

Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Dan perasaan itu membuatnya… sedikit tidak nyaman.

Di sisi lain, Clara yang duduk di samping Arvin tampak memperhatikan Lisa dengan lebih tajam dari sebelumnya.

Ia memang pandai menyembunyikan ekspresi, tetapi perubahan kecil seperti ini tidak luput dari perhatiannya.

Lisa yang dulu selalu terlihat hangat dan sedikit bergantung pada Arvin…

Kini terlihat seperti seseorang yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Dan itu membuat Clara merasa terancam, walaupun ia tidak mau mengakuinya.

“Kamu juga kelihatan lebih cantik dari biasanya,” sela Clara dengan senyum manis yang nyaris sempurna.

Lisa menoleh padanya.

“Terima kasih,” jawabnya dengan nada yang sama hangatnya.

Namun tidak ada kehangatan di matanya.

Hanya ketenangan yang dingin.

Percakapan kembali mengalir, namun arah pembicaraan mulai berubah perlahan, seolah-olah tanpa disengaja, tetapi sebenarnya sepenuhnya berada dalam kendali Lisa.

Ia mulai menceritakan rencana-rencananya ke depan.

Tentang bagaimana ia ingin lebih aktif di perusahaan keluarganya.

Tentang bagaimana ia tidak ingin hanya menjadi “anak pemilik” yang hidup nyaman tanpa tujuan.

“Aku ingin mulai terlibat langsung dalam manajemen,” kata Lisa dengan suara yang tenang namun tegas. “Aku rasa sudah waktunya aku belajar lebih serius.”

Kalimat itu langsung menarik perhatian Arvin.

Lisa bisa melihat dengan jelas bagaimana mata pria itu sedikit berubah.

Ada ketertarikan.

Dan juga perhitungan.

“Serius?” tanya Arvin. “Itu keputusan yang bagus.”

Lisa mengangguk pelan.

“Iya. Aku juga berpikir begitu.”

Namun dalam hatinya, Lisa tahu betul apa yang sedang terjadi.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu pasif.

Ia menyerahkan semuanya kepada Arvin setelah menikah.

Memberikan kepercayaan penuh tanpa pernah mempertanyakan apa pun.

Dan itulah kesalahan terbesarnya.

Namun sekarang…

Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

Clara yang sejak tadi diam tiba-tiba ikut berbicara.

“Wah, keren banget, Lisa. Tapi… bukannya itu berat ya? Dunia bisnis itu keras, lho.”

Nada suaranya terdengar seperti kekhawatiran.

Namun Lisa tahu…

Itu bukan kekhawatiran.

Itu adalah usaha halus untuk meragukannya.

Lisa menoleh padanya dengan tenang.

“Memang tidak mudah,” jawabnya. “Tapi aku tidak ingin terus bergantung pada orang lain.”

Kalimat itu sederhana.

Namun maknanya dalam.

Dan tanpa sadar…

Menusuk tepat ke arah Arvin.

Beberapa detik keheningan tercipta.

Arvin tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana.

“Tapi kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa mengandalkanku.”

Lisa menatapnya.

Tatapannya lembut.

Namun dalam.

“Benarkah?” tanyanya pelan.

Arvin mengangguk dengan yakin.

“Tentu saja. Aku selalu ada untukmu.”

Lisa tersenyum.

Namun kali ini…

Senyumannya sedikit berbeda.

“Kalau begitu… aku akan mengingat kata-katamu.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Namun entah kenapa, Arvin merasa seperti ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.

Sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

Makan malam berlanjut, namun suasana sudah tidak sama seperti di awal.

Ada ketegangan halus yang mulai terbentuk.

Dan Lisa menikmati setiap detiknya.

Setelah beberapa saat, Lisa berdiri perlahan.

“Aku ke toilet sebentar.”

Ia melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan Arvin dan Clara di meja.

Begitu ia menghilang dari pandangan…

Clara langsung menoleh ke arah Arvin.

“Kamu ngerasa tidak?” bisiknya pelan.

Arvin mengernyit.

“Apa?”

Clara sedikit mendekat.

“Lisa… dia berubah.”

Arvin terdiam beberapa detik.

Ia mengingat kembali percakapan mereka.

Cara Lisa berbicara.

Cara Lisa menatapnya.

Dan ia tidak bisa menyangkalnya.

“Iya…” gumamnya pelan. “Aku juga merasa begitu.”

Clara menggigit bibirnya sedikit.

“Menurutmu dia curiga?”

Pertanyaan itu membuat Arvin langsung menggeleng.

“Tidak mungkin,” jawabnya cepat. “Dia tidak tahu apa-apa.”

Namun meskipun ia mengatakan itu…

Di dalam hatinya, ia tidak sepenuhnya yakin.

Sementara itu…

Lisa berdiri di depan cermin di dalam toilet.

Ia mencuci tangannya dengan perlahan, lalu mengangkat wajahnya dan menatap pantulan dirinya.

Lampu putih menerangi wajahnya dengan jelas.

Dan untuk sesaat…

Ia hanya diam.

Lalu perlahan…

Bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil.

“Mereka mulai panik.”

Suara Lisa sangat pelan. Hampir seperti bisikan Namun penuh kepastian. Ia bisa melihatnya dengan jelas Clara suda mulai gelisah dan Arvin mulai curiga.

Dan itu berarti satu hal.

Rencananya berjalan dengan sempurna.

Lisa mengeringkan tangannya, lalu merapikan sedikit rambutnya sebelum akhirnya melangkah keluar dari toilet.

Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.

Di ujung koridor…

Seorang pria berdiri.

Tinggi.

Berpakaian rapi dengan setelan jas hitam yang elegan.

Aura dingin yang kuat seolah mengelilinginya, membuat orang-orang di sekitarnya tanpa sadar menjaga jarak.

Pria itu sedang berbicara dengan seseorang, tetapi entah kenapa…

Saat Lisa melihatnya…

Ada perasaan aneh yang muncul.

Seolah-olah ia pernah melihat pria itu sebelumnya.

Namun ia yakin…

Ia belum pernah bertemu dengannya. Pria itu tiba-tiba menoleh. Tatapan mereka bertemu. Dan dalam satu detik itu Segalanya terasa berhenti.

Mata pria itu tajam, Dalam, Dan penuh wibawa.

Lisa sedikit terdiam.

Namun hanya sesaat.

Ia segera mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun di dalam hatinya…

Ada sesuatu yang bergerak.

Perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.

Sementara itu, pria tersebut masih berdiri di tempatnya.

Matanya mengikuti langkah Lisa yang semakin menjauh.

“Siapa dia?”

Pertanyaan itu keluar pelan dari bibirnya.

Dan tanpa ia sadari…

Pertemuan singkat itu…

Akan mengubah banyak hal di masa depan. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!