Menikahi Pria terpopuler dan Pewaris DW Entertainment adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah terjadi di hidupnya. Hanya karena sebuah pertolongan yang memang hampir merenggut nyawanya yang tak berharga ini.
Namun kesalahpahaman terus terjadi di antara mereka, sehingga seminggu setelah pernikahannya, Annalia Selvana di ceraikan oleh Suaminya yang ia sangat cintai, Lucian Elscant Dewata. Bukan hanya di benci Lucian, ia bahkan di tuduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap kekasih masa lalunya oleh keluarga Dewata yang membenci dirinya.
Ia pikir penderitaannya sudah cukup sampai disitu, namun takdir berkata lain. Saat dirinya berada diambang keputusasaan, sebuah janin hadir di dalam perutnya.
Cedric Luciano, Putranya dari lelaki yang ia cintai sekaligus lelaki yang menorehkan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenni Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Tidak seharusnya dia yang berkorban!
"Arghhh!" Lucian memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Rasa sakit terus menusuk kepalanya. Namun, ia masih tetap mencoba mengingat.
"Ap-apa ini? Ingatan apa ini?" gumam Lucian, seolah tak percaya. Apakah itu hanya mimpinya? Apakah ini, hanya naluri bawah sadarnya karena terlalu menginginkan Anna. Sehingga ia berfantasi bahwa Cedric adalah Putranya?
"Tidak! Tidak mungkin ada kebetulan seperti ini. Aku inga--- Arghh!"
Semua kejadian pada malam itu terpampang jelas di ingatannya.
Lucian terduduk lemas di pinggir kasur. Dengan pikiran yang tertuju pada Cedric. Bocah lelaki yang ia temui tanpa sengaja, namun berhasil membuatnya penasaran.
Anak kecil yang mirip dengannya. Tanpa pernah ia curigai adalah Putranya. Anak kecil yang membuat nyeri di kepalanya menghilang, hanya dengan mendengar celotehan dari mulutnya.
"Jadi... Dia, dia adalah Putraku?" gumam Lucian, tak percaya.
Benar. Ingatan tentang bagaimana ia merenggut paksa mahkota Istrinya pada malam itu.
Lucian tersenyum. Namun, air matanya mengalir deras tanpa bisa ia cegah. Kebahagian juga kesedihan menghampiri dirinya.
"Maaf... Maaf, Nak. Harusnya aku menyadari ini! Kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya selama ini!" bentak Lucian, ia memukuli lantai dengan tangannya.
Bug!
Bug!
Tangannya memerah.
Tidak! Jelas ini adalah kesalahannya. Dulu, ia pernah memimpikan hal ini. Namun, selalu ia sangkal sebagai mimpi belaka. Karena rasa benci dan kecewanya terhadap Anna. Sehingga ia buta akan kenyataan.
Andai saja, ia mencoba mempercayai mimpinya. Atau sekedar menyelidiki kejadian saat itu. Mungkin, mungkin ia bisa membesarkan Cedric.
Lucian merogoh sakunya, mencoba bendah pipih itu. Lalu menekan tombol panggil.
"Halo. Juan, selidiki dimana Anna sekarang. Aku tidak yakin jika dia... Masih berada di Desa itu setelah mengetahui keberadaanku disana," jelas Lucian, dengan suara seraknya.
Juan nampak terdiam cukup lama. "Ah, baiklah. Aku akan mencari tahu, istirahatlah dulu," ujar Juan lalu mematikan sambungan.
Lucian menyadarkan tubuhnya di pinggiran kasur, dengan mata yang keluar jendela, memandang langit malam.
"Apakah dia akan memaafkanku? Apakah Anna sudah memberitahunya tentang aku? Apa pendapatnya tentang aku?" gumam Lucian. Kepalanya masih terus berdenyut, namun matanya tak bisa terpejam.
*****
Anna memutuskan untuk menganggur selama beberapa hari. Sembari memikirkan apakah yang lebih baik ia lakukan nantinya. Antara membuka Toko kue baru atau bekerja sesuai kemampuannya.
Hari ini ia akan mendaftar Cedric ke sekolah yang baru. Semalaman ia berdoa semoga tak akan ada lagi, anak-anak yang melukai hati Putranya.
Semua berkas telah di urus. Cedric bisa langsung sekolah keesokan harinya.
"Sayang... Bagaimana dengan sekolah barumu? Apakah kamu suka?" tanya Anna, sembari tersenyum.
Cedric mengangguk. 'Akhirnya Bunda tersenyum juga... Sudah tiga hari ini dia terlihat sangat murung,' batin Cedric lega.
Anna mengelus lembut surai Putranya. "Oh, ya. Bunda hari ini ada janji, kamu dirumah dulu ya," ujar Anna sesaat setelah sampai.
"Baiklah. Hati-hati diluar sana," ujar Cedric.
Anna mengangguk. Lalu ia mencubit gemas pipi Cedric. "Lucu banget anak Bunda..."
Cedric sontak memajukan bibirnya, cemberut. "Bunda... Aku bukan anak kecil lagi," protesnya. Anna hanya bisa tertawa geli melihat tingkah Putranya. Yang malu-malu tapi mau.
****
Anna telah sampai di Kafe Kenangan. Matanya menelusuri setiap inci kafe mencari sosok yang ia kenal. Matanya terhenti di meja sudut kafe yang terdapat pria dengan stelan jas, yang aura kekayaannya sudah terpancar dari jauh.
Anna tersenyum lalu melangkah menuju meja itu. "Raven!" panggilnya.
Raven menoleh, dengan senyum sumringah. 'Akhirnya aku bisa ketemu kamu lagi, Na. Aku kangen. Padahal baru tiga hari yang lalu kami bertemu, haha,' batin Raven, menertawakan dirinya.
"Anna... Kau sudah sampai? Duduklah!"
"Maaf ya, kau sudah dari tadi menunggu?" tanya Anna, merasa tak enak.
Bahkan, sejak ia menyapa Raven. Rasanya tengkuknya terasa berat. Karena sejak tadi terus menjadi pusat perhatian di kafe. Pada gadis-gadis menatap mereka dengan intens.
'Hah... Resiko bertemu dengan orang tampan yah begini,' batin Anna, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Jadi... Aku langsung saja, karena aku masih takut meninggalkan Ceddy sendirian di rumah," ujar Anna, memang tampak tak fokus.
"Haha. Sekali lihat pun aku tahu. Dia adalah anak yang hebat dan pintar. Kau jangan terlalu khawatir. Jelaskan saja pelan-pelan, aku akan mendengarkan," ujar Raven, pengertian.
Anna mengangguk. "Jadi begini... Aku sudah memutuskan untuk memperkenalkan Cedric pada Lucian," jelas Anna, tersenyum canggung.
Raven sontak terdiam tanpa bisa berkomentar. Ia merasa terancam. Jika Lucian mengetahui Cedric adalah Putranya, ia yakin lelaki itu akan terus mengejar Anna dan Cedric, dengan alasan Cedric adalah Putranya.
Karena Raven tahu, seberapa tinggi ego dan gengsi Lucian. Cedric akan menjadi alasan yang cukup kuat untuknya mengejar Anna.
'Kenapa harus sekarang? Aku bahkan belum memulai apapun,' batin Raven tak terima.
"Aku ingin meminta tolong padamu. Tolong persiapkan seorang pengacara yang handal untukku. Berapapun aku... Aku akan membayarnya. Aku takut jika Lucian akan merebut Cedric dariku, Raven..." Sambung Anan, dengan tangis yang pecah. Membuat Raven merasa tak tega, untuk menolaknya hanya demi dirinya sendiri.
"Kenapa tiba-tiba begini, Na?" Tanya Raven.
Anna menghapus air matanya dengan pelan. "Aku... Aku melihat Putraku mencari tahu tentang Lucian. Dia bahkan tidak pernah menyakan Lucian padaku lebih jauh. Hanya karena dia takut menyakiti perasaanku. Dia menjaga perasaan. Di saat itu perasaannya terluka. Aku tidak ingin lagi, Raven. Dia hanyalah seorang anak kecil, tidak sepantasnya dia yang berkorban!"
Semangat selalu
Cpt sembuh author