NovelToon NovelToon
Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:18.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: saskavirby

pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.

kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.

kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.

siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.


>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"

Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 34

Semalaman Stella sudah memikirkan keputusan apa yang akan diambil, setelah bergelut dengan hati dan pikirannya dia memutuskan menyetujui apa yang diharapkan mantan mertuanya.

"Aiden belajar yang rajin ya, Nak," ucap Stella mengusap kepala Aiden.

Keduanya kini sedang berada di area sekolah, hari itu Stella yang mengantarkan Aiden ke sekolah dengan Pak Udin sebagai sopirnya.

"Iya, Bunda."

Stella menciumi wajah Aiden.

Aiden mencium punggung tangan Stella. "Assalamu'alaikum, Bunda."

"Wa'alaikumsalam, Sayang, hati-hati."

"Langsung ke butik, Non?" tanya Pak Udin saat Stella sudah berada di dalam mobil.

"Iya, Pak."

Drttt drttt

Ponsel Stella bergetar, ada panggilan masuk dari Laras.

"Halo, Ma?"

"...''

"Iya, Ma ini Stella mau ke butik."

"..."

"Iya, Ma, Stella tidak keberatan."

"..."

"Sama-sama, Ma."

Tut.

...***...

"Jeng, katanya Sandy mau menikah, ya?"

"Iya, sebentar lagi, nunggu Sandy pulang dari Jerman," jawab Laras tersenyum.

Hari itu adalah jadwal arisan Laras bersama ibu-ibu sosialita, sebelumnya dia sudah menelepon Stella agar menjemput Aiden di sekolah nanti.

Laras beserta ke tujuh temannya sedang berada di salah satu restoran mewah, tepatnya di restoran outdoor yang bisa di lihat dari jalan raya. Sebenarnya masih ada tiga anggota lagi, namun mereka tidak bisa hadir karena ada acara di luar kota, dan yang lain sedang jalan-jalan ke luar negeri.

"Dengar-dengar calon istrinya janda juga, ya, Jeng?"

Laras mengangguk. "Iya, sebenarnya tidak peduli mau janda atau gadis, yang terpenting bisa merawat Aiden dengan baik. Kebetulan calon menantuku yang ini sangat mencintai cucuku, bahkan cucuku sangat dekat dengan dia," terangnya tersenyum.

"Iya, Jeng, yang penting bisa sayang sama anaknya Sandy juga, ya?"

"Eh, ngomong-ngomong dia kerja apa, Jeng, calon menantumu itu?" sahut yang lain.

"Dia punya usaha butik."

"Cantik nggak, Jeng?" goda salah seorang ibu menyenggol lengan laras.

"Cantik banget, enggak kelihatan kalau sudah pernah melahirkan," jawab Laras terkekeh.

Ke enam temannya menatap Laras heran.

"Iya, dia sudah pernah melahirkan, tapi anaknya meninggal karena kecelakaan," ungkap Laras seakan mengerti kebingungan teman-temannya. "Beruntung Sandy mendapatkannya, dia wanita yang perhatian, pengertian, sayang sama keluarga, tidak gila harta seperti beberapa wanita yang dulu deketin Sandy," imbuhnya tersenyum kecut.

"Wahh, beruntung sekali, ya, eh, kapan-kapan kenalin dong, Jeng, ke kita," usul seorang Ibu.

"Iya, Jeng, kita juga penasaran, bener nggak, Jeng?" sahut yang lainnya setuju.

"Kebetulan dia sedang sibuk, kalau lagi luang aku kenalkan." Laras berdiri dari kursinya. "Aku ke toilet dulu," pamitnya.

...***...

Sepulang sekolah Stella mengantarkan Aiden menuju tempat les, namun karena ada telepon penting dari Jery, Stella menitipkan Aiden pada guru lesnya serta akan menjemputnya nanti.

Dalam perjalanan tak sengaja Stella melihat Dewi yang sedang berjalan memasuki restoran, dia berniat akan mengatakan bahwa dia sudah mengosongkan rumahnya, dan Dewi bisa menjual rumah secepatnya.

"Pak Udin, bisa berhenti sebentar? Aku ada urusan, Bapak tunggu di sini saja."

"Baik, Nona."

Stella berjalan tergesa bahkan hampir berlari mengejar Dewi. "Bu?" panggilnya.

Dewi yang merasa dipanggil menoleh, dia menatap sinis pada Stella.

"Bu, Stella mau bicara sama Ibu," ucap Stella tersenyum pada Dewi.

"Kau!"

Seorang wanita menuding wajah Stella dengan tatapan tajamnya.

Stella tak kalah terkejut melihat Dewi yang kelihatan akrab dengan ibunya Rega. "Tante Ayu?"

"Ngapain kamu ke sini?" tanya Dewi sinis.

Ke-lima wanita dengan dandanan sosialita itu menoleh memperhatikan Stella dan Ayu bergantian.

"Kau kenal dia?" tanya Dewi menatap Ayu kemudian menunjuk Stella dengan dagunya.

"Dia wanita kurang ajar yang merayu anakku, bahkan anakku sekarang pergi gara-gara wanita ini," hardik Ayu menggeram.

Stella terdiam di tempatnya. 'Rega pergi?'

"Rega maksudnya?" tanya salah satu ibu anggota geng sosialita.

"Iya, Rega pergi dari rumah karena aku tidak merestui hubungannya dengan wanita ini," tuding Ayu pada Stella yang terdiam.

Dewi juga terkejut, menatap marah ke arah Stella. "Kamu benar-benar keterlaluan, Stella, setelah Hari meninggal ternyata ini kelakuanmu? Merayu pria lain? Dasar murahan!" makinya.

Stella terpaku, menekan emosinya agar tidak menimbulkan kekacauan dengan membentak orang yang lebih tua darinya, hatinya benar-benar sakit dihina seperti itu, dia bukan murahan.

"Jadi, dia menantumu?" tanya Ayu terkejut.

"Iya, dia menantuku yang aku ceritakan," Dewi beralih menatap Stella jijik. "Memalukan, kamu bahkan merayu anaknya Ayu, Ste, dimana harga dirimu sebagai wanita? Kenapa kamu seperti ini? Ibu pikir kamu wanita baik-baik, Ste, tapi ternyata?" Dia menggeleng dan tersenyum meremehkan.

"Bu, aku tidak —"

"Jangan-jangan benar kata Jihan, kamu merebut tunangan orang?" tuduh Dewi.

Stella melotot, kelopak matanya mulai berkaca-kaca.

"Astaga, kau merebut tunangan orang?" tanya Ayu terkejut.

Ke-lima orang yang melihat mereka nampak bingung dan ngeri.

"Bu, jangan bicara sembarangan, aku tidak pernah merebut siapapun," bantah Stella.

"Alah.. mana ada maling mau ngaku," tepis Ayu. "Eh, Jeng, hati-hati sama wanita ini, jangan sampai anak-anak kalian digoda sama wanita murahan ini," imbuhnya mengompori, menatap ke-lima temannya bergantian.

"Tante, stop," hardik Stella yang sudah mulai jengah terus dipermalukan.

"Apa?! Memang benar bukan? Setelah kau menggoda Rega, sekarang kau akan menikah dengan duda kaya raya. Kau pasti menggodanya sehingga dia mau menikahi wanita sepertimu, dasar murahan!" maki Ayu menghentak.

Kedua jemari Stella terkepal. "Tante, aku tidak pernah merayu Rega, kami hanya berteman. Tante salah paham," ucapnya membela diri.

Ayu tersenyum sinis. "Hati-hati, Jeng, bisa-bisa suami kita-kita yang jadi incaran selanjutnya," ungkapnya mengabaikan pembelaan dari Stella.

"Aku kira janda gatel itu cuma ada di film, ternyata ada beneran, ya?" sahut seorang ibu yang duduk di ujung dengan menatap Stella jijik.

"Iya, Jeng, sayang, ya, cantik-cantik kok pelakor."

"Image janda memang tidak ada yang bagus," yang lain ikut menambahi.

Luruh sudah pertahanan Stella, airmatanya mengalir deras di kedua pipinya, dia tidak menyangka akan dihina seperti itu, dia bukan seperti apa yang mereka katakan. Sekuat hati dia menahan sesak yang menghimpit, bahkan kini seluruh pengunjung menatap ke arahnya.

Laras yang sedari tadi mengamati dari jauh merasa tersulut emosi mendengar ucapan yang terlontar dari teman arisannya kepada calon menantunya. Dia berjalan menghampiri mereka. "Ada apa ini?"

Stella yang merasa familiar dengan suara itu mendongak, dia terkesiap melihat Laras di sana, dia segera menunduk malu. Sedangkan Dewi melotot melihat ada calon mertua Stella di sana, bisa celaka.

"Ada janda pelakor, Jeng," jawab seorang ibu.

Laras menatap Stella yang menunduk, kemudian menyapu pandangaannya pada semua temannya termasuk Dewi. "Siapa yang kalian sebut pelakor?"

"Wanita ini, Jeng," jawab Ayu sinis, menunjuk pada Stella yang menunduk.

Laras mengepalkan tangannya, berjalan menghampiri Stella, merangkul dan mengelus pundaknya.

Stella mendongak menatap Laras yang tersenyum padanya.

Laras menatap tajam ke tujuh wanita di depannya. "Apa kalian tahu siapa yang kalian sebut pelakor? Wanita murahan, wanita penggoda ini?"

Ke-tujuh wanita di depannya menggeleng pelan, mereka sedikit terintimidasi oleh tatapan tajam dari Laras, karena jujur saja, di antara mereka, Laras lah yang mempunyai kuasa tertinggi.

"Dia Stella, CALON.MENANTUKU," ucap Laras menekan kalimatnya, membuat mereka kompak melotot terkejut. "Jangan pernah berbicara buruk tentang menantuku, dia tidak seperti apa yang kalian bicarakan," imbuhnya mengancam. "Dan jangan sembarangan bicara tanpa tahu kebenarannya," tatapannya mengarah pada Ayu. Dia mengambil tasnya dan menarik Stella untuk pergi dari sana.

Ke-lima wanita di depannya saling tatap satu sama lain, mereka khawatir atau mungkin lebih tepatnya takut dan tidak enak hati telah menuduh menantu Laras. Padahal, baru beberapa menit yang lalu mereka mengetahui bagaimana Laras menceritakan dan memuji calon menantunya itu.

Sedangkan Ayu yang masih shock karena baru tahu bahwa Stella yang akan menjadi istri Sandy, dan juga menantu Laras membeku di tempat, pikirannya melayang pada kejadian beberapa bulan ke belakang, sebelum Rega memutuskan untuk pindah  ke Bandung. Apa selama ini dirinya benar-benar salah paham?

Dewi gemetar di tempatnya, menurut penjelasan Jihan, keluarga Sandy sangat kaya, bahkan bisa melakukan apapun yang mereka inginkan. Dan kini dia memikirkan nasibnya sendiri akan bagaimana ke depannya nanti.

...***...

Stella menangis di pelukan Laras, keduanya kini tengah berada di dalam mobil, Laras mengelus pundak Stella menenangkan.

"Are you okay?"

Stella mengangguk pelan.

"Jangan dipikirkan ucapan mereka," Laras mengelus pundak Stella.

Laras berdehem. "Sebenarnya ada apa, Ste? Bagaimana kamu bisa mengenal Ayu?" tanyanya hati-hati.

"Dia ibunya Rega, Ma, temanku, dan sepertinya dia salah paham antara hubunganku dengan Rega, sungguh, kami hanya berteman," terang Stella menghapus air matanya.

Laras mengangguk. "Lalu? Mertuamu?" tanyanya. "Wanita tadi mantan mertuamu bukan?" imbuhnya memastikan.

Stella mengangguk. "Sebenarnya ...." Mengalirlah cerita Stella, dari awal Dewi ke rumahnya meminjam uang untuk pengobatan suaminya, dan juga yang bermaksud menjual rumahnya.

Laras terkejut. "Kamu menyetujuinya?" tebaknya.

Stella mengangguk lesu. "Aku merasa ini yang terbaik, Ma, aku sudah ikhlas."

"Lalu kamu akan tinggal dimana?"

"Stella bisa tinggal di butik, Ma, kebetulan ada ruangan kosong di butik."

"Kamu tinggal di rumah Mama saja, Ste," usul Laras.

Stella menggeleng. "Tidak, Ma, Stella tidak enak dilihat orang, apa kata orang nanti?"

"Kamu masih saja memikirkan omongan orang lain, kamu 'kan sebentar lagi jadi menantu Mama, Ste."

"Tidak usah, Ma, Stella tidak apa-apa kok tinggal di butik," tolak Stella tersenyum.

Laras merengkuh tubuh Stella, betapa baiknya wanita itu. "Kamu harus memberitahu Sandy tentang ini, Ste."

Stella menarik diri. "Stella mohon jangan beritahu Sandy, Ma," pintanya.

"Sandy harus tahu, Ste."

Stella menggenggam tangan Laras. "Stella mohon, Ma, Stella akan memberitahukan padanya sendiri, tapi, tidak sekarang," pintanya memohon.

Laras menatap Stella dalam, tidak setuju dengan pendapat Stella.

"Masih ada urusan yang lebih penting yang harus ditangani Sandy, Ma, Stella tidak mau membebaninya dengan masalah ini," ucap Stella lagi.

Laras menghela nafasnya. "Baiklah, kalau itu menjadi keputusanmu," putusnya mengalah.

"Terimakasih, Ma."

.

.

.

...Jangan lupa vote, coment, follow...

...Biar author semangat ngetik 😂...

...See u next part 😘...

...(Bocoran, Sandy pulang 😋)...

...29 Januari 2020...

...Saskavirby...

1
PNC
katanya Sandy CEO
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia

aneh sich

tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya
PNC
wong sugih tapi kok
Ervina T
Luar biasa
Nuriati Mulian Ani26
semoga ..rumahnya dibeli sandi
Nuriati Mulian Ani26
wanita hebat dan mandiri..stela
Nuriati Mulian Ani26
keren ceritanya ringan .aku suka alurnya
Kasih Bonda
semangat
iis sahidah
Luar biasa/Good//Good//Good//Good//Good/
iis sahidah
rega laki2 banget
iis sahidah
bunda Stella keren
Tea and Cookies
Luar biasa
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂😂😂😂
Modish Line
♥️♥️♥️♥️♥️
Modish Line
😂😂😂😂😂😂
Modish Line
bodoh banget
Modish Line
good job Rega👍👍👍👍👏👏👏👏
Modish Line
blm jadi mamanya Aiden udh kaya ema tiri gini kelakuannya ....kalo jadi nikah bakalan abis nih Aiden disiksa sama si Fara gila
Al.Ro
Luar biasa
Ida Haedar
"ini sederhana sesuai porsi ku.. " (sandy) shommboong!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!