NovelToon NovelToon
Perindu Senja

Perindu Senja

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:52k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ata~Tenareten

Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.

Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekhawatiran

"Hey, apa yang kalian lakukan disitu?" tanya Rian.

"Seperti biasa Rian," jawab Metallo, seraya mengangkat secangkir kopi, yang telah diminum setengah dari isinya, dan menunjukkan kepada Rian.

"Mau kemanakah engkau?" Festo bingung, mantap Rian penuh tanya, sebab Rian tidak mampir ke pondok mereka, melainkan berjalan terus tanpa menguraikan lagi mereka bertiga.

"Woe... Mau kemanakah engkau?" teriak Metallo.

Rian sama sekali tidak menghiraukan mereka, sehingga membuat ketiganya bingung. Oleh karena Rian tidak terlihat seperti biasanya, yang selalu mampir ke pondok mereka, walaupun keadaan yang sangat genting memaksanya terburu-buru mengambil sebuah tindakan.

"Mungkin dia lupa sesuatu di sekolah, sehingga begitu buru-buru," cetus Festo.

"Tidak mungkin," Metallo menggelengkan kepalanya pelan, "Jikalau peralatannya ada yang tertinggal di sekolah, untuk apa dia buru. Kalian tahu sendiri, bahwa sekarang semua pintu kelas telah tertutup, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa jikalau apa dicarinya dicarinya itu ada di dalam ruangan kelas."

"Benar Metal, lalu apakah yang membuatnya terburu-buru, sehingga dia sama sekali tidak menghiraukan kita. Ah... Ini pasti ada masalah yang mengganjalinya."

"Tidak mungkin Metal. Jikalau ada masalah, tentunya dia beritahukan kepada kita."

"Tidak semua masalahnya, harus dia katakan kepada kita, Dabllo."

"Iya, Benar Metal," Festo menatap Rian penuh kebingungan, "Apa yang terjadi pada dirinya?"

"Mana mungkin aku tahu, Apa diantara kalian berdua memiliki masalah dengannya, sehingga dia tidak mampir disini?" tanya Metallo, diselimuti rasa penasaran yang mendalam.

"Aku?" Dabllo menggelengkan kepalanya pelan, "Aku sama sekali tidak memiliki masalah apapun dengan dia."

"Aku juga sama, lagipula bertemu dengan nya pun sangat jarang," cetus Festo, penuh kebingungan.

"Sudahlah... Kita tunggu saja dia disini," Metallo menatap keduanya sesaat, sebelum mengahlikan pembicaraan mereka mengenai Rian, "Dari pada pusing, ambilkan gitarku, Festo."

*****

"Kapan dia akan pulang?"

Seorang wanita paruh baya, tidak tenang menunggu anaknya yang tak kunjung datang. Di depan teras rumahnya, dia menanti kedatangan putri kesayangannya, ditatap nya terus lorong kecil dari rumahnya menuju ke jalan raya.

'Kenapa dia belum pulang?' batinnya, dipenuhi kegelisahan yang mendalam.

Tak lama kemudian dia bangkit dari duduknya, dan bergegas masuk ke dalam rumahnya. Langkah kakinya membawa dia menuju ke kursi tua, yang terletak di tengah-tengah ruangan tamu.

Perlahan di tatap nya jam dinding, yang berada di depannya. Hatinya makin membuyar, perasaannya hancur, kerena putri kesayangannya tak kunjung pulang, sedang sore perlahan-lahan mulai datang.

"Apa yang terjadi dengannya," pekiknya.

*****

"Dimanakah Ibu Laras dan anaknya?"

Seorang wanita paruh baya bertanya kepada seorang anak yang bersama dengan dia. Anak itu tak lain anaknya, yang seangkatan dengan anak Ibu Laras.Keduanya berjalan disamping rumah Ibu Laras, yang terlihat sangat sepi tak berpenghuni.

"Mana aku tahu, Bu. Hari ini saja, aku tidak melihat Nia," Jawab anaknya.

Ibunya menghentikan langkah, raut wajahnya menjadi bingung sesaat, sebelum menatap tajam anaknya, "Hari ini kamu sekolah, tidak. Jangan-jangan engkau menipu Ibu lagi, seperti beberapa hari yang lalu."

"Sekolah, Bu."

"Ibu tidak percaya denganmu lagi. Hari kamis yang lalu, engkau pamit dari rumah, katamu mau ke sekolah, tapi nyatanya tidak."

Seketika raut wajah anaknya berubah, dipenuhi rasa takut yang mendalam, 'Kenapa Ibu bisa tahu? Darimana Ibu mendapatkan informasi ini?' benaknya.

"Nak, kenapa bengong. Kamu pikir Ibu tidak tahu, bahwa hari kamis yang lalu kamu tidak sekolah, melainkan nongkrong bersama Metallo dan teman-temanmu yang lain, bukan?"

Anaknya tertunduk diam sesaat, sebelum melangkah lebih cepat lagi menghampiri Ibunya yang telah di depan pintu masuk dapur Ibu Laras.

'Ini... Ini, pasti Nia yang melaporkan tindakan aku kepada Ibu,' dia mengigit bibir bawahnya, seakan-akan ingin memberikan pelajaran kepada Nia, jikalau dia ada disitu, 'Awas kau... Nanti akan aku balas perbuatanmu ini,' dia mengumpat keras dalam benaknya, karena dia sendiri tahu bahwa Ibunya akan memberikan sangsi yang berat, dari kelakuan buruknya itu.

"Kenapa, Nak," pinta Ibunya, oleh karena melihat raut wajah dia berubah drastis, penuh amarah yang mendalam.

"Oh... Tidak apa-apa, Bu."

...Ibu Laras yang tertunduk diam dalam dan juga dilema, karena sang buah hatinya tak kunjung datang, seketika kaget mendengarkan keduanya....

Dia bangkit dari kursi tua itu, dan perlahan menghampiri mereka, "Hay, Lian. Hendak kemanakah kalian berdua?" tanyanya, penuh antusias.

"Ke kebun Laras," jawab Ibu Lian.

Pandangan mata Ibu Laras terus terarah kepada anak dari Ibu Lian, 'Dia sudah pulang, sedangkan Nia..."

Kalbu Ibu Laras makin merintih, dipenuhi kegelisahan yang mendalam, sebab telah berjam-jam lamanya dia menunggu putri nya itu, namun tak pernah juga dia tatap ayu paras buah hatinya.

"Hay, Laras. Kenapa engkau mentap anakku demikian?" tanya Ibu Lian, karena merasa ada sesuatu yang menjagali Ibu Laras, sehingga dia bertikah demikian.

"Tidak apa-apa, Lian," jawabnya, seraya duduk di depan pintu masuk dapur mereka.

"Lias, apakah engkau tidak sekolah hari ini?" tanya Ibu Laras.

Seketika Ibu Lian kaget, tatapannya kedapa anaknya berubah drastis, dia sangat kecewa dan juga marah terhadap anaknya, "Apakah benar, kamu tidak sampai di sekolah hari ini, Lias...."

"Bu, saya sekolah. Jujur... Saya sekolah, Bu," jawab Lias, dipenuhi rasa takut yang mendalam.

"Sekolah... Tidak..." Ibu Lian mengalihkan pandangannya kembali kepada Ibu Laras, sebab dia sama sekali tidak percaya dengan anaknya, karena telah berulang kali Lias mengelabuinya. Walaupun demikian, dia juga tidak yakin dengan Ibu Laras, "Laras, dimana Nia?" tanyanya.

Ibu Laras menundukkan kepala sesaat, sebelum menatap Ibu lian serta Lias dengan penuh tanya, "Justru itu, aku menanyakan anakmu. Lias, apakah kamu tahu keberadaan Nia sekarang? "

"Aku sama sekali tidak tahu, Bu."

"Ada apakah yang terjadi dengan Nia? Dimanakah dia sekarang?" tanya Ibu Lian, yang terlihat sangat khawatir dengan Nia.

"Aku dari tadi menanti kedatangannya disini, tapi..." Ibu Laras menundukkan kepalanya sesaat, serta menarik nafas yang sedalam-dalam mungkin, "Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku perbuat, jikalau terjadi sesuatu kepadanya."

"Hm... Setahuku, tadi siang dia pulang bersama Indri, tapi...."

"Tapi apa Lias?" tanya Ibu Laras, yang terlihat sedikit tenang ketika mendengar kabar, bahwa Nia pulang bersama Indri.

"Anehnya, ketika aku mampir di rumah Indri, dia tidak ada disitu, begitu pula dengan Indri, padahal mereka pulang lebih dahulu, mendahului aku dan teman-teman yang lainnya," sambung Lias.

"Mungkin dia dan Indri main ke rumah teman mereka, atau dia dan Indri hendak kesini melewati jalan pintas," pinta Ibu Lian.

"Tidak mungkin," Ibu Laras menggelengkan kepalanya pelan, "Jikalau dia...." perkataan Ibu Laras terhenti, ketika melihat nampak dari jauh sosok yang tak asing lagi bagi dirinya, diboncengi oleh seorang pemuda yang tak asing pula bagi dirinya.

"Nah..." cetus Ibu Lian, menunjuk ke arah kedua orang itu.

Bersambung...

1
Reaz
semagat Thor.../Ok//Good/
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Abu Yub
luar biasa
Abu Yub
Aku kasih bintang masuk ngak dedek
Abu Yub
Aku mampir dedek/Rose//Rose/
Abu Yub
sedih
Abu Yub
dapat melihat
Abu Yub
Tumben
Abu Yub
indah namun aneh
Larina
Turut prihatin dengan keadaan listrik di wilayah Metallo, ternyata cukup payah
Larina
mereka sama-sama menarik nya
Larina
pH no,, dia salah sangka
KIA Qirana
Wah, kalian jadi lebih sakit kan, terjatuh, dan tertimpa 🤔🤔
Adinda
Kasihan Mey, jiwanya jadi murung
ALONE ⭕
Astaga, itu para ibu-ibu rombengan banget mulutnya
Zelyn ⭕
Hey Metallo sabarlah sedikit
Nina ♋
Apa aku seindah senja 🤔🤔🤔
Dhina ♑
Sungguh miris keadaan Mey.
Dikelilingi kebencian
Jazz ♋
Dia siapa
Jazz ♋
Pukulan kamu sungguh dahsyat Mey
Jazz ♋
Karena tidak ada cara lain untuk menyadar........

Thor, itu maksudnya bagaimana ya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!