Menikah kemudian bahagia adalah impian semua orang. Begitu juga dengan Soraya. Namun dapatkah dia bahagia saat menikah dengan seorang player?
Apakah harapan Soraya bahwa Ardan akan berubah bisa menjadi kenyataan?
Ataukah pernikahan mereka akan kandas karena wanita lain?
Lalu siapa Soraya sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang wanita sebatang kara? Bagaimana jika seandainya waktu mengungkapkan jati dirinya?
Cerita ini penuh dengan intrik, dendam, perselingkuhan, perebutan kekuasaan dan kekuatan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijjatul Helna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianat harus mati!
33 Maaf, Aku Menyerah!
Soraya merapikan penampilannya di depan cermin. Ardan yang baru keluar dari kamar mandi memandang istrinya dengan tatapan heran karena melihat Soraya sudah rapi dalam balutan blazer berwarna kream.
"Mau ke mana?" Ardan bertanya sambil mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Soraya di atas ranjang.
Soraya memalingkan wajahnya ke arah Ardan.
"Ke perusahaan ... Tadi Asisten Luke mengabarkan kalau ditemukan adanya kecurangan di beberapa proyek yang sedang perusahaan tangani."
Ardan mengernyitkan dahi dan menatap tajam ke arah Soraya.
"Apakah memang memerlukan dirimu untuk turun tangan langsung? Bukankah hal itu masih bisa ditangani asisten Luke?"
"Iya ... Sebenarnya kemampuan Luke dapat diandalkan untuk mengatasi hal ini. Tapi aku merasa perlu untuk turun tangan. Selain untuk mengasah kemampuanku, juga untuk melihat siapa-siapa pengkhianat itu. Lagipula Hana sudah berusia 6 bulan, aku sudah bisa meninggalkannya sekali-sekali."
"Oh, pantesan kau mau mempekerjakan babysitter sekarang. Ternyata kau sudah tak sabar untuk bekerja lagi."
Ada nada kesal dalam perkataan Ardan. Soraya yang sudah selesai mempersiapkan diri, mendekati suaminya dan membantu memakaikan dasi di leher suaminya, kemudian bergelayut manja di lengannya yang kekar.
"Apakah itu sebuah pernyataan yang merupakan sebuah larangan untukku bekerja?"
Ardan berdehem, menetralisir gemuruh di dadanya karena gesekan gunung kembar Soraya di lengannya. Istrinya itu rupanya sudah mengetahui kelemahannya tanpa harus bersusah payah merayu dirinya.
"Ekhm ... Kalau mau jujur aku memang keberatan kau kembali bekerja. Tapi aku juga sadar bahwa sekarang kau bukan hanya istriku tapi juga seorang penerus keluarga Palvin. Besar tanggung jawab yang harus kau pikul. Dan aku tak akan tega menambah beban itu dengan sebuah larangan."
Soraya tersenyum mendengar perkataan Ardan.
"Terima kasih, sayang! Aku tahu kau pasti akan memahamiku." Soraya mencium rahang suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang menambah aura maskulinnya.
Ardan menggeram rendah.
"Jika kau terus melakukan itu, aku pastikan bahwa kepergianmu ke perusahaan hanya akan menjadi khayalan. Karena aku akan dengan senang hati menghempas tubuhmu yang sintal itu ke ranjang dan menghimpitnya dengan penuh gairah sampai kau terus memekikkan namaku di sela napasmu yang terengah karena mencapai kepuasan."
Wajah Soraya terasa memanas mendengar perkataan suaminya yang terlalu vulgar. Dia langsung melepaskan diri dari tubuh suaminya.
Ardan terkekeh melihat Soraya yang gelagapan. Dia kemudian mengenakan jas berwarna senada dengan celananya.
"Mengapa kau masih tersipu? Padahal aku sudah melihat seluruh tubuhmu dan menjelajahinya," kata Ardan sambil tersenyum menggoda.
"Kyaaa ... Sudah ... Sudah!"
Soraya mengibaskan tangan ke wajahnya yang terasa panas.
Sambil tertawa, Ardan merangkul pinggang Soraya dan membawanya ke luar kamar.
Mereka berjalan menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Bagaimana dengan Hana?" tanya Ardan di sela sarapan.
"Dia masih tidur. Biasanya bangun pukul 09.00 pagi."
Mereka meneruskan sarapan sambil berbincang ringan.
"Kau ikut mobilku?" tanya Ardan setelah menyelesaikan sarapannya.
Soraya membersihkan bibirnya dengan serbet. Dia mengambil cangkirnya dan menyesap kopi dengan perlahan.
"Tidak! Aku pakai mobil sendiri."
"Nyetir sendiri?" Tatapan Ardan mengisyaratkan keberatan.
"Aku pakai sopir, seperti biasa."
"Oh, baguslah! Aku tak mau kau terlalu lelah." kata Ardan sambil mengusap pipi Soraya dengan lembut.
"Iya, aku tahu. Kau suami paling perhatian di muka bumi ini."
Ardan terkekeh.
"Itu tandanya aku begitu mencintai dan menyayangimu. Kau sudah selesai?"
Soraya mengangguk dan segera bangkit dari kursinya.
Ardan merangkul Soraya dengan mesra sambil melangkah ke luar mansion.
Di halaman, sudah terparkir dua buah mobil yang akan membawa mereka ke perusahaan masing-masing.
"Aku berangkat," kata Ardan sambil mengecup dahi Soraya.
Soraya memejamkan matanya, meresapi kecupan di dahinya.
Setelah Ardan masuk ke mobilnya, Soraya juga masuk ke mobilnya.
Mobil mereka segera bergerak ke luar dari gerbang mansion dan meluncur mulus di jalan raya.
Asisten Luke yang duduk di samping sopir menyerahkan sebuah berkas ke tangan Soraya.
Soraya menerima berkas itu dan mempelajarinya.
"Hmm ... Jadi, kedua perusahaan itu yang melakukan kecurangan?" tanya Soraya setelah selesai mempelajari.
"Benar, Nyonya!"
"Apakah ini kecurangan pertama mereka?"
"Tidak! Mereka sudah pernah melakukan kecurangan sebelumnya. Dan sudah pernah mendapat teguran pada saat kepemimpinan Nyonya Besar."
Soraya mengernyit mendengar jawaban asisten Luke.
"Maksudmu, kedua perusahaan itu pernah melakukan kecurangan pada kepemimpinan Granny? Dan Granny hanya memberikan teguran?" tanya Soraya memastikan.
"Benar, Nyonya."
"Apa alasan Granny melakukan itu?" gumam Soraya tapi masih terdengar oleh Luke.
"Maaf, Nyonya! Saya kurang tahu. Saya cuma menjalankan perintah. Tak punya keberanian untuk menanyakan keputusan yang sudah diambil Nyonya Besar."
Soraya mengangguk memahami posisi Luke yang hanya seorang asisten. Dia cukup heran karena mengingat betapa keras sikap Granny selama ini, tapi mengapa malah bersikap longgar saat ada yang melakukan kecurangan.
Mobil yang membawa mereka telah berhenti di depan pintu masuk kantor.
Asisten Luke segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Soraya. Soraya turun dan langsung masuk ke dalam kantor diiringi asisten Luke.
"Jadi, kedua perusahaan itu juga akan hadir di rapat kali ini?"
"Benar, Nyonya!"
Soraya telah sampai di ruangannya. Sebelum rapat dimulai dia ingin membicarakan hal ini dengan Luke terlebih dahulu.
Bukan apa-apa, Luke sebelumnya merupakan asisten Granny, karena itu dia mengetahui banyak hal sebelum Soraya mengambil alih kepemimpinan.
"Luke ... Katakan padaku, jika kau memiliki kewenangan untuk memutuskan, tindakan apa yang akan kau ambil dalam masalah ini?"
Luke terlihat terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari Soraya. Dia terdiam sejenak, dahinya berkerut tanda sedang berpikir.
"Bagaimana ini, aku tidak siap untuk pertanyaan seperti ini, " batinnya.
"Maaf, Nyonya! Menurut hemat saya, lebih baik Nyonya mengambil keputusan berdasarkan keuntungan dan kerugian. Apa yang akan terjadi jika Nyonya memutuskan untuk mengambil tindakan pada mereka? Karena setiap keputusan pasti mengandung resiko, tapi bagi kita yang bergelut di bidang yang penuh dengan persaingan ini, resiko merupakan hal yang tak dapat dihindari."
Soraya mengangguk, dia mengerti maksud Luke.
Tok ... Tok ...
"Masuk!"
Ervy, sekretaris Soraya masuk.
"Maaf, Nyonya! Semua sudah berkumpul di ruang rapat."
"Baik, aku segera ke sana."
Ervy keluar dari ruangan. Soraya menyandarkan tubuhnya, menengadahkan kepala dan memejamkan mata sejenak. Dia mempertimbangkan keputusan yang akan diambil.
Soraya membuka mata setelah yakin dengan keputusannya.
Luke mengiringi Soraya masuk ke ruang rapat. Soraya berjalan menuju kursinya di ujung meja yang berbentuk memanjang.
Soraya duduk di kursi kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh anggota rapat. Perlahan suara yang tadi memenuhi ruang rapat mendadak senyap. Tatapan tajam dari Soraya mampu membuat anggota rapat tegang.
Ada apa dengan pimpinan hari ini, pikir mereka.
"Sebelum kita mulai rapat hari ini, saya akan mengumumkan sesuatu."
Wajah-wajah tegang tampak setelah Soraya bicara.
"Tak usah takut jika tak berbuat salah. Sekarang, saya ingin memberi kesempatan pada orang yang telah melakukan kecurangan pada proyek yang sedang dipegangnya untuk melakukan pengakuan."
Para anggota rapat saling pandang dengan penuh tanda tanya.
Siapa yang berani berbuat curang pada keluarga Palvin? Berani sekali! pikir mereka.
Soraya berdecak kesal karena orang-orang yang dimaksud sama sekali tak menganggap dirinya.
"Ckck ... Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Saya sudah memberikan kesempatan untuk mengakui dosa kalian. Jangan salahkan saya mengambil keputusan yang cukup kejam!"
Hening ...
"Maaf, Tuan Abos dan Tuan Rames, Anda berdua silakan keluar dari ruangan ini. Perusahaan ini memutuskan semua kerjasama kita."
Semua mata yang terkejut langsung menatap ke arah kedua orang disebut oleh Soraya.
"Dasar wanita sialan! Kau kira kami akan diam saja kau permalukan seperti ini."
Aaa...
Terdengar teriakan tertahan dari orang-orang yang berada di sana melihat Tuan Abos yang sudah berdiri dan mengacungkan pistol ke arah Soraya.
"Kau ingin mati?"
Nada dingin terdengar menusuk dari Soraya yang memandang dengan raut wajah datar. Tak nampak ketakutan dari Soraya, malah tatapannya terlihat mengintimidasi.
Tak ada lagi Soraya yang lembut. Yang ada adalah Soraya, Sang Wanita Penguasa.
"Ha ... Ha ... Ha ... Pertanyaan konyol! Yang memegang senjata di sini adalah aku. Begitu aku menekan pemicunya, peluru akan menembus batok kepalamu." Tuan Abos tampak menatap dengan garang.
"Begitukah? Bagaimana kalau kita buktikan saja? Aku atau kau yang akan mati di sini." Soraya tampak santai dan memandang dengan tatapan meremehkan.
"Sialan! Kau memaksaku," teriak Abos.
Sreet ... Dor ...
Akhhhh...
Suara letusan bersamaan dengan teriakan kesakitan yang menggema di ruangan itu. Menimbulkan kengerian pada siapa saja yang melihat.
Kejadiannya begitu cepat. Tuan Abos terkapar bersimbah darah dengan leher hampir putus. Pistolnya meletus ke atas langit-langit setelah lehernya ditebas oleh seorang wanita berwajah dingin yang berdiri di samping mayatnya.
Wanita itu nyaris tanpa ekspresi. Seolah yang barusan ditebasnya adalah seekor ayam. Senjata di tangannya serupa dengan ikat pinggang tapi terbuat dari besi tipis yang sangat tajam. Terbukti dengan mayat Abos yang mati mengenaskan dengan mata melotot.
Semua yang hadir di sana tercekat dan menahan napas karena terkejut.
Soraya masih tampak tenang, tak terlihat terpengaruh dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Bagaimana Tuan Rames? Apakah Anda ingin menyusul Tuan Abos?"
Rames memandang dengan penuh kemarahan tapi dia sadar kalau lebih baik menghindar untuk saat ini. Dia berdiri dan keluar dari ruang rapat diiringi asistennya.
"Bukankah sudah pernah saya katakan, kalau saya benci pengkhianat! Semoga kalian semua yang ada di sini bisa berpikir lagi untuk mengkhianati saya pada masa yang akan datang. Saya tak akan menolerir terhadap pengkhianatan."
Tatapan tajam Soraya seperti menembus orang-orang yang ada di ruangan itu. Kengerian yang baru saja terjadi merupakan bukti betapa kejamnya wanita yang sekarang berada di depan mereka.
Jangan melawan kekuasaan Palvin!
Bersambung...
Siapa wanita yang bersama Soraya?
Akan terjawab pada part yang akan datang.
Stay tune!
Jangan lupa like dan krisan ya!
sukses
semangat
mksh
mksh cerita nya kk 🤗
kerennnn 👌👍
tetap semangat berkarya ✍️✊