NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Milik Jendral Vampire

Gadis Cantik Milik Jendral Vampire

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Cinta Terlarang / Identitas Tersembunyi / Dunia Lain / Kutukan / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: bbyys

Saat Sora membuka mata, dia terkejut. Dia terbangun di sebuah hutan rindang dan gelap. Ia berjalan berusaha mencari jalan keluar, tapi dia malah melihat sebuah mata berwarna merah di kegelapan. Sora pun berlari menghindarinya.

Disaat Sora sudah mulai kelelahan, dia melihat sesosok pria yang berdiri membelakanginya. "Tolong aku!" tanpa sadar Sora meminta bantuannya.
Pria itu membalikkan badannya, membuat Sora lebih terkejut. Pria itu juga memiliki mata berwarna merah.

Sora mendorongnya menjauh, tapi Pria itu menarik tangannya membuat Sora tidak bisa kabur.

"Lepaskan aku." Sora terus memberontak, tapi pegangan pria itu sangat erat.

"Kau adalah milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbyys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Akeelah Pertama

Setelah dirasa keadaan di luar sudah aman. Semua orang yang berada di ruang perlindungan keluar. Sora ikut keluar.

Mata semua orang terbelalak, mereka terkejut mendapati tempatnya yang tampak kacau balau. Tanahnya rusak serta pohon-pohon tumbang. Tempat itu sangat berantakan.

Hal yang lebih menakutkan adalah banyak mayat dimana-mana. Monster itu membunuh banyak orang.

Beberapa para bangsawan kembali ke kediaman masing-masing. Sebagian lagi bersedia menjadi relawan. Para pelayan serta penyihir putih juga ikut membantu.

Para penyihir putih memberikan sihir penyembuhan kepada yang masih hidup sedangkan sisanya memindahkan mayat untuk di kembalikan kepada keluarganya.

Aldrich tampak sibuk. ia diberi tugas untuk mengurus masalah ini. Kalau dilihat seperti ini, ia seperti orang yang berbeda. Biasanya ia selalu memasang wajah konyol yang sering tersenyum. Kini wajahnya tampak serius.

la memberikan arahan dengan sempurna. la terlihat seperti seorang pemimpin. Ashley dan Aldrich mereka juga terlihat sangat dekat. Tidak ada rasa canggung diantara keduanya. Mereka berdua mengatur dengan sangat baik.

"Apa itu?" Sora melihat ada sesuatu yang bercahaya di atas tanah. Dia berjalan mendekatinya, terlihat sebuah serpihan kaca kecil berwarna merah transparan.

"Batu Setan?" Sora mengambil batu itu. "Akh!" Rasa perih terasa ditelapak tangannya. Warna merah batunya memudar perlahan menjadi bening kembali.

'Ternyata benar, batu itu adalah batu setan.' Batin Sora.

Sora langsung menaruh batu itu di kantong bajunya. "Saat tiba di camp aku akan mencari tempat untuk menyimpannya." Gumam Sora.

"Sora!" Panggil Ashley, dia menoleh ke arah suara itu.

"Ash ... Jendral!" sambut Sora.

Sora berjalan mendekatinya. Ashley memandangi Sora seperti ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Tapi tidak ia utarakan.

"Ada apa?" tanya Sora penasaran.

"Ada hal yang membuatku penasaran." Ashley terus memandangi Sora sambil melipat kedua tangannya.

"Hal yang membuat penasaran, apa itu?"

sambung Sora.

"Ti-tidak, tidak jadi. Aku akan bertanya saat kita tiba di camp." Putusnya.

Mungkin karena ada banyak orang disana, itu sebabnya ia tidak jadi bertanya.

Sebenarnya tanpa perlu mengatakan apapun. Sora sudah tahu apa yang akan ia tanyakan. Semua pertanyaan itu tentang peristiwa hari ini.

"Sora kau pulanglah duluan. Aku akan beritahu Javier untuk menyiapkan keretanya."

"Aku tidak bisa kembali sekarang, aku ingin membantu kalian." ujar Sora. "Tenaga kerja disini masih kurang. Mereka semua sudah tampak lelah. Bagaimana bisa aku kembali?" Sora benar-benar tidak bisa meninggalkan mereka.

"Kau itu sedang terluka. Kau seharusnya istirahat. Jangan khawatirkan tempat ini, bantuan dari istana akan segera datang." ucap Ashley, ia berusaha meyakinkan Sora.

Sora hanya bisa menghela nafas, tidak bisa menolaknya lagi. Dia pun kembali ke camp seorang diri.

"Sora!" Flora menyambut kedatangannya, tapi langkah kakinya terhenti karena melihat keadaan Sora yang tampak berantakan. "Apa yang terjadi padamu?" Wajahnya tampak khawatir.

"Ada penyerangan monster disana." Sahut Sora.

"Monster? Bagaimana bisa tempat elit seperti itu bisa diserang monster. Seharusnya tempat itu sudah diberi dinding pelindung." Sungutnya.

"Tempat itu memang telah diberi dinding pelindung. Tapi entah mengapa, dindingnya pecah sehingga seekor monster bisa masuk dan menyerang." Tutur Sora.

"Apa dinding di camp juga bisa pecah juga?" Khawatirnya.

"Jangan khawatir. Jendral bilang para penyihir putih akan memeriksa semua dinding dan memperbaiki nya." ujar Sora.

"Apa kau lapar?" tanya Flora.

la terlalu perhatian kepadanya. Padahal selama ini dia selalu merepotkannya tapi ia selalu membantunya dan memberikan perhatian lebih.

"Iya. Aku lapar sekali." Sora memegangi perutnya yang keroncongan.

"Ayo mandi dulu. Aku akan siapkan bak mandinya untukmu." Flora menariknya masuk ke dalam camp, berjalan menuju kamar.

"Maaf sudah merepotkanmu." Sora merasa tidak enak kepada Flora. Padahal ia lebih sibuk darinya, tapi ia selalu menyisihkan waktunya hanya untuk membantunya.

"Jangan sungkan. Kalau aku yang sakit kau juga harus merawatku." timpalnya.

"Iya. Tentu saja." Sora memeluk teman baiknya.

Sora kembali ke kamar mengambil peralatan mandi dan pergi ke pemandian. Flora sudah ada disana, ia membantunya memindahkan air kedalam bak didalam bilik.

"Mandilah. Aku akan menunggumu di kamar." ujar Flora.

Sora berendam di air, rasanya sedikit perih saat terkena air. Dia melihat telapak tangannya, tanda bunga di telapak tangannya menjadi lebih jelas.

Warna merah dikelopak bunganya sedikit terlihat.

Sora mengeluarkan pecahan batu setan yang sudah dia taruh di botol bekas obat penambah darah yang sering Ashley berikan.

Sora memperhatikannya dengan seksama. Teringat saat dia memegang batu itu, batu ini yang tadinya berwarna merah kini menjadi bening transparan. Warna merahnya terasa seperti terserap oleh tubuhnya, dia juga merasakan rasa sakit saat warna batu itu berubah.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa mungkin warna merah itu benar-benar terserap oleh tubuhnya? Lalu warna merah itu apa?"

Sora tidak bisa menemukan jawabannya. Tidak ada siapapun yang bisa dia tanyakan bahkan tidak ada informasi tentang itu di dalam buku.

"Akeelah?" Gumam Sora. Jika dia bisa bertemu dengan Akeelah itu mungkin semua pertanyaan ini bisa terjawab. Tapi itu adalah hal yang mustahil karena reinkarnasi Akeelah telah terputus puluhan tahun yang lalu.

Air hangat membuatnya sedikit mengantuk, entah mengapa rasa kantuk ini sulit untuk ditahan.

...****************...

"Sora ... Sora ...."

Ada suara lembut yang memanggilnya, suara seorang wanita. Suara itu sama dengan suara yang selalu memandunya didalam pikirannya.

Sora membuka matanya, matanya terbelalak. Dia terkejut mendapati dirinya ada di tempat yang asing. Dia berada di sebuah taman bunga. Seluruh taman itu di tumbuhi bunga berwarna putih. Bunga camelia putih mekar dengan sempurna. Sepanjang mata memandang hanya ada bunga camelia. Dia ada di dalam rumah kaca.

Ditengah taman, Sora melihat sesosok wanita memakai gaun berwarna putih. Warna rambutnya pirang keemasan. la sedang duduk membelakanginya menikmati segelas teh.

"Kemarilah!" Panggilnya.

Padahal ia tidak melihat kebelakang tapi ia menyadari kehadirannya. Sora mendekatinya. Wajah wanita itu sangat cantik, kulitnya putih serta matanya yang berwarna biru yang bersinar.

"Duduklah!" Tiba-tiba bangkunya bergeser sendiri, wanita itu mempersilakan. Saat Sora hendak duduk bangkunya bergeser lagi seperti sedang membantunya.

Gelas teh bergerak sendiri juga, terbang ke arahnya dan mendarat tepat di depannya. Sebuah teko yang berisi teh panas dituangkan ke gelas miliknya.

Seperti menggunakan sihir, semua barang bisa bergerak sesuai kemauannya.

"Minumlah." Dengan ragu, Sora menyeruput teh itu. Tehnya wangi serta manis. Padahal dia tidak melihatnya memasukkan gula tapi manisnya pas sesuai seleranya.

"Anda siapa?" tanya Sora memulai pembicaraan.

"Namaku adalah Aleesa Altair. Aku adalah akeelah, penjaga batu setan." Jawabnya, suaranya sangat lembut.

"Akeelah? Apa anda akeelah terakhir?"

timpal Sora.

Wanita itu tersenyum. "Aku adalah akeelah pertama. Orang yang memiliki kehormatan dapat dipercaya oleh dewa."

Setelah dilihat-lihat lagi, Sora seperti pernah melihatnya. Dia memutar matanya berusaha mengingat.

"Aku ingat." Gumam Sora.

Wanita cantik itu tampak mirip seperti patung yang dia lihat di dalam kuil Akeelah.

"Dimana ini?" Sora kembali melihat kesekitar, dia baru menyadari langit di luar ruang kaca tidak menunjukan langit biru ataupun langit malam berbintang, hanya langit berwarna putih polos.

"Kau ada di dalam soulscapeku. Dunia didalam pikiranku."

"Soulscape? Dunia didalam pikiran?" ucap Sora bingung.

"Kupikir ada banyak hal yang perlu kita bicarakan. Aku memakai kekuatanku yang tersisa hanya untuk menarik jiwaku masuk ke sini." ucapnya sambil menyeruput tehnya.

"Aku juga mempunyai banyak hal yang ingin aku tanyakan. Apa aku boleh bertanya?"

"Tanyakanlah apa yang ingin kau tanyakan."

"Kenapa aku bisa membuka kuilnya. Padahal kuil itu sudah di segel dan lagi kenapa waktu itu anda menyuruhku untuk melindungi batu setan. Padahal anda tau sendiri aku tidak memiliki kekuatan untuk melindunginya bahkan aku tidak bisa melindungi diriku sendiri?"

"Itu karena kau adalah gadis yang istimewa, tubuh dan jiwamu memiliki keistimewaan." ujarnya.

"Keistimewaan apa yang anda maksud?"

timpal Sora.

Wanita itu kembali tersenyum. "Jiwa dan tubuhmu berasal dari dunia yang berbeda. Tapi memiliki wajah yang sama. Kau memiliki jiwa yang murni, sedangkan tubuhmu memiliki kekuatan sihir putih yang langka. Itu sebabnya kau bisa membuka segel kuil."

"Benarkah? Jiwa dan tubuhku berasal dari dunia yang berbeda?" gumam Sora.

Apa itu sebabnya warna mata dan rambutnya berubah karena tubuh ini bukanlah tubuh aslinya. Itu sebabnya juga Aldrich mengatakan kalau kemungkinan dia adalah bagian dari keluarganya, hanya karena dia memiliki mata yang sama.

Tubuh ini memiliki keluarga di dunia ini. Lalu kemana perginya jiwa aslinya, apa ia masuk ke dalam tubuhnya di dunianya. Tapi itu tidak mungkin kan karena tubuhnya yang asli mungkin sudah hancur karena kecelakaan.

"Apa itu sebabnya anda memintaku untuk melindungi batu setan?"

"Iya. Karena kau memiliki kekuatan untuk melindunginya."

"Kekuatan apa? Aku tidak memiliki kekuatan apapun, aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri."

"Itu karena jiwa dan tubuhmu belum menyatu sepenuhnya, sehingga kekuatanmu belum bangkit."

"Lalu kemana perginya jiwa dari tubuh ini? Apa ia masuk ke tubuh lain?"

"Tidak." Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Takdir gadis itu sudah berakhir, hidupnya sudah selesai. Jiwanya pergi ke tempat suci dimana para arwah berkumpul. Tempat suci yang disebut alam roh."

"Lalu bagaimana denganku? Bukankah seharusnya jiwaku pergi ke alam roh juga."

"Bukankah aku sudah bilang jika jiwamu itu special. Takdirmu belum berakhir dan itu sebabnya jiwamu masuk ke tubuh ini untuk menyelesaikan takdirmu."

Sora tetap tidak mengerti maksud perkataannya. Jiwa yang special, takdir yang belum berakhir. 'Apa sebenarnya, aku belum waktunya untuk mati?' Pikir Sora.

"Apa ada cara untuk membangkitkan kekuatan yang anda maksud?" ucap Sora.

"Hanya waktu dan dirimu sendiri yang akan mengetahuinya. Kau bukanlah orang biasa. Kau memiliki anugerah yang besar."

"Anugerah?" Sora kembali tidak mengerti maksud dari kata-kata itu.

"Kau itu sebenarnya kuat. Aku percayakan batu setannya padamu, kumpulkan sebanyak-banyaknya pecahan batu itu. Jika tidak kegelapan akan menguasai dunia."

"Tapi pecahannya sangat banyak, aku tidak tahu akan memakan waktu berapa lama untuk bisa mengumpulkannya." Sela Sora.

2 kali dia bertemu monster dan 2 kali itu juga dia hampir mati. Jika harus mencari pecahan batu itu, mau tidak mau dia harus berurusan dengan para monster itu.

"Jangan khawatir, saat kau mendapatkan jumlah yang pas. Aku akan datang dan membantumu untuk mendapatkan sisanya." ujarnya.

"Kenapa tidak sekarang?" Potong Sora. Rasanya dia ingin segera mengakhiri penderitaan ini.

"Itu karena kekuatanku masih lemah. Itu sebabnya aku memintamu untuk mengumpulkan batunya. Dengan bantuan dari kekuatan batu, aku akan bisa membantumu untuk mengumpulkan sisanya." jelasnya.

Itu adalah misi yang sulit. Saat ini saja, dia harus menyembunyikan masalah ini. Bagaimana caranya untuk bisa mengumpulkan batu itu, siapa yang bisa membantunya. Hanya dengan memikirkan masalah itu saja sudah membuat kepalanya sakit.

"Ingat, kumpulkan batunya. Aku akan membantumu meski bukan bantuan yang besar." ucapnya.

...****************...

"Sora ...."

Tiba-tiba Sora terbangun, mendapati dirinya yang masih berada di dalam bak mandi.

"Kenapa kau malah tidur disini?" tanya Flora yang berdiri disampingnya. Sepertinya ia yang membangunkannya. "Kau bisa sakit jika tidur disini." Khawatirnya.

"Air hangatnya membuatku mengantuk. Tanpa sadar aku malah tertidur." sahut Sora memberikan senyuman kepadanya, menghilangkan rasa khawatir temannya itu.

Sora keluar dari bak, membasuh sedikit tubuhnya. Sora bergegas mengganti pakaiannya dan menemui Flora yang menunggunya di depan kamar mandi.

"Kau selalu membuatku khawatir. Aku pikir terjadi sesuatu padamu, karena kau tidak keluar-keluar dari kamar mandi." ucap Flora dengan tatapan khawatir.

"Maaf." Sora memeluk temannya, dia hanya bisa mengucapkan kata maaf padanya.

Sora dan Flora berjalan ke ruang makan, menikmati sedikit roti serta semangkuk sup panas.

Setelah perutnya terisi, Sora kembali ke kamar merebahkan dirinya ditempat tidur. "Senang rasanya bisa kembali ke kamar ini." Gumamnya. Lalu memejamkan mata, dia pun tertidur dengan pulas.

Esok harinya, Ashley telah kembali. Setelah urusannya di arena perburuan selesai, setibanya di camp ia langsung memanggil Sora ke ruangannya.

Sora duduk di sofa, duduk disampingnya membuat suasana menjadi canggung. Sejak tadi Ashley terus memandanginya tanpa berkata apapun, Sora tidak berani menatapnya dan hanya bisa melihat ke arah yang lain.

"Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku?" Lontar Ashley.

Sora melihat ke arahnya, memandanginya dengan pandangan bingung. "Mengatakan apa?"

Dia pura-pura tidak mengerti. Sora tau Ashley sedang menunggu penjelasan darinya.

"Apa kau benar-benar bisa melihat dinding pelindung?" tanyanya.

"Iya." sahut Sora. "Apa anda tidak bisa melihatnya?"

Ashley menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tidak ada yang bisa melihat dinding pelindungnya kecuali penyihir putih."

"Hanya penyihir putih? Tapi aku bukan penyihir bahkan aku tidak memiliki kekuatan sihir."

Sora terheran-heran. Kenapa dia bisa melihat dindingnya dengan jelas. Dinding berbentuk dome setengah lingkaran, dindingnya terlihat seperti terbuat dari kaca. Warnanya yang bening dan transparan.

"Sejak kapan kau bisa melihatnya?" Lanjut Ashley.

"Sejak awal. Saat aku pertama kali tiba di camp. Aku juga langsung bisa melihat dindingnya."

Ashley terdiam, ia memandangi Sora dengan lekat. Mata mereka saling bertemu.

"Apa kau yakin, kau lupa ingatan? Kau tidak ingat siapa dirimu?" tanya Ashley penasaran.

"Iya. Aku tidak ingat apapun. Yang kuingat hanyalah namaku." jawab Sora.

Jawaban Sora itu kembali membuat Ashley terdiam, ia melipat kedua tangannya sambil mengetuk-ngetuk jari. la sedang berfikir sesuatu.

"Untuk masalah ini, jangan beritahu siapapun kalau kau bisa melihat dinding itu."

"Iya." Sahut Sora. Dia sangat ingin bertanya kenapa harus menyembunyikannya, tapi dia merapatkan bibirnya tidak menanyakan pertanyaan itu.

"Kau sudah baikan?" tanya Ashley dengan suara lembut.

"Iya. Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih karena salepmu rasa sakitnya sudah berkurang." Sora menjawab dengan senyum cerianya.

Ashley memberikan salep miliknya. "Pakailah salep ini secara rutin. Obat ini bisa menghilangkan bekas memar serta bekas luka juga."

"Terima kasih." Sora mengambil salep itu dari tangannya.

"Untuk beberapa hari kedepan. Kau tidak perlu bekerja, istirahatlah dengan baik." Pesannya. "Kembalilah ke kamarmu." Perintahnya.

Sora bangkit dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Baru berapa langkah, dia berhenti lalu berbalik.

"Hmm ... Ashley." Panggil Sora. Ashley mengangkat kepalanya, mendengarkan. "Apa monster bisa berbicara?" tanya Sora.

"Berbicara? Kenapa kau menanyakan itu?"

"Hmm ... itu ..." Sora memutar otak nya berusaha mencari alasan. "Aku melihat, saat di kota seorang penyihir hitam tampak terlihat seperti sedang berbicara dengan monster itu dan monster itu juga menanggapinya. Jadi kupikir monster itu juga bisa berbicara."

"Selama bertahun-tahun aku membasmi monster, aku tidak pernah mendengar monster itu berbicara. Hanya auman yang selalu ia keluarkan. Auman layaknya binatang buas." jelas Ashley. "Tapi sepertinya para monster bisa mengerti apa yang kita bicarakan, ada beberapa monster yang memiliki kepintaran. Jadi wajar jika monster itu bisa mengerti perkataan kita."

"Aneh!" gumam Sora.

Jelas-jelas 2 kali dia bertemu monster dan dia bisa mendengar suara kedua monster yang sedang berbicara. Dia juga mendengar pembicaraan monster itu dengan penyihir hitam.

'Apa ini semua karena inti batu setan di tubuhnya sehingga dia bisa berkomunikasi dengan para monster itu?' Pikir Sora.

1
Aksara_Dee
kalau baru pertama biasanya tangan dan bahu jarem
Aksara_Dee
waah perkebunan apel, inget waktu ke malang
Aksara_Dee
lampu otomatis 😅
Aksara_Dee
Nama pacarku disebut ...
Aksara_Dee
sampai sini dulu ya Thor, nanti lanjut lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!