Untuk mengungkap penyebab adiknya bunuh diri, Vera menyamar menjadi siswi SMA. Dia mendekati pacar adiknya yang seorang bad boy tapi ternyata ada bad boy lain yang juga mengincar adiknya. Siapakah pelakunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Vera menutup pintu ruang administrasi itu. Dia menghela napas pelan, berusaha tetap tenang meskipun keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Dia menggeledah hampir setiap sudut ruangan administrasi sekolah yayasan itu—laci, rak, bahkan sela-sela meja yang mungkin saja menyimpan dokumen rahasia. Tapi sejauh ini, nihil. Semua laporan keuangan yang dia temukan tampak bersih. Jejak penggelapan dana itu sudah ditutupi
"Apa bukti itu berada di ruang kepala sekolah? Sepertinya aku harus keluar sebelum ada yang mengetahuiku," gumamnya pelan.
Vera segera merapikan kembali barang-barang yang telah dia geser, memastikan tidak ada yang tampak mencurigakan. Dia melangkah cepat menuju pintu, lalu mengintip ke luar untuk memastikan tidak ada orang di sekitar. Begitu yakin aman, dia keluar dan berjalan seperti seorang petugas kebersihan yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Dia berhenti di depan ruang kepala sekolah. Di dalam masih ada orang, dia urung untuk masuk dan kembali berjalan.
Saat berada di lorong sekolah, pikirannya terus bekerja. Tidak ada bukti fisik di ruangan itu, dia harus mencari ke tempat lain. Besok dia akan menyadap komputer dan meletakkan perekam suara.
"Aku harus segera menyelesaikannya," gumam Vera. Dia membersihkan peralatan kebersihan yang telah dia pakai lalu letakkan pada tempatnya. Dia merapikan rambutnya lalu memakai jaketnya. Dia berjalan menuju tempat parkir.
Vera melihat dua orang yang ada di pos satpam. "Untunglah Pak Satpam gak keliling," gumam Vera sambil memakai helmnya. Dia segera menaiki motornya dan melajukannya meninggalkan sekolah.
***
Dwiki memandang motor hitam yang baru saja melintas di gerbang sekolah. Dia tidak menyangka akan melihat sosok yang begitu familiar. Meski wanita itu memakai masker dan seragam cleaning service, Dwiki tidak mungkin salah mengenali.
Dia segera bertanya pada satpam yang masih berdiri di sampingnya untuk memastikan. "Siapa dia?"
"Oh, itu Mega. Cleaning service baru," jawab satpam itu santai. "Baru masuk hari ini."
Dwiki menyipitkan mata. Mega? Sepertinya dia memang sedang menyamar.
Tanpa berpikir panjang, Dwiki segera melangkah menuju motornya yang terparkir di dekat gerbang sekolah. Dia menghidupkan mesin dan mulai mengikuti wanita yang disebut ‘Mega’ itu.
Di depan, Vera yang masih memakai masker segera menyadari jika ada yang mengikutinya. Dia tidak perlu menoleh untuk memastikan, karena dia sudah sangat terbiasa dengan naluri bertahan hidupnya.
"Siapa dia?" batinnya sambil memutar gas lebih dalam.
Vera menambah kecepatan, mencoba mengambil jalan alternatif untuk menghindari penguntitnya. Dia berbelok ke gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu motor dalam satu waktu, lalu mempercepat laju kendaraan.
Tapi Dwiki tidak menyerah. Dia juga menambah kecepatan, menjaga jarak agar tidak kehilangan jejak. Rasa penasarannya semakin menjadi.
"Kenapa Vera menyamar di sekolah itu? Apa yang dia cari?" pikir Dwiki.
Vera semakin waspada. Jika dia terus dikejar, misinya bisa terancam. Dia tidak boleh membiarkan siapapun mengetahui identitasnya.
Tanpa berpikir panjang, Vera mengambil jalur memutar, memasuki sebuah gang sempit dengan tikungan tajam. Dia melajukan motornya dengan gesit, lalu dengan cepat berhenti di sebuah lorong, mematikan mesin, dan menahan napasnya sesaat.
Dwiki melesat melewati gang itu, tanpa sadar telah kehilangan jejaknya.
Vera menunggu beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas lega. "Nyaris," gumamnya.
Dia tidak tahu siapa yang mengikutinya. Setelah dirasanya aman, Vera keluar dari gang itu dan melaju menuju rumahnya.
Tapi saat dia akan menghentikan motornya di depan rumah, motor yang mengikutinya berhasil menyalip dan menghadangnya. "Mau apa dia?" Vera menghentikan motornya dan menatap tajam pengendara motor itu. Dia bersiap melawan jika pengendara itu akan melawannya.
"Kamu lupa sama aku?"
Vera masih ingat suara itu. Dia mencengkeram stang motornya. Sebenarnya dia tidak ingin bertemu lagi dengan masa lalunya meskipun masa itu sulit sekali dia lupakan.
Dwiki melepas helmnya dan turun dari motor.
Ya, sesuai dugaan Vera, dia adalah Dwiki. Baru dua hari dia kembali tapi Dwiki sudah menemukannya.
"Vera apa kabar?"
Vera masih terdiam. Dia tak juga membuka helmnya. Kemudian dia turun dari motor dan membuka pagar rumahnya. Dia tak juga menjawab pertanyaan Dwiki dan justru memasukkan motornya.
"Vera, aku tidak akan tanya tentang penyamaranmu. Kita bicarakan masalah lain saja."
Akhirnya Vera membuka helmnya. Dia melihat sekeliling karena tidak ingin ada tetangga yang tahu bahwa dia kembali. "Masukkan motor kamu. Jangan sampai ada yang lihat."
Seketika senyum di bibir Dwiki mengembang. Dia segera memasukkan motornya ke halaman rumah Vera dan menutup pintu pagar itu.
Vera menunggunya di depan pintu lalu menarik tangannya agar segera masuk. "Jangan sampai ada orang lain tahu kalau aku ada di sini."
Dwiki tersenyum menatap Vera. Dia justru mengulurkan tangannya mengajak Vera bersalaman. "Selamat, sudah menjadi anggota dari badan intelijen."
Vera hanya membalas sesaat jabatan tangan Dwiki sambil tertawa. "Kamu gak berubah dari dulu. Kenapa kamu tahu?"
"Dari aromanya sudah tercium."
Vera mengambil air mineral dan memberikannya pada Dwiki. "Jangan sampai ada orang lain tahu tentang ini."
"Siap!" Dwiki duduk di sofa sambil membuka tutup botol air mineral itu. Sebenarnya dia ingin bertanya masalah yang diselidiki Vera apa sama dengannya tapi dia menahan diri karena dia sudah berjanji untuk membicarakan masalah lain.
"Kenapa kamu mengikutiku? Kamu darimana?"
Dwiki menunjukkan kartu pers pada Vera. "Baru saja mewawancarai satpam untuk mencari info."
Vera melihat kartu ID itu. "Wah, gak nyangka kamu jadi jurnalis."
"Iya, hidupku sekarang mencari masalah orang."
Vera kini duduk di samping Dwiki dan meneguk minumannya. "Kamu mau tahu tentang apa di sekolah itu?" tanya Vera.
"Penggelapan dana. Bisa-bisanya pemilik perusahaan tidak tahu hal itu. Apa mungkin mereka bekerjasama?"
Wajah Vera berubah menjadi serius. "Dari laporan, perusahaan yang mendirikan yayasan itu bersih. Pasti orang dari pihak sekolah. Aku sedang menyelidikinya tapi belum menemukan bukti."
"Kamu tahu siapa pemilik ATKPro?"
Vera menggelengkan kepalanya. "Aku belum sempat membaca keseluruhan karena aku hanya ditugaskan mencari bukti dan pelaku di sekolah itu."
"CEO perusahaan itu sekarang adalah Sagara."
Vera terkejut mendengar hal itu. "Saga?"
Ayooo semangat Dwiki cari dalangnya😥