Ganteng ✔️
Kaya Raya ✔️
Pintar ✔️
Jago Olahraga ✔️
Jago Bela Diri ✔️
Orangtua Cakep ✔️
Kesayangan Semua Orang ✔️
Fajarendra Galaxio Nayanka, putra sulung dari pengusaha kaya raya, Aksara Langit Nalendra, dan mantan model terkenal, Wulandari Camelia Yovanka. Lahir & tumbuh dikeluarga konglomerat dengan segala kelimpahan harta & kasih sayang dari semua orang, membuat lelaki yg akrab disapa Galaxio itu merasa kehidupannya sudah sangat sempurna.
Namun siapa yg mengira bahwa semua sketsa-sketsa indah yg sudah ia rancang untuk masa depannya, harus hancur dalam sekejap. Dan yg lebih parahnya lagi, yang menjadi penyebab dari kehancuran itu adalah satu-satunya wanita yg berhasil menarik perhatiannya, bahkan menumbuhkan cinta dalam hatinya. Wanita yg ia kira akan menemaninya membangun kisah cinta romantis, justru memberinya luka yg amat tragis. Akankah kisah Galaxio berakhir bahagia seperti kisah orangtuanya dulu? Atau justru berujung pilu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itachi Wife, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
±Beberapa bulan kemudian...
Tahun ajaran baru telah dimulai, dan saat ini,,, Luna, Arnav, Skylar serta Angkasa sudah duduk di bangku kelas 12. Selama berbulan-bulan ini juga mereka selalu rajin menghubungi Langit untuk menanyakan mengenai perkembangan pencarian Wulan dan Gala. Walaupun pencarian oleh pihak berwajib sudah dihentikan beberapa bulan lalu, namun pencarian yang dilakukan oleh tim GK tetap dilaksanakan. Pagi ini,,, Luna tampak berjalan menuju kelasnya dengan lesu. Namun langkahnya terhenti saat Aruna mencegatnya di koridor. "Ada apa lagi?" tanya Luna malas. "Hmm,,, Gala gimana? Udah ada kabar terbaru?" tanya Aruna.
"Untuk apa lagi lo nanyain Gala ha?" tanya Luna balik dengan tatapan datar. "Gua gak ada maksud apa-apa kok, gua,,, cuman mau tau apa Gala udah ketemu atau belum" ujar Aruna pelan. "Kalo Gala udah ketemu,,, lo gak mungkin liat gua sendirian sekarang. Dan kalo Gala udah ketemu,,, lo gak akan liat gua se-sengsara ini" ujar Luna berlalu dari hadapan Aruna menuju kelasnya. Sejak hilangnya Gala, semua orang seakan berusaha memberi ruang bagi Luna dan sahabat-sahabat Gala lainnya. "Lun, lo kok makin pucat sih?" tanya Kania saat Luna baru duduk di bangkunya. "Gapapa kok, cuman kurang tidur aja" ujar Luna tersenyum kecil.
Skip saat jam istirahat...
Saat Luna baru menyelesaikan makannya, tiba-tiba,,, "Permisi Kak" ujar seorang siswa yang mendekati meja Luna dan Kania. Luna sempat terdiam seraya mengingat-ngingat siapa lelaki di hadapannya kini. Ah iya, Luna baru ingat bahwa laki-laki itu adalah Xavier, adik kelasnya yang juga merupakan anggota OSIS. Ia dan Xavier pernah beberapa kali satu project dan cukup dekat di OSIS. "Iya, ada apa?" tanya Luna. "Hmm,,, kakak udah selesai makan belum?" tanya Xavier. "Udah, kenapa? Ada perlu?" tanya Luna yang diangguki oleh Xavier. "Hmm kalo gak keberatan, kakak bisa ikut sama aku sebentar gak?" tanya Xavier membuat Luna mengernyit. "Ikut kemana?" tanya Luna balik. "Bentar aja kok Kak. Please" ujar Xavier. "Yaudah deh, tapi temen aku boleh ikut kan?" tanya Luna.
"Boleh kok Kak" ujar Xavier. Lalu mereka pun mulai beranjak meninggalkan kantin, namun saat mereka baru tiba di tengah lapangan basket outdoor (yang terletak di tengah sekolah), langkah Xavier terhenti. Saat Luna turut berhenti, tiba-tiba muncul beberapa murid yang memegang bunga mawar, yang langsung berdiri mengelilingi Xavier dan Luna. "Wait,,, wait,,, ini ada apa sebenarnya?" tanya Luna heran. Bukannya menjawab, Xavier justru berlutut di depan Luna dan mengeluarkan sebuah kotak beludru. "To the point aja,,, aku suka sama kakak sejak pertama kali kita ketemu. Kakak mau gak, jadi pacar aku?" tanya Xavier membuat Luna terkejut. Bahkan ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba sebuah bola basket melesat ke arah Xavier, membuat cincin itu terlempar entah kemana. Semua orang sontak menoleh untuk melihat siapa tersangka utama dari kejadian barusan. Luna membeku saat melihat sosok lelaki yang mengenakan kaos putih dibalut jaket kulit hitam dan celana jeans hitam, yang tengah berjalan mendekat. Jangan lupakan wajah datarnya yang membuat suasana seketika mencekam. "Punya nyali juga lo nembak cewek gua" ujar lelaki itu saat sudah berada di sebelah Luna. Lelaki itu bahkan tak malu merangkul mesra pinggang Luna di depan semua orang yang masih terkejut. "Hmm sorry,,, tapi,,, lo siapa ya?" tanya Xavier seraya bangkit. Lelaki itu menyeringai dan mengulurkan tangannya.
"Kenalin,,, Fajarendra Galaxio, pacarnya Luna" ujar lelaki itu menunjukkan smirk di wajah tampannya. "Pacar? Tapi gua gak pernah liat Kak Luna sama pacarnya" ujar Xavier. "Oh,,, ya jelas. Soalnya gua beberapa waktu yang lalu sempat pindah sekolah ke luar negeri karena ada urusan keluarga. Dan ini hari pertama gua balik lagi ke sini" ujar Gala. Lelaki tampan itu menoleh pada Luna yang masih setia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Hei cantik. Aku udah balik,,, kamu masih nungguin aku kan?" ujar Gala tersenyum. Luna tak dapat lagi menahan air matanya, ia langsung menarik Gala kepelukannya dan tentu saja dibalas oleh lelaki itu. "Iya,,, aku masih nungguin kamu. Aku,,, aku percaya kamu gak akan ingkar janji" ujar Luna terisak.
"Ssttt masa kepulangan aku disambut airmata sih sayang" ujar Gala melerai pelukannya dan menghapus airmata di kedua pipi gadis itu. "Gala" teriak Skylar, Arnav dan Angkasa yang baru bergabung di lapangan. Ketiga lelaki itu langsung berlari mendekat dan memeluk Gala. "Cewek gua kejepit nih, awas dulu ah" ujar Gala berusaha melindungi Luna saat ketiga lelaki itu memeluknya, tanpa menyadari Luna yang masih di dekatnya. "Hehe sorry sorry..." ujar Skylar. Saat Luna sedikit menjauh, barulah ketiga lelaki itu kembali memeluk sang pentolan SHS yang telah lama menghilang itu. "Lo kemana aja anjing" ujar Arnav. "Tau tuh, ngilang tiba-tiba, muncul tiba-tiba pula" ujar Skylar. "Kek jelangkung aja lo" sahut Angkasa.
"Haha sorry sorry... Nanti gua ceritain ya. Udah minggir dulu,,, gua masih kangen sama cewek gua" ujar Gala kembali menarik Luna mendekat. "Kamu bakal sekolah di sini lagi kan?" tanya Luna. "Iya sayang. Besok aku mulai masuk lagi kok. Eh btw,,,, kapten basket sekarang siapa?" tanya Gala. "Gak ada, kapten basket kita masih lo kok. Kebetulan turnamen yang mau kita ikutin itu juga diundur bulan depan" ujar Arnav. "Astaga, terus selama ini yang mimpin kalian latihan siapa?" tanya Gala. "Gua yang gantiin lo tiap latihan, tenang aja" ujar Skylar. "Awas ya kalo performa timnya makin turun" ujar Gala. "Wah meragukan skill gua banget lo ya" ujar Skylar yang disusul tawa lainnya. "Eh, ini kalian ada waktu gak? Gua mau ngajak pergi nih, ya hitung-hitung welcome party gitu. Biar gua yang izinin ke guru piket deh. Mau gak?" tanya Gala.
"Ya maulah,,, oke, kalo gitu kami ambil tas dulu" ujar Angkasa yang diangguki oleh kedua lelaki lainnya. "Sayang, kamu ikut kan?" tanya Gala pada Luna. "Hmm,,, Kania boleh ikut juga gak?" tanya Luna. "Boleh kok" ujar Gala. "Yaudah, kalo gitu aku ambil tas juga" ujar Luna. "Aku temenin yuk" ujar Gala yang diangguki oleh Luna. "Eh iya,,, btw thanks ya Bro. Udah ngumpulin semua orang untuk nyambut gua. Kapan-kapan gua traktir lo" ujar Gala pada Xavier yang masih tampak cengo, sedangkan Gala sudah beranjak bersama Luna dan Kania menuju kelas gadis itu. Saat Gala sedang menunggu Luna di depan kelas gadis itu, tiba-tiba... "Gala" ujar seorang cewek, membuat Gala menoleh. "Gala,,, kamu,,, kamu udah balik" ujar Aruna mendekat. Saat gadis itu hendak memeluk Gala, lelaki itu lebih dulu menahannya.
"Cukup ya Na. Gak usah sentuh-sentuh gua lagi" ujar Gala. "Gala aku minta maaf, aku,,," "Udah, gua gak mau ingat-ingat itu lagi. Gua,,, gua juga udah gak tinggal sama bokap gua lagi. Jadi lo bebas kalo mau milikin bokap gua seutuhnya" ujar Gala. Aruna menggeleng, "Gak Gal. Kamu salah paham, aku,,," "Gua udah tau semuanya Na. Semuanya,,, lo gak perlu jelasin lagi" ujar Gala. "Terus kenapa kamu gak tinggal sama Papi kamu lagi?" tanya Aruna. "Karena tekad Mami untuk cerai sama Papi udah bulat. So,,, gua gak bisa ikut campur tentang itu" ujar Gala menunduk. "Gala, aku,,, aku benar-benar minta maaf. Aku gak bermaksud untuk hancurin keluarga kamu" ujar Aruna memegang lengan Gala. "It's okay, lagi pula,,, kita gak bisa milih orangtua kita kan, atau takdir apa yang kita mau. Jadi yaudah, jalani aja" ujar Gala tersenyum kecil.
Luna keluar dari kelasnya dan terdiam saat melihat Aruna yang memegang lengan Gala sedangkan lelaki itu tersenyum kecil. Gala menoleh pada Luna dan langsung melepas pegangan Aruna di lengannya lalu mendekati Luna. "Jangan salah paham dulu, Aruna cuma minta maaf aja kok" ujar Gala mengelus rambut Luna. Gadis itu menoleh dan tersenyum. "Iya,,, aku percaya kok sama kamu" ujar Luna. "Good girl" ujar Gala mencubit gemas pipi Luna. "Ayo sayang. Kania, ayo" ujar Gala yang diangguki oleh kedua gadis itu. "Na,,, gua cabut dulu ya. Next time kalo ada waktu,,, maybe kita bisa ngobrol atau temenan lagi kayak diawal" ujar Gala lalu merangkul Luna berlalu diikuti Kania. Aruna hanya dapat memandang 3 punggung yang semakin menjauh itu.
pihak sekolah nya gmna ada tauran di sekolah kok gk panggil polisi sampai ada kasus penusukan bgtu kok anteng aja 🤦