NovelToon NovelToon
Berakhir Atau Bertahan

Berakhir Atau Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Scorpionzs

menceritakan sepasang kekasih yang mau menikah beberapa bulan lagi namun gagal karena suatu kesalahan pahaman , membuat pernikahan yang telah dinanti nanti hancur , membuat keduanya tidak seperti dulu .........

maukah Wanita itu Bertahan dengan sang pria atau Berakhir ................

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpionzs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Ravka – Ruang Kematian

Altair melompat ke depan, pedangnya berkilat di bawah cahaya lilin yang redup. Dua sosok bertopeng pertama menyambutnya dengan tebasan cepat, tetapi Altair mengelak dengan gesit, tubuhnya berputar di udara seperti bayangan. Dalam satu tebasan mematikan

SHLAK!

Kepala salah satu penjaga terlempar ke udara, darah menyembur liar ke lantai batu yang dingin.

Sosok bertopeng yang lain mencoba menyerang dari samping, tetapi Altair berbalik dengan kecepatan luar biasa, pedangnya berkelebat

CRACK!

Pedang itu menusuk tepat di tenggorokan lawannya. Tubuh si penjaga terhuyung sebelum jatuh berlutut, darah menetes dari ujung pedang Altair.

Alaric berdiri di singgasananya, tatapannya tenang meski tiga pengawalnya telah tumbang. “Kau memang cepat, Altair. Tapi…”

Satu sosok bertopeng melompat ke arah Altair, kedua pedangnya berputar dengan kecepatan luar biasa.

Altair mengangkat pedangnya, menangkis serangan itu dengan dentingan logam yang memekakkan telinga.

CLANG! CLANG!

Altair mendorong lawannya dengan kekuatan luar biasa, membuat tubuh bertopeng itu terlempar menghantam dinding batu. Sebelum sosok itu sempat bangkit

SHLIK!

Sebuah belati meluncur dari samping, menancap tepat di lehernya. Darah menyembur.

Selene berjalan mendekat, matanya bersinar dingin. “Kau melupakan satu hal, Alaric.”

Alaric mengangkat alis. “Apa itu?”

“Kami tidak pernah bermain sendiri.”

Lucien bergerak di belakang Alaric dengan kecepatan mengerikan. Dalam sekejap, dia muncul di belakang Alaric dan mengayunkan belati ke lehernya

Namun, tangan Alaric terangkat.

CLANG!

Lucien terpental ke belakang, menghantam dinding batu dengan keras. Dia menggeram, darah mengalir dari sudut bibirnya.

“Bukan lawan yang buruk,” kata Alaric. “Tapi ini sudah berakhir.”

Altair menyipitkan mata, melihat energi gelap yang berputar-putar di sekitar tubuh Alaric. Cahaya hitam berdenyut di udara, membuat lilin-lilin di ruangan itu bergetar dan nyala apinya meredup.

“Apa ini…?” gumam Kieran.

“Magis kuno,” bisik Altair.

Alaric melangkah maju, tangannya terangkat ke udara. Cahaya hitam berputar-putar di telapak tangannya, membentuk pusaran energi kegelapan yang berdenyut kuat.

“Kalian pikir bisa melawan Shadow Order tanpa konsekuensi?” Alaric tersenyum. “Kalian hanya anak-anak yang bermain di ranah orang dewasa.”

Selene mencabut belatinya. “Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh permainan ini akan berjalan.”

Alaric melemparkan pusaran energi hitam ke arah mereka

BOOM!

Ledakan energi menghancurkan sebagian dinding ruangan. Altair bergerak cepat, tubuhnya meluncur ke samping untuk menghindari serangan itu.

Selene berputar di udara, menancapkan belatinya ke lantai untuk menyeimbangkan tubuhnya.

Lucien berdiri, taringnya terlihat samar saat dia menyeringai. “Kau pikir kami tidak bisa mengimbangimu?”

Altair mengangkat pedangnya. Cahaya hitam berdenyut di sepanjang bilahnya, beresonansi dengan energi yang dilepaskan Alaric.

“Kita lihat siapa yang bertahan.”

Altair melesat ke depan, menyerang dengan kecepatan yang nyaris tidak terlihat oleh mata manusia.

Pedangnya menebas udara, menciptakan gelombang tekanan yang menghantam ke arah Alaric.

Alaric mengangkat tangan, membentuk penghalang energi hitam

CLASH!

Ledakan energi hitam memenuhi ruangan, membuat dinding bergetar dan lantai retak. Altair mundur selangkah, matanya berkilat dingin.

“Menarik,” gumam Alaric. “Kau lebih kuat dari yang kuduga.”

“Aku belum menunjukkan apa-apa,” jawab Altair datar.

Alaric tersenyum tipis. “Kalau begitu, mari kita lanjutkan.”

Alaric melangkah maju, tangannya memancarkan aura hitam yang berdenyut kuat. Altair bergerak cepat, melompat ke udara

Lucien dan Selene menyerang bersamaan dari samping.

CLANG!

Lucien menebas ke arah tubuh Alaric, tetapi energi hitam menahan serangannya. Selene muncul di belakang Alaric, belatinya menebas ke arah lehernya

Alaric berbalik, menangkap belati Selene dengan satu tangan.

Selene menatap dingin ke arah Alaric. “Kau cepat.”

“Aku lebih dari itu,” bisik Alaric.

Alaric mendorong Selene ke belakang. Lucien bergerak cepat untuk menangkapnya sebelum tubuh Selene menghantam dinding.

Altair mendarat di lantai, matanya menatap dingin ke arah Alaric. “Kalau kau berpikir kau bisa menang, kau salah.”

Alaric tertawa kecil. “Dan kenapa begitu?”

Altair menyeringai tipis. “Karena aku tidak pernah bermain sendiri.”

BRAK!

Dinding di sisi kanan ruangan meledak. Draven muncul dari balik reruntuhan, tubuhnya berlapis zirah hitam.

Di belakangnya, Reyna dan Kieran melangkah masuk, masing-masing memegang senjata dengan ekspresi dingin.

“Kau pikir hanya kami berempat yang akan datang?” suara Draven terdengar berat dan penuh kekuatan.

Alaric menyipitkan mata. “Jadi kalian membawa bala bantuan?”

“Kami membawa lebih dari itu,” sahut Reyna.

Reyna menembakkan dua peluru ke arah Alaric. Alaric menggerakkan tangannya, menciptakan penghalang energi hitam tetapi tepat saat dia melakukannya, Altair bergerak.

Pedangnya berkilat dalam cahaya hitam dan merah, beresonansi dengan energi kegelapan yang dilepaskan Alaric. Dalam satu gerakan

SHHHK!

Altair menebas lurus ke depan, membelah penghalang energi hitam itu. Bilah pedangnya menebas ke dada Alaric.

Alaric terhuyung, darah hitam menetes dari mulutnya. Dia memandang Altair dengan mata lebar yang penuh ketidakpercayaan.

“Tidak mungkin…” gumam Alaric. “Kekuatan itu…”

“Ini bukan hanya kekuatan,” bisik Altair di telinganya.

Altair menarik pedangnya

SHRAKK!

Darah hitam menyembur ke udara. Tubuh Alaric jatuh ke lantai dengan suara berat.

Ruangan menjadi hening.

Lucien berjalan mendekat, menatap tubuh Alaric yang tergeletak di lantai. “Sudah selesai?”

Altair menatap ke arah tubuh itu, lalu berbalik perlahan.

“Belum.”

Tiba-tiba, tubuh Alaric bergetar hebat. Suara tawa pelan terdengar di ruangan.

Alaric membuka matanya, yang kini bersinar dengan cahaya hitam. Tubuhnya terangkat ke udara, energi hitam menyelimuti tubuhnya.

“Jadi ini baru permulaan?” bisik Alaric.

Altair menyipitkan mata. “Kalau begitu, kita lanjutkan.”

Lucien menyeringai. “Sekarang mulai menarik.”

Draven melangkah maju, memegang kapaknya. Reyna mengangkat pistolnya. Kieran mencabut pedangnya. Selene memutar belatinya.

Altair menatap tajam ke arah Alaric, pedangnya bersinar dengan cahaya hitam dan merah.

“Kalau ini permainanmu…”

Tatapannya mengeras.

“...maka aku akan menyelesaikannya.”

Dan malam itu, bayangan dan darah menyatu di kegelapan Ravka.

Tubuh Alaric melayang di udara, aura hitam di sekelilingnya berputar liar, menciptakan pusaran energi yang membuat lantai di bawahnya mulai retak. Udara di ruangan itu berubah menjadi dingin, nyaris membekukan tulang.

Altair berdiri tegap di tengah reruntuhan, pedangnya bergetar di tangannya saat energi gelap Alaric berdenyut di udara. Anggota tim lainnya berdiri di belakangnya, bersiap dalam formasi pertempuran.

“Kita harus menyerang bersamaan,” gumam Draven dengan suara rendah.

“Kau pikir dia akan memberikan kita kesempatan?” balas Lucien, taringnya terlihat samar di balik bibirnya yang menyeringai.

“Kita tidak butuh kesempatan,” sahut Altair dingin. “Kita hanya perlu menyingkirkannya.”

Alaric tertawa pelan, suaranya bergema di ruangan yang mulai runtuh. “Kalian benar-benar percaya bisa menang?”

Altair melangkah maju. Cahaya hitam mulai berputar di sekeliling tubuhnya, menyatu dengan aura kegelapan yang dipancarkan Alaric.

Matanya yang heterochromia bersinar, merah dan biru berkilat seperti api di kegelapan.

“Aku tidak percaya pada kemenangan,” ujar Altair dingin. “Aku percaya pada kehancuran.”

Alaric mengangkat tangannya. Cahaya hitam meledak di udara, menciptakan puluhan tombak bayangan yang melayang di udara, mengarah pada mereka semua.

“Matilah,” bisik Alaric.

SWOOSH!

Tombak-tombak itu meluncur ke arah mereka dengan kecepatan luar biasa.

Altair bergerak cepat. Tubuhnya berputar di udara, pedangnya memotong tombak-tombak bayangan itu dengan akurasi yang mematikan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!