Diputusin pas lagi sayang- sayangnya tentu membuat nyesek dan sakit hati. Itulah yang dialami oleh Vina yang di putus oleh Dafa. Putus tanpa kejelasan yang dilakulan Dafa membuat Vina pusing tujuh keliling memikirkan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.
Namun, perlakuan Dafa yang sama ketika mereka masih berpacaran menambah pening Vina. Perhatian- perhatian diberikan pada Vina, membuat gadis itu yang belum move on hampir goyah.
Apa sebenarnya alasan Dafa memutuskan hubungan jika masih memberikan perhatian dan harapan? Lalu, apakah Vina dapat bertahan hingga akhir atau malah goyah dan kembali jatuh?
Ikuti kelanjutan hubungan keduanya yang penuh dengan lika- liku dan berbagai emosi yang menguras hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Galang
Vina meletakkan kotak makan di meja, Candra yang sedang merebahkan kepalanya di meja menoleh dan menatap kotak makan hijau itu. Ia merasa seperti de javu, dulu juga Vina pernah menyodorkan kotak makan seperti itu. Apakah isinya martabak seperti dulu? Namun aroma dari dalam kotak itu tidak seperti martabak.
“Apaan nih?” tanya Candra yang lelah menebak- nebak sendiri.
“Ada lah, lo pasti doyan,” jawab Vina menghempaskan tubuhnya di kursi.
“Gue semua macem makanan mah doyan.”
Candra membuka kotak makan itu dengan semangat, matanya berbinar melihat isinya. Namun cewek itu mengernyit karena tidak tau kue apa itu.
“Kue apaan nih?”
“Gue juga nggak tau, nama di kardusnya sih Lapis Surabaya,” jawab Vina mengeluarkan buku kas untuk menarik uang kas ke anak- anak.
“Niken! Bantuin gue narik duit anak- anak,” ucap Vina memanggil Niken yang sedang memakan bakwan.
Mendengar suara Vina, mendadak kue yang baru digigitnya terasa sulit di telan. Buru- buru Candra meraih minumnya.
“Duh, seret nih kue,” gumam Candra.
“Heh, Can. Lo masih ada tunggakan sepuluhribu ya? Bayar sekarang, gue tau uang jajan lo baru turun tadi pagi,” palak Vina bak preman pasar.
Candra menelan ludah dan dengan tangan gemetar mengambil selembar uang sepuluhribu, lalu diberikan pada Vina. Jika soal uang kas, Vina memang tidak pandang bulu. Entah itu hanya teman atau sahabat, semuanya sama rata di mata cewek itu.
“Anton! Lo masih kurang limaribu, nunggak lagi bakal ada bunga.”
Anton yang baru saja masuk kelas mendengus sebal, ia pun mengeluarkan uang limaribu lecek dari dalam saku celananya. Niken bertugas mencatat, sementara tugas Vina memalak mereka dengan membawa kemoceng di tangan.
“Ayo, lanjut!” ucap Vina memberi komando.
Niken hanya menurut dan mengikuti langkah Vina yang berkunjung dari meja ke meja. Sepertinya pekerjaan yang cocok untu Vina adalah sebagai rentenir. Mata Vina berkilat menghampiri gerombolan Lia yang sedang melihat- lihat majalah kosmetik dan fashion.
“Ehrm, waktunya bayar kas,” interupsi Vina membuat ciwi- ciwi yang sedang fokus pada majalah itu serempak menoleh ke arahnya.
“Gue kurang berapa emang?” tanya Lia.
“Lia kurang tigaribu,” jawab Niken melihat buku keramatnya.
“Nih, gue bayar sampei lusa juga.”
Vina tersenyum senang. Andai semua makhluk IPA 5 seperti Lia, pasti tidak akan ada drama penarikan uang kas dan Vina tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk berteriak.
Bel masuk berbunyi, menghentikan aktivitas menarik uang kas ke anak- anak. Vina kembali ke bangkunya. Dilihatnya kotak makan itu sudah kosong dan Candra sudah terlelap. Vina mendengus kesal melihat tingkah sahabat laknatnya itu.
“Dasar, mana gue nggak disisain,” dumel Vina.
Tidak lama seorang guru masuk diikuti beberapa anak yang sejak pagi sudah nongkrong di kantin. Namun sebenarnya, mereka tadi mendapat info jika Vina sedang menagih uang kas. Jadilah mereka lebih memilih berdiam diri di kantin daripada di tagih rentenir jadi- jadian itu.
“Assalamualaikum, selamat pagi anak- anak. Sebelum memulai pembelajaran, silahkan ketua kelas memimpin doa terlebih dulu,” ucap guru itu.
Teo pun mengangguk dan memimpin doa, tapi ia melirik ke arah Candra yang masih asyik tidur dan sepertinya sang guru belum menyadari salah satu siswanya sedang menjelajah alam mimpi. Cowok itu memberi kode pada Vina agar membangunkan Candra. Vina yang pagi itu peka pun segera menabok lengan cewek yang asyik bermimpi itu. Candra yang mendapat tabokan maut tersentak kaget dan spontan menegakkan punggungnya dengan tangan di meja.
“Berdoa menurut kepercayaan masing- masing, dimulai,” ucap Teo dan serempak kepala anak- anak itu menunduk untuk berdoa, “Berdoa selesai.”
Kegiatan belajar mengajar pun dimulai, jam pertama ini adalah pelajaran matematika. Guru itu hanya menjelaskan beberapa materi lalu memberi tugas dan pamit karena harus memberi pelajaran tambahan untuk kelas duabelas.
Setelah guru itu keluar, penghuni IPA 5 mulai duduk berkelompok. Para cowok menggerombol di belakang bermain uno atau catur. Sementara para cewek, mereka berteriak histeris melihat majalah kosmetik itu. Bandar kosmetik itu si Erin, dengan mulut manisnya cewek itu menawarkan dagangannya.
“Nih, yang ini lagi diskon. Boleh bayar cicil,” ucap Erin.
“Vin, geser gue mau beli risol,” ucap Candra membuyarkan lamunan Vina.
“Gue nitip pastel ya? Sama sate usus punya Norma.”
Candra hanya mengangguk dan berjalan ke belakang kelas dimana ada satu meja dengan beberapa nampan tertata rapi di sana. Candra mengambil plastik dan mengisinya dengan risol juga pastel pesanan Vina. Lalu berpindah ke sebelah untuk mengambil sate usus.
“Nih, Win. Nitip punya Norma juga ya?”
“Oke, makasih,” ucap Winda sang pedagang gorengan itu.
Kelas IPA 5 sudah seperti pasar, banyak penghuninya yang berjualan di dalam kelas. Itulah mengapa IPA 5 kelas paling makmur. Lapar? Tinggal beli makanan milik Winda atau Norma. Butuh kosmetik atau baju baru? Tinggal lihat- lihat majalah milik Erin.
“Cintai ususmu, makan usus tiap hari~” Andi menyanyikan sebuah jingle iklan dengan mengacung- acungkan sate usus.
Hari ini hanya ada dua guru saja yang melakukan kegiatan belajar, selebihnya hanya masuk memberi tugas. Tentu karena mereka sedang disibukkan oleh kelas duabelas yang sebentar lagi akan melaksanakan ujian. Sekarang jam pelajaran terakhir dan guru yang seharusnya mengampu juga tidak hadir. Hanya meninggalkan buku paket, lalu menyuruh sekretaris mencatat di papan tulis. Mereka tidak diperbolehkan pulang sebelum bel pulang berbunyi.
“Nanti jadi pergi sama Kak Galang?” tanya Candra yang matanya fokus menatap dari papan tulis ke buku tulisnya, sepertinya cewek itu sedang kerasukan hantu yang rajin.
“Iya, jadi.”
“Mau pergi kemana kalian?”
“Nggak tau gue, tapi kata Kak Galang mau ajak ke café yang baru buka beberapa hari itu.”
“Saat Senja?”
“Iya kali, cuma café itu yang kemarin opening, kan?”
“Iya sih, besok gue mau ajak sepupu gue ke sana deh. Kepo juga sama bentuknya, mana di sosmed juga lagi hits banget.”
“Hmm, sebenernya gue kepo sama Kak Galang yang sejak kemarin ngebet banget ngajak gue keluar.”
Candra hanya mengangkat bahunya, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi kameranya. Vina menatap datar sahabatnya itu, ia mengira jika Candra sudah bertaubat. Ternyata Vina salah, sahabatnya itu hanya mampu mencatat satu paragraf dan selebihnya disimpan dalam bentuk foto.
Bel pulang sudah berbunyi membuat serempak anak- anak bersorak gembira. Vina dengan buru- buru memasukkan semua peralatan tulisnya ke dalam tas. Ia mendapat kabar jika Galang sudah menunggunya di depan gerbang. Tanpa babibu, cewek itu segera pergi menemui Galang.
“Lama nunggu, Kak?” tanya Vina masuk ke dalam mobil.
“Nggak lama kok. Kita pergi sekarang?”
Vina hanya mengangguk, entah mengapa perasaannya mendadak gelisah. Ia melirik Galang yang sedang fokus menyetir. Penampilan cowok itu sedikit berbeda, tampak lebih rapi mungkin.
“Ayo, turun,” ucap Galang membuyarkan lamunan Vina.
Vina hanya mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Galang. Mereka duduk di meja agak belakang dengan pemandangan taman di luar sana. Setelah memesan dan pesanan datang, belum ada percakapan di antara mereka.
“Vin, gue suka sama lo,” aku Galang yang membuat Vina hampir menyemburkan jus jeruknya.
...🐈🐈🐈...
dah punya gc ayo gunakan para membernya
😂😂😂😂 lagi seru-seru, baca pertarungan mereka....tegang dengan emosinya Juno. Eh kox gambar mas Kardi mendelik 🤣🤣🤣
Si bunda juga iseng banget, sampe nyuruh semua anaknya beli minyak goreng promo
Untung sukses bund 👍👍😂😂
Eh Ekky, kamu kox sepertiku, yang suka maling mangga 🤣🤣 dan selalu sukses juga 😂😂 sumpah deh, nih cerita eh, episode....judulnya Maling Mangga yang Gesrek 🤣🤣🤣
pagi pagi absen dimari
kolom misi tertera karya Author lain 🤦🤦🤦
Omegot NT mah
duh....nostalgila dehh
kalian bikin kepengen 😥😥