JANGAN DI BACA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Acara malam
☘️ Kedamaian Jiwa Seseorang Terletak Pada Kebijaksanaannya Dalam Menghadapi Berbagai Persoalan Hidup ☘️
{Qoutes Muslim}
••
Siang pun berganti malam.
Malam resepsi pernikahan Arum dan Dimas. Acara ini di khususkan bagi rekan bisnis dan kolega Dimas, serta teman-teman Arum.
Ibu dan Bapak Arum tidak menghadiri acara pesta night Mereka berpikir itu hanya untuk anak muda. Hanya Alif lah yang datang bersama temannya Bilal dan Riki.
Begitu juga dengan Paman Egan dan Bi Jainab yang langsung pamit untuk kembali ke kota J. Hanya Eri dan Soni yang masih menginap dirumah Dimas.
Dimas sedang melaksanakan sholat isya.
Dan Arum sedang melihat-lihat foto prewedding yang waktu itu di Candi Plaosan. "Kok buram fotonya." gumam Arum. yang melihat foto di ponselnya.
Tiba-tiba suara Dimas mengagetkan Arum. Arum pun sontak melemparkan ponselnya dan mengenai kepala. "Habibati, kok belum siap-siap?"
"Aduuh Habibie, ngagetin aja." ucap Arum sambil mengelus kepala nya yang tertimpa ponsel.
"Maaf, maaf." Dimas pun mengusap-usap kepala Arum. "Lagian Habibati, kok belum siap-siap? Kan acaranya akan segera dimulai." sambung Dimas.
"Iya, ini lagi lihatin foto yang waktu itu di Candi Plaosan. Kok buram yah?" ucap Arum sambil menyodorkan ponsel di hadapan Dimas.
Dimas pun melihat foto yang ada di ponsel Arum. "Nggak papa fotonya buram. Yang penting cinta ku pada mu jelas.!" jawab Dimas mengedipkan matanya.
"Ihh, si Habibie mah romantis pisan.!" ucap Arum sambil menoel-noel pipi Dimas.
"Apa pisang?" Ledek Dimas so pura-pura tidak mendengar.
"Pisan, bukan pisang bie.!" jelas Arum.
"Kalau nggak salah itu kan bahasa Sunda yah?" tanya Dimas.
"Iyah, Ibu Leni sering mengucapkan itu, diakan dari Bogor menikah dengan orang Jogja." jawab Arum.
"Siapa Leni. Apa dia cantik?" Dimas bertanya untuk mengundang kecemburuan Arum.
"iya cantik.!" Jawab Arum sambil melenggang kearah lemari mengambil gaun.
Dimas melihat raut wajah ketidak sukaan Arum atas pertanyaannya.
"Habibati apa belum tuntas?" tanya Dimas tentang haid istrinya.
Arum tidak menjawab, ia malah sibuk memoles liptink ke bibirnya. Dimas pun mendekati Arum. memeluk Arum dari belakang dan mencium puncak kepala Arum yang sudah dibalut hijab warna nevy.
Arum tidak menghiraukan tindakan Dimas. Ia malah berjalan mengambil Jas Dimas yang akan di pakai Dimas warna senada dengan gaun yang dikenakan Arum. nevy.
Arum memakaikan jas ke badan atletis Dimas. Dimas terus menatapnya. "lucu sekali istriku kalau lagi ngambek. Masih tetap perhatian." batin Dimas.
"Sudah. Ayo, acara akan segera di mulai.!" ajak Arum. tapi Dimas malah menariknya kedalam dekapannya dan berbisik di telinga Arum.
"Jangan pernah tinggalkan Aku.!" ucap Dimas. Arum pun menyunggingkan senyum.
"Tentu aku tidak akan meninggalkanmu. kecuali maut." batin Arum.
Dimas pun mengurai pelukannya. Dan berjalan dengan menggandeng tangan Arum menuruni tangga.
"Bi Inem, nanti Bibi istirahat aja, jangan menunggu kami," ucap Dimas Kepada Bi Inem. Saat sudah berada di lantai bawah.
"Baik Den," jawab Bi inem.
"Kami pamit dulu Bu. Assalamualaikum." ucap Arum.
"Waalaikumsalam." Bi Inem mengantar keduanya sampai di gerbang. "Ya Allah lindungilah mereka." gumam Bi Inem.
Pak Kardi yang sudah siap akan mengantarkan mereka pun, membukakan pintu mobil untuk keduanya.
"Terimakasih Pak Kardi." ucap Arum.
Pak Kardi pun membalas dengan senyuman. Mereka sudah berada di dalam mobil dan Pak Kardi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
⭐
Arum dan Dimas pun sudah sampai di restauran milik Fauzan. Dan di sambut Bi Chan juga Alif yang sudah berada di sana.
"Assalamualaikum. Maaf kami terlambat." ucap Arum.
"Waalaikumsalam. biasa pengantin baru mah begitu?" ucap Hasan yang tiba-tiba muncul di belakang Dimas.
"Ngiri.!" balas Dimas.
"Ih sorry. Aku tidak seperti itu.!" jawab Hasan.
"Sudah, sudah acara akan segera di mulai." Bi Chan adalah orang yang selalu akan melerai jika kejahilan Dimas juga Hasan kumat.
Mereka pun duduk menikmati Alunan musik yang di bawakan penyanyi dari entertainment yang disewa Fauzan.
Setelah nyanyian lagu selesai, MC pun mengajak para tamu jika ada yang berniat menyumbangkan suara untuk meramaikan.
"Baiklah, Para tamu undangan yang hadir. Silahkan jika ada yang berniat menyumbangkan suara merdunya." ucap MC itu.
Dan ada seorang Pria yang berjalan kearah podium. Dan menawarkan diri untuk bernyanyi. Lelaki yang kini tengah bediri diatas podium membuat Arum dan Dimas membelalakkan matanya. "Alfin." batin Arum.
Saat acara di siang hari tadi memang Alfin tidak datang. Dengan memantapkan segenap hatinya.
Alfin pun mengumpulkan kembali kepingan hati. Untuk melihat wanita yang di cintainya bersanding dengan laki-laki pilihannya Dimas.
Alfin kemudian membisikan sesuatu kepada MC. MC itu pun tampak mengangguk tanda mengerti.
Mungkin Alfin ingin pengiring musik mengiriingi lagu yang akan dia nyayikan.
Alunan musik mulai terdengar.
🎶
Maafkan aku tak bisa memahami
Maksud amarahmu
Membaca dan mengerti isi hatimu
Ampuni aku yang telah memasuki
Kehidupan kalian
Mencoba mencari celah
Dalam hatimu
🎶
Aku tahu ku takkan bisa
Menjadi seperti yang engkau minta
Namun selama nafas berhembus
Aku kan mencoba
Menjadi seperti yang Kau minta
🎶
Ampuni aku yang telah memasuki
Kehidupan kalian
Mencoba mencari celah
Dalam Hatimu
🎶
Aku tau ku takkan bisa
Menjadi seperti yang engkau minta
Namun selama nafas berhembus
Aku kan mencoba
🎶
Aku tau Dia yang bisa
Menjadi seperti yang engkau minta
Namun selama Aku bernyawa
Aku kan mencoba
Menjadi seperti yang Kau minta
🎶
Seperti yang Kau minta....
Aku kan mencoba....
Menjadi seperti yang Aku minta......*
(Chrisye * Menjadi seperti yang kau minta)
Tepuk tangan terdengar riuh setelah melihat penampilan Alfin. Para rekan guru yang hadir pun mulai berbisik-bisik. "Pasti lagu itu ditunjukan untuk Bu Arum."
"Iya pasti. Kasihan ya Pak Alfin cintanya bertepuk sebelah tangan."
"Coba aja kalau sama aku pasti langsung ku terima Pak Alfin, dan ndak akan patah hati." nyiyir Shinta.
Karena selama Alfin menyanyikanya tatapan Alfin selalu tertuju untuk Arum. Membuat Arum serba salah.
Dimas yang sedari tadi menahan kecemburuan pun mengepalkan tangannya. Arum menyadari akan hal itu dan melihat tangan Dimas mengepalkan tangan seakan ingin memukul seseorang.
Arum pun mengenggam tangan Dimas yang ia kepalkan. Mencoba menenangkan mengusap pelan lengan Dimas.
Dimas pun mencoba untuk tersenyum menetralkan mimik wajahnya dengan menarik kedua ujung bibirnya. Membentuk senyuman yang sempurna.
Penampilan Alfin pun tak luput dari tatapan Alif. "Pak Alfin, semoga Bapak menemukan jodoh yang baik." gumam Alif.
Di sudut lain Bi Chan dan Hasan serta Fauzan yang duduk berdampingan pun merasa bahagia melihat sahabatnya akhirnya mengakhiri status lajangnya.
Meskipun ada pengorbanan jarak yang begitu lama dan begitu menyakitkan. Arum dan Dimas tetap saling menjaga hati.
Akan tetapi kedua jomblo ini, Hasan dan Fauzan masih belum bisa menaklukkan hati wanita yang ia sukai.
Sampai sekarang Hasan tidak tahu kenapa Sarah masih belum bisa menerimanya.
Begitupula Fauzan. Yang terlalu giat berkerja hingga kekasihnya pun meninggalkannya karena terlalu sibuk menata masa depannya.
Tanpa ada yang mengundang dan menginginkan kehadiran dua orang yang ingin membalas dendam, juga merebut Dimas dari Arum.
Xian Guo dan Eliana datang dengan tanpa rasa bersalah. "Hay saudaraku, kenapa kau tidak mengundangku." ucap Xian Guo dalam bahasa China.
"Halo baby. Kenapa kau tega meninggalkan aku." ucap Eliana dalam bahasa China, yang akan bergelayut di lengan Dimas. Tapi Dimas langsung menepisnya.
Arum pun tidak tinggal diam, Tidak ingin ada yang mengganggu suaminya, Arum pun menghadang tubuh Eliana yang semakin berani akan memeluk Dimas.
"I am his wife, and you have no right to hug my Husband. "Saya istrinya, dan Anda tidak berhak memeluk suami saya." ucap Arum membuat Dimas menyunggingkan senyum melihat keberanian istrinya.
"You." Eliana pun mengangkat tangannya dan akan menampar pipi Arum. Tapi sebelum tamparan itu mendarat di pipi Arum. ada sebuah tangan besar yang mencekal tangan Eliana.
Dimas menatap Hasan memeggang tangan Eliana.
Arum yang tadinya memejamkan mata pun membuka matanya karena pipinya tidak merasakan apapun.
Hasan mencekal tangan Eliana dan berkata. "Jangan kau sentuh dia dengan tangan kotormu ini." ucap Hasan dalam bahasa China. lalu menepis tangan Eliana kasar. membuat Eliana terhuyung kesamping dan berhasil di tangkap Xian Guo.
"Kalian berdua memang payah. tapi sebenarnya kalian itu cocok satu sama lain." ucap Bi Chan. "Sadarlah."
"Pergilah. Atau bila perlu aku panggil polisi untuk menyeret kalian berdua." ucap Dimas.
Kejadian ini sontak membuat para tamu heran akan hal yang terjadi. Dan mulai mengundang berbagai macam bisik-bisik dari tamu.
🍂
Salam semoga sehat selalu. Manis 😉
salam kenal🙏
walaupun jarang coend🤭
padahal aku di daerah BOROBUDUR😌
no cimend🤐🤐🤐😐😐