Rosetta Luwig di hidupkan kembali setelah mengalami sebuah kecelakaan dimana ia sedang mengandung anak kakak tirinya. Dia mencintai Jhonatan Maxiliam, namun ternyata pria itu justru mencintai adiknya. Dengan berbagai cara dia menjebak Jhonatan hingga mengandung anaknya, namun sayang ternyata anaknya tidak di akui bahkan keluarganya membencinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesenangan Lili
"Lalu aku membiarkan dia mati begitu?" Ia akui Maxiliam memang memiliki istri, tapi tidak mungkin dia meninggalkannya begitu saja. Ia tidak tega melakukannya. "Sudahlah, sebaiknya kau istirahat biar aku yang menjaganya."
Rasa di hatinya tambah panas, ia tidak akan membiarkan Rosetta melakukannya. "Aku akan ikut menjaganya."
Rosetta menghela nafas, ia mengangguk dan membiarkan saja. Dari pada ia berdebat dengan Mario.
"Rosetta lebih baik kamu tidur di kamar mu, biar aku yang berjaga di sini."
Rosetta berkacak pinggang, ia tak yakin Mario menjaga Maxiliam, mereka musuhan sudah pasti akan timbul perdebatan. "Aku akan tidur di lantai."
"Kasihan Javer," ucap Mario. Javer juga tidak mungkin tidur di lantai.
Rosetta menimbang ucapan Mario, sebenarnya ada benarnya juga. Ia tidak bisa meninggalkan Javer. "Baiklah, aku titip Maxiliam."
Ia pun berlalu dan meninggalkan kompresnya di dahi Maxiliam.
Mario duduk, ia menatap Maxiliam di sampingnya. Rasanya aneh, ia harus melayani musuh bebuyutannya ini. "Apa aku biarkan saja? Tapi Rosetta nanti kecewa, benar juga yang di katakan Rosetta, kalau ada apa-apa dengannya, aku juga yang repot, huft!"
Akhirnya, ia harus mengalah, pria bernama Mario itu melayani Maxiliam dengan lembut walaupun ada kekesalan di hatinya.
Tepat jam menunjuk pukul 01.00 dini hari, Sebuah tangan cantik, meraba-raba tempat tidur di sampingnya, ia merasa kosong, kedua matanya yang terpenjam rapat pun terbuka lebar. Rosetta terbangun, Ia perlahan menuruni ranjangnya dan mencari sosok anak kecil di sampingnya tadi.
"Dimana Javer?"
“Javer.” Rosetta terlihat panik, ia terus menuruni tangga dan melihat sekelilingnya. “Javer.”
Ia terus mencari sekeliling rumahnya, hatinya begitu takut, jantungnya seakan ingin copot. Entah kaman putranya saat ini, ia teringat salah satu kamar. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas ke kamar tersebut dan perlahan membuka pintu kamarnya.
Hatinya begitu teriris, sebegitu inginkah Javer sosok hadirnya seorang ayah. Tapi ia bisa apa? Ia tidak bisa memberikan ayah kandung untuknya. Tangan kanannya mengepal kuat, ia bersandar di dinding sambil menahan isak tangisnya. Dengan tangannya sendiri Javer mengganti kain di dahi Maxiliam.
Ia menghapus air matanya dan mencoba masuk. “Sayang.” Sapanya.
Javer terkejut, ia menoleh. “Mom, maaf Javel ingin melihatnya saja.”
“Tidak apa-apa Sayang.” Rosetta mengusap pucuk kepalanya. Ia menoleh ke sofa dan melihat Mario yang tidur berselonjor, kedua kakinya melebihi sofa karena sofa itu memang kecil.
“Javer sudah selesai mengobati Daddy? Apa Javer mau tidur lagi?”
Javer mengangguk, ia perlahan menuruni sisi ranjangnya dan berlari. Rosetta menatap punggung Javer, saat ia hendak pergi sebuah tangan kekar menahan lengannya.
Sontak Rosetta terkejut dan menoleh. “Max, kau sadar?”
“Aku sudah sejak tadi sadar.” Sebenarnya ia tau Javer merawatnya, hanya saja ia berpura-pura tak sadar, ia tidak tau dan harus apa memulainya. “Bisa kita bebricara sebentar?”
Rosetta mengangguk, ia pun duduk di samping Maxiliam.
“Rose aku tau, semuanya sudah terlambat, tapi aku ingin tetap memperbaikinya. Aku hanya memohon pada mu, tolong bantu aku agar Javer tak membenci ku, bantu aku meluluhkan hati Javer, aku tau Javer peduli pada ku, tapi hatinya masih ada amarah dan benci, aku takut keduanya melahap kepeduliannya pada ku. Semenjak kecil, aku tidak bisa menjadi sosok ayah baginya, jadi aku ingin menjadi sosok ayah baginya saat ini.”
Diamnya Rosetta membuat khawatir bagi Maxiliam, ia berharap wanita di sampingnya mau membantunya.
“Aku akan mencobanya, tapi tergantung Javer. Di sini kau yang berusaha.”
Maxiliam tersenyum sambil mengangguk, ia langsung memeluk Rosetta dengan erat dan menghirup dalam aroma tubuhnya.
“Terima kasih Rose.”
Rosetta mengurai pelukannya. “Iya, aku pergi dulu. Kau beristirahatlah.”
Rosetta berdiri, Maxiliam ingin menahannya kembali namun tangan kanannya hanya terdiam melayang di udara, mungkin ia harus pelan-pelan mendekati Rosetta.
Keesokan harinya.
Lili membuka kaca mata hitamnya, dia berjalan menuju pintu masuk restorant. Ia mencari beberapa meja dan melengkah ke arah meja yang di tempati oleh seorang pria yang ia kenali. Ia menaruh tasnya di sampingnya dan membuka kaca mata hitamnya.
Seorang pria dengan tato di kedua tangannya, hidungnya mancung dan kedua netranya berwarna biru. Dia memakai sebuah kemeja warna silver. "Aku sudah lama menunggu mu."
"Tidak perlu basa-basi, katakan apa yang kamu inginkan," ucap Lili dengan nada tegas.
Pria di hadapannya terkekeh, ia masih menginginkan Lili sebagai penghangat ranjangnya. "Sayang kenapa galak sekali, aku hanya ingin berdua dan menghabiskan waktu bersama mu."
"Kau butuh uang?"
Pria itu menggelengkan kepalanya, ia butuh kehangatan di atas rajang. "Aku menginginkan mu."
Lili langsung paham kemana arah pembicaraannya. Ia pun mengangguk. "Kau mau dimana?" tanya Lili. Kebetulan ia sudah lama tidak di sentuh oleh Maxiliam.
Pria bernama Anton itu tersenyum miring. Dalam hitungan menit, keduanya telah sampai di sebuah hotel.
Begitu keduanya masuk, Anton langsung menyerang bibir Lili. Dia menciumnya dengan lembut dan Lili pun terbuai, ia membalas ciuman Anton. Dengan lihai pria itu membuka resleting pakaian milik Lili, keduanya pun beradu panas di atas ranjang hingga peluh membasahi keduanya.
Sementara itu, Maxiliam bangun lebih pagi, ia membuat sarapan untuk Javer dan Rosetta. Ini langkah pertamanya untuk mengambil hati anaknya dan Rosetta. Ia membuat sandwich dan beberapa jus, susu serta salad.
Ia meras puas melihat masakannya sendiri. Kini dia hanya tinggal membangunkan mereka saja.
"Rose kau sudah bangun."
"Selamat pagi sayang." Sapa Maxiliam.
Javer masih diam, ia mengikuti Rosetta menuju ke arah meja.
"Aku yang membuatnya, Rose duduklah dan Javer duduklah."
Sejenak Rosetta menatap Javer. "Sayang ayo kita duduk."
"Aku tidak mau!" ucap Javer dengan tegas. Sudah berapa banyak ayahnya membuat sarapan selain dirinya. "Apa kau selalu membuat sarapan untuk Lili?"
"Sayang tidak ..."
"Sudah pasti begitu?" Javer memotong perkataan Maxiliam. "Aku yang keberapa di buatkan sarapan?"
"Sayang ..."
Javer berlari ke kamarnya, bergegas Maxiliam menyusulnya.
"Sayang pelan-pelan, nanti kau jatuh," ucap Maxiliam. Dia pun terus melangkah dengan lebar hingga sampai di kamar Rosetta.
"Sayang." Ia melihat Javer sedang duduk di tepi ranjang dan menunduk. "Maafkan Daddy, Daddy berani bersumpah, ini sarapan pertama kalinya yang Daddy buat untuk Javer. Daddy tidak pernah membuatkan sarapan untuk Lili."
"Tante Lili pasti marah karena Daddy ada di sini. Kapan Daddy pergi?"
"Tidak sayang, Daddy tidak ingin pergi. Daddy ingin bersama dengan Javer."
Bibir mungil Javer mengerucut, ia ingin menghabiskan waktu dengan ayahnya.
"Maafkan Daddy." Maxiliam menggenggam kedua tangan Javer. "Javer mau kan memaafkan Daddy?"