NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Kembali ke Meja Kerja

Pintu besi lift barang itu terbuka dengan sentakan kasar, diiringi bunyi berderit panjang yang menyakitkan telinga—sebuah simfoni karat dan kurang pelumas yang sangat kontras dengan denting halus lift VIP yang baru saja Nadinta tinggalkan beberapa menit lalu di lobi utama.

Begitu kaki kanan Nadinta menapak keluar, mendarat di atas karpet abu-abu kusam Lantai 15, markas besar Divisi Pemasaran, atmosfer di sekelilingnya berubah drastis. Jika lobi utama di lantai dasar beraroma ambisi mahal, parfum impor, dan dinginnya marmer yang dipoles, maka lantai ini memiliki bau keputusasaan yang dipadatkan.

Udara di sini terasa berat dan lembap, sebuah campuran memuakkan dari aroma kopi saset murahan yang diseduh dengan air yang kurang panas, bau toner mesin fotokopi yang menguap memenuhi ruangan, serta aroma keringat dingin dari puluhan karyawan yang sedang dikejar target bulanan.

Hiruk-pikuk kesibukan langsung menampar indra pendengaran Nadinta. Suara dering telepon yang bersahutan tanpa henti, bunyi jemari yang memukul keyboard dengan ritme kasar dan cepat, serta teriakan frustrasi yang tertahan dari balik partisi kubikel. Semuanya melebur menjadi kebisingan latar belakang yang dulu selalu membuat perut Nadinta mulas setiap pagi.

Di kehidupan sebelumnya, pemandangan ini adalah neraka pribadinya. Dulu, Nadinta akan berjalan masuk dengan bahu merosot, berusaha mengecilkan tubuhnya agar tidak terlihat oleh radar siapa pun.

Ia adalah 'kuda beban' andalan divisi, martir yang selalu bersedia memikul tanggung jawab orang lain hanya demi sebuah senyuman persetujuan atau tepukan ringan di bahu yang tidak berarti apa-apa. Ia takut terlambat satu menit saja, takut menyenggol ego rekan kerja, dan terlebih takut pada bayangannya sendiri. Ia adalah karyawan teladan yang naif, yang mengira kerja keras akan selalu dibalas dengan keadilan.

Namun hari ini, wanita yang melangkah keluar dari lift barang itu bukanlah martir.

Nadinta berjalan membelah ruangan open-plan itu dengan dagu terangkat. Langkah kakinya, yang dibalut stiletto hitam, menghantam lantai dengan irama yang mantap dan berwibawa.

Tak, tak, tak. Suara langkahnya memotong kebisingan kantor, membuat beberapa kepala menoleh sekilas dengan kening berkerut, heran melihat aura percaya diri yang tak biasa dari sosok yang biasanya pendiam itu, sebelum mereka kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Nadinta tidak lagi memandang kekacauan di sekitarnya sebagai beban yang harus ia pikul, melainkan sebagai sebuah papan catur yang berantakan, menunggu tangan dinginnya untuk menata ulang bidak-bidaknya.

Ia terus berjalan hingga tiba di kubikelnya yang terletak di sudut paling ujung, terhimpit di antara pilar beton besar dan jendela yang menghadap langsung ke dinding gedung parkir yang kusam. Itu adalah posisi strategis untuk bekerja tanpa gangguan, atau lebih tepatnya, tempat pembuangan bagi karyawan yang dianggap terlalu rajin untuk perlu diawasi oleh atasan.

Meja kerjanya adalah definisi dari bencana visual. Tumpukan file proposal fisik menggunung di sisi kiri hingga setinggi dada, terancam longsor kapan saja.

Sisi kanannya dipenuhi tempelan sticky notes berwarna kuning neon yang saling tumpang tindih seperti sisik naga. Nadinta meletakkan tas kerjanya dengan tenang, lalu menarik satu lembar catatan yang tertempel kasar tepat di tengah layar monitornya yang gelap.

Tulisan tangan cakar ayam dengan tinta merah itu sangat ia kenal.

"Din, revisi budget Q3. Saya butuh sebelum jam makan siang. Jangan lelet. - Rudi"

Nadinta mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang dingin. Dulu, catatan kasar seperti ini akan membuatnya langsung menyalakan komputer dengan tangan gemetar, melupakan sarapan, dan bekerja seperti robot hingga asam lambungnya naik.

Tapi sekarang? Nadinta meremas kertas kuning itu menjadi bola kecil yang padat, lalu dengan gerakan santai, ia menjentikkannya masuk ke dalam keranjang sampah di bawah meja. Three points.

"Mbak Nadin! Ya ampun, Mbak Nadin akhirnya datang!"

Suara cempreng yang sarat kepanikan membuat Nadinta menoleh. Dari arah pantry, seorang gadis muda berlari kecil menghampirinya. Kemeja putihnya tampak sedikit kebesaran di tubuhnya yang mungil, dan lanyard biru bertuliskan INTERN berayun-ayun liar di lehernya.

Itu Karina. Anak magang yang baru masuk tiga bulan lalu, seorang fresh graduate yang masih memiliki binar kenaifan di matanya, meski lingkaran hitam di bawah matanya mulai menceritakan kisah tentang lembur yang tak dibayar dan tekanan mental yang tak seharusnya ia pikul.

Tangan Karina gemetar hebat saat ia berusaha meletakkan segelas kopi panas di atas meja Nadinta yang penuh sesak. Guncangan tangannya karena gugup membuat isi gelas itu meluap, tumpah menggenangi beberapa dokumen di dekatnya.

"Ah! Maaf, Mbak! Maaf tumpah!" pekik Karina histeris. Wajahnya pucat pasi seketika, seolah ia baru saja menumpahkan asam sulfat dan bukan kopi. Dengan gerakan panik dan serampangan, ia menyambar kotak tisu, mencabut isinya dengan kasar, dan mulai menggosok meja itu dengan gugup.

"Aku beneran takut banget dari tadi, Mbak. Tangan aku nggak bisa berhenti gemetar. Pak Rudi... si 'Kumis Lele' itu ngamuk-ngamuk nyariin Mbak Nadin dari jam delapan teng!"

Nadinta terdiam. Ia tidak langsung bergerak membereskan kekacauan itu. Matanya terpaku pada sosok Karina yang sedang menunduk, bahunya naik-turun menahan tangis karena ketakutan dimarahi atas kesalahan sepele.

Di tengah kepanikan gadis itu, sebuah memori kelam dari masa depan menyentak benak Nadinta tanpa permisi.

Ia teringat bangsal rumah sakit kelas tiga yang berbau kematian, di mana Karina menjadi satu-satunya manusia yang sudi datang menembus hujan deras dengan keranjang buah murah dan mata sembab, menggenggam tangannya erat-erat dan menangisi nasibnya saat Arga dan seluruh dunia mencampakkannya ke liang lahat sendirian.

Ingatan tentang loyalitas yang menyesakkan dada itu membuat tatapan dingin Nadinta melunak seketika.

"Nggak apa-apa, Rin. Cuma kopi," ujar Nadinta. Suaranya rendah dan menenangkan, kontras dengan kekacauan emosional gadis itu. Nadinta mengulurkan tangan, menahan pergelangan tangan Karina yang masih sibuk menggosok meja.

"Berhenti gosok mejanya. Nanti laminating mejanya rusak saking kerasnya kamu gosok."

Karina mendongak, menatap seniornya dengan mata bulat yang berkaca-kaca. Ia tampak bingung melihat ketenangan Nadinta. Biasanya, Nadinta akan ikut panik, meminta maaf, dan buru-buru membereskan semuanya agar tidak dilihat atasan.

"Tapi... tapi Mbak nanti kena marah..." cicit Karina, suaranya parau.

"Tarik napas, Karina," perintah Nadinta lembut namun tegas. Ia menatap lurus ke dalam mata gadis itu, mencoba mentransfer sedikit kekuatannya. "Dia berbuat ulah apa lagi?"

Karina menelan ludah, bahunya sedikit rileks mendengar nada bicara Nadinta yang otoritatif namun melindungi. Ia mendekatkan wajahnya, berbisik seperti seorang mata-mata yang sedang membocorkan rahasia negara di medan perang. Matanya melirik waspada ke arah ruangan kaca besar di ujung lorong—singgasana Rudi Hartono.

"Gara-gara proyek 'Lumina Green', Mbak," bisik Karina dengan nada ngeri. "Mbak ingat kan? Minggu depan ada presentasi besar di depan Direksi baru, termasuk Pak Mahendra yang katanya perfeksionis itu. Pak Rudi barusan sadar... dia baru sadar kalau dia belum bikin materi apa-apa sama sekali!"

Karina melanjutkan dengan napas memburu, "Terus tadi dia keluar ruangan, teriak-teriak kayak orang kesurupan. Dia bilang, dia melimpahkan tugas pembuatan deck presentasi itu ke Mbak Nadinta. Full. Seratus persen. Dia mau terima beres sore ini juga sebelum dia pergi main golf sama klien."

Wajah Karina berubah menjadi ekspresi iba yang mendalam. Ia menatap Nadinta seolah sedang menatap seseorang yang baru saja divonis hukuman mati tanpa pengadilan.

"Jahat banget kan, Mbak? Itu proyek prestisius, nilainya miliaran. Kalau sukses, Pak Rudi yang bakal dapat nama dan bonus, dia bakal ngaku-ngaku itu hasil kerjanya. Tapi kalau gagal atau ada data yang salah, pasti Mbak Nadin yang bakal dijadikan kambing hitam di depan Direksi. Dia mau cuci tangan, Mbak. Mending Mbak tolak aja, pura-pura pingsan atau izin sakit mendadak. Biar dia yang pusing sendiri."

Saran yang sangat masuk akal bagi siapa pun yang waras. Di kehidupan sebelumnya, Nadinta mungkin akan mempertimbangkannya, atau lebih buruk lagi, ia akan menerimanya dengan pasrah sambil menangis dalam hati, lalu bekerja lembur tiga hari tiga malam demi menyelamatkan wajah bosnya yang tak tahu diri itu.

Tapi kali ini, sebuah seringai tipis terbit di bibir Nadinta. Seringai yang membuat Karina merinding tanpa alasan yang jelas. Rasa protektif terhadap dirinya sendiri dan terhadap masa depan Karina membakar semangatnya. Ia tidak akan membiarkan Karina melihatnya kalah lagi.

Nadinta menekan tombol power di CPU komputernya. Mesin itu berdengung hidup, layar monitor menyala menampilkan cahaya biru yang memantul di mata Nadinta.

"Dengar, Rin," ucap Nadinta pelan, matanya menatap lurus, mengunci manik mata Karina. "Kamu ingat ini baik-baik untuk pelajaran karirmu nanti. Simpan kata-kata saya."

"Iya, Mbak?"

"Kalau atasanmu yang bodoh dan malas itu mau 'terima beres', itu bukan musibah, Karina. Itu adalah anugerah," ujar Nadinta dingin. Setiap katanya terukur, tajam seperti pisau bedah yang siap mengiris.

"Itu artinya dia memberikan lehernya secara sukarela ke tangan kita."

Karina mengerutkan kening, belum paham sepenuhnya logika terbalik itu. "Maksud Mbak?"

"Dia malas membaca detail. Dia malas ngecek data. Dia terlalu sibuk dengan agenda golfnya dan egonya yang setinggi langit," jelas Nadinta, jarinya mulai mengetuk meja seirama dengan detak strategi di kepalanya.

"Dan kemalasan itu... adalah celah yang mematikan. Kita bisa menyisipkan apa saja di sana. Bom waktu, jebakan tikus, atau bahkan guillotine."

Mata Karina membulat sempurna. Mulutnya sedikit terbuka. Ia belum pernah melihat sisi Nadinta yang seperti ini—begitu kalkulatif, begitu berani, dan sedikit... menakutkan. Sosok senior yang biasanya lembut dan pasrah itu kini terasa seperti jenderal perang.

"Jadi... Mbak mau kerjain?"

"Yup," jawab Nadinta mantap. Ia menarik keyboard mendekat. "Kirimkan semua data mentah dari tim sales ke email saya sekarang. Jangan ada yang terlewat satu angka pun. Kita bakal buatkan materi presentasi paling spektakuler yang pernah ada di sejarah Lumina Group."

Nadinta menoleh lagi pada Karina, senyumnya kini terlihat berbahaya. "Materi yang akan membuat Pak Rudi terbang sangat tinggi di mata Direksi, hanya untuk dihempaskan jatuh hingga tulang-tulangnya remuk di hadapan Pak Mahendra."

"S-siap, Mbak!" Karina mengangguk patah-patah. Entah kenapa, rasa takutnya menguap, tergantikan oleh adrenalin aneh. Ia merasa seperti prajurit kecil yang baru saja direkrut oleh komandan yang tak terkalahkan.

Belum sempat Karina kembali ke mejanya, sebuah teriakan melengking memecah atmosfer kantor, membungkam semua percakapan dalam radius dua puluh meter.

"Nadinta!"

Pintu ruangan kaca di ujung sana terbanting terbuka. Rudi Hartono berdiri di ambang pintu, tampak seperti banteng yang siap menyeruduk. Kemeja birunya yang kekecilan di bagian perut tampak meregang menyedihkan, memperlihatkan ikat pinggang kulit imitasi yang sudah retak-retak. Wajahnya merah padam seperti kepiting rebus, dan kumis tipisnya—yang menjadi sumber julukan 'Lele'—bergetar hebat menahan amarah.

"Ngapain kamu ngerumpi sama anak magang?! Jam berapa ini?! Ke ruangan saya! Sekarang!" bentak Rudi. Suaranya menggema, memantul di dinding-dinding kantor, membuat beberapa karyawan senior menunduk dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk dengan stapler mereka, takut terkena cipratan amarah.

Karina mencicit kaget, refleks menyembunyikan tubuh mungilnya di balik partisi kubikel Nadinta. "Waduh. Hati-hati, Mbak. Dia lagi mode senggol bacok. Jangan didebat, nanti makin parah."

Nadinta tidak langsung menjawab. Ia berdiri dengan gerakan yang sangat pelan dan terukur. Ia merapikan sedikit kerah blazernya, lalu mengambil buku catatan kulit hitam dan pulpen mahalnya dari dalam tas. Ia tidak terburu-buru, tidak menunjukkan gestur panik sedikit pun.

Ia menoleh sekilas pada Karina yang gemetar.

"Tenang aja, Rin," ucap Nadinta lembut, senyum tulus terukir di bibirnya—senyum yang hanya ia berikan pada satu-satunya orang yang peduli padanya.

"Lanjutkan kerjamu. Mulai hari ini, nggak ada yang boleh membentak kita lagi. Nggak Rudi, nggak Arga, nggak siapa pun."

Dengan dagu terangkat tinggi, Nadinta melangkah keluar dari kubikelnya. Langkah kakinya mantap menghantam lantai karpet, menimbulkan suara thud yang percaya diri saat ia berjalan lurus menuju kandang singa tua yang ompong itu.

Ia menatap lurus ke arah Rudi yang masih berdiri berkacak pinggang di depan pintu ruangannya dengan wajah garang. Di mata Rudi, Nadinta mungkin terlihat seperti domba yang datang untuk disembelih. Tapi Nadinta tahu, dialah sang jagal yang sebenarnya.

1
Afriyeni
ckckck, otakmu brilian sekali nindi,, kamu pintar menggiring si Arga masuk lubang dan terjerat hutang 🤦
Afriyeni
Nindita, kamu licik banget ya. Hebat, kamu bisa berubah pintar dalam seketika 🤭
Afriyeni
hooekk.. Nindita pasti capek nih pura pura lebay dekat si Arga 😅
Blueberry Solenne
makin bangkrut si Arga
sjulerjn29
alesan ah km Rudi bilang aja gk ada ide kan?🤣
Blueberry Solenne
males banget nemu orang kek gini, sok ngatur si maya
sjulerjn29
bukan divisi kita...itu mah demi hidup mati km kali Rudi
sjulerjn29
kebayang baunya ihh..pasti langsung auto pingsan 🤭🤣
Jing_Jing22
julid banget sih jadi orang terserahlah mau dia pake apa ke, toh tidak merugikan orang lain
Mingyu gf😘
definisi cowok tamak dalam segala hal
ginevra
semangat nandita, kamu pasti bisa ... kamu kan udah laluin ini semua ...
ginevra
mantap nandita, girl boss banget
ginevra
emang Maya itu kek lintah... semua semua aja pengen dimilikin...
Peri Cecilia-chan
yeyy, arga hemat wkwk
Peri Cecilia-chan
aku ikutan ngerasain kek mana tegangnya/Sweat/
Peri Cecilia-chan
sengaja banget wkwk, biar mereka makin deket
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mantap Nandita hancurkan si cucurut itu 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
lahh kok malah nyuruh manipulatif data 😅 mang dudul nihh olang
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
berantakan kyk kapal pecahh 🤣 sesuai kepribadian busuk pemilik ruangan 😌
Ani Suryani
ya tentu harus cari duit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!