Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kota Tulang dan Tabib Iblis
Kota Tulang dan Tabib Iblis
Gerbang itu tidak terbuat dari kayu atau besi, melainkan dari susunan tulang rusuk binatang purba yang masing-masing ukurannya sebesar rumah penduduk. Di atas lengkungan gerbang, puluhan tengkorak manusia dipaku, matanya yang kosong menatap ke arah padang pasir seolah-olah memperingatkan siapa pun yang berani masuk.
"Selamat datang di Kota Tulang," bisik Yue. Suaranya hampir tenggelam oleh deru angin badai pasir yang mulai mengamuk di belakang mereka. "Satu-satunya aturan di sini adalah jangan pernah bertanya apa yang dimasak di dalam kuali tetanggamu."
Jiangzhu tidak peduli dengan peringatan itu. Beban di punggungnya terasa semakin berat. Napas ibunya, Dewi Ling'er, kini hanya terdengar seperti desiran halus kain sutra yang robek sangat tipis dan rapuh. Ia melangkah melewati gerbang, disambut oleh aroma tajam dari rempah-rempah yang terbakar dan bau amis darah yang kental.
Jalanan kota itu sempit, diapit oleh bangunan-bangunan yang dibangun dari sisa-sisa bangkai kapal dan tulang belulang. Orang-orang yang berlalu lalang di sana tidak tampak seperti manusia normal; sebagian besar mengenakan jubah kumal, wajah mereka ditutupi perban, atau memiliki mutasi fisik yang mengerikan akibat radiasi energi Iblis di Benua Barat.
"Lihat itu... mangsa baru," sebuah suara parau terdengar dari sudut jalan yang gelap.
Sepasang mata kuning berkilat menatap Jiangzhu. Namun, begitu Jiangzhu menoleh dengan mata abu-abunya yang dingin dan aura Inti Bumi yang meledak sesaat, sosok itu langsung mundur ke dalam bayang-bayang.
"Cari Tabibnya, Yue. Sekarang!" perintah Jiangzhu, suaranya serak karena kerongkongannya yang kering.
Yue membawa mereka menuju sebuah menara pendek yang terbuat dari tengkorak naga. Di depannya tergantung papan kayu yang sudah lapuk dengan simbol tangan yang memegang jantung berdarah.
"Tabib Gu Mo adalah satu-satunya yang bisa menangani racun Penjara Tanpa Cahaya di wilayah ini," kata Yue sambil menggedor pintu tulang itu dengan keras.
Kreeek...
Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan seorang pria tua yang punggungnya bungkuk seperti udang. Kulitnya berwarna kelabu, dan salah satu tangannya digantikan oleh cakar mekanik yang berkarat. Ia mengendus udara, lalu matanya membelalak saat menatap Dewi Ling'er di punggung Jiangzhu.
"Darah Langit? Di tempat kotor seperti ini?" Tabib itu tertawa kering, suaranya seperti gesekan amplas. "Masuklah, sebelum aroma sucinya mengundang seluruh monster di kota ini untuk berpesta."
Di dalam ruangan, bau obat-obatan herbal yang sangat menyengat memenuhi udara. Jiangzhu membaringkan ibunya di atas meja batu yang dingin. Awan segera berdiri di samping kepala Ling'er, memegang tangannya yang sedingin es.
Tabib Gu Mo memeriksa denyut nadi Ling'er dengan cakar mekaniknya. Sebuah suara berdenging kecil keluar dari alat tersebut. Sang tabib menghela napas panjang, lalu menatap Jiangzhu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Racun Sinar Penghukuman," gumam Gu Mo. "Hanya orang-orang gila dari Sekte Cahaya Suci yang bisa menciptakan penderitaan seperti ini. Dia bertahan hidup hanya karena darah Langitnya yang kuat, tapi nadinya sudah hancur. Dalam tiga hari, dia akan menjadi patung cahaya yang tidak bisa merasakan apa pun kecuali rasa sakit."
Jiangzhu mencengkeram kerah jubah tabib itu, matanya berkilat ungu pekat. "Aku tidak butuh diagnosamu, Pak Tua. Aku butuh cara untuk menyelamatkannya!"
Gu Mo tidak takut. Ia justru tersenyum memperlihatkan giginya yang kuning. "Ada satu cara. Tapi kau tidak akan menyukainya. Aku butuh Inti Kehidupan dari Raja Kalajengking Abu-abu. Dan aku butuh kau membiarkanku mengambil sedikit dari darah Iblis murnimu sebagai bahan pelarutnya."
"Ambil sebanyak yang kau mau," jawab Jiangzhu tanpa ragu.
"Bocah, jangan bodoh!" Penatua Mo berteriak di dalam kepalanya. "Darahmu adalah fondasi kultivasimu! Jika dia mengambil terlalu banyak, kau akan jatuh kembali ke Tahap Pemurnian Tubuh!"
"Diam, Pak Tua!" Jiangzhu membatin dengan tajam. "Jika aku bisa menukar seluruh kekuatanku untuk satu hari lagi bagi ibuku, aku akan melakukannya tanpa berkedip."
Gu Mo menyiapkan sebuah jarum panjang yang terhubung dengan tabung gelas. "Kau punya nyali, Anak Muda. Sekarang, baringkan tanganmu di sini. Dan Yue... pastikan tidak ada yang masuk ke ruangan ini jika kau tidak ingin melihat kota ini meledak."
Yue mengangguk, ia berdiri di depan pintu dengan belati terhunus.
Saat jarum itu menusuk nadi Jiangzhu, ia merasakan sensasi dingin yang menyayat. Darah hitam pekat mengalir masuk ke dalam tabung, memancarkan aura kegelapan yang membuat tanaman obat di dalam ruangan itu layu seketika. Jiangzhu merasa tubuhnya melemas, wajahnya menjadi pucat pasi, namun ia tetap menatap wajah ibunya dengan penuh tekad.
Tiba-tiba, suara ledakan besar terdengar dari arah gerbang kota.
"Mereka di sini..." bisik Yue, matanya menatap ke luar jendela. "Sekte Cahaya Suci... mereka tidak membiarkan kita lari begitu saja."
Jiangzhu mengepalkan tangannya yang lemas. "Tabib, berapa lama kau butuh waktu untuk membuat obat itu?"
"Satu jam. Dan kau harus menjauhkan mereka dari sini, atau proses ini akan gagal total," jawab Gu Mo tanpa menoleh.
Jiangzhu berdiri dengan kaki yang goyah. Ia mengambil pedang hitamnya yang retak. "Awan, tetaplah di sini. Jaga Ibu."
Awan mengangguk dengan air mata yang menetes. "Kakak... tolong kembali."
Jiangzhu berjalan menuju pintu. Saat ia melewati Yue, ia berhenti sejenak. "Jika aku tidak kembali dalam satu jam, bawa mereka pergi lewat jalan rahasia mana pun yang kau tahu."
Yue menatap punggung Jiangzhu yang kini tampak jauh lebih kurus namun memancarkan aura yang sangat mengerikan. "Kau benar-benar monster, Jiangzhu."
"Aku tahu," jawab Jiangzhu singkat.
Ia melangkah keluar ke jalanan Kota Tulang yang kini dipenuhi oleh asap dan teriakan. Di ujung jalan, sekelompok ksatria berjubah putih dengan zirah perak berdiri di antara reruntuhan. Pemimpin mereka adalah seorang pria dengan tombak emas yang bersinar.
"Jiangzhu! Serahkan Dewi pengkhianat itu, dan aku akan memberimu kematian yang cepat!" teriak sang ksatria.
Jiangzhu meludah ke tanah, darah hitam menetes dari sudut bibirnya. Ia mengangkat pedangnya, membiarkan sisa-sisa energi Iblis di tubuhnya membakar setiap inci sarafnya.
"Kalian ingin ibuku?" Jiangzhu tertawa, suara tawanya terdengar seperti raungan dari neraka. "Lewati mayatku, atau aku yang akan menjadikan tengkorak kalian sebagai hiasan baru di gerbang kota ini!"
Pertempuran terakhir di Kota Tulang baru saja dimulai.
Jiangzhu bisa merasakan sisa-sisa tenaga di tubuhnya merembes keluar bersama setiap tetes darah hitam yang dihisap oleh tabung gelas Gu Mo. Kepalanya berdenyut seirama dengan detak jantung menara tulang ini; setiap denyutnya membawa rasa mual yang membuat perutnya jungkir balik. Ia mencengkeram pinggiran meja batu tempat ibunya berbaring, kuku-kukunya menggores batuan keras itu hingga menimbulkan suara decit yang menyayat telinga.
"Jangan hanya diam dan menonton, Pak Tua," desis Jiangzhu pada Gu Mo. Suaranya serak, lebih mirip gesekan amplas pada kayu kering. "Jika jarum itu meleset satu inci saja, aku akan memastikan cakar mekanikmu itu menjadi rongsokan pertama yang kukubur di pasir ini."
Gu Mo hanya mendengus, mata kelabunya tidak sedikit pun beralih dari aliran darah hitam yang beruap. "Simpan ancamanmu untuk anjing-anjing cahaya di luar sana, Bocah. Kau sedang sekarat, tapi mulutmu masih lebih tajam dari pedangmu. Menarik."
Brak!
Pintu menara bergetar hebat. Debu-debu dari langit-langit jatuh menimpa wajah pucat Dewi Ling'er. Jiangzhu menatap ibunya wanita yang seharusnya menjadi penguasa langit, kini terbaring tak berdaya di rumah jagal ini. Kemarahan yang dingin mulai membeku di ulu hatinya, menggantikan rasa lemas yang tadi sempat menguasainya.
"Cahaya Suci..." Jiangzhu meludah ke lantai, air liurnya bercampur darah hitam yang kental. "Mereka bicara soal kedamaian sambil membawa tombak ke rumah tabib. Mereka bicara soal keadilan sambil memburu wanita yang sudah sekarat."
Ia mencabut jarum dari nadinya tanpa menunggu perintah Gu Mo. Darah menyemprot keluar, membasahi lantai, tapi Jiangzhu tidak peduli. Ia membebat lengannya dengan sobekan kain jubahnya yang kotor, mengikatnya kuat-kuat dengan giginya.
"Yue, jaga Awan. Jika ada satu helai rambut mereka yang jatuh karena kelalaianmu, kau tahu apa yang akan kulakukan pada lehermu," kata Jiangzhu tanpa menoleh.
Ia mengambil pedang hitamnya, membiarkan ujungnya menyeret di lantai batu saat ia berjalan menuju pintu. Di luar, cahaya keemasan dari ksatria Sekte Cahaya Suci mulai menyinari celah-celah pintu, terasa menyengat dan menusuk matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan. Jiangzhu menarik napas panjang, menghirup bau debu dan kematian. Baginya, ini bukan sekadar pelarian lagi. Ini adalah pembersihan.
"Mari kita lihat seberapa suci darah kalian saat bercampur dengan pasir abu-abu ini," gumam Jiangzhu sambil menendang pintu hingga terbuka lebar, menantang badai cahaya di depannya.